Cara Hidup yang Berbeda

Bacaan Lukas 5:13-16 
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Garam dan Terang dunia
(Mrk. 9:50; Luk. 14:34-35)

13 “Pengaruh baik kalian di dunia ini dapat digambarkan seperti garam dalam makanan. Waktu memasak setiap orang senang mencampur sedikit garam ke dalam masakannya. Tidak ada orang yang mau mencampurkan pasir ke dalam makanan, karena pasir tidak mengandung rasa asin seperti garam. Oleh karena itu, janganlah kalian menjadi seperti pasir, karena itu hanya dibuang keluar lalu diinjak-injak orang. Jadilah seperti garam!*
14 “Kamu seperti terang dalam dunia yang gelap ini. Jadi kamu seperti kota yang terletak di atas bukit. Terangnya bersinar dan kota itu tidak bisa disembunyikan.
15 Begitu juga, tidak ada orang yang menyalakan lampu lalu menutupnya dengan tempayan. Tetapi lampu selalu ditaruh di tempat yang tinggi, supaya menerangi semua orang yang ada di dalam rumah.
16 Begitulah hendaknya terangmu menyinari orang lain. Maksud-Ku, biar orang-orang lain melihat perbuatan-perbuatan baik yang kamu lakukan, lalu memuliakan Bapamu yang di surga.”

Saya mengenal seorang pria yang hidup seorang diri pada masa tuanya. Kabarnya, anak-anaknya tinggal diluar kota, tetapi ia sendiri memilih tetap tinggal di sebuah kota kcamatan kecil. Apakah keadaan ini lantas membuatnya hidup tanpa semangat dan mengasihani diri? Ternyata tidak! Sedapat mungkin ia menjalani hidup untuk menjadi berkat bagi orang lain, terutama lewat hobi fotografinya. Saya sendiri pernah diberi selembar foto, hasil jepretan kameranya dalam suatu acara, tanpa harus membayar serupiah pun!

Ada banyak orang menjalani hidup dalam kesendirian, tetapi mereka memilih untuk mengasihani diri sendiri atau meratapi nasib. Namun, tak sedikit yang memilih cara hidup yang berbeda, seperti dilakukan oleh Pak Djum, nama pria dalam cerita di atas. Kehidupannya seperti garam yang memberi rasa dan terang yang bercahaya dalam kegelapan malam. Mungkin yang dilakukan tak banyak, tetapi cukup memberi rasa, seperti garam yang dilarutkan ke dalam sepanci masakan atau seperti nyala api lilin yang bermanfaat untuk menerangi ruangan. Ajaran Yesus mengenai garam dan terang ditujukan bagi orang percaya pada sepanjang zaman. Ajaran yang masih relevan untuk diterapkan sampai hari ini.

Yesus merindukan, setiap orang yang mengakui dirinya sebagai anak-anak Allah, wajib memuliakan Allah melalui cara hidup yang memberi dampak dan bermanfaat bagi sesamanya. Bagaimana dengan cara hidup kita hari-hari ini? Seumpama garam, apakah kita masih cukup asin untuk “memberi rasa” bagi orang lain? Seumpama pelita, apakah kehidupan kita cukup menerangi kegelapan yang
ada di sekitar kita?

*Dikutip dari renungan Andi Offset Mei 2017

Catatan Kaki:
*5:13 Ayat 13 Secara harfiah (dengan informasi tersirat) bisa diterjemahkan seperti ini: “Kalian masing-masing seperti garam (menggambarkan pengaruh baik kalian) bagi orang-orang di dalam dunia ini. Tetapi kalau rasa asin garam hilang, tidak mungkin membuatnya menjadi asin lagi. Garam itu (menjadi seperti pasir saja) akan dibuang ke luar dan diinjak-injak orang.”

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu