“Apakah Al-Handphone?”

Foto di atas adalah dari Guttenberg Bible milik Library of Congress, USA

Penulis: Phil Fields

Saya mendengar dari seorang teman bahwa pendetanya baru-baru ini berkhotbah dengan berapi-api dan sangat tegas mengatakan bahwa jemaatnya tidak boleh menggunakan HP sebagai Alkitab. Alasannya bahwa menggunakan Alkitab berbentuk buku adalah sebagian dari kesaksian kita dan juga generasi muda jangan sampai tidak dididik untuk menggunakan buku Alkitab. Bahayanya adalah lima puluh tahun ke depan, generasi muda orang percaya tidak akan tahu caranya mendapat kitab dalam buku Alkitab. Dan ada bahaya bahwa Alkitab bentuk buku akan hilang dan tidak lagi dijual. Dia memberi nama ejekan untuk penggunaan aplikasi Alkitab sebagai ‘Al-Handphone’.

Saya sebagai penerbit aplikasi Alkitab secara digital ingin membalas kepada pendeta yang saya belum kenal itu. Memang, saya sebagai orang yang berusia 68 tahun juga mendapat banyak hal di mana saya sering mengkritik dan mengeluh tentang status dunia sekarang dan generasi muda, tetapi penggunaan Alkitab tidak termasuk ke dalam hal-hal itu.

Kita sedang hidup dalam zaman di mana terjadi “the biggest communication shift that has been seen in the last 500 years.” Maksudnya, perubahan-perubahan paradigma komunikasi yang sedang terjadi dalam kebudayaan di dunia saat ini adalah yang paling besar sejak permulaan penggunaan mesin cetak. (Yaitu—since the creation of the printing press.) Revolusi mesin cetak (yang juga disebut Revolusi Gutenberg) mulai dari penerbitan buku yang pertama pada tahun 1455— yaitu Gutenberg Bible. Hanya sekitar 180 eksemplar dibuat dalam edisi pertama itu. Kebanyakan dari 180 itu dicetak pada kertas. Tetapi ada beberapa yang dicetak pada velum (bahan yang tahan lama karena dibuat dari kulit kambing dan sapi muda). Mesin cetak itu bisa menghasilkan sebanyak 240 halaman per jam. Dan untuk mengoperasikan mesin itu, perlu tenaga beberapa orang.

Mohon perhatikan hal ini: Sebelum Revolusi Gutenberg, pada umumnya murid-murid Isa Al-Masih/Kristus Yesus tidak memiliki Alkitab secara pribadi. Salinan kitab-kitab Firman Tuhan dibuat dengan pekerjaan tangan saja, dengan memakai tinta yang dituliskan ke atas kertas atau velum dengan quill pen (pena yang dibuat dari bulu bebek).*  Hanya kalangan raja atau orang yang paling kaya yang bisa memiliki beberapa kitab dari Alkitab itu secara pribadi. Orang awam harus ke gereja untuk bisa mendengar Firman TUHAN. Saya menulis ‘mendengar’, karena kebanyakan masyarakat masih buta huruf. Jadi, untuk kebanyakan orang percaya zaman sebelum tahun 1500, harapan mereka hanyalah untuk mengingat sebanyak mungkin dari Firman TUHAN yang terdengar di jemaatnya.

Rasul Paulus tidak menyuruh para jemaat pertama bahwa mereka harus membaca suratnya dengan memakai buku bentuk gulingan saja. Dan Martin Luther pun tidak menyuruh supaya Firman TUHAN harus tetap dibaca dari buku yang dikerjakan melalui tangan manusia. Martin Luther pasti senang menerima zaman baru di mana Firman TUHAN bisa dicetak dengan mesin, sebagaimana 300.000 traktat-traktatnya dan Ke-95 Tesisnya dicetak dengan mesin model Gutenberg pada tahun 1522-1523.

Saya sudah berbicara tentang Revolusi Komunikasi yang sedang terjadi dalam masa sekarang dengan penerbit Andi Offset— yaitu perusahan yang menerbitkan PB TSI. Mereka memang melihat ke depan bahwa penerbitan buku-buku secara digital akan membuat buku fisik tidak terjual seperti sebelum revolusi tersebut. Pastilah toko-toko buku di Indonesia akan semakin berkurang. Tetapi mereka merasa bahwa buku-buku tetap akan dijual dan masih akan digunakan sebagai referensi banyak orang yang suka membaca. Buku-buku fisik masih akan digunakan dalam sekolah dan universitas. Dan memang benar: Lebih enak membaca buku daripada membaca layar HP, tablet ataupun komputer. Bisa menulis dan membuat catatan pribadi dalam buku fisik, sedangkan untuk melakukan itu dengan buku digital, tidaklah gampang dan memerlukan aplikasi baca yang khusus.

Kebetulan teman saya yang melarang untuk membaca Alkitab di layar Handphone adalah murid Isa Al-Masih. Berarti latar belakangnya sebagai penganut agama Islam. Teman itu mengingatkan saya bahwa orang-orang Muslim dididik untuk sangat menghormati Al Quran. Al-Quran tidak boleh ditaruh di bawah buku lain. Kalau terjadi sebuah insiden Al-Quran terjatuh, ketika diangkat harus mencium Al-Quran itu sambil berkata, “HADZA KALAMU ROBBI (Ini adalah firman Tuhanku).” Karena itu dia merasa bahwa cara menghormati buku Alkitab adalah suatu sifat positif yang bisa diajarkan oleh murid-murid Isa Al-Masih kepada orang-orang percaya dari latar belakang Kristen.

Saya setuju dengan itu! Saya mengeluh juga bahwa Alkitab tidak diberi kehormatan yang sepatutnya sebagai Firman TUHAN. Memang benar bahwa caranya umat Kristen memperlakukan Alkitab mereka sudah menjadi kesaksian yang negatif kepada para penganut agama mayoritas di negara ini! Tetapi harus juga diingat bahwa kita tidak menyembah Alkitab. Jangan sampai Alkitab menjadi seperti patung berhala. Itulah sebabnya semua pengikut Isa Al-Masih tidak dianjurkan untuk membaca Alkitab dalam bahasa sumber yang tidak dimengerti. Kita dianjurkan untuk mengerti Firman TUHAN, mempercayainya dengan sepenuh hati serta menghidupinya. Hal itu didukung oleh Mazmur 119:11 yang mengatakan,

Mzm. 119:11 (MILT) Aku telah menyimpan firman-Mu** dalam hatiku supaya aku tidak berbuat dosa melawan Engkau.

Menghafal Firman TUHAN lebih menunjukkan kehormatan kita kepadanya daripada pilihan buku atau gadget yang kita pakai untuk membacanya. Begitu juga Paulus mendorong kita,

Kolose 3:16 (TSI) Biarlah ajaran tentang Kristus terus memimpin dan bertumbuh dengan subur di dalam hatimu, supaya kalian saling mengajar dan menasihati dengan bijaksana. Salah satu cara untuk melakukan hal itu adalah nyanyikanlah nyanyian yang berdasarkan Kitab Mazmur, dan lagu pujian lain, serta lagu yang diberikan oleh Roh Allah. Biarlah hatimu selalu dipenuhi dengan rasa syukur kepada Allah.

Permulaan ayat ini menarik. Paulus menulis:

16 Ὁ λόγος τοῦ χριστοῦ ἐνοικείτω ἐν ὑμῖν πλουσίως
(Hendaklah) firman/perkataan Kristus hidup/bertumbuh/berdiam di dalam kalian (secara) berkelimpahan

Perhatikan persamaan dengan Ibrani 4:12, yang menuliskan, “Firman Allah sungguh hidup dan berkuasa.” Berarti kalau Firman tentang Kristus itu disimpan dalam hati kita, tidak seperti benda mati yang tertinggal saja di situ. Firman itu akan digunakan secara aktif oleh Ruh Allah untuk mentransformasikan kita. Itulah sebabnya, saya mendorong supaya kita jangan tinggalkan Firman TUHAN di rumah, tetapi mari kita membawanya ke mana saja kita pergi, supaya kita lebih sering bisa membukanya dan menambahkan kepada apa yang disimpan dalam hati kita.

Kita diberi izin dalam agama Kristen untuk menerjemahkan Firman Tuhan karena salah satu tujuan penting bagi kita adalah untuk memuridkan orang dari setiap suku-bangsa:

Mat. 28:19-20 (TSI) Karena itu, pergilah dan ajarlah orang-orang dari setiap suku-bangsa supaya mereka menjadi murid-Ku. Baptislah mereka sebagai orang yang mengikut Aku, Bapa-Ku, dan Roh Kudus.1 20 Dan ajarlah mereka supaya taat kepada semua yang sudah Ku-ajarkan kepada kalian. Dan yakinlah: Roh-Ku akan selalu menyertai setiap kalian sampai akhir dunia.”

Boleh dikatakan bahwa sejak hari Pentakosta yang pertama— ketika kemampuan khusus berbicara dalam berbagai bahasa diberikan, TUHAN sudah menunjukkan kehendak-Nya bahwa berita keselamatan diterjemahkan. Bagaimana kita dapat memuridkan sampai mengajarkan “supaya taat kepada semua yang sudah Isa ajarkan” kalau tidak bisa menerjemahkan Firman TUHAN ke dalam bahasa-bahasa setempat. Kalau Saudara pembaca ingin menunjukkan hormat untuk Firman TUHAN, salah satu caranya adalah untuk mendoakan dan mendukung organisasi-organisasi yang menerjemahkan Firman-Nya ke dalam bahasa Indonesia maupun bahasa-bahasa daerah.

Saya sebenarnya suka bahwa Al-Quran mempunyai hiasan di pinggir-pinggir halaman. Tetapi karena fokus kita sebagai orang-orang yang menjalani Amanat Agung, kita menghindari dari membuat edisi Alkitab yang terlalu mahal— walaupun kami setuju bahwa Firman TUHAN patut untuk dicetak dengan cara yang indah. Oleh karena itu, dan lagi karena Amanat Agung, saya menganggap hal yang positif bahwa dengan aplikasi YouVersion, kita bisa bagikan ayat-ayat Firman TUHAN dengan cara yang indah. Hanya saya mau menganjurkan bahwa kita membuat kombinasi ayat dan gambar yang cocok, yang mengilustrasikan makna atau keindahannya. Dan sedapat mungkin, mari kita saling berbagi yang tujuannya untuk memuliakan TUHAN.

Di jemaat saya di Arkansas, saya berpikir bahwa sekitar 40% orang menggunakan HP atau Tablet dalam kebaktian setiap hari Minggu. Pendeta kami pun berkhotbah dengan menggunakan iPad. Saya rasa lucu pada waktu mendengar ceritanya baru-baru ini yang terjadi di salah satu jemaat di Jakarta, di mana seorang pendeta yang baru datang untuk berkhotbah dikritik karena tidak menggunakan iPad! Ketika saya secara pribadi membaca Firman TUHAN setiap pagi, saya selalu menggunakan tablet. Saya merasa bahwa tablet 7 atau 8 inch adalah ukuran yang terbaik untuk dibaca. Kalau menggunakan tablet 10 inch, baris-baris teks menjadi terlalu panjang. Salah satu kelebihan menggunakan tablet adalah bisa mengikuti rencana baca dalam Alkitab YouVersion. Menggunakan rencana baca secara digital jauh lebih gampang daripada dengan daftar kertas dan buku Alkitab dan akan menolong generasi sekarang untuk membaca seluruh Alkitab secara teratur.

Kembali kepada moto Albata: Firman TUHAN adalah kunci kehidupan. Albata hadir dengan misi meningkatkan pemahaman Firman Tuhan agar para pembaca dan pendengar mengalami pembaharuan hidup. Harus diakui bahwa pada zaman ini, banyak hal yang negatif sedang terjadi yang dipromosikan melalui Internet kepada kita. Ternyata kita sedang hidup dalam zaman yang mirip jangka waktu “tiga setengah tahun” yang disebut oleh nabi Daniel dan yang dinubuatkan di kitab Wahyu.  Tetapi walaupun demikian, TUHAN membuat supaya semua orang yang menantikan kedatangan Isa Al-Masih bisa dididik dan dikuatkan melalui Internet dan HP juga. Contohnya, murid-murid-Nya yang belum bisa mengakui kepercayaan mereka secara terbuka, sekarang bisa membaca Firman TUHAN dengan lebih aman lewat HP mereka. Jangan sampai kita tutup mata terhadap caranya Allah sedang menolong kita!

Yang penting dalam Revolusi Komunikasi yang sedang terjadi adalah supaya Firman TUHAN dibaca, dan hidup setiap pembaca diperbarui oleh Ruh Kudus.


Catatan:

  1. Hak cipta untuk ballpoint pen yang pertama diberikan oleh pemerintah Amerika Serikat pada tahun 1888.
  2. TB menerjemahkan dengan kata ‘janji’: “Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.” Saya belum menemukan terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris yang menggunakan kata ‘promise’ untuk menerjemahkan אִמְרָתֶ֑ךָ (’im·rā·ṯe·ḵā;). Tetapi, memang perkataan he gave his word berarti he gave his promise’ dalam bahasa Inggris. Saya merasa terjemahan ‘janji-Mu’ tidak salah, tetapi membuat arti dalam ayat ini lebih sempit dari yang dalam bahasa sumber.
  3. Itu sebabnya saya tidak senang menerjemahkan Kolose 3:16 seperti KSI, “Hendaklah perkataan Al-Masih tinggal di dalam dirimu…”

 

Phil Fields datang ke Indonesia dengan istrinya (Gale) dan ketiga anak mereka (David, Rachel, dan Hannah) pada bulan Oktober tahun 1983. Proyek terjemahan mereka yang pertama adalah Perjanjian Baru dalam bahasa Orya. Suku Orya terdiri dari sekitar 2000 penduduk yang tinggal di daerah berbukit-bukit yang luas—  memulai dari dekat tempat transmigrasi Bonggo dan sampai Taja dan Wamho.

Hobby Pak Phil adalah main musik dengan Irish flute, penny whistle, clarinet, dan saxophone. Situs lain yang dimilikinya termasuk clarinetpages.net dan dailybiblereading.info.

Posted in Artikel Alkitabiah.

Jaya Waruwu