Akibat Kemalasan

 

Bacaan  Amsal 10:16-18
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Petuah-petuah Salomo

16 Kalau berbuat baik, upahnya ialah hidup bahagia; kalau berbuat dosa, akibatnya lebih banyak dosa.
17 Siapa mengindahkan teguran akan hidup sejahtera, siapa enggan mengakui kesalahan berada dalam bahaya.
18 Orang yang menyembunyikan kebencian adalah penipu. Orang yang menyebarkan fitnah adalah dungu.

Saya pernah sengaja menunda perbaikan atap rumah yang sedikit retak setelah tertimpa buah mangga milik tetangga sebelah rumah. Akibatnya, begitu tertimpa buah mangga lagi, keretakan itu pun menjadi lubang yang cukup besar. Begitu hujan turun, kebocoran dari atap pun membasahi kursi di ruang tamu. Peristiwa itu pun menjadi pelajaran berharga bagi saya, agar tidak menunda perbaikan rumah. Menunda berarti memperbesar risiko, juga dana yang dikeluarkan untuk perbaikan rumah.

Kebiasaan menunda terkait erat dengan kemalasan. Keduanya sering berkolaborasi untuk menggoda manusia dalam berbagai bidang kehidupan. Firman Tuhan malam ini hanyalah salah satu contoh akibat kemalasan, yang bisa berakibat atap rumah runtuh atau bocor. Peringatan yang bisa diartikan secara harfiah maupun kiasan. Atap yang runtuh atau bocor juga bisa berarti suatu kondisi yang mengakibatkan kesusahan. Kemalasan dan penundaan sering kali juga membuat pelakunya harus mengeluarkan dana esktra untuk perbaikan karena tingkat kerusakan yang lebih parah.

Setiap orang biasanya memiliki pergumulan tersendiri terkait rasa malas. Namun, tak sedikit pula orang yang berhasil mengatasinya. Nasihat firman Tuhan malam ini kiranya bisa menggugah semangat kita untuk segera meninggalkan kemalasan dan kebiasaan menunda. Jika sampai malam ini kita masih bergumul dengan kemalasan dan kebiasaan menunda, ambillah komitmen untuk mulai berubah. Lebih cepat lebih baik dan jangan menunggu sampai kita mendapat “pelajaran” akibat kemalasan atau penundaan. Semakin cepat kita menanggalkan kemalasan, dampak positifnya akan semakin cepat kita rasakan. Selamat memperbaiki diri

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juni 2017

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu