Apa Cita-Citamu?

Bacaan Filipi 3:1-11
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia

Mengenal Kristus jauh lebih berarti dari segala apa pun

1 Akhirnya Saudara-saudari yang saya kasihi, bersukacitalah karena bersatu dengan Tuhan! Saya tidak bosan-bosan mengulangi apa yang sudah saya tuliskan sebelumnya. Bahkan saya menegaskan hal bersukacita itu supaya secara rohani kalian aman.
2 Hati-hatilah terhadap guru-guru palsu! Mereka seperti anjing! Menurut mereka adat sunat Yahudi wajib untuk setiap laki-laki. Tetapi sebenarnya mereka adalah penjahat yang hanya mau memotong kulit alat kelaminmu saja!
3 Tetapi kita sudah menerima sunat yang sejati— yaitu sunat hati!* Buktinya kita menyembah Allah melalui Roh-Nya dan kita hanya bangga dengan apa yang Kristus Yesus kerjakan untuk menyelamatkan kita. Dan kita tidak bergantung pada upacara yang dilakukan dengan tangan manusia pada tubuh laki-laki atau peraturan-peraturan jasmani yang lain.
4 Kalau guru-guru palsu itu merasa bahwa mereka bisa bergantung kepada hal-hal jasmani seperti itu, atau status mereka dalam agama Yahudi, maka saya lebih pantas lagi berbangga atas hal seperti itu!
5 Saya disunat waktu berumur satu minggu.** Saya adalah keturunan Israel dari suku Benyamin. Saya orang Ibrani dan orang tua saya juga orang Ibrani. Saya juga anggota kelompok Farisi, jadi jelaslah bahwa saya sangat menaati semua Hukum Taurat.
Dan saya begitu semangat berjuang mempertahankan agama Yahudi sehingga saya menganiaya orang-orang yang percaya kepada Yesus. Pada waktu itu semua orang Yahudi bersaksi bahwa saya hidup benar dan tanpa noda sesuai dengan Hukum Taurat.
7 Memang dulu saya bangga dan merasa beruntung karena semuanya itu. Tetapi sekarang saya menganggap semua hal itu tidak berguna, karena sekarang saya hanya berbangga atas apa yang sudah Kristus kerjakan!
8 Bukan hanya itu saja! Bahkan saya menganggap segala sesuatu tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan apa yang saya miliki sekarang— yaitu mengenal Tuhan saya Kristus Yesus! Karena Kristus, semua yang dulu saya banggakan sekarang saya anggap tidak ada artinya dan sama saja dengan sampah. Mengenal Kristus jauh lebih berarti!
9 Jadi saya hanya ingin terus bersatu dengan Dia. Saya dibenarkan di hadapan Allah bukan karena hasil usaha saya dalam menaati Hukum Taurat, melainkan hanya karena Kristus! Ya, saya percaya penuh atas apa yang Kristus kerjakan, dan lewat percaya itu saja saya dibenarkan di hadapan Allah.
10 Maka sekarang saya hanya rindukan mengenal Kristus dan kuasa yang menghidupkan Dia dari kematian. Dan saya rindu ikut menderita dalam rangka melayani Kristus sama seperti Dia sendiri menderita— sampai saya rela mati seperti Dia!
11 Dengan begitu saya sangat berharap supaya saya sendiri pantas ikut dihidupkan kembali dari kematian.

Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit!” Kata-kata mutiara ini sering kita temukkan pada tempelan-tempelan di ruang kelas untuk memicu semangat belajar meraih cita-cita. Bagaimana dengan cita-cita saudara? Saya yakin, saudara tidak pernah bercita-cita menjadi orang yang susah, tetapi mungkin cita-cita saudara ada di deretan profesi terhormat di dunia ini.

Kali ini, mari belajar dari cita-cita Paulus. Dari penjelasannya, mungkin saja cita-cita awal Paulus sudah ia capai, yaitu menjadi ahli Taurat yang sangat unggul. Kehormatan dan kebanggaan dari manusia sudah pasti ia dapat. Namun, terjadi titik balik yang membuat Paulus berkesimpulan bahwa semuanya itu sampah dan rugi karena pengenalan akan Kristus sebagai Tuhannya lebih mulia dari­ pada semuanya itu. Karenanya, ia memutuskan untuk melepaskan semua kebanggaannya dan meng­anggapnya sampah. Sekarang ia memiliki pengejaran atau cita-cita baru. Di situ, kita lihat bahwa salah satu cita-citanya adalah persekutuan dalam penderitaan Kristus supaya ia menjadi serupa dengan Kristus dalam penderitaan-Nya. Baginya, itulah yang menjadi dambaannya. Pada saatnya, ia akan bangkit dari antara orang mati. Penderitaan bagi Kristus bukanlah sesuatu yang membuatnya malu atau bersedih tetapi menjadi sukacitanya, seperti tema tulisan suratnya kepada jemaat Filipi. Sekalipun ia menderita dalam penjara ketika menuliskannya.

Firman Tuhan ini mengajak kita untuk menge­jar cita-cita yang jauh lebih mulia, yaitu mengenal Kristus dalam penderitaan bagi-Nya. Dengan cara apa kita bisa secara sengaja menjadikan penderitaan bagi Kristus sebagai cita-cita kita hari ini? kiranya Roh Kudus menolong kita menemukan dan melakukannya.

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Catatan Kaki
* Sunat hati Lihat Kol. 2:11.
** 3:5 satu minggu Secara harfiah, “delapan hari.” Kalau bayi laki-laki lahir pada hari Senin, maka dia disunat pada hari Senin berikutnya. Menurut cara hitung orang Yahudi, hari pertama dan hari terakhir dihitung. Dalam contoh di atas, hari Senin yang pertama dihitung sebagai hari kesatu, dan hari Senin berikutnya dihitung sebagai hari kedelapan.

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu