Prakata TSI

Prakata Terjemahan Sederhana Indonesia (TSI)

Terjemahan Sederhana Indonesia (TSI) adalah hasil penerjemahan dari Yayasan Alkitab Bahasa Kita (Albata). Albata hadir untuk meningkatkan pemahaman umat akan Firman TUHAN supaya mengalami pembaharuan hidup bagi Kristus. Jadi TSI ada bukan untuk menggantikan terjemahan Alkitab yang sudah ada, melainkan untuk meningkatkan pemahaman akan Firman Tuhan.

Tentang sampul TSI

Apa itu ὁ λόγος? Tulisan ὁ λόγος (dibaca: ho logos) pada sampul adalah bahasa Yunani yang artinya Sang Firman, diambil dari Yohanes 1:1, 

Ἐν ἀρχῇ ἦν ὁ λόγος,

(En arkhe en ho logos)

καὶ ὁ λόγος ἦν πρὸς τὸν ϑεόν,

(kai ho logos en pros ton Theon)

καὶ ϑεὸς ἦν ὁ λόγος.

(kai Theos en ho logos).

Harfiahnya:

Pada mulanya adalah Firman; 

Firman itu bersama-sama dengan Allah 

dan Firman itu adalah Allah.

Dalam TSI:

Pada mulanya, sebelum dunia ini diciptakan,

Dia yang disebut Firman sudah bersama dengan Allah,

dan Firman itu juga adalah Allah.

Jadi tulisan di bagian samping buku TSI diambil dari Yohanes 1:1 dalam bahasa Yunani. Yohanes memakai ὁ λόγος sebagai gelar yang merujuk pada Tuhan Yesus.

Mengapa  ὁ λόγος? TSI mengusung judul  ὁ λόγος supaya melalui firman Allah yang tertulis, para pembaca akan mengenal Kristus Yesus, yang adalah intisari dari seluruh firman. Pemakaian huruf Yunani yang sarat makna ini bertujuan untuk,

  • mengedukasi umat Allah di Indonesia tentang bahasa asli Alkitab, 

  • sekaligus mencerminkan jati diri atau pusat iman Kristen, yakni Yesus sebagai Tuhan kita.

Umat Allah memerlukan dua macam terjemahan Alkitab

Umat Allah memerlukan sekurang-kurangnya dua macam terjemahan Alkitab, supaya orang yang belum sempat mempelajari bahasa sumber Alkitab (Ibrani, Aram, dan Yunani) dapat mengerti Firman Allah dengan sejelas mungkin. Kedua macam terjemahan itu adalah terjemahan harfiah dan terjemahan berdasarkan arti

Jenis penerjemahan

Kelebihan

Kekurangan

Terjemahan harfiah

Penerjemahan ini berusaha sedapat mungkin menerjemahkan kata per kata dan mengikuti bentuk kalimat dalam teks bahasa sumber.

Hasil terjemahan sering menjadi kurang jelas dan kurang wajar karena cara harfiah memaksakan bahasa sasaran mengikuti struktur dan cara ungkapkan dari bahasa sumber.

Terjemahan berdasarkan arti

Penerjemahan ini berusaha sedapat mungkin menerjemahkan makna dari bahasa sumber tanpa harus mengikuti struktur teks sumber, sehingga hasil terjemahan menjadi wajar dan jelas dalam bahasa sasaran.

Hasil terjemahan kurang mengikuti bentuk kalimat dalam bahasa sumber.

Berdasarkan tabel di atas, tampaklah bahwa sebenarnya kedua macam penerjemahan itu saling melengkapi kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jadi, alangkah baiknya bila setiap orang memiliki keduanya. Contoh Alkitab terjemahan harfiah dalam bahasa Indonesia adalah ‘TB, AYT, KSI, dll., dan contoh terjemahan berdasarkan arti adalah TSI, BMIK, VMD, BSD, dll.

Beberapa karakteristik terjemahan berdasarkan arti antara lain:

  • Tidak mempersoalkan jumlah kata, tetapi lebih mengutamakan ketepatan makna.

  • Sering kali menyesuaikan struktur kalimat dengan tata bahasa sasaran, supaya menjadi wajar dan jelas.

  • Hal-hal yang dikenal oleh pembaca pertama tetapi pada umumnya tidak dikenal oleh pembaca zaman sekarang bisa diperjelas langsung dalam teks. Contoh, Kisah 2:8-11, ketika bahasa asli hanya menulis ‘Kreta’, ‘Kirene’, dll., TSI memperjelas dengan ‘pulau Kreta’, ‘kota Kirene’, dll.

Terjemahan berdasarkan arti tidak sama dengan terjemahan ‘parafrasa’. Parafrasa bisa langsung menambahkan hal-hal modern dalam teks yang bukan informasi tersirat, atau kadang-kadang mengurangi makna dari teks asli. Bedanya adalah penerjemahan berdasarkan arti tidak boleh menambah atau mengurangi arti yang dimaksud oleh penulis.

Istilah-istilah 

Dalam TSI ada beberapa istilah baru yang yang tidak digunakan dalam terjemahan lain, karena TSI berusaha menggunakan kosa kata yang paling sederhana dan paling umum dipakai di seluruh Indonesia. Tim penerjemah menghindari penggunaan istilah teologi atau ‘bahasa gereja’. Yang dimaksud ‘bahasa gereja’ adalah kata-kata yang sering didengar di gereja, tetapi hampir tidak pernah dipakai dalam percakapan sehari-hari— misalnya kata ‘kasih-karunia’, ‘damai-sejahtera’, dan ‘daging’ (kata ‘daging’ dipakai dengan arti ‘keinginan-keinginan badani yang jahat’). Pada waktu teks Alkitab pertama ditulis, para penulisnya menggunakan bahasa sehari-hari pada zaman itu, bukan istilah yang hanya dikenal dalam gereja.

Kata ganti orang dan huruf besar untuk kata ganti nama Yesus

Dalam penerjemahan Alkitab Indonesia yang terdahulu, ‘kamu’ selalu dipakai untuk jamak, sedangkan ‘engkau’ selalu dipakai untuk tunggal. Namun, TSI mengikuti kaidah Bahasa Indonesia yang dipakai sehari-hari zaman sekarang. Dalam Bahasa Indonesia, kata ganti orang menunjukkan hubungan antara pembicara dan pendengar, misalnya akrab atau formal, sejajar statusnya atau berbeda. Karena itu, TSI menggunakan ‘kamu’ untuk orang kedua tunggal dalam konteks keakraban dan status orang yang sejajar. Untuk orang kedua jamak, biasanya TSI menggunakan kata ‘kalian’. Namun, terkadang ‘kamu’ juga dipakai untuk jamak. Contohnya, ketika Rasul Paulus memberi perintah kepada jemaat tentang sesuatu yang dilakukan secara pribadi. Kata ‘engkau’ lebih banyak dipakai untuk berbicara kepada orang yang statusnya lebih tinggi, termasuk kepada Allah. Bahasa Ibrani dan Yunani tidak mempunyai kata ganti orang inklusif ‘kita’. Dalam TSI, tim penerjemah berusaha supaya ‘kita’ dipakai dengan cara yang wajar.

Dalam penerjemahan Alkitab Indonesia yang terdahulu, huruf besar selalu dipakai untuk subjek ilahi, termasuk kata ganti nama Yesus (‘Dia’, ‘Ia’, dan ‘-Nya’), bahkan ketika yang berbicara tidak percaya akan keilahian Yesus, misalnya dalam cerita tentang orang-orang Yahudi yang melawan Yesus (Yoh.8:57). Hal itu bisa menimbulkan kesalahpahaman pembaca. Maka dalam konteks seperti itu, TSI menggunakan huruf kecil untuk membuat jelas bahwa para pembicara tidak percaya akan keilahian Yesus.

Dalam terjemahan Alkitab Indonesia pada umumnya, Allah dan Yesus selalu memakai kata ganti ‘Aku’ dengan huruf besar. TSI juga mengikuti kebiasaan itu. Namun, perlu diingat bahwa bahasa Ibrani dan Yunani tidak membedakan antara ‘aku’ dan ‘saya’ seperti dalam bahasa Indonesia. Jadi, keilahian Yesus tidak ditentukan oleh pemakaian kata ‘Aku’ atau ‘Saya’. Contohnya, dalam dialog Yesus dengan perempuan Samaria, “Tolong berikan air kepada-Ku, supaya Aku minum.”

Dalam bahasa Yunani, pembicaraan Yesus tidak berbeda dari percakapan manusia lain dalam hal penggunaan ‘saya/aku’. Oleh karena itu, pembaca TSI bebas mengucapkan perkataan Yesus sesuai kebiasaan lokal penggunaan ‘aku’ atau ‘saya’. Bila Anda merasa bahwa lebih wajar Yesus menggunakan kata ‘saya’ waktu berbicara dengan perempuan Samaria, silakan membaca dengan memakai ‘saya’. Demikian juga saat Yesus ditentang atau diadili, kalau Anda merasa bahwa Yesus lebih tepat menggunakan ‘saya’ dalam situasi formal, silakan membaca dengan memakai kata ‘saya’.

Penerjemahan nama ‘YHWH’ dan pemakaian kata ‘Allah’ dan ‘TUHAN’

TSI mengikuti cara tradisional di Indonesia untuk menerjemahkan ‘Allah’ dan ‘TUHAN’. Sejak zaman pembuangan orang Yahudi ke Babel, mereka menganggap nama ‘YHWH’ terlalu suci untuk diucapkan. Oleh sebab itu, ketika mereka melihat tulisan nama itu dalam Firman Allah, mereka selalu mengucapkan ‘Adonai’ yang berarti ‘Penguasa’. Akibat kebiasaan itu, dan karena bahasa Ibrani tidak menuliskan huruf-huruf vokal, maka sekarang tidak diketahui bagaimana persisnya pengucapan nama ‘YHWH’ yang diterima Musa (diperkirakan, pengucapannya adalah ‘Yahweh’). 

Lebih dari 300 tahun sebelum Kristus lahir, ketika Perjanjian Lama diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani klasik (terjemahannya disebut Septuaginta atau LXX), ‘YHWH’ diterjemahkan sebagai ‘Kyrios’ — yang artinya ‘Penguasa’, sedangkan ‘Elohim’ secara konsisten diterjemahkan ‘Theos’ — yang artinya ‘Allah’.

Ada makna yang hilang apabila ‘Adonai’ dalam PL selalu diterjemahkan sebagai ‘TUHAN’, dan apabila ‘Kyrios’ dalam PB selalu diterjemahkan sebagai Tuhan. Karena secara umum, kata TUHAN/Tuhan hanya mempunyai satu arti, yaitu merujuk langsung kepada Allah, padahal ‘Adonai’ dan ‘Kyrios’ sering digunakan dengan makna dasarnya, yaitu ‘penguasa’. Dalam bahasa Ibrani dan Yunani, kata ‘penguasa’ bisa merujuk kepada manusia (sebagai raja atau majikan) ataupun kepada Allah. 

Dalam PB TSI, ‘Kyrios’ diterjemahkan sebagai ‘TUHAN’ ketika merujuk kepada Allah Bapa (seperti dalam PL TSI), dan ‘Tuhan’ (hanya huruf T yang besar) digunakan ketika merujuk kepada Tuhan Yesus. Dalam ayat-ayat di mana peran antara Ketiga Yang Esa sukar dibedakan, TSI memakai kata ‘TUHAN’. ‘Kyrios’ juga diterjemahkan sebagai ‘Penguasa’ dalam PB TSI, ketika makna dasar dari kata itu perlu ditonjolkan, contohnya Roma 10:9. Kata ‘Penguasa’ juga digunakan untuk Tuhan Yesus dalam kalimat di mana Allah Bapa dan Kristus Yesus disebut bersama sebagai Subjek, misalnya Efesus 1:2.

Dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Arab, ‘Allah’ bukan nama pribadi seperti ‘YHWH’, melainkan gelar yang menunjukkan status atau hakikat-Nya, sebagaimana kata ‘presiden’ bukanlah nama melainkan jabatan. (Sebagai contoh lain, ‘iblis’ bukan nama untuk si jahat, melainkan sebutan jenis. Ada banyak nama pribadi, misalnya Lucifer dan Beelzebul, dan keduanya sama-sama jenis iblis.) Bukti bahwa kata ‘Allah’ bukan nama terdapat dalam penggunaan kombinasi kata seperti ‘allah-allah palsu’. Itu menunjukkan bahwa ‘Allah’ bukan nama pribadi, karena nama tidak dipakai seperti itu (contohnya, tidak pernah dipakai istilah ‘agus-agus palsu’). Dalam Bahasa Ibrani pun, ‘Elohim’ dipakai sama seperti yang telah dijelaskan di atas untuk kata Allah, yakni sebutan jenis atau gelar, bukan nama pribadi.

Pada zaman Yesus, bahasa Aram sudah menjadi bahasa sehari-hari orang Yahudi. Yesus sendiri menggunakan bahasa Aram. Dalam bahasa Aram, ‘Elohim’ diucapkan ‘Alaha’. Sebelum abad ke-6, sudah ada orang Kristen di negeri Arab yang menyebut TUHAN sebagai ‘Allah’. Hingga saat ini, orang Kristen di negeri Suriah masih berbahasa Aram dan menyebut Allah dengan sebutan ‘Alaha’. Jadi, sebenarnya ‘Allah’ merupakan kata serapan dari bahasa Aram ke bahasa Arab. Dengan demikian, kata ‘Allah’ bukan milik satu agama saja.

Dalam PL TSI, Elohim diterjemahkan ‘Allah’. TSI juga mengikuti tradisi penerjemahan Firman Allah sejak zaman Septuaginta dengan menerjemahkan YHWH sebagai TUHAN. Dalam rangkaian ayat-ayat di mana kata TUHAN atau Allah disebutkan berulang kali, TSI akan menerjemahkan beberapa sebagai ‘Dia’ atau ‘-Nya’ untuk kewajaran. Juga, ketika teks Ibrani menuliskan ‘YHWH Elohim’, TSI akan menerjemahkannya sebagai ‘TUHAN Allah’ satu kali saja di awal setiap perikop, dan selanjutnya— masih dalam perikop yang sama— akan diterjemahkan ‘TUHAN’ saja. 

Karena faktor kewajaran tersebut, tidak mungkin terjemahan berdasarkan arti seperti TSI menunjukkan jumlah dan penempatan kata ‘TUHAN/YHWH’ dan ‘Tuhan/Adonai’ secara persis seperti teks Ibrani. Apabila pembaca ingin meneliti bagaimana tepatnya posisi kedua kata itu dalam teks Ibrani, dianjurkan untuk melihatnya dalam terjemahan harfiah atau langsung dalam Alkitab bahasa Ibrani. 

Teks sumber yang digunakan dalam Alkitab TSI

Untuk menerjemahkan PL, tim Albata menggunakan teks Masoret (MT), yang disusun antara abad ke-7 sampai abad ke-10 M. Ada kalanya, makna dalam MT sangat kabur karena arti kata-katanya sulit dipastikan. Dalam situasi itu, kami mengikuti cara penerjemahan yang digunakan dalam hampir semua versi Alkitab, yaitu mengacu pada Septuaginta (LXX).

Untuk PB edisi 1 s/d 2.5, Albata menggunakan Golongan Teks Nestle-Aland (GTNA) yang juga disebut UBS Text. Namun mulai edisi ke-3, Albata menerjemahkan PB TSI dari Golongan Teks Mayoritas, yang juga disebut teks Bizantium (GTB), yang diterbitkan oleh Robinson dan Pierpont. Teks Bizantium disusun berdasarkan ribuan salinan kuno yang masih terpelihara hingga saat ini. Banyaknya salinan kuno yang digunakan sebagai dasar penyusunannya menunjukkan keunggulan sekaligus membuktikan bahwa tidak ada sesuatu dalam PB yang sudah diubah atau dipalsukan. GTB sangat didukung oleh terjemahan-terjemahan kuno, seperti terjemahan bahasa Siria dan Latin, juga oleh berbagai kutipan dari bapa-bapa Gereja. Pada dasarnya GTB mempunyai banyak kesamaan dengan Textus Receptus yang menjadi dasar untuk PB KJV (1611). Bedanya hanya pada jumlah naskah pendukungnya saja. Textus Receptus disusun hanya berdasarkan tiga salinan PB Yunani, sedangkan GTB merupakan hasil penelitian ribuan salinan kuno.

PB TSI yang mengikuti GTB mungkin tidak terlalu tampak berbeda dengan PB TSI edisi-edisi sebelumnya. Walaupun ada sekitar 520 ayat yang sudah disesuaikan berdasarkan 7.957 hal tekstual dari ayat PB, kebanyakan perubahan itu hanyalah hal-hal kecil, misalnya GTNA menuliskan ‘Yesus’ dan GTB menuliskan ‘Tuhan Yesus’. Perbedaan yang signifikan antara GTB dan GTNA hanya 1% dari seluruh ayat di PB. 

Karena TSI edisi 3 mengikuti GTB secara konsisten, maka TSI tidak perlu menuliskan ayat-ayat atau kata-kata dalam kurung yang menunjukkan adanya perbedaan teks-teks sumber. (Contoh kurung seperti itu dapat dilihat dalam beberapa versi terjemahan, di Mrk. 15:28, Mrk. 16:8-21, Yoh. 7:53—8:11, atau 1Yoh. 5:7-8). TSI tidak memberikan catatan kaki untuk menjelaskan perbedaan tersebut karena situs alkitabkita.info menyelenggarakan aplikasi Bibledit Tamu. Di sana, pembaca bisa melihat perbandingan tekstual untuk setiap ayat di PB dan perbedaan TSI edisi 2.5 dengan 3. Situs alkitabkita.info dan albata.info juga menyediakan informasi tentang sejarah penerjemahan Alkitab serta artikel penting berjudul Teks PB Yunani yang Digunakan Albata.

Pengulangan nama orang, hubungan keluarga, dan nama tempat

Dalam PL bahasa Ibrani, nama orang, nama tempat, dan hubungan keluarga sering dituliskan berulang kali. TSI tidak selalu menerjemahkan pengulangan tersebut demi kewajaran. Misalnya, Kejadian 27:11 teks Ibrani menyebut Esau sebagai kakak Yakub, tetapi karena hal itu sudah disebutkan di ayat 1, TSI tidak menuliskannya lagi.

Pengejaan nama-nama dalam Alkitab 

TSI menyederhanakan ejaan beberapa nama orang atau kota dalam Alkitab. Contohnya, Aristarkhus dieja Aristarkus. Beberapa huruf Z juga disederhanakan menjadi S. Hal ini dilakukan supaya teks TSI lebih mudah dibaca. Kami juga menyesuaikan beberapa nama yang pengucapannya dalam bahasa Indonesia sangat berbeda dari bahasa Yunaninya. Sebagai contoh, TSI menggunakan ‘Matatias’ di Luk.3:25-26, bukan ‘Matica’, karena ‘Matatias’ lebih mirip pengucapannya dengan bahasa Yunani.

Satuan pengukuran

Jenis ukur

Nama-nama ukuran

Perkiraan nilai konversi

Keterangan pembulatan yang dipakai TSI

Panjang

1 hasta

44,5 cm

45 cm

Jarak

1 mil

1, 5 km

tetap

Benda cair

1 log

0,3 liter

tetap

1 hin

3,8 liter

4 liter

1 bat

20-40 liter

30 liter

1 cupak

1 liter

tetap

1 gomer

2 liter

tetap

1 sukat

7,3 liter

7 liter

Benda padat

1 efa

20-40 liter

30 liter

1 homer

220 liter

tetap

1 kor

220 liter

tetap

Mata uang

1 dinar

Senilai satu hari gaji buruh

 

1 dirham

Setara dengan 1 dinar

 

1 peser

Uang yang paling kecil senilai 1/128 dinar

 

1 duit

Setara dengan 2 peser

 

1 lusita

Uang koin yang sudah tidak dikenal berapa nilainya

 

Berat uang koin emas dan perak

1 gera

0,6 gram

tetap

1 beka

5,5 gram

6 gram

1 syikal

11,5 gram

12 gram

1 mina

0,6 kg emas, atau setara dengan tiga bulan gaji buruh

6 ons

1 talenta

26-36 kg emas, atau setara dua puluh tahun gaji buruh

30 kg

Tabel di atas adalah keterangan satuan ukur yang dipakai TSI. Banyak nama dan standar ukur dalam Alkitab hampir tidak bisa dikonversi menjadi satuan ukuran modern. Jadi semua nilai konversi tersebut merupakan perkiraan saja, sesuai yang umum digunakan oleh kebanyakan penerjemahan Alkitab. Untuk memudahkan dalam penulisan dan penghitungan, TSI menggunakan sistem pembulatan atau nilai rata-rata.

Penomoran ayat dalam PL TSI

TSI selalu menggunakan penomoran ayat yang umum digunakan dalam semua aplikasi Alkitab sedunia, supaya lebih mudah membandingkan berbagai versi dalam aplikasi elektronik. 

Permohonan kepada pembaca

Walaupun teks TSI sudah direvisi beberapa kali sejak tahun 2014, Albata tetap mengharapkan saran dan masukan dari pembaca, agar edisi berikutnya semakin wajar, jelas, dan tepat sesuai maksud penulis pertama. Dapatkan kontak kami di situs http://albata.info.

Bagi kemuliaan ὁ λόγος,

Kristus Yesus Sang Firman,

yang adalah intisari seluruh tulisan Firman Allah.