Allah yang Tersakiti

 

Bacaan  Mazmur 78:32-41
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

32 Meskipun begitu umat-Nya tetap berdosa,
keajaiban-keajaiban-Nya tidak membuat mereka percaya.
33 Maka Allah mengakhiri hidup mereka seperti napas,
tahun-tahun mereka habis dalam ketakutan.
34 Tiap kali Allah membunuh beberapa di antara mereka,
yang lain menyesal dan kembali kepada-Nya.
35 Mereka ingat bahwa Allah pelindung mereka,
dan bahwa Yang Mahatinggi penyelamat mereka.
36 Tetapi mereka membohongi Dia,
ucapan-ucapan mereka dusta belaka.
37 Mereka tidak setia kepada-Nya
dan tidak berpegang pada perjanjian-Nya. Kis. 8:21
38 Tapi Allah mengasihani dan mengampuni umat-Nya,
dan tidak membinasakan mereka.
Berkali-kali Ia menahan kemarahan-Nya,
dan tidak melampiaskan murka-Nya.
39 Ia ingat bahwa mereka hanya makhluk yang fana,
seperti angin yang lewat dan tidak kembali.
40 Betapa sering mereka berontak terhadap Dia,
dan menyakiti hati-Nya sewaktu di padang gurun.
41 Berulang kali mereka mencobai Allah,
menyusahkan Yang Kudus, Allah Israel.

Apakah kita masih ingat dengan film The Passion of The Christ? yang disutradarai oleh Mel Gibson? Dalam film tersebut, kita dapat menyaksikan dengan sangat jelas seputar pencambukan sampai penyaliban Yesus. Kita juga bisa melihat bagaimana Yesus diolok-olok, dihina, dan dicerca, seperti yang tertulis juga dalam Injil (band. Mrk 15:29–32). Tentu saja, secara manusia, hati Yesus akan tersakiti oleh perlakuan tersebut. Namun hebatnya, Yesus tidak mendendam atau mengutuki mereka. Ia justru berdoa memintakan pengampunan dari Bapa Surgawi.

Ribuan tahun sebelum peristiwa penyaliban itu, hati Allah pun pernah tersakiti oleh sikap dan perbuatan umat-Nya. Umat yang telah dibebaskan dari tempat perbudakan, yang melihat langsung mukjizat demi mukjizat yang Allah lakukan, tetapi mereka berulang kali mencobai Allah dan menyakiti hati-Nya. Kita mungkin menganggap hal tersebut ironis, tetapi bukanlah tanpa kita sadari, sering kali kita juga menyakiti hati-Nya? Ya, kita sebenarnya sedang menyakiti hati Allah ketika kita berbuat dosa. Hati-Nya akan sedih ketika kita tidak memercayai akan kuasa-Nya dalam melakukan segala sesuatu, sehingga kita memilih untuk khawatir. Allah pun akan berduka ketika kita tidak setia kepada-Nya dan memberontak terhadap nasihat, teguran, peringatan, maupun perintah-Nya.

Secara manusia, rasanya tak mungkin menjalani hidup sempurna tanpa sekalipun kita menyakiti hati-Nya. Oleh karena itu, kita memerlukan anugerah-Nya untuk dapat menjalani hidup yang berkenan dan menyukakan hati-Nya. Jagalah hidup kita, percayalah akan kemampuan dan kuasa-Nya, dan belajarlah untuk hidup dalam ketaatan. Bukankah jauh lebih indah ketika membuat Tuhan tersenyum daripada membuat Dia berduka?

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Agustus 2017 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu