Es Krim Pertama

Bacaan Matius 7:7-11
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia

Nasihat Yesus untuk bertekun dalam doa
(Luk. 11:9-13)
7 “Mintalah terus kepada Allah, maka kamu akan menerimanya. Carilah terus, maka kamu akan menemukannya. Ketuklah terus, maka pintu akan dibukakan bagimu.

8 Karena setiap orang yang meminta dengan tekun akan menerima apa yang dia minta. Setiap orang yang mencari dengan tekun akan mendapatkan apa yang dia cari. Dan setiap orang yang terus mengetuk pintu, maka pintu itu akan dibukakan baginya.
9 “Kalau anakmu minta makanan* pastilah kamu tidak akan memberi dia batu— bukan?!
10 Atau kalau anakmu minta ikan, kamu pasti tidak akan memberinya ular yang berbisa— bukan?!
11 Kalau kamu yang jahat tahu memberikan yang baik kepada anak-anakmu, terlebih lagi Bapamu yang di surga! Dia pasti akan memberikan yang baik kepada setiap kita yang meminta kepada-Nya.”

Saya masih ingat es krim pertama saya. Saat itu saya masih kecil dan keluarga kami kemana-mana hanya naik sepeda.
Ibu di belakang menggendong adik. Saya duduk di depan. Ayah mengayuh. Sekarang saya sudah bekerja. Saya bisa membeli es krim enak tetapi tidak pernah saya menemukan es krim seenak dulu. Apakah yang membuat es krim pertama itu nikmatnya tak tertandingi?

Firman Tuhan pada nats membantu saya mene­mukan jawabannya. Ayat tersebut dikenal sebagai ja­minan jawaban doa. Namun, melihat perikop-perikop sebelumnya, kita tahu Tuhan memberikannya setelah Dia memberi petunjuk tentang standar menjadi murid-Nya. Tidak main-main, standarnya “Hendaklah kamu mengasihi semua orang! Dengan demikian kamu akan menjadi sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.”” (Mat. 5:48).

Untuk memenuhinya, Dia memberi beberapa pe­tunjuk hidup murid—dari berbahagia sebagai orang yang miskin di hadapan Allah, menjadi garam dan terang dunia, mengasihi sesama, sampai tidak menghakimi orang lain dengan ukuran sendiri. Harus diakui, standar tersebut tidak sesuai dengan natur manusia yang mendambakan kenikmatan. Justru kita bisa mengecap kenikmatan jawaban doa ketika kita sudah melakukan standar- Nya. Syukurnya, kita tidak akan pernah bisa memenuhi standar tersebut dengan kekuatan sendiri sehingga Dia memberikan Roh-Nya menolong kita.

Sungguh, es krim pertama itu sangat nikmat karena saya tidak bisa membelinya sendiri dan diberikan setelah saya menjalani keterbatasan serta kesederhanaan. Mari bersyukur kepada Tuhan bila saat ini kita ada dalam kesulitan atau keterbatasan, karena dengan hal tersebut justru kita akan bisa mengecap kenikmatan jawaban doa
dari Tuhan dengan sepenuhnya. (AST)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Catatan Kaki
*7:9 makanan Secara harfiah, “roti.” Di Israel pada waktu Yesus mengajar, makanan pokok mereka adalah roti. Tim penerjemah menerjemahkan sebagai ‘makanan’ karena untuk kebanyakan orang Indonesia, roti adalah makanan istimewa dan bukan makanan pokok.

Kebangkitan-Nya Memberi Pengharapan

Bacaan 1 Korintus 15:14-22
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

 

Sesudah mati, kita akan hidup kembali

12 Jadi, kalau kami para rasul selalu memberitakan bahwa Kristus sudah dihidupkan kembali dari kematian, kenapa ada beberapa orang di antara kalian yang berkata bahwa kita orang-orang percaya tidak akan dihidupkan dari kematian?
13 Karena kalau kita tidak dihidupkan kembali dari kematian, itu berarti Kristus juga tidak pernah hidup kembali dari kematian.
14 Dan sekiranya Kristus tidak pernah dihidupkan kembali, maka sia-sialah berita yang kami sampaikan. Dan keyakinan kalian juga sia-sia saja.
15 Kalau begitu kami juga keliru, karena ternyata kami sudah mengajarkan yang salah tentang Allah. Karena kami sudah memberitakan bahwa Allah sudah menghidupkan Kristus kembali. Padahal— kalau benar bahwa orang-orang mati tidak pernah dihidupkan kembali, maka Allah pun tidak pernah menghidupkan Kristus!
16 Karena kalau benar orang-orang mati tidak akan pernah dihidupkan kembali, berarti Kristus juga tidak pernah dihidupkan kembali.
17 Dan kalau Kristus tidak dihidupkan kembali dari kematian, percuma saja keyakinan kita, dan kita masih hidup di dalam dosa!
18 Demikian juga saudara-saudari kita yang sudah bersatu dengan Kristus dan yang sudah mati. Mereka tidak diselamatkan melainkan sudah binasa!
19 Dan kalau pengharapan kita kepada Kristus hanya untuk kehidupan di dalam dunia ini saja, kitalah yang paling malang di antara semua manusia!
20 Tetapi sebenarnya Kristus sudah dihidupkan kembali dari antara orang-orang mati! Hal itulah yang menjadi jaminan bahwa orang-orang lain yang sudah mati pasti akan dihidupkan kembali.*
21 Jadi perhatikanlah hal ini: Kuasa kematian menular kepada manusia karena perbuatan satu orang— yaitu Adam. Jadi sekarang oleh karena Satu Orang jugalah— yaitu Yesus, manusia dihidupkan kembali dari kematian.
22 Karena sebagai keturunan Adam, semua manusia mengalami kematian. Tetapi setiap kita yang bersatu dengan Kristus dihidupkan kembali dari kematian.

Dunia postmodern sedang mulai “menggoyahkan” kekristenan dengan menyodorkan mulai beribu “fakta”tentang Kristus yang tidak bangkit. Sejak diterbitkannya buku The Da Vinci Code sampai buku-buku seperti “Injil” Thomas, The Lost Tomb of Jesus, dll, Kristus dihujat dan dinyatakan tidak bangkit dengan argumen ditemukannya mayat yang diduga berasal dari keturunan Yesus. Lebih parahnya lagi, seorang pemimpin gereja dari gereja arus utama dan dosen di sekolah teologi arus utama berani membuat suatu artikel di suatu surat kabar bahwa Yesus tidak bangkit, lalu orang ini ditegur oleh gereja di tempat ia melayani.

Jangan biarkan diri sendiri ditipu oleh tipuan Iblis di zaman postmodern ini! Sekalipun kita tidak mengalami pengalaman seperti Tomas (Yoh. 20:28) dan Paulus ketika sedang dalam perjalanan ke Damsyik (Kis. 9:5), tetaplah percaya akan kebangkitan Kristus. Sebab kebangkitan- Nya memberikan harapan bagi barangsiapa yang percaya. Pertama, kebangkitan Kristus memberi pengharapan perubahan hidup (ay. 9-11). Ada dua hal perubahan yang dialami Paulus, yakni perubahan status (ay. 9-10a) dan
perubahan arah hidup (ay. 10b-11). Kedua, kebangkitan Kristus memberi pengharapan akan kepastian iman (ay. 14, 17), yaitu kepastian iman yang berkaitan dengan keselamatan (ay. 19) dan kepastian yang berkaitan dengan kebangkitan tubuh di kekekalan kelak (ay. 16, 35-58).

Tidak ada pengharapan yang paling agung dan mulia yang dapat kita jumpai dan alami selain pengharapan di dalam Kristus dan kebangkitan-Nya. Mari sadari kembali bahwa jika Kristus tidak bangkit, kita akan terus hidup dalam dosa dan kebinasaan kekal menanti kita. (YS)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Catatan Kaki
*15:20 menjadi jaminanSecara harfiah, “hasil (panen) pertama dari yang tertidur (dalam kematian).” Yesus digambarkan seperti hasil panen pertama. Dalam Perjanjian Lama, hasil panen yang pertama diberikan kepada Allah. (Im. 23:9-14) Dalam ayat ini hasil panen pertama merupakan jaminan bahwa pasti masih ada banyak lagi hasil yang akan dipanen.

Kasih Tertinggi

Bacaan Yohanes 15:1-13
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Yesuslah pohon anggur

1 Lalu Yesus berkata kepada kami murid-murid-Nya, “Aku seperti pohon anggur yang benar-benar menghasilkan buah sesuai dengan kehendak Allah, dan Bapa-Ku seperti petani yang merawat pohon anggur itu.
2 Dia memangkas setiap cabang-Ku yang tidak menghasilkan buah. Dan Dia mengurangi daun pada setiap cabang yang sedang berbuah, supaya buahnya* bertambah banyak lagi.
3 Kalian masing-masing memang sudah siap untuk berbuah karena ajaran yang Ku-berikan kepadamu.
4 Hendaklah kamu hidup bersatu dengan Aku, dan Aku pun akan tetap hidup bersatu denganmu. Sama seperti cabang tidak bisa berbuah kalau hidup terpisah dari pohonnya, begitu juga dengan kamu. Kalau kamu tidak hidup bersatu dengan Aku, kamu tidak akan bisa berbuah.
5 “Aku memang seperti pohon anggur, dan kamu seperti cabang-cabang-Ku. Kalau kamu tetap hidup bersatu dengan Aku, dan Aku tetap hidup bersatu dengan kamu, maka kamu akan menghasilkan banyak buah. Tetapi kalau kamu terpisah dari-Ku, kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa.
6 Setiap orang yang hidupnya terpisah dari-Ku seperti cabang-cabang pohon yang dibuang ke luar dan menjadi kering. Cabang-cabang itu akan dikumpulkan, lalu dilemparkan dan dibakar ke dalam api.
7 Kalau kamu tetap hidup bersatu dengan Aku, dan ajaran-Ku hidup di dalam hatimu, kamu boleh minta apa saja yang kamu perlukan, maka hal itu akan diberikan kepadamu.
8 Bapa-Ku akan dimuliakan apabila kamu menghasilkan banyak buah. Hal itu juga menunjukkan bahwa kamu benar-benar murid-Ku.
9 “Seperti Bapa selalu mengasihi Aku, begitu juga Aku selalu mengasihi kamu. Hendaklah kamu terus hidup sebagai orang yang Aku kasihi.
10 Tetaplah taat kepada perintah-perintah-Ku, Aku juga akan tetap mengasihi kamu. Begitu juga Bapa-Ku tetap mengasihi-Ku, karena Aku selalu taat kepada perintah-Nya.
11 Aku sudah memberitahukan semua ini kepadamu, supaya kamu ikut merasakan sukacita-Ku, dan supaya tidak ada sesuatu pun yang kurang dari sukacitamu.
12 Inilah perintah yang Ku-berikan kepadamu: Hendaklah kamu saling mengasihi satu sama lain, sama seperti Aku mengasihi kamu.
13 Bukti seseorang mempunyai kasih yang paling luar biasa adalah ketika dia rela mengurbankan dirinya sendiri demi menyelamatkan sahabat-sahabatnya. 

Pada Perang Dunia II, pengepungan pasukan Hitler terhadap Leningrad mengakibatkan jutaan orang dalam
kota mati kelaparan. Dari sekian banyak korban, 12 orang mati kelaparan di tengah-tengah bahan makanan yang dapat mempertahankan hidup mereka di penyimpanan bibit tanaman unggul di Pavlovsk. Ahli tanaman kacang, Alexander Stchukin mati di meja kantornya, melindungi ribuan ton sumber makanan yang bisa menyelamatkan hidup semua orang. Mereka memilih mati karena ingin memastikan generasi penerus bangsa Rusia dapat mengon­sumsi makanan yang telah mereka jaga dengan nyawa.

Kembali kita diingatkan bahwa tidak ada kasih yang lebih besar daripada seseorang yang menyerahkan
nyawanya untuk orang lain. Dasar dari pengurbanan ini adalah kasih dan kasih ini berada pada tingkat yang tak
dapat ditandingi oleh jenis yang lain. Bapa mengirim anak-Nya yang tunggal untuk mati bagi dosa-dosa manusia,
yang seharusnya tak perlu dilakukan-Nya. Jika keadilan Allah semata yang ditegakkan, manusia sendiri yang harus
menanggung dosa. Namun, Allah juga merupakan pribadi yang Maha pengasih dan bukti terbesar akan kasih-Nya
adalah ketika Dia mati di kayu salib untuk menyelamatkan manusia.

Menjelang peringatan kematian Kristus, mari kita melihat diri sebagai pribadi-pribadi yang telah ditebus oleh
Yesus Kristus. Saat kehidupan mulai membawa pengaruh yang mengatakan manusia adalah pusat dari segalanya,
memahami tingkat kasih yang tertinggi dapat menyadarkan posisi Allah dan posisi kita yang sebenarnya. Sepatutnya
kita bersyukur setiap hari bahwa ada seseorang yang rela menyerahkan nyawa-Nya supaya kita tidak binasa tetapi
memperoleh kehidupan yang bermakna. (NSG)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017
Catatan Kaki
*Menghasilkan buah Karena arti sebenarnya adalah orang dan bukan pohon yang berbuah, artinya hidup dengan cara menunjukkan bahwa mereka adalah milik Yesus. Termasuk dalam cara hidup itu adalah 1) “Hasil dan bukti Roh Kudus terlibat dalam hidup kita”— yang disebut di Gal. 5:22-23. (Lihat juga Ef. 5:9; Ibr. 12:11; Yak. 3:18.) 2) ‘Panen gandum’ rohani— yaitu memenangkan jiwa-jiwa supaya hidup mereka juga diubahkan dan mereka memperoleh keselamatan yang selama-lamanya, seperti yang Yesus jelaskan dalam Yoh. 4:34-38 dan Yoh. 15:16. Yesus menyerahkan diri-Nya untuk hal itu, seperti yang dinyatakan dalam Yoh. 12:24.

Menunda-nunda

Bacaan Amsal 6:1-11
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Nasihat-nasihat lain
1 Anakku, barangkali kau pernah berjanji kepada seseorang untuk menanggung utangnya.
2
Dan boleh jadi kau telah terjerat oleh kata-katamu dan terjebak oleh janjimu sendiri.

3 Kalau benar begitu, anakku, engkau sudah berada dalam kekuasaan orang itu. Tetapi inilah caranya kau dapat
lolos: cepatlah pergi kepada orang itu; mintalah dengan sangat supaya ia mau membebaskan engkau.
4 Janganlah pergi tidur dahulu, dan jangan beristirahat.
5 Lepaskanlah dirimu dari perangkap itu seperti burung atau kijang melepaskan diri dari pemburu.
6 Orang yang malas harus memperhatikan cara hidup semut dan belajar daripadanya.
7 Semut tidak punya pemimpin, tidak punya penguasa atau pengawas,
8 tetapi selama musim menuai mereka mengumpulkan bekal untuk musim paceklik.
9 Sampai kapan si pemalas itu mau tidur? Kapankah ia mau bangun?
10 Ia duduk berpangku tangan untuk beristirahat, dan ia berkata, “Ah, aku tidur sejenak, aku mengantuk. “
11 Tetapi sementara ia tidur, ia ditimpa kekurangan dan kemiskinan yang datang seperti perampok bersenjata.

Sepuluh tahun terakhir, dunia dihebohkan dengan berita-berita yang menyatakan bahwa tanggal sekian bulan sekian dan tahun sekian akan terjadi kiamat. Pernyataan-pernyataan tersebut bukan hanya berasal dari peramal, tetapi juga dari beberapa hamba Tuhan yang mengatakan mendapat pesan Tuhan dalam berbagai bentuk. Ada yang mendapat penglihatan, suara Tuhan secara audible, hingga mimpi. Namun tiba tanggal yang disebutkan, bumi ini baik-baik saja. Tak ada tanda-tanda sedikit pun yang menunjukkan akan terjadi kiamat atau semacamnya.

Faktanya, ketika semua itu meleset, satu hal yang saya syukuri adalah saya masih mempunyai kesempatan
sekali lagi untuk serius mengikut Tuhan dan hidup sesuai perintah-Nya. Sayangnya, respons ini tidak ditunjukkan
oleh orang-orang di sekitar saya. Mungkin juga di ling­kungan Anda. Nyatanya, saya masih melihat banyak orang
mengaku Kristen tetapi hidupnya bermalas-malasan. Bukan malas bekerja atau menempuh pendidikan, tetapi
menunda untuk melakukan perintah Tuhan. Menunda berdoa, menunda membaca firman Tuhan, menunda ke
gereja, dan hidup semaunya sendiri. Padahal firman Tuhan memberitahukan kepada kita akan ruginya diri sendiri
ketika memelihara kebiasaan menunda. Menunda adalah bentuk dari kemalasan.

Jika kita malas bekerja atau belajar, maka kemiskinan dan kekurangan adalah buah yang akan kita nikmati di
waktu yang akan datang. Sementara, kalau kita tidak serius mengikut Tuhan maka kemalangan hidup akan menimpa
kita. Bahkan, kebinasaan kekal sudah menanti kita. Tentu Anda tidak mau, bukan? Selagi masih memiliki
waktu untuk serius dengan Tuhan, maka jangan lagi menunda-nunda untuk melakukan perintah-Nya. Jangan
sampai kita menyesal dikemudian hari. (MUD)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Kasih adalah Tindakan

Bacaan Yohanes 15:13
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

13 Bukti seseorang mempunyai kasih yang paling luar biasa adalah ketika dia rela mengurbankan dirinya sendiri demi menyelamatkan sahabat-sahabatnya. 

Persahabatan tidak hanya sekadar kata-kata, tetapi juga dibuktikan dengan tindakan. Hal inilah yang
dilakukan Qin Jiao. Kisah ini berawal ketika Qin yang saat itu masih 9 tahun mengetahui sahabatnya, Ying Hui tidak
bisa berangkat sekolah akibat sakit polio yang dideritanya. Karena keluarga Ying tak mampu membopongnya, Qin
memutuskan untuk menolong sang sahabat. Bocah perempuan 13 tahun ini pun membiarkan Ying bersandar
di punggungnya setiap pergi dan pulang sekolah. Meng­gendongnya. Qin telah membopong sahabatnya di
punggung dan melewati perjalanan 4 mil atau 6,4 km untuk sampai ke sekolah selama 3 tahun berturut-turut. Ia
pun tak pernah mengeluh lelah.

Betapa beruntungnya Ying memiliki sahabat yang mengasihi dirinya dengan tulus, mengingat “Penyakit”
yang sebenarnya paling dihindari setiap orang adalah ketika ia tidak dikasihi. Manusia yang tidak dikasihi tidak akan
pernah mampu mengasihi apalagi berbuat hal-hal yang didasari oleh kasih. Syukur, kasih yang kekal dari Allah Bapa
dan Putra-Nya telah terlebih dulu tercurah atas manusia, sehingga bukan hanya hubungan kita dengan Bapa di surga
dipulihkan atau karakter kita dibentuk tetapi kita juga dimampukan untuk mengasihi sesama termasuk mereka
yang menganiaya kita. Bukankah ini suatu perubahan yang menjadikan hidup lebih indah? Selanjutnya, apakah yang
harus kita lakukan sebagai wujud kasih?

Pancarkanlah kasih Bapa kepada orangtua, saudara, teman, bahkan orang-orang yang menyakiti kita, supaya
mereka pun mengalami kasih Bapa. Bila disakiti, jangan membalas tetapi ampunilah orang tersebut dan tetaplah
bersikap baik meski sulit. Ingat, kasih bukanlah kata-kata
melainkan tindakan! (Yustinus)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Scroll to top