Menjawab pertanyaan: “Mengapa Albata menerjemahkan Alkitab?”

Menjawab pertanyaan:

“Mengapa Albata menerjemahkan Alkitab?”

Visi misi Albata adalah Meningkatkan Pemahaman Firman Tuhan di Seluruh Pelosok Indonesia supaya Para Pembaca dan Pendengar Mengalami Pembaharuan Hidup.

Berdasarkan visi misi tersebut kehadiran Albata tidak bermaksud untuk menggantikan berbagai Alkitab terjemahan yang sudah ada di Indonesia melainkan untuk meningkatkan pemahaman akan Firman Tuhan. (Lihat juga artikel: Sejarah Singkat Berdirinya Yayasan Alkitab BahasaKita)

Lalu kenapa Albata merasa harus menerjemahkan Alkitab?

Albata menerjemahkan Alkitab karena:

  • Pertama, bagi banyak orang di Indonesia Firman Tuhan sulit dimengerti.

Terjemahan Alkitab yang secara umum dipakai di seluruh Indonesia sampai hari ini adalah Alkitab Terjemahan Baru (TB) dari Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Kami sangat menghargai TB sebagai Firman Tuhan yang sudah mengubah hidup banyak orang di Indonesia.

Tetapi TB adalah terjemahan harfiah. Dalam penerjemahannya TB masih menggunakan bahasa-bahasa formal, atau paling tidak masih menggunakan bahasa dan ejaan yang berkembang pada tahun 1970-an. Kalimat-kalimat yang dihasilkan sering kali terlalu mengikuti struktur bahasa sumber (Ibrani, Yunani) sehingga terkadang menjadi terlalu kaku atau tidak wajar. Selain itu penempatan kata benda abstrak yang tidak biasa dalam struktur bahasa Indonesia saat ini semakin menambah sulitnya memahami arti firman Tuhan di dalam kalimat-kalimat tersebut.

Sebagai contoh:

Titus 2:11-14 (TB)

11 Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata.

12 Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini

13 dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus,

14 yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.

Banyak orang mengira bahwa yang dimaksud dengan pelaku Ia di ayat 12 adalah Allah, atau Yesus, atau pun Roh Kudus. Padahal Ia dalam ayat itu adalah kasih karunia Allah.

Perhatikan juga bahwa di ayat 13 terdapat empat kata benda abstrak.

Bagi saudara-saudari kita di pedalaman— terutama di daerah-daerah yang terpencil— terjemahan formal seperti itu tidak begitu berdampak. Yang mereka tahu hanyalah bahasa Indonesia sederhana. Jadi, di daerah-daerah seperti itulah perlu ada Alkitab yang bisa berbicara kepada mereka dalam kapasitas bahasa yang mereka tahu!

Selain Alkitab TB, LAI juga menerbitkan Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-Hari (BIS) atau dikenal dengan Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK). Alkitab ini menjadi salah satu harapan yang bisa menjawab persoalan umat Tuhan di daerah-daerah seperti yang digambarkan di atas. Tetapi BIS / BIMK justru menjadi buku langka, susah dicari dan tidak lagi diedarkan. Alkitab BIS diterbitkan pada tahun 1985 secara lengkap, dan hingga kini belum pernah direvisi.

  • Kedua, umat Allah perlu memiliki dua macam terjemahan Alkitab

Umat Allah di mana pun berada perlu memiliki sekurang-kurangnya dua macam bentuk penerjemahan Alkitab. Tujuannya ialah supaya orang-orang yang belum sempat belajar bahasa sumber Alkitab dapat mengerti Firman Allah dengan sejelas mungkin.

Kedua macam penerjemahan yang dimaksud adalah terjemahan secara harfiah dan terjemahan yang berdasarkan arti. (Lihat juga artikel: Mengapa TSI Berbeda?)

Terjemahan secara harfiah dikerjakan kata demi kata. Karena itu terjemahan harfiah sangat berguna untuk memperlihatkan bentuk dan struktur teks dalam bahasa sumber. Alkitab Terjemahan Baru (TB) adalah terjemahan secara harfiah. Sedangkan TSI dan BIS termasuk penerjemahan yang berdasarkan arti.

Terjemahan berdasarkan arti tidak mempersoalkan berapa kata yang dipakai dalam penerjemahan— asal arti yang disampaikan sama dengan yang diterima oleh para pembaca pertama pada zaman kitab itu ditulis.

Kelebihan terjemahan harfiah adalah lebih mengikuti bentuk atau cara ungkapan yang terdapat dalam bahasa sumber. Tetapi kelemahannya kurang menyatakan arti bahasa sumber karena bahasa dalam terjemahan menjadi kurang wajar atau kurang jelas.

Kelebihan terjemahan berdasarkan arti adalah lebih tepat menyatakan arti bahasa sumber. Tetapi kelemahannya kurang menunjukkan bentuk atau cara ungkapan yang terdapat dalam bahasa sumber.

Jadi, sebenarnya kedua macam penerjemahan ini saling melengkapi.

  • Ketiga, Albata mau supaya setiap orang bisa mengerti Injil Kristus dan hidupnya diperbaharui oleh Roh Kudus

Berdasarkan penjelasan di atas, Albata sangat rindu supaya para pembaca saat ini dapat mengerti langsung arti Firman yang sedang mereka baca sehingga tidak harus buka kamus, buku tafsiran, atau bertanya terlebih dahulu kepada pendetanya baru lanjut baca. Sebagaimana para penulis Alkitab mula-mula menulis Firman Tuhan kepada para pembaca/penerima dalam bahasa yang sederhana, demikian pula Albata rindu supaya Firman Tuhan diterjemahkan dan disampaikan kepada para pembaca saat ini dalam bahasa yang mudah mereka pahami.

Tetapi ini bukan berarti firman Tuhan yang diterjemahkan secara harfiah tidak perlu lagi. Terjemahan seperti itu justru sangat berguna waktu pembaca ingin melihat lebih dalam tentang struktur bahasa dari sumber Alkitab.

Albata rindu supaya setiap orang bisa mengerti Injil Kristus dan hidupnya diperbaharui oleh Roh Kudus— termasuk orang-orang dari setiap suku dan pelosok di Indonesia— supaya mereka memuji Allah, dan segala macam pelayanan lebih memuliakan Kristus. (Lihat juga: Slide VISI MISI ALBATA).

Apakah diperbolehkan kita membela diri?

Menjawab pertanyaan pembaca:

 

Apakah kita boleh membela diri atau membela Tuhan?

Jawaban ditulis oleh Jaya Waruwu

Shalom Ibu MJS, saya akan mencoba menjawab pertanyaan Ibu semoga menjadi berkat. 

Ibu MJS :   Adakah Firman atau kisah di Alkitab yang menceritakan atau mengatakan bahwa kita seorang manusia  boleh  membela diri? Misalnya disaat orang-orang memfitnah kita atau mempermainkan kita?

J :          Di jaman ini kita banyak mendengar berita tentang kekacauan dan kerusuhan di berbagai tempat. Masalah persekusi dan penindasan terjadi dimana-mana dan juga dalam rumah tangga. Kasus istri yang disiksa suami— baik secara fisik maupun batin, terjadi setiap hari. Mereka yang kuat menindas yang lemah, dan mereka yang berkuasa menjalankan kuasanya dengan sewenang-wenang. Orang Kristen adalah orang yang harus mempraktekkan kasih kepada sesama. Tetapi kenyataan hidup sukar diduga. Seringkali kita dihadapkan dengan masalah di mana kita harus menerima umpatan, penistaan dan hujatan dari orang di sekitar kita. Yesus mengajarkan bahwa jika kita ditampar di pipi kanan, maka kita seharusnya memberikan pipi kiri juga. (Matius 5: 39 TSI) “39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah melawan orang yang berbuat jahat kepadamu. Misalnya kalau seseorang menampar pipi kananmu, berikanlah juga pipi kirimu.”

Perintah ini mengandung kiasan bahwa jika kita mengalami penghinaan atau umpatan orang lain, kita harus bersabar dan tidak memperburuk suasana dengan melakukan pembalasan. Menyerang orang lain dan membalas kelakuan jahat mereka adalah bertentangan dengan prinsip hidup keKristenan kita. Kita harus tetap dapat mengasihi sesama manusia, siapapun dalam keadaan apa pun.

Tetapi bagaimana jika kita tidak hanya menghadapi kemarahan, hujatan dan makian tetapi juga mengalami serangan fisik dan batin? Bolehkah kita membela diri? Ini adalah salah satu topik yang sukar dalam keKristenan. Banyak orang yang berkata bahwa kita harus menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan, dan jika perlu kita harus siap untuk berkurban seperti Stefanus sebagai seorang martir. Tetapi ini tidaklah benar. Penganiayaan, kekerasan, dan persekusi lainnya terjadi di berbagai tempat di dunia yang penuh dosa ini. Dan adalah kenyataan bahwa karena dunia ini tidak sempurna, pemerintah dan hukum tidak selalu dapat mengendalikan suasana. Tuhan tidak membutuhkan “martir-martir” di setiap tempat dan dalam setiap waktu. Orang Kristen boleh dan wajib membela diri dalam batas- batas tertentu, selama itu tidak merupakan penyerangan dan pembalasan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah orang-orang yang memusuhimu, dan berdoalah bagi setiap orang yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44 TSI)

Ibu MJS :          Boleh gak kita membela Tuhan? Misal dari orang-orang yang merendahkan-Nya, mengolok-olok Dia.

J :                   Sudah menjadi hal biasa bila kita mendengar bahwa ada kerusuhan atau perselisihan antar umat beragama. Masalah yang timbul memang tidak mudah untuk diselesaikan dan dicari jalan keluarnya. Walaupun seseorang memahami ajaran agamanya, ada kecenderungan ia akan merasa tersinggung ketika simbol-simbol agama dihina. Dalam keadaan itu, jangankan terluka, matipun mereka siap demi membela agama. Tetapi Tuhan tidak perlu dibela. Inilah yang dialami oleh murid-murid Kristus saat melihat sang Guru mereka ditangkap. Seakan siap bertarung mempertaruhkan nyawa mereka masing-masing. Artinya Tuhan adalah Maha Berkuasa atas segala-galanya dan tidak perlu pembelaan dari manusia. Saya pikir bahwa tindakan membela simbol-simbol agama bahkan Tuhan sendiri justru menunjukkan bahwa pelaku tidak memahami kedaulatan Tuhan dan kemahakuasaan-Nya. Kita perlu berhati-hati: Jangan sampai pembelaan yang kita lakukan justru salah di mata Tuhan.

Dalam cerita ketika Paulus dan Barnabas dipenjarakan di Filipi, Paulus siap membela dirinya dengan mempertahankan haknya sebagai warga negara Roma. Begitu juga waktu dia ditangkap di Yerusalem, dan dalam semua kesempatan yang diberikan untuk membela dirinya. Kita diperbolehkan membela diri dengan berlindung pada hukum negara dan melalui segala aparat keamanan. Ada cerita lain di mana Paulus membela diri dengan melarikan diri dari situasi berbahaya. Kita diperbolehkan melarikan diri! Dalam situasi lain, memang Paulus membela diri dengan kekuatan berdebat atau negosiasi. Ada juga situasi lain: Contohnya, dalam situasi di mana keluarga seorang bapak atau ibu diancam secara fisik, seperti dalam situasi perampokan. Saya kira Tuhan mengizinkan kita mengambil tindakan dalam situasi seperti itu untuk membela orang lain atau keluarga kita.

Tuhan memberkati.