Open post

Mengapa TSI berbeda?!

Penulis: Balazi Gulo dan Phil Fields

Salah satu perbedaan TSI dari terjemahan-terjemahan lain adalah dalam cara menerjemahkannya.  Prinsip-prinsip yang digunakan oleh tim penerjemah Albata tidak selalu sama dengan yang digunakan oleh yayasan-yayasan penerjemahan lain. Tim Penerjemah Albata ingin memprioritaskan arti yang dimaksudkan oleh para penulis Alkitab— yaitu arti yang dimengerti oleh para pembaca pertama. Albata menerjemahkan berdasarkan arti, bukan secara harfiah. Mari kita melihat perbedaan antara kedua cara menerjemahkan tersebut.

Terjemahan-terjemahan yang tergolong harfiah dalam bahasa Indonesia diantaranya adalah TB, AYT (Sabda), TL, dan MILT. Sedangkan terjemahan-terjemahan yang tergolong berdasarkan arti diantaranya adalah BIS dan TSI.

Terjemahan secara harfiah adalah cara yang pada umumnya digunakan dalam dunia penerjemahan Alkitab dari sejak dulu hingga sekarang. Contoh utama yang sudah menyejarah dalam penerjemahan adalah Septuaginta (terjemahan dari PL ke dalam bahasa Yunani yang dibuat sekitar 200-300 SM) dan King James Version (1611). Dalam terjemahan secara harfiah, para penerjemah berusaha memilih kata-kata dalam bahasa sasaran yang pas dengan arti setiap kata dalam bahasa Ibrani atau Yunani dalam Firman Allah. Jadi secara otomatis terjemahan akan mencerminkan bentuk atau struktur kalimat yang terdapat dalam bahasa asli Alkitab.

Catatan: Semua terjemahan secara harfiah tidak konsisten— kecuali Young’s Literal Translation. Ketidakkonsitenan terjadi ketika tim penerjemah menyadari bahwa terjemahan secara harfiah akan membawa arti yang salah dalam bahasa sasaran. Setiap terjemahan harfiah mempunyai beberapa ayat yang diterjemahkan berdasarkan arti, supaya pembaca tidak salah memahami. Dan kalau membandingkan beberapa terjemahan harfiah, pembaca akan melihat bahwa berbagai tim yang menerjemahkannya tidak konsisten dalam ayat-ayat yang dipilih untuk diterjemahkan lebih berdasarkan arti.

Tetapi komunikasi manusia tidak terdiri dari kata-kata saja. Dalam komunikasi sehari-hari, manusia tidak perlu mengungkapkan segala sesuatu sejelas mungkin dengan menggunakan kata-kata, karena si pendengar sudah tahu topik, sudah mengerti konteks, dan memiliki pengetahuan yang sama dengan pembicara. Persoalan yang dihadapi oleh pembaca Alkitab yang diterjemahkan secara harfiah adalah

  • pembaca zaman sekarang sering tidak mengerti topik dan konteks seperti para pembaca pertama,
  • kebudayaan sekarang sangat berbeda dengan kebudayaan zaman Alkitab,
  • dan kita tidak memiliki pengetahuan yang sama dengan penulis Alkitab.

Jadi terjemahan berdasarkan arti melengkapi hal-hal tersebut supaya pembaca zaman sekarang dapat mengerti. Kalau menggunakan cara menerjemahkan demikian, secara otomatis terjemahan tidak akan mencerminkan bentuk atau struktur bahasa sumber Alkitab.

Albata berharap semua pembaca mengerti bahwa TSI tidak bermaksud untuk mengganti Alkitab TB. Yang kami tegaskan adalah: Setiap anak Tuhan perlu memiliki akses kepada dua jenis terjemahan, karena yang satu mencerminkan bentuk bahasa sumber Alkitab, dan yang satunya lagi menyampaikan arti bahasa sumber. Kedua jenis terjemahan saling melengkapi.

Berikut ini adalah beberapa contoh cara menerjemahkan berdasarkan arti. Dan contoh-contoh ini menunjukkan bahwa terjemahan berdasarkan arti bisa:

  • membuat informasi tersirat dalam bahasa sumber menjadi tersurat,
  • menerjemahkan berbagai macam gaya bahasa sesuai artinya,
  • menerjemahkan satu istilah atau kata benda abstrak dengan frasa beberapa kata,
  • dan mengubah urutan informasi.

Informasi tersirat dalam bahasa asli bisa dibuat tersirat dalam TSI.

Kisah 2:8b-11 AYT 8 Dan, bagaimana mungkin masing-masing kita mendengar mereka dengan bahasa tempat kita dilahirkan?
9 Orang-orang Partia, dan Media, dan Elam, dan penduduk Mesopotamia, Yudea, dan Kapadokia, Pontus, dan Asia,
10 Frigia, dan Pamfilia, Mesir, dan daerah-daerah Libia dekat Kirene, dan pendatang-pendatang dari Roma, baik orang-orang Yahudi maupun para proselit,
11 orang-orang Kreta dan Arab. Kita mendengar mereka berbicara dengan bahasa kita tentang perbuatan-perbuatan besar Allah."

Kisah 2:8-11 TSI 8 Lalu mereka semua terheran-heran dan berkata, “Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?! Orang-orang yang berbicara ini semuanya orang Galilea,* tetapi setiap kita mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita masing-masing! Sungguh heran karena kita berasal dari banyak daerah,
9 termasuk Partia, Media, Elam, dan penduduk Mesopotamia, Yudea, Kapadokia, Pontus, dan propinsi Asia.
10 Juga termasuk daerah Frigia, Pamfilia, Mesir, dan bagian-bagian Libia yang dekat kota Kirene. Juga ada yang datang dari ibukota Roma,
11 dari pulau Kreta, dan orang-orang Arab. Kita yang berkumpul adalah orang Yahudi, dan juga orang dari bangsa lain yang sudah menjadi pengikut agama Yahudi. Heran sekali sampai kita bisa mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri tentang hal-hal luar biasa yang dilakukan oleh Allah!”

*Catatan dalam TSI: 2:7-8 Orang Galilea Para pendengar tahu bahwa orang Galilea biasanya hanya bisa berbicara dalam bahasa Ibrani sehari-hari yang dipakai di Galilea, dan bahasa umum— yaitu bahasa Yunani.

Dalam keempat ayat ini banyak hal tersirat dijadikan tersurat untuk pembaca di Indonesia, contohnya, nama tempat mana yang adalah kota, daerah, atau pulau. Dan dalam ayat 8, sebabnya para pendengar menjadi heran dan bingung dijelaskan. Itu juga merupakan suatu hal besar yang tersirat dalam bahasa sumber, yang bentuknya dapat dilihat dalam AYT. Juga catatan kaki digunakan untuk menjelaskan hal budaya pada waktu kejadian ini.

TSI bisa menerjemahkan gaya bahasa sesuai artinya.

Matius 21:16 MILT dan berkata kepada-Nya, "Apakah Engkau mendengar apa yang mereka katakan?" Dan YESUS berkata kepada mereka, "Ya, tidak pernahkah kamu membaca: Dari mulut kanak-kanak dan yang menyusu, Engkau telah mempersiapkan pujian !"

Matius 21:16 TSI Mereka berkata kepada-Nya, “Kamu tidak dengar anak-anak itu— kah?! Kenapa kamu tidak melarang mereka berkata seperti itu?!”
Jawab-Nya kepada mereka, “Ya, Aku dengar. Tetapi sampai kapan kalian bisa mengerti Firman Allah?! Karena penulis Mazmur berkata kepada Allah,
‘Engkau sudah mengajar anak-anak dan bayi-bayi untuk memberi pujian yang sempurna kepada-Mu.’”

Pertanyaan retoris adalah salah satu macam gaya bahasa. Pertanyaan retoris menggunakan bentuk pertanyaan, tetapi kalimat tanya tidak digunakan dengan alasan bertanya. Dalam ayat ini, TSI menunjukkan bahwa pertanyaan para imam dan ahli Taurat adalah untuk menegur, bukan pertanyaan sungguh. Pertanyaan mereka juga menyampaikan bahwa mereka tidak setuju dengan Yesus membiarkan anak-anak itu tetap bersorak-sorai ‘Hosana’.

Catatan: Karena bahasa Indonesia sering menggunakan pertanyaan retoris untuk menegur, di sini tim penerjemah tetap menerjemahkan dengan bentuk kalimat tanya— bahkan menambah pertanyaan retoris dalam huruf tebal supaya maksud menegur dimengerti oleh pembaca. Selain menegur, ada banyak alasan lain untuk menggunakan pertanyaan retoris. Misalnya, Yesus sering menggunakan pertanyaan retoris untuk membuka topik pelajaran. Dalam situasi seperti itu TSI bisa menerjemahkan pertanyaan retoris Yesus sebagai pernyataan.

Dalam frasa huruf tebal yang kedua di atas, TSI sekali lagi membuat informasi tersirat menjadi tersurat ketika menjelaskan siapa yang berbicara dengan Siapa, supaya pembaca dapat mengerti kutipan dari Mzm. 8:3.

TSI bisa menerjemahkan satu kata dengan frasa.

Markus 4:24 TB Lalu Ia berkata lagi: "Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu.

Markus 4:24 TSI Lalu Yesus berkata lagi kepada mereka, “Apa yang Aku ajarkan, kalian masing-masing harus menyimpannya dengan baik di dalam hatimu. Karena sebagaimana kamu berusaha untuk mengerti ajaran-Ku, begitu juga Allah akan menambahkan kemampuan kepadamu untuk memahaminya. Bahkan Dia akan menambahkan lebih banyak hikmat lagi.

Kata yang diterjemahkan dengan ‘Camkanlah’ dalam TB bisa juga diterjemahkan dengan kata ‘Perhatikanlah’, yang memang lebih sederhana dari Camkanlah. Tetapi ternyata tim penerjemah TSI ingin untuk membuat caranya yang kita ‘perhatikan’ lebih jelas lagi dengan menggunakan frasa ‘menyimpannya dengan baik di dalam hatimu’.

Dalam bagian kedua dalam ayat 24 ini, TSI sekali lagi membuat sesuatu yang tersirat menjadi tersurat. Ayat ini diucapkan Yesus ketika Dia mengajar dengan menggunakan berbagai perumpamaan yang menggambarkan hal-hal rohani. Jadi TSI menjelaskan apa yang ‘diukurkan’ sesuai konteks pasal ini. Pelaku tersirat untuk kata kerja pasif ‘diukurkan’ dan ‘ditambah’ juga dibuat tersurat— yaitu Allah.

TSI bisa mengubah urutan informasi supaya kalimat menjadi lebih wajar atau lebih masuk akal.

Galatia 1:1-2 TB Dari Paulus, seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati,
dan dari semua saudara yang ada bersama-sama dengan aku, kepada jemaat-jemaat di Galatia:

Galatia 1:1-2 TSI Kepada yang kekasih saudara-saudari seiman di setiap jemaat di propinsi Galatia:
Salam dari saya, Paulus, dan dari semua saudara seiman yang ada bersama saya.
Saya menjadi rasul bukan karena diangkat atau diutus oleh manusia, tetapi saya menerima jabatan ini langsung dari Kristus Yesus dan dari Allah Bapa— yang sudah menghidupkan Yesus kembali dari kematian.

Dalam permulaan surat-surat PB, TSI hampir selalu mengubah urutan informasi yang terdapat dalam bahasa Yunani, supaya mengikuti urutan yang selalu digunakan sekarang dalam bahasa Indonesia.

Perbandingan terjemahan harafiah dengan terjemahan berdasarkan arti:

Open post

Apakah diperbolehkan kita membela diri?

Menjawab pertanyaan pembaca:

 

Apakah kita boleh membela diri atau membela Tuhan?

Jawaban ditulis oleh Jaya Waruwu

Shalom Ibu MJS, saya akan mencoba menjawab pertanyaan Ibu semoga menjadi berkat. 

Ibu MJS :   Adakah Firman atau kisah di Alkitab yang menceritakan atau mengatakan bahwa kita seorang manusia  boleh  membela diri? Misalnya disaat orang-orang memfitnah kita atau mempermainkan kita?

J :          Di jaman ini kita banyak mendengar berita tentang kekacauan dan kerusuhan di berbagai tempat. Masalah persekusi dan penindasan terjadi dimana-mana dan juga dalam rumah tangga. Kasus istri yang disiksa suami— baik secara fisik maupun batin, terjadi setiap hari. Mereka yang kuat menindas yang lemah, dan mereka yang berkuasa menjalankan kuasanya dengan sewenang-wenang. Orang Kristen adalah orang yang harus mempraktekkan kasih kepada sesama. Tetapi kenyataan hidup sukar diduga. Seringkali kita dihadapkan dengan masalah di mana kita harus menerima umpatan, penistaan dan hujatan dari orang di sekitar kita. Yesus mengajarkan bahwa jika kita ditampar di pipi kanan, maka kita seharusnya memberikan pipi kiri juga. (Matius 5: 39 TSI) “39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah melawan orang yang berbuat jahat kepadamu. Misalnya kalau seseorang menampar pipi kananmu, berikanlah juga pipi kirimu.”

Perintah ini mengandung kiasan bahwa jika kita mengalami penghinaan atau umpatan orang lain, kita harus bersabar dan tidak memperburuk suasana dengan melakukan pembalasan. Menyerang orang lain dan membalas kelakuan jahat mereka adalah bertentangan dengan prinsip hidup keKristenan kita. Kita harus tetap dapat mengasihi sesama manusia, siapapun dalam keadaan apa pun.

Tetapi bagaimana jika kita tidak hanya menghadapi kemarahan, hujatan dan makian tetapi juga mengalami serangan fisik dan batin? Bolehkah kita membela diri? Ini adalah salah satu topik yang sukar dalam keKristenan. Banyak orang yang berkata bahwa kita harus menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan, dan jika perlu kita harus siap untuk berkurban seperti Stefanus sebagai seorang martir. Tetapi ini tidaklah benar. Penganiayaan, kekerasan, dan persekusi lainnya terjadi di berbagai tempat di dunia yang penuh dosa ini. Dan adalah kenyataan bahwa karena dunia ini tidak sempurna, pemerintah dan hukum tidak selalu dapat mengendalikan suasana. Tuhan tidak membutuhkan “martir-martir” di setiap tempat dan dalam setiap waktu. Orang Kristen boleh dan wajib membela diri dalam batas- batas tertentu, selama itu tidak merupakan penyerangan dan pembalasan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah orang-orang yang memusuhimu, dan berdoalah bagi setiap orang yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44 TSI)

Ibu MJS :          Boleh gak kita membela Tuhan? Misal dari orang-orang yang merendahkan-Nya, mengolok-olok Dia.

J :                   Sudah menjadi hal biasa bila kita mendengar bahwa ada kerusuhan atau perselisihan antar umat beragama. Masalah yang timbul memang tidak mudah untuk diselesaikan dan dicari jalan keluarnya. Walaupun seseorang memahami ajaran agamanya, ada kecenderungan ia akan merasa tersinggung ketika simbol-simbol agama dihina. Dalam keadaan itu, jangankan terluka, matipun mereka siap demi membela agama. Tetapi Tuhan tidak perlu dibela. Inilah yang dialami oleh murid-murid Kristus saat melihat sang Guru mereka ditangkap. Seakan siap bertarung mempertaruhkan nyawa mereka masing-masing. Artinya Tuhan adalah Maha Berkuasa atas segala-galanya dan tidak perlu pembelaan dari manusia. Saya pikir bahwa tindakan membela simbol-simbol agama bahkan Tuhan sendiri justru menunjukkan bahwa pelaku tidak memahami kedaulatan Tuhan dan kemahakuasaan-Nya. Kita perlu berhati-hati: Jangan sampai pembelaan yang kita lakukan justru salah di mata Tuhan.

Dalam cerita ketika Paulus dan Barnabas dipenjarakan di Filipi, Paulus siap membela dirinya dengan mempertahankan haknya sebagai warga negara Roma. Begitu juga waktu dia ditangkap di Yerusalem, dan dalam semua kesempatan yang diberikan untuk membela dirinya. Kita diperbolehkan membela diri dengan berlindung pada hukum negara dan melalui segala aparat keamanan. Ada cerita lain di mana Paulus membela diri dengan melarikan diri dari situasi berbahaya. Kita diperbolehkan melarikan diri! Dalam situasi lain, memang Paulus membela diri dengan kekuatan berdebat atau negosiasi. Ada juga situasi lain: Contohnya, dalam situasi di mana keluarga seorang bapak atau ibu diancam secara fisik, seperti dalam situasi perampokan. Saya kira Tuhan mengizinkan kita mengambil tindakan dalam situasi seperti itu untuk membela orang lain atau keluarga kita.

Tuhan memberkati. 

Open post

Menikmati Rencana Baca YouVersion bersama dengan teman-teman!

Albata mempunyai beberapa rencana baca yang tersedia dalam aplikasi Alkitab YouVersion (Life.Church). Artikel ini adalah untuk menunjukkan cara baru dalam aplikasi YouVersion di mana Saudara dapat membagi renungan-renungan pribadimu dengan para temanmu.

Ketika memilih salah satu rencana baca …

Saudara dapat memilih ‘Bersama Teman’. Lalu Saudara diberi kesempatan memilih beberapa teman (kalau sudah memiliki teman shering dalam YouVersion) atau mengundang teman-teman baru lewat alamat e-mail mereka.

Saudara selalu bisa menambah teman-teman baru lewat halaman muka Rencana Baca:

Kalau Saudara sudah memilih untuk membaca secara ‘Sendiri’, hal itu bisa diubah melalui Settings untuk rencana baca itu.

Sesudah membaca bagian untuk sehari, Saudara akan diberikan kesempatan untuk Diskusi apa yang dibacakan.

Saudara akan ditanya …

Wah, kalau Saudara dengan jujur menjawab pertanyaan di atas itu, efeknya pada dirimu sendiri akan luar biasa! Powerful! Tetapi ini berarti bahwa Saudara rela untuk membuka hati dengan teman-teman terpilih itu. Oleh karena itu saya berpikir cara membagi renungan dengan teman-teman cocok untuk

  • membagi dengan satu atau dua teman yang sangat akrab dan sehati,
  • seorang yang dewasa dalam Tuhan membagi dengan teman yang dia sedang memuridkan,
  • seorang pelayan Tuhan membagi dengan kelompok khusus,
  • dan lain sebagainya.

Teman-temanmu yang terdaftar akan menerima e-mail dengan teks renungan darimu. Itu akan mendorong mereka untuk tetap mengikuti rencana baca setiap hari. Dan waktu mereka membaca bagian di mana Saudara sudah menulis renungan, mereka akan diberi kesempatan untuk tanggapi atau berkomentar tentang apa yang Saudara membagi.

Semoga TUHAN dimuliakan lewat pemahaman Firman-Nya!

Rencana baca terbaru dari Albata bernama Menggali Perjanjian Baru TSI, yang disusun sebagai enam serial, di mana Saudara akan membaca seluruh Perjajian Baru TSI dalam 180 hari. Setiap bagian adalah untuk 30 hari.

Open post

Teks PB Yunani yang digunakan oleh Albata

Hanya beberapa halaman dari artikel ini dikutip di bawah. Untuk membaca seluruhnya (54 halaman), mohon download melalui link ini:     Teks PB Yunani yang digunakan oleh Albata edisi Januari2019

Edisi Januari 2019

Dalam artikel di bawah ini, penulis menggunakan kata-kata berikut dengan definisi khusus:

  • naskah (kuno PB): adalah media fisiknya atau bahan buku yang mengandung tulisan kitab PB yang dibuat pada abad ke-2 Masehi sampai dengan abad ke-13 Masehi. Pada zaman itu buku sering dibuat dari bahan papirus (diolah dari daun papirus) dan velum (diolah dari kulit binatang). Dalam bahasa Inggris naskah seperti ini sering disebut manuscript, dan dalam artikel ini saya juga menyebut naskah sebagai salinan kuno. Tulisan aslinya yang dibuat langsung oleh para penulis PB sudah tidak ada lagi. Lebih dari 6000 naskah bahasa Yunani masih ada dan sudah dianggap sebagai teks sumber Perjanjian Baru. Dalam angka 6000 itu terdapat naskah berbentuk buku yang mengandung semua atau banyak kitab dari PB, dan ada naskah yang hanya mengandung satu kitab, bahkan hanya beberapa ayat dari salah satu kitab.
  • teks: adalah pesan dalam bahasa Yunani yang ditulis pada naskah-naskah kuno tersebut.
  • varian: adalah perbedaan kecil yang terdapat dalam teks Yunani, berupa kata yang berbeda, akhiran berbeda, tambahan/kehilangan kata, dan kesalahan dalam ejaan. Kebanyakan varian begitu kecil sehingga tidak bisa diterjemahkan dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, tetapi ada juga ribuan varian yang cukup besar sehingga mempengaruhi terjemahan PB. Ada varian-varian teks yang pasti terjadi karena kesalahan yang tidak sengaja, tetapi ternyata ada juga yang sengaja dibuat.
  • golongan teks: adalah golongan naskah yang teksnya sama-sama memiliki ciri yang mirip, supaya varian-varian teks dapat didaftarkan dan supaya akhirnya penelitian dapat menghasilkan satu bentuk teks yang mewakili semua dalam golongannya. Dalam artikel ini kami akan membandingkan Golongan Teks Bizantium (GTB) dan Golongan Teks Nestle-Aland (GTNA). Kedua golongan teks ini sebenarnya identik dalam lebih dari 94% teks Perjanjian Baru Yunani. Hanya 6% mempunyai varian-varian tersebut.[**Dua catatan kaki dapat dilihat dalam PDF terlampir.]

GTB: Golongan Teks Bizantium mewakili lebih dari 95% dari 6000 naskah kuno tersebut. Kumpulan teks ini kebanyakan ditemukan di daerah para jemaat mula-mula (seperti Antiokhia, Kolose, Efesus, Roma, dan Korintus)— yang terletak di negara-negara yang sekarang disebut Turki, Italia, dan Yunani. Karena cuaca di daerah-daerah itu tinggi lembabnya, maka naskah dan salinan terkuno yang ditulis pada papirus rusak dan hilang, sehingga para jemaat mula-mula mengganti naskah pertama dengan velum yang tahan lama. Dari zaman rasuli (33-100 M) sampai masa jemaat mula-mula (100-312 M), dan masa Byzantine (312-1453), teks yang terdapat dalam GTB sangat konsisten dalam banyak salinan, mengandung bahasa Yunani yang lebih standar (tidak kasar), dan terbukti tidak diubah-ubah. Sampai hari ini pun Gereja Ortodoks Timur masih menggunakan teks Yunani Bizantium dalam ibadah, dan teks PB yang sama dipelihara dan digunakan oleh mereka di daerah sekitar Turki sampai abad ke-15. Bahkan sampai hari ini, teks yang sama digunakan oleh berbagai aliran Ortodoks.

  • Textus Receptus adalah teks PB Yunani yang diterbitkan oleh Erasmus pada tahun 1516. Textus Receptus mendekati GTB, tetapi berbeda dalam 1800 varian. Textus Receptus adalah teks Yunani yang mendasari PB King James Version (KJV) yang diterbitkan pada tahun 1611. Lalu KJV mempengaruhi banyak sekali terjemahan Alkitab dalam berbagai bahasa. Semua terjemahan seperti itu dapat disebut terjemahan yang tradisional, dan salah satunya adalah PB Terjemahan Lama di Indonesia dan semua terjemahan PB dalam bahasa Indonesia atau Melayu sebelum itu. Dari zaman rasuli sampai pembuatan mesin cetak Gutenberg di 1439, bahkan hampir sampai tahun 1900, semua terjemahan PB berdasarkan Textus Receptus atau bentuk teks yang mirip dengan GTB. Mirip, tetapi tidak sama. Naskah ini tidak untuk mendorong pembaca untuk mengikuti King James Only Movement. Contoh terkenal di mana Textus Receptus terbukti tidak merupakan teks asli dari penulis pertama terdapat dalam 1 Yohanes 5:7-8.

GTNA: Golongan Teks Nestle-Aland memprioritaskan naskah-naskah yang terkuno, dan khususnya salinan papirus yang terdapat di Mesir. Mesir mempunyai cuaca kering sehingga memungkinkan papirus bisa tahan sampai sekarang. GTNA sering juga disebut Alexandrian Text, karena Aleksandria adalah kota pusat perpustakaan pada zaman Alkitab. Dalam golongan ini juga terdapat dua naskah velum yang terkenal— yaitu Codex Sinaiticus dan Codex Vaticanus. Pada tahun 1881 Brooke Foss Westcott dan Fenton John Anthony Hort menerbitkan Alkitab Perjanjian Baru yang memilih antara 3000 varian antara kedua codex tersebut. Dan di kemudian hari Alkitab Perjanjian baru versi Westcott-Hort merupakan cikal bakal dari GTNA. Penelitian dilanjutkan oleh Eberhard Nestle (penerbitan pertama 1898), Erwin Nestle (anaknya Eberhard, edisi ke-13, 1927), dan diteruskan oleh Kurt Aland (edisi ke-21, 1952). Setiap edisi teks GTNA selalu berbeda sedikit dalam penentuan varian-varian teks mana yang dianggap aslinya. Edisi yang terbaru adalah ke-28, yang diterbitkan pada tahun 2012. Karena beberapa edisi terakhir diterbitkan oleh United Bible Societies cabang German, GTNA juga disebut UBS Text.

Kontras besar antara kedua golongan teks tersebut terlihat dalam perbedaan prinsip yang digunakan untuk menentukan varian teks mana yang dianggap aslinya dari si penulis. Saya memberi hanya dua contoh sederhana:

  • GTNA berkata, “Biarpun 4000 naskah kuno dari ayat sekian mengandung kata A, sedangkan hanya satu naskah papirus terkuno mengandung kata B, kami pilih kata B.” Sedangkan GTB berkata, “Varian teks dengan kata A yang paling banyak kali ditemukan dalam keseluruhan naskah dianggap teks asli, biarpun ada sejumlah kecil teks terkuno yang menggunakan kata B.”
  • GTNA berkata “Bentuk teks yang lebih singkat lebih mungkin merupakan aslinya, karena para ahli tulis yang mengerjakan salinan lebih cenderung tambah kata-kata daripada membuat teks lebih singkat.” GTB berkata sebaliknya. Terlihat dalam penelitian teks-teks sekuler dari zaman itu, bahwa para ahli tulis Aleksandria yang membuat salinan cenderung melakukan redaksi sehingga teks menjadi lebih singkat.

Para ahli tekstual yang mendukung GTB mempersalahkan GTNA karena banyak hal, dan saya hanya memberi tiga:

  1. Dalam GTNA, para ahli yang menentukan bentuk teks untuk setiap ayat belum menjelaskan kenapa semua naskah PB yang dianggap lebih asli bisa muncul di Mesir, sedangkan jemaat-jemaat penerima pertama berada di negara yang sekarang disebut Yunani, Turki, dan Italia.
  2. Dalam GTNA berbagai prinsip untuk menentukan varian teks mana yang dianggap asli sangat rumit dan sangat spekulatif, sampai keputusan-keputusan yang telah dibuat akan senantiasa menjadi bahan perdebatan. Setiap edisi GTNA akan sedikit berbeda. Tetapi prinsip dan ketentuan dalam penyusunan GTB lebih masuk akal dan kurang spekulatif, dan berbagai edisinya sangat stabil.
  3. Proses menentukan GTNA telah menghasilkan 105 kombinasi dari varian-varian teks yang tidak pernah terdapat dalam satu salinan kuno fisik. Hal ini bisa terjadi kalau ada lebih dari satu varian teks dalam satu ayat. Sebagai contoh, lihat 2 Petrus 3:10, Markus 11:3. Tetapi kalau melihat berdasarkan pasangan dua ayat berturut-turut, masih ada 209 pasangan di mana varian ayat x dan varian ayat x+1 tidak terdapat dalam satu naskah apa pun.[*Catatan kaki dapat dilihat dalam PDF terlampir.]

Pengaruh Textual pada terjemahan Alkitab: Ternyata penerbitan berbagai edisi GTNA tidak segera mempengaruhi penerjemahan Alkitab. Sebagai contoh, terjemahan PB ke dalam bahasa Inggris yang pertama untuk mendukung GTNA dan digunakan secara luas adalah Revised Standard Version, yang diterbitkan pada tahun 1946. Pada umumnya pada waktu itu, kebanyakan umat yang berbahasa Inggris masih menggunakan KJV atau salah satu revisinya. Penulis (Phil) dilahirkan pada tahun 1950. Saya masih ingat dari waktu saya murid SMA dan mahasiswa universitas bahwa RSV ditolak oleh aliran-aliran jemaat konservatif dan hanya digunakan dalam jemaat-jemaat liberal. Tetapi dengan penerbitan New American Standard Bible (1960), dan New International Version (1973) yang berdasarkan GTNA, kedua terjemahan itu lebih diterima oleh sangat banyak aliran jemaat— baik liberal maupun konservatif. Tetapi karena para penerjemah dan penerbit untuk RSV, NASB, dan NIV ingin supaya produk mereka diterima, maka ketiga terjemahan itu tidak mengikuti GTNA dalam seluruh ayat. Di beberapa tempat di mana perbedaan antara GTNA dan terjemahan tradisional terlalu menonjol, ketiga terjemahan pendukung GTNA tersebut masih menerjemahkan seperti KJV.

Jadi, dalam sejarah penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Inggris, GTNA hanya digunakan sebagai dasar terjemahan PB dalam ke-70 tahun terakhir ini, dan pengaruh GTNA dalam bahasa Indonesia hanya dalam 44 tahun terakhir ini. Namun, dalam semua terjemahan yang mendukung GTNA, ternyata tim-tim penerjemah masih memilih untuk mengikuti terjemahan tradisional dalam cukup banyak ayat.

Sudah hampir seratus tahun, kebanyakan ahli tekstual terfokus dalam perdebatan tentang varian mana di ayat sekian dianggap aslinya. Tetapi karena pengaruh Maurice A. Robinson dan William G. Pierpont dan beberapa ahli lain, semakin banyak penerjemah Alkitab kini kembali berpendapat bahwa Golongan Teks Bizantium yang mewakili teks asli dari Perjanjian Baru. The New Testament in the Original Greek: Byzantine Textform diterbitkan pada tahun 2005, dan edisi baru diterbitkan 2018. Juga The Textual Commentary of the Greek New Testament, by Maurice Robinson sedang dalam proses dan bagian-bagian akan diterbitkan secara bertahap.

Berdasarkan pengantar singkat ini, saya mengundang pembaca untuk lihat perbedaan sangat signifikan antara GTB dan GTNA dalam empat puluh empat perbandingan di bawah. 

Teks PB Yunani yang digunakan oleh Albata edisi Januari2019

Kesimpulan dari halaman 51:

Keputusan saya (Phil) dari perbandingan di atas adalah: Mulai bulan Agustus tahun 2018,* Albata akan mengikuti Golongan Teks Bizantium dalam seluruh proyek penerjemahan Perjanjian Baru. Alasan pertama untuk keputusan ini adalah kami yakin bahwa teks GTB lebih menyerupai bentuk teks asli dari para penulis pertama daripada GTNA. Dalam keputusan ini, saya harus mengakui bahwa saya terlambat menyadari hal-hal yang dinyatakan dalam artikel ini.

Alasan kedua, lebih baik memilih satu teks dasar saja dan menerjemahkannya secara konsisten. Di antara kelima terjemahan pendukung GTNA terpilih untuk artikel ini, dan bahkan termasuk NET, NLT, dan ESV, tidak ada satu pun yang mengikuti GTNA secara utuh. Dengan demikian seolah-olah para tim penerjemah berkata bahwa mereka lebih pintar dari ahli-ahli tekstual yang menyusun GTNA. Lalu catatan-catatan di bawah teks terjemahan memberi kesan/implikasi (yang memang tidak dimaksudkan oleh para penulisnya) bahwa teks Yunani PB diragukan dan tidak dapat dipercayai. Dalam ke-44 contoh perbandingan dalam artikel ini, terjemahan pendukung GTNA mengikuti GTB dalam 25 persen varian.

Di Indonesia, karena Islam adalah agama mayoritas, banyak orang sudah diajar bahwa naskah Alkitab telah diubah, bahkan dipalsukan. Oleh karena itu, Albata merasa lebih baik untuk mendasari terjemahan PB pada Golongan Teks Bizantium, karena sangat jelas bahwa teks itu tidak pernah diubah-ubah dari zaman rasuli sampai sekarang. Ternyata TUHAN telah menjaga dan tetap menjaga kesempurnaan teks sumber Alkitab yang diberikan kepada kita!

*Catatan: Perubahan untuk mengikuti Teks Bizantium dalam PB TSI akan dilaksanakan secara bertahap selama beberapa tahun. Tim Penerjemah lebih berfokus sekarang pada PL TSI yang sedang diterjemahkan, disunting, dan diperiksa. Mohon doa setiap pembaca supaya Alkitab lengkap TSI akan diterbitkan pada tahun 2022. Pada waktu itu, kami berjanji bahwa PB direvisi supaya mengikuti GTB dengan setia.

Dua pilihan dari Daftar Pustaka:

Fields, Philip C.: Playing ‘Follow the Leader’ in Bible Translation. Diterbitikan Januari 2019.

Artikel ini membandingkan sembilan terjemahan pendukung GTNA.

Friberg, Timothy: Artikel-artikel:

Penjelasan untuk orang awam tentang gagasan-gagasan berhubungan dengan penentuan teks asli Perjanjian Baru (yaitu Kitab Suci Injil dari Tuhan Yesus Kristus yang ditulis dalam bahasa Yunani oleh rasul-rasul-Nya)

Artikel ini adalah terjemahan dari Layman’s Guide ke dalam bahasa Indonesia.

Layman’s GuideA modest explanation for the layman of ideas related to determining the text of the Greek New Testament, 2019.

Open post

Say the magic words

Penulis: Phil Fields

Dalam bahasa Inggris ada beberapa kata yang sejak lama dipakai sebagai kata ajaib, yang dulu digunakan oleh para pemain sulap. Salah satu adalah abrakadabra, dan kedua adalah presto change-oh. Tetapi zaman sekarang kata itu  mungkin sudah berubah, dan generasi sekarang mungkin menggunakan expecto petronas dan alo hamora dari buku dan film Harry Potter.

Tetapi saya berharap semua pengikut Kristus mengetahui bahwa kita tidak diberikan satu, dua atau lebih kata ajaib yang seperti itu. Kekuatan kita bukanlah dari ilmu yang kita rahasiakan supaya orang lain tidak bisa mengenal suatu kata yang memberikan kuasa untuk melakukan hal ajaib. Kekuatan rohani yang benar selalu berdasar pada hubungan pribadi dengan Allah melalui Kristus Yesus, hidup yang dituntun oleh Roh Allah, dan pengetahuan akan Firman Tuhan.

Saya ingat cerita yang saya dengar di Papua. Ada beberapa orang yang naik perahu kecil, lalu tiba tiba terjadi sesuatu yang membahayakan mereka. (Saya lupa apa yang terjadi, dan hal itu tidak penting dalam cerita ini.) Ketika hal itu terjadi ada beberapa orang di perahu yang berteriak, “Darah Yesus!”

Nah, darah Yesus adalah sesuatu yang sangat penting bagi kita. Kita disucikan melalui darah sang Penebus kita. Jadi, darah Yesus berbicara tentang kurban Domba Allah yang menggenapi perjanjian Allah kepada Abraham dan semua syarat agama dalam Hukum Musa, dan memeteraikan suatu perjanjian yang baru seperti dinubuatkan dalam Yeremia 31. TETAPI Alkitab tidak pernah memberitahukan kita untuk menggunakan kata ‘darah Yesus’ sebagai kata ajaib yang berkuasa untuk menyelamatkan diri dari marabahaya. Bahkan, bagi saya, berteriak kata itu bisa dianggap tidak sopan terhadap Penyelamat kita, bahkan menghujat.

Seorang bernama Maxi (orang fiktif) berdoa begini: “Oh Tuhan, jadikanlah saya orang kaya. Saya ingin mobil mewah, dan untuk bisa berlibur ke Amerika dua kali setahun. Dalam nama Yesus, amin.

Menurut Saudara, apakah Maxi sudah berdoa ‘dalam nama Yesus’? Apakah Saudara sering mengakhiri doamu dengan berkata ‘dalam nama Yesus’— tanpa berpikir tentang artinya?

Salah satu jenis gaya bahasa (figure of speech) yang sering ditemukan dalam Firman Allah disebut metonimia (metonymy). Dalam metonimia suatu kata benda (atau gambaran) mewakili sebuah topik. Metonimia yang paling sering ditemukan dalam Alkitab adalah beberapa sebutan yang menggunakan ‘nama’ untuk mewakili Allah. Ingatlah bahwa orang-orang Israel dilarang untuk “menyebut nama Allah dengan sembarangan.” Untuk menghindari menyebut YHWH bahkan Elohim, orang Yahudi menggunakan beberapa sebutan halus untuk berbicara tentang Allah tanpa menyebut namanya. Salah satu contoh adalah untuk mengucapkan ‘surga’, seperti di Yohanes 3:27 ‘dikaruniakan dari sorga’ (TB). Maksud metonimia ini adalah ‘dikaruniakan oleh Allah’. Tetapi metonimia yang paling sering digunakan dalam Firman Allah adalah ketika ‘nama’ digunakan untuk mewakili seluruh kepribadian Allah. Metonimia yang sama terlihat juga ketika kita berdoa ‘dalam nama Yesus’.

Sebelum kita kembali ke caranya berdoa dalam nama Yesus, mari kita lihat contoh ini:

Kisah Para Rasul 2:21 TB Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.

Empat tahun yang lalu dalam presentasi di salah satu STT di Pulau Jawa, saya bertanya kepada para mahasiswa, “Apakah hal yang wajar dalam bahasa Indonesia ‘berseru kepada nama Tuhan’? Dan mereka segera menjawab bahwa itu wajar. Lalu saya bertanya, “Apakah seseorang bisa berseru kepada nama SBY?” Dan mereka tertawa. Ternyata tanpa kita menyadarinya, beberapa metonimia tentang ‘nama Tuhan’ sudah termasuk ‘bahasa gereja’. Tetapi sebenarnya frasa dengan metonimia itu adalah sesuatu yang asing dalam bahasa Indonesia. Itu sebabnya TSI menerjemahkan ayat ini,

“Dan setiap orang yang berseru kepada Tuhan meminta pertolongan-Nya akan diselamatkan.”

Saya mendapat 16 ayat di keempat kitab Injil di mana Yesus mengajar tentang ‘dalam nama-Ku’. Mari kita berfokus kepada ke-enam kali Dia menyebut itu dalam Injil Yohanes:

Yoh. 14:13-14 TB dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.
14 Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya

Yoh. 14:13-14 TSI Dan apa saja yang kalian minta di dalam doa supaya Aku* dimuliakan, Aku akan menjawab doa kalian itu. Dengan begitu, Bapa akan dimuliakan melalui Aku— Anak-Nya.
14 Ya, apa saja yang kalian minta kepada-Ku demi Aku dimuliakan, Aku akan memberikannya.”

  • Catatan:
    *14:13-14 Aku Secara harfiah, “nama-Ku.” Sesuai dengan kebudayaan orang Yahudi pada zaman Yesus, ‘nama-Ku’ artinya seluruh kepribadian Kristus Yesus.

Yoh. 15:16 TB Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.

Yoh. 15:16 TSI “Bukan kamu yang memilih supaya kamu menjadi murid-murid-Ku, tetapi Akulah yang memilih kamu untuk tugas itu. Dan inilah sebabnya Aku mengangkat kamu: Supaya kamu pergi ke ladang-Ku dan menghasilkan banyak buah rohani. Dan apa yang kamu hasilkan itu akan bertahan selama-lamanya. Karena kamu menjalankan tugas itu, apa saja yang kamu minta kepada Allah Bapa dengan alasan untuk memuliakan Aku, maka Dia akan memberikannya kepadamu.

Yoh. 16:23-24 TB Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku.
24 Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.

Yoh. 16:23-24 TSI Dan pada hari itu, kalian masing-masing tidak perlu lagi meminta apa-apa dari-Ku. Yang Aku katakan ini memang benar: Demi Aku dimuliakan, mintalah apa saja kepada Bapa kita, maka akan diberikan-Nya kepadamu.
24 Sampai sekarang kamu belum minta sesuatu dari Bapa untuk memuliakan Aku.* Mintalah hal-hal yang memuliakan Aku, maka kamu akan menerimanya! Dengan demikian kamu akan sungguh-sungguh merasa sukacita.”

  • Catatan:
    *16:24 untuk memuliakan Aku Secara harfiah, “dalam nama-Ku.” Sesuai dengan kebudayaan orang Yahudi pada zaman Yesus, ‘nama-Ku’ di sini artinya seluruh kepribadian Kristus. Dan untuk meminta sesuatu ‘dalam nama Yesus’, bukan sekedar mengucapkan frasa itu saja, tetapi maksudnya meminta sesuatu demi kepentingan Yesus, atau demi memuliakan Dia.

Yoh. 16:26-27a TB Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Dan tidak Aku katakan kepadamu, bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa,
27a sebab Bapa sendiri mengasihi kamu,

Yoh. 16:26-27a TSI Mulai hari itu kalian masing-masing boleh berdoa secara langsung kepada Bapa untuk meminta hal-hal yang akan memuliakan Aku. Jadi tidak perlu lagi Aku yang menyampaikan permintaanmu itu kepada Bapa-Ku,
27a karena Dia sendiri sangat mengasihi kamu.

 

Apakah Saudara mau supaya doa-doamu dijawab oleh TUHAN? Belajarlah hal ini! Di atas saya sudah beri contoh tentang doa Pak Maxi. Doa Maxi tidak demi kepentingan Kristus Yesus, tetapi justru berasal dari keinginan untuk meninggikan dirinya sendiri. Walaupun Maxi berkata ‘the magic words’, doanya memang bukan dalam nama Yesus. Dan Allah memang bisa membedakan siapa yang berdoa dengan hati yang benar-benar mau supaya Yesus dimuliakan, dan siapa yang hanya mengucapkan ‘the magic words’.

Saya sendiri merasa bahwa lebih baik saya menghindari untuk mengakhiri setiap doa saya dengan berkata ‘dalam nama Yesus’, karena saya cenderung mengucapkan frasa itu tanpa mengingat arti yang sebenarnya. Konsep ‘dalam nama Yesus’ meliputi lebih dari ‘supaya Yesus dimuliakan (seperti TSI), tetapi juga semua hal ini:

  • supaya kerajaan Yesus segera menjadi terwujud di dunia ini;
  • supaya kuasa Yesus terlihat di tengah-tengah kita;
  • supaya orang-orang mengenal Yesus sebagai Juruselamat dan Penguasa mereka;
  • dan segala hal lain, yang demi kepentingan Kristus Yesus.

Kalau Saudara sudah berdoa seperti itu, maka Saudara tidak perlu mengucapkan  ‘the magic words’. Allah sudah tahu bahwa doa itu benar-benar dalam nama Yesus.

Walaupun saya tidak memberikan magic words, apa yang saya bagikan di sini adalah hal yang membuka sesuatu yang sangat powerful— yaitu arti sebenarnya dari janji Allah yang ada dalam ayat-ayat di injil Yohanes tadi. Dan karena Saudara sudah mengerti inti dari artikel ini, saya mohon Saudara membantu dalam doa supaya Yesus dimuliakan melalui hal ini:

Mari kita berdoa supaya visi Albata akan terwujud— yaitu untuk meningkatkan pemahaman Firman Allah hingga ke setiap pelosok di Indonesia (melalui Alkitab TSI), bukan untuk kemuliaan kami, melainkan supaya semakin banyak orang akan mengenal Kristus dan mengalami pembaharuan hidup.

 

Open post

Roma 12:1-2— Dua ayat dengan arti yang dalam

Albata mengucap Terima Kasih kepada Sahabat Albata bernama Shelina
yang menyunting modul ini.

Video pengantar untuk artikel ini: https://youtu.be/pmMFzRyOvv8

 

Walau pun Roma 12:1-2 sering dihafal di Indonesia, ayat ini juga sering disalah tafsirkan. Arti yang dimengerti oleh kebanyakan pembaca di Indonesia tidak sama dengan arti yang dimengerti oleh para pembaca pertama pada zaman Paulus, mau pun yang dimengerti oleh para pembaca terjemahan bahasa Inggris di zaman ini. Hal ini tidak mengherankan karena kedua ayat tersebut tidak gampang untuk diterjemahkan. Mari kita gali harta karun dalam kedua ayat ini!

Roma 12:1-2  Terjemahan Baru:
1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu,
supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup,
yang kudus dan yang berkenan kepada Allah:
itu adalah ibadahmu yang sejati.

2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini,
tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu,
sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah:
apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Roma 12:1-2 Teks Yunani Byzantium:
Παρακαλῶ οὖν ὑμᾶς, ἀδελφοί, διὰ τῶν οἰκτιρμῶν τοῦ ϑεοῦ, παραστῆσαι τὰ σώματα ὑμῶν ϑυσίαν ζῶσαν, ἁγίαν, εὐάρεστον τῷ ϑεῷ, τὴν λογικὴν λατρείαν ὑμῶν,

2 καὶ μὴ συσχηματίζεσθαι τῷ αἰῶνι τούτῳ, ἀλλὰ μεταμορφοῦσθαι τῇ ἀνακαινώσει τοῦ νοὸς ὑμῶν, εἰς τὸ δοκιμάζειν ὑμᾶς τί τὸ ϑέλημα τοῦ ϑεοῦ τὸ ἀγαθὸν καὶ εὐάρεστον καὶ τέλειον.

 

Mari kita mulai dengan frasa yang sering menimbulkan kesalahpahaman— yaitu frasa ini di ayat 2:

berubahlah oleh pembaharuan budimu” (TB)

Dalam bahasa Yunani:

ἀλλὰ     μεταμορφοῦσθαι     τῇ    ἀνακαινώσει  τοῦ  νοὸς      ὑμῶν,
Alla      
metamorphousthe   te     anakainosei   tou   noos     hymon,
Tetapi   ditransformasikan (the)  pembaruan   (the) pikiran kalian

 

Dalam presentasi yang sering saya bawakan di berbagai STT dan kelompok persekutuan hamba TUHAN, saya selalu bertanya, “Apa arti ‘budi’?” Biasanya para peserta segan memberi arti, tetapi akhirnya memberikan definisi ini: Budi adalah ‘kebaikan seseorang’ atau ‘nama baik’ (Beberapa orang yang bernama Budi juga memberi arti yang sama). Lalu saya bertanya, “Siapa yang bertanggungjawab untuk melaksanakan ‘berubahlah oleh pembaharuan kebaikanmu’?” Selalu saya terima jawaban, “Kita bertanggungjawab melakukan hal itu.” Tetapi itu salah! Mohon setiap orang yang mempunyai Alkitab TB menulis ‘akal’ sebelum ‘budi’!

                       “berubahlah oleh pembaharuan akal budimu

KSI lebih tepat dengan menerjemahkan sebagai berikut:

berubahlah berdasarkan pembaruan pikiranmu” (KSI)

Dan dalam bahasa Inggris, kata noòs biasanya diterjemahkan dengan kata mind.”
be transformed by the renewing of your mind.” (Bhs Inggris umumnya)
let God transform you into a new person by changing the way you think.” (NLT)

Perhatikanlah, mind sangat berbeda dari budi!

 

         μεταμορφοῦσθαι (metamorphousthai)= be transformed

Perhatikan juga bahwa kata ‘berubahlah’ tidak ada dalam teks bahasa Yunani. Yang ada adalah kata metamorfousthai, yang berarti ‘be transformed’ (perhatikan bahwa kata ini mempunyai bentuk pasif). Sebagian dari kesalahpahaman dalam ayat ini adalah bahwa pelaku dari kata kerja ‘berubahlah’ adalah kita sendiri. Seharusnya, terjemahan yang tepat adalah ‘be transformed’, dan Pelaku tersirat adalah Allah. “… be transformed (by God) by the renewing of your mind.”

Apakah Saudara pernah berusaha memperbarui pikiranmu? Pasti gagal! Pikiran/mind berbeda dari pendapat. Kita mampu mengubah suatu pendapat ketika terbukti salah. Dan kalau kita berusaha keras, mungkin kita bisa mengubah ‘budi/ nama baik’ kita di mata umum. Tetapi Saudara maupun saya tidak mampu dengan kekuatan kita sendiri untuk mentransformasikan pikiran kita— sampai kita menjadi seperti orang baru. Hanya Allah yang mampu melakukan proses transformasi ini! Di sini kita bisa melihat kesamaan dengan salah satu kiasan penting dalam PB— yaitu kelahiran baru. Satu ilustrasi yang powerful untuk memahami kata metamorfousthai adalah metamorphosis . Metamorfosis adalah proses transformasi yang terjadi ketika seekor ulat menjadi kupu-kupu.

 

 

Mari kita lihat kehidupan ulat yang ditransformasikan menjadi kupu-kupu. Apakah peran kita dalam metamorfosis ini? Apa maksud Paulus ketika ia mengajak kita untuk ‘be transformed’? Apakah syaratnya?

Mari kita kembali ke ayat 1:

Roma 12:1a

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu,” (TB)

Dalam bahasa Yunani:

Παρακαλ                             οὖν                     ὑμᾶς,   ἀδελφοί,               διὰ                 τῶν    οἰκτιρμῶν

Parakalo                                 oun                    hymas,  adelfoi,                dia                  ton    oiktirmon

Saya mendorong/ mengajak oleh karena itu kalian,  saudara-saudara  berdasarkan (the)  kemurahan

ἀδελφοί (adelfoi) = brothers

Kita bisa menerjemahkan frasa di atas secara harfiah dalam bahasa Inggris, “I urge you, therefore, brothers (adelfoi)…” Dengan menyebut para pembaca/perdengar sebagai ‘Saudara-saudara (laki-laki)’, Paulus mengikuti kebiasaan orang Yahudi pada zamannya. Semua pengajaran di Sinagoge Yahudi selalu ditujukan kepada kaum laki-laki. Begitu juga dalam pertemuan para jemaat pertama— hal ini dapat kita lihat dalam khotbah-khotbah dalam Kisah Para Rasul. Para perempuan zaman itu pasti tidak tersinggung, karena mengerti bahwa kata ‘adelfoi’ meliputi seluruh jemaat. Maka Tim Penerjemah Albata menerjemahkan adelfoi dengan kata ‘kita’.

οὖν (oun) = oleh karena itu

Tetapi ternyata kata penghubung ‘oleh karena itu (oun)’ tidak merujuk kepada ajaran pada akhir pasal 11. Bahkan ‘oun/therefore’ tidak merujuk kepada ajaran dalam pasal 9-11, karena topik yang menjadi dasar dorongan berikut harus cocok disebut ‘rahmat (KSI)/kemurahan (TB)’ (oiktirmon). Roma pasal 9-11 mendiskusikan topik sampingan. Tetapi memulai di pasal 12, Paulus kembali kepada pokok pembicaraan yang utamanya, yang sudah berpuncak di pasal 8.

Dengan berkata Παρακαλῶ οὖν ὑμᾶς, ἀδελφοί, secara harfiah Paulus berkata “Oleh karena itu (oun), saya mendorong (parakalo)  kalian (hymas), Saudara-saudara (adelfoi).” Sangat jelas dari kata ‘mendorong’ bahwa Paulus sudah memasuki bagian suratnya yang bicara tentang cara hidup yang pantas bagi orang-orang yang percaya semua pelajaran dalam pasal 1-11.

οἰκτιρμῶν (oiktirmon) = mercies
Di sini kita lihat suatu kelemahan bahasa Indonesia, yaitu dibanding dengan bahasa-bahasa lain, bahasa Indonesia kurang membedakan jamak dan tunggal. Kata oiktirmon / kemurahan bukan tunggal, tetapi jamak. Beberapa terjemahan dalam bahasa Inggris menerjemahkan ‘by the mercies of God’. (mercies = jamak, mercy = tunggal) Karena kelemahan bahasa Indonesia untuk membedakan hal seperti ini, kalau mau terjemahan jelas, terpaksa memakai lebih banyak kata. Karena itu TSI menerjemahkan, “Berdasarkan semua yang sudah saya katakan sebelumnya tentang berbagai cara Allah berbaik hati kepada kita, … ”

 

 

Roma 12:1b

“supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup,” (TB)

 

παραστῆσαι            τὰ     σώματα  ὑμῶν         ϑυσίαν  ζῶσαν,
Parastesai                ta     somata   hymon       thysian  zosan,
Mempertaruhkan (the)  tubuh     kalian/mu  kurban  hidup,

παραστῆσαι (Parastesai) + ϑυσίαν (thysian) = mempersembahkan

Secara harfiah, frasa di atas dapat diterjemahkan, “mempertaruhkan tubuhmu (setiap pribadi masing-masing) sebagai kurban (yang) hidup.” Saya setuju dengan terjemahan TB, ‘mempersembahkan’. Dengan satu kata itu, TB menggabungkan kata parastesai dan thysian (mempertaruhkan dan kurban). Perhatikan bahwa kata parastesai sedikit berbeda dari ‘menyerahkan diri’. Kalau ‘menyerahkan diri’, terjadi kesan bahwa kita tidak mau melakukan apa yang dianjurkan. Arti di sini tidak begitu! Mempersembahkan tubuh kita adalah sesuatu yang kita rasa ‘masuk akal’ (logiken) karena hati kita digerakkan oleh “berbagai caranya Allah berbaik hati kepada kita.”

Tetapi bagaimana caranya kita akan mempersembahkan tubuh kita? Sebelum kita jawab, mari kita lihat frasa ini, yang mengatakan bahwa mempersembahkan tubuh kita adalah hal yang masuk akal.

 

Roma 12:1d

“Itu adalah ibadahmu yang sejati” (TB)

τὴν     λογικὴν                     λατρείαν         ὑμῶν,
(the)   Logiken                    latreian           kalian

Arti 1: spiritual                      worship          kalian
Arti 2:
masuk akal/ pantas   pengabdian    kalian

λογικὴν λατρείαν (logiken latreian) = pengabdian yang masuk akal

Melewati beberapa kata dalam bahasa Yunani untuk sementara, kita perlu diskusi arti logikèn latreian hymon, yang diterjemahkan dalam TB sebagai ‘ibadahmu (yang) sejati’. Kata latreian mempunyai arti lebih dekat dengan service dalam bahasa Inggris, dan dalam bahasa Indonesia lebih seperti pengabdian atau pelayanan kepada Allah. Kata ‘ibadah’ sering digunakan dengan arti pertemuan ibadah di gereja, dan itu bukan arti latreian di sini. Kata logikèn adalah akar historis dari kata logical dalam bahasa Inggris. Jadi pengabdian yang Paulus anjurkan adalah sesuatu yang masuk akal, dan Terjemahan Lama lebih pas ketika menerjemahkan dengan kata ‘patut’ daripada ‘sejati’ dalam TB.

Jadi Tim Penerjemah TSI memilih arti ‘pengabdian (latreian) yang masuk akal/pantas (logikèn). Dengan kata lain, berdasarkan berbagai caranya Allah sudah berbaik hati kepada kita, maka sudah sepantasnyalah kita membalas kebaikan hati-Nya.

 

Perubahan Susunan Frasa dari TSI Edisi 2.2 ke Edisi 2.3

Kalau Saudara sempat membandingkan TSI edisi 2.2 dan edisi 2.3, ada perubahan dalam kedua ayat ini. 

susunan2

Terdapat perbedaan susunan kalimat dan frasa dalam edisi 2.3. Edisi 2.2 lebih mengikuti urutan bahasa sumber, dan ayat 1 dan 2 masih terpisah. Dan terdapat perbedaan besar ini: Edisi 2.2 mengulangi syarat (bagian huruf tebal di atas) yang setiap pembaca perlu membuat sebelum mengalami pembaharuan pikiran. Kenapa mengulangi itu?! Itu dibuat karena dalam pemeriksaan, Tim Penerjemah melihat bahwa para pembaca cenderung tidak menghubungkan syarat yang Paulus memberikan di ayat 1 dengan keajaiban yang sebagai akibat dari melakukan syarat tersebut. Dalam edisi 2.3, frasa dan kalimat disusun supaya syarat dan akibat berdekatan, dan syarat tidak lagi perlu diulangi seperti di edisi 2.2.

Apakah keputusan Anda?

NLT menerjemahkan dengan tepat dan sangat sederhana: “let God transform you into a new person by changing the way you think.” Inilah rahasia yang saya mau bagikan dengan Saudara: Syarat untuk kita memulai proses pembaharuan dari Allah adalah bahwa kita mengambil keputusan seperti ini dan berdoa, “Ya TUHAN, aku mempersembahkan tubuhku sebagai kurban bagi-Mu!” Dengan kata lain, kita menganggap diri kita seperti sudah mati, karena disalibkan bersama dengan Penyelamat kita— biar pun kita masih hidup. Mengambil keputusan tersebut bukanlah sesuatu yang gampang. Silakan merenungkan hal ini dan membaca Kolose pasal 2-3 dan Efesus 2. Berdoalah agar mendapat hikmat untuk mendalami konsep kurban persembahan tubuh ini. Ingatlah, binatang yang menjadi kurban harus mati. Semakin kita bisa menghayati konsep bersatu dengan Kristus dalam kematian-Nya, semakin hati kita disiapkan untuk transformasi yang hanya Allah mampu melakukan!

keputusan

Penerjemahan TSI

Sekarang saya mau menjelaskan beberapa hal penting tentang TSI dan dua terjemahan lain yang dikutip dalam artikel ini: Janganlah menganggap saya berkata bahwa TSI adalah benar dan kedua terjemahan lain itu salah. Sama sekali tidak! TB dan KSI adalah terjemahan secara harfiah, sedangkan TSI adalah terjemahan berdasarkan arti. Terjemahan harfiah seperti TB/KSI berguna karena mencerminkan bentuk dari bahasa sumber Alkitab secara kata demi kata. Tetapi terjemahan seperti itu tidak mungkin menunjukkan arti dengan jelas dan wajar dalam bahasa Indonesia. Penting sekali kita mengingat: Kedua jenis terjemahan tersebut saling melengkapi. Albata berharap Saudara akan menolong memberitakan bahwa sebaiknya setiap orang percaya menggunakan lebih dari satu jenis terjemahan Alkitab.

Saya memulai modul ini dengan berkata bahwa kedua ayat ini tidak gampang untuk diterjemahkan. Dan itulah sebabnya TSI menggunakan beberapa metode terjemahan yang dapat dikatakan berani, dan ada yang akan katakan drastis. Kedua ayat ini menunjukkan beberapa cara mengungkapkan makna yang tidak sering dilakukan dalam terjemahan berdasarkan arti:

  • Caranya hal rohani dilakukan (mempresentasikan tubuh sebagai kurban hidup) dapat diungkapkan dalam kutipan. Dalam terjemahan ke dalam bahasa Orya dan banyak bahasa daerah di Papua, penggunaan kutipan untuk mengungkapkan niat, alasan, atau pikiran sering dilakukan. Tetapi teknis ini tidak sering diperlukan dalam TSI.
  • Frasa dan kalimat dapat disusun dengan cara berbeda dari urutan yang terdapat dalam bahasa sumber Alkitab. Perubahan susunan bisa dibuat supaya kalimat menjadi lebih wajar, atau seperti di kedua ayat ini, supaya hal-hal yang berkaitan bisa dibuat lebih nyata bagi para pembaca. Frasa-frasa juga bisa disusun kembali supaya kejadian-kejadian dalam suatu cerita dapat diberikan sesuai urutan waktu.
  • Hal di atas bisa menyebabkan kombinasi ayat.

Kedua ayat ini juga menunjukkan beberapa cara mengungkapkan makna yang sering dilakukan oleh Tim Penerjemah Albata:

  • Dalam PB, adelphoi/ brothers sering diterjemahkan sesuai pengertian bahwa dalam zaman Alkitab, kata ini digunakan secara generik. Jadi TSI menerjemahkan dengan ‘saudara-saudari’, dan juga bisa menerjemahkan ‘kita’.
  • Karena bahasa Indonesia kurang membedakan antara jamat/tunggal, jenis pria/perempuan, dan masa (future, past, present, berulang kali, dll.), maka hal-hal seperti itu dijelaskan dalam TSI. Hal itu berarti bahwa terjemahan perlu menggunakan lebih banyak kata daripada bahasa sumber Alkitab.
  • Hal-hal tersirat dalam bahasa sumber Alkitab dapat dibuat tersurat dalam terjemahan berdasarkan arti. Sering lebih jelas kalau bentuk pasif (seperti ditransformasikan) diterjemahkan dengan pelaku tersurat dan kata kerja aktif (Allah mentransformasikan).  

Cara dan teknis ini dapat digunakan untuk menolong menyampaikan arti dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa-bahasa daerah di Indonesia, karena kita menyadari bahwa perbedaan sangat jauh antara bahasa sumber Alkitab dan bahasa sasaran zaman sekarang, dan perbedaan kebudayaan sangat jauh juga. Tetapi satu hal tidak diubah dengan sembarangan: Struktur logis dari bahasa sumber tidak diubah. Ini berarti bahwa sedapat mungkin kata penghubung yang terpenting akan mirip dalam artinya antara bahasa sumber dan bahasa sasaran. Kata-kata penghubung seperti ini dianggap penting:

  • oleh karena itu
  • itulah sebabnya
  • sesudah itu … lalu
  • maka
  • dengan demikan
  • bahkan
  • walaupun/biarpun

Kata penghubung yang berarti ‘dan’ dalam bahasa Ibrani dan bahasa Yunani sering tidak perlu diterjemahkan. Kedua bahasa sumber Alkitab menggunakan kata yang diterjemahkan ‘dan’ dengan cara yang sering kurang wajar dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.

 

Catatan:

Ketika Roma 12:1-2 dikhotbahkan, sering kali ‘berubahlah oleh pembaharuan budimu’ disalahtafsirkan. Biarpun begitu, biasanya yang diajarkan sebenarnya tidak berlawanan dengan Firman TUHAN, karena ada ayat lain yang bisa mendukung ajaran ‘berubahlah budimu’:

2 Korintus 7:1 KSI
1 Karena kita telah memperoleh janji-janji itu, hai Saudara-saudara yang kukasihi, marilah kita menyucikan diri kita dari segala hal yang dapat menajiskan tubuh maupun ruh, sambil menyempurnakan kesucian kita dalam ketakwaan kepada Allah.

2 Korintus 7:1 TSI
1 Saudara-saudari saya yang terkasih, oleh karena Allah sudah memberikan janji-janji yang sungguh manis, maka sudah sepantasnyalah kita berusaha menjaga tubuh dan roh kita supaya bersih dari semua hal yang najis. Takut dan hormatlah kepada Allah! Oleh karena itu marilah kita semakin disempurnakan menjadi semakin seperti serupa Allah dalam kekudusan-Nya.

 

Keluarga Pak Phil pada peresmian PB bahasa Orya pada tahun 2005.
Keluarga Pak Phil pada peresmian PB bahasa Orya pada tahun 2005.

Phil Fields datang ke Indonesia dengan istrinya (Gale) dan ketiga anak mereka (David, Rachel, dan Hannah) pada bulan Oktober tahun 1983. Proyek terjemahan mereka yang pertama adalah Perjanjian Baru dalam bahasa Orya. Suku Orya terdiri dari sekitar 2000 penduduk yang tinggal di daerah berbukit-bukit yang luas—  memulai dari dekat tempat transmigrasi Bonggo dan sampai Taja dan Wamho.

Hobby Pak Phil adalah main musik dengan Irish flute, penny whistle, clarinet, dan saxophone. Situs lain yang dimilikinya termasuk clarinetpages.net dan dailybiblereading.info.

Open post

Arti yang sudah hilang dalam kata ‘Tuhan’ di Indonesia

Penulis: Phil Fields

Beberapa bulan yang lalu, salah satu teman sekerja saya— seorang ahli bahasa yang sudah lama bekerja di Indonesia, memberitahukan kepada saya bahwa di Indonesia sudah terjadi penggeseran arti yang signifikan mengenai kata Tuhan. Dalam penggunaan sehari-hari sekarang, kata Tuhan langsung merujuk kepada Allah, dan arti dasar historis sudah hilang. Sebagai ilustrasi, dalam bahasa Indonesia sekarang, orang bisa mengatakan bahwa “Senayan sudah memutuskan tentang pajak…,” atau “Hari ini Istana memberitakan bahwa …” Semua orang Indoneisa sekarang mengerti bahwa arti dasar Senayan adalah wilayah Jakarta, tetapi arti khusus (kiasan jenis metonimia) adalah Dewan MPR/DPR. Dan semua juga mengerti bahwa arti dasar Istana adalah gedung tempat presiden, tetapi arti khusus adalah pemerintah yang sekarang berkuasa. Bayangkan kalau sekelompok orang Indonesia dikirim dengan roket ke planet Mars, untuk hidup selamanya di situ. Dan setelah beberapa generasi, mereka sudah lupa arti dasar dan masih menggunakan kata Senayan dan Istana dengan arti khusus. Seperti itulah yang terjadi dengan kata Tuhan dalam bahasa Indonsia! Penggeseran arti ini adalah sesuatu yang signifikan, karena Firman Tuhan sering menggunakan kata adonai atau kyrios dengan arti dasar ‘penguasa’, bukan sebagaimana arti yang dimengerti oleh kebanyakan pembaca— yaitu ‘Tuhan’ identik dengan ‘Allah’. Dalam PL, teks bahasa Ibrani menggunakan adonai/adon untuk manusia dalam ketiga contoh ini:

  • Kej. 43:20 AYT Mereka (ke-10 saudara Yusuf) berkata (kepada kepala staf rumahnya), “Tuan (adoni), izinkan kami menjelaskan sesuatu. Waktu pertama kali kami datang kemari, kami bertujuan untuk membeli makanan. …”
  • 1Raja 16:24 AYT Omri membeli bukit di Samaria dari Semer seharga 69 kilogram perak. Kemudian ia membangun sebuah kota di atas bukit itu, kota itu diberi nama Samaria. Nama Samaria diambil menurut nama pemilik (adone) bukit itu, yaitu Semer.
  • Kej. 24:9 AYT Jadi, pelayan itu meletakkan tangannya ke bawah kaki majikannya (adonaw) dan membuat perjanjian.

Kata yang sama— yaitu adonai, juga sering dipakai dalam PL untuk merujuk kepada Allah atau untuk menyapa atau memanggil Tuhan secara langsung. Sebagai contoh, pertama kali adonai dipakai untuk Tuhan di dalam PL terdapat di ayat ini:

  • Kej. 15:2 TB Abram menjawab: “Ya Tuhan ALLAH (adonai Yahweh)*, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu.”

Walaupun kata adonai digunakan untuk Tuhan, itu tidak berarti bahwa arti dasar ‘penguasa’ hilang. Bahkan Tuhan menggunakan kata adonai untuk merujuk kepada diri-Nya sendiri:

  • Mal. 1:6 AYT (Allah berkata,) Seorang anak menghormati bapanya, dan seorang hamba menghormati tuannya (adonaw). Jikalau Aku ini Bapa, di manakah hormatmu kepada-Ku? Jikalau Aku ini Tuan (adownim), di manakah rasa takutmu kepada-Ku?

Tetapi Allah memberi Kesepuluh Hukum, di mana yang ketiganya berkata:

  • Kel. 20:7 draf TSI Janganlah menyalahgunakan nama-Ku TUHAN, Allahmu (Yahweh Eloheka). Aku (secara harfiah: Yahweh) akan menghukum siapa pun yang menyebut nama-Ku dengan sembarangan.

Seperti kebiasaan orang Yahudi, mereka membuat kebiasaan yang menjadi seperti pagar supaya tidak pernah menyebut nama Yahweh dengan sembarangan— yaitu mereka memutuskan untuk menggunakan kata halus untuk mengganti nama-Nya. Kata halus tersebut adalah Adonai.** Walaupun kata Adonai selalu diucapkan mengganti Yahweh setiap kali teks PL dibacakan kepada orang-orang yang berkumpul di semua sinagoge orang Yahudi, tetapi kata itu masih juga digunakan dalam konteks lain untuk manusia. Tentu saja orang Yahudi ingat arti dasar dari kata itu (penguasa), dan kata itu tidak sekedar kata ganti Allah saja— seperti yang terjadi di Indonesia sekarang ini. Kebiasaan tersebut juga dibawa oleh orang Yahudi ke dalam bahasa Yunani pada zaman sesudah Alexander Agung. Negri mereka dikuasai oleh pemerintahan Yunani, dan bahasa Yunani masih dominan selama Roma*** berkuasa atas negri Yahudi— yang disebut Palestina atau Israel. Oleh karena itu kyrios dipakai dalam Septuaginta waktu menerjemahkan adonai. Sebagai contoh, ayat tersebut di atas:

  • Kej. 20:7 LXX ου λημψη το ονομα κυριου του θεου σου επι ματαιω ου γαρ μη καθαριση κυριος τον λαμβανοντα το ονομα αυτου επι ματαιω

Tetapi kata kyrios tetap digunakan untuk manusia juga. Sebagai contoh, saya menggunakan ayat di bawah ini, yang adalah sebuah kesalahan yang sudah terjadi dalam dua terjemahan Alkitab di Indonesia:

  • Yoh. 4:11 BYZ Λέγει αὐτῷ ἡ γυνή, Κύριε,**** οὔτε ἄντλημα ἔχεις, καὶ τὸ φρέαρ ἐστὶν βαθύ· πόθεν οὖν ἔχεις τὸ ὕδωρ τὸ ζῶν; Yoh. 4:11 TB Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?

Dalam permulaan percakapan Yesus dengan perempuan Samaria, perempuan itu belum menyadari bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Mesias yang dinantikan (Mzm. 2). Jadi seharusnya ayat ini diperbaiki begini, “Tuan, engkau***** tidak punya timba …” Yesus juga menggunakan kata kyrios mengenai diri-Nya di dalam Lukas 6:46:

  • Luk. 6:46 BYZ Τί δέ με καλεῖτε, Κύριε, κύριε, καὶ οὐ ποιεῖτε ἃ λέγω; Luk. 6:46 TB “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?

Tetapi perhatikan bahwa arti kyrios yang maksudkan bukan bahwa Dia adalah Anak Allah, tetapi seperti TSI menerjemahkan:

  • Luk. 6:46 TSI ““Buat apa kalian memanggil Aku, ‘Tuhan, Tuhan,’ padahal apa yang Ku-perintahkan tidak kalian lakukan!

Ayat ini menunjukkan bahwa kata kyrios di PB masih digunakan dengan arti dasar untuk Yesus— yaitu Penguasa, Pemilik, atau Raja. Dengan demikian, kita lihat bahwa perkataan Yesus tentang diri-Nya di Lukas 6:46 mempunyai arti yang sangat dekat dengan perkataan Allah tentang diri-Nya di Maleakhi 1:6, yang dikutip di atas. Kalau pembaca ingin melihat contoh di mana kyrios digunakan untuk manusia, bandingkanlah Lukas 6:46 dengan Matius 25:11. Juga melihat Yohanes 12:21. Kehilangan arti tersebut terjadi di dalam bahasa Indonesia, tetapi tidak terjadi dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris, zaman sekarang kata Lord lebih sering digunakan untuk merujuk kepada Allah atau Yesus, tetapi sesuai konteks bisa digunakan untuk manusia juga. Seorang landlord adalah pemilik rumah atau apartemen. Orang bisa disebut mempunyai lordly manner, yang berarti bahwa dia mempunyai sikap kewibawaan (atau kesombongan) seperti seorang raja. Sedangkan ada perbedaan kecil dengan bahasa Yunani: Dalam bahasa Yunani kyrios bisa digunakan untuk merujuk kepada majikan, tetapi dalam bahasa Inggris lord tidak digunakan untuk majikan. Waktu saya masih di SMA, saya sering mendengar siaran radio khotbah dari Billy Graham, dan hampir setiap kali dia berkhotbah, dia menganjurkan para pendengar untuk “receive Jesus as your Savior and Lord.” (menerima Yesus sebagai Juruselamat dan Pemilik hidupmu.) Kalau khotbah Billy Graham ditulis, selalu memakai huruf besar untuk Savior dan Lord. Secara implisit, keilahian Yesus ada dalam ucapan itu, tetapi keilahian Yesus tidak terfokus. Billy Graham tidak hanya memberi tantangan receive Jesus as your Savior, karena orang cenderung ingin tiket ke surga saja. Setelah maju ke depan dan mengikuti doa penerimaan, hidupnya tidak berubah. Itulah sebabnya Billy Graham selalu menyebut dua jabatan Yesus waktu memberi tantangan pada akhir kotbahnya. Setiap orang yang menerima Yesus sebagai ‘Lord/Pemilik hidup’, berarti dia sudah mengambil keputusan yang kokoh untuk melakukan apa saja yang Yesus perintahkan. (Luk. 9:23) Bayangkan kalau frasa tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan arti yang sudah terbiasa sebagai “menerima Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan,” arti yang diterima oleh para pendengar akan lain sekali dari frasa dalam bahasa Inggris! Kehilangan arti dasar dalam adonai/kyrios dan bahkan lord waktu Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sangat signifikan. Mari kita lihat persoalan yang terjadi dalam Roma 10:9:

  • Rom. 10:9 BYZ ὅτι ἐὰν ὁμολογήσῃς ἐν τῷ στόματί σου κύριον Ἰησοῦν, καὶ πιστεύσῃς ἐν τῇ καρδίᾳ σου ὅτι ὁ ϑεὸς αὐτὸν ἤγειρεν ἐκ νεκρῶν, σωθήσῃ· Rom. 10:9 TB Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.

Ini adalah ayat yang sangat diprotes oleh orang-orang Muslim, karena mereka mengerti bahwa Paulus menganjurkan para pembaca untuk mengakui Yesus sebagai Allah. Hal ini membuktikan bahwa di Indonesia, kata Tuhan tidak memiliki dua macam arti sebagaimana kyrios/adonai. Karena kalau kata Tuhan memiliki arti alternatif, pastilah orang Muslim akan menafsirkan bahwa Paulus menganjurkan para pembaca mengakui Yesus sebagai raja mereka. (Kata ‘raja’ sengaja tidak diberi huruf besar dalam kalimat tadi, karena mengenai kepercayaan orang Muslim.) Sedangkan kalau TSI menerjemahkan, “mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Rajamu” sebagian orang Kristen akan protes, karena mereka menggunakan ayat hafalan ini untuk mendukung keilahian Yesus. Inilah TSI untuk 10:9:

  • Rom. 10:9 TSI Dan inilah pesan Allah itu: Kalau kamu mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Penguasa hidupmu,****** dan percaya penuh di dalam hatimu bahwa Allah sudah menghidupkan Yesus dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.

Mungkin ada pembaca yang akan bertanya, “Kenapa TSI tidak tetap menggunakan kata Tuhan untuk Yesus di Roma 10:9?— dengan catatan kaki yang menjelaskan bahwa kata Tuhan memiliki arti Pemilik hidup.” Jawaban untuk pertanyaan itu adalah bahwa terjemahan Alkitab tidak bisa mengubah arti suatu istilah yang sudah dibakukan dalam kebudayaan— biarpun memasukkan ribuan penjelasan. Sekarang Saudara sudah mengerti kenapa tugas seorang penerjemah Alkitab sangat rumit. Oleh karena itu saya mohon doa untuk seluruh Tim Penerjemah Albata. Berdasarkan semua yang sudah saya katakan di atas, terdapat kata lain yang artinya yang dasar berbahaya hilang— yaitu kata hamba. Sebenarnya, hamba dalam kebudayaan Alkitab jarang mempunyai status sebagai pegawai, tetapi hampir selalu adalah budak. Dalam Alkitab, kata hamba atau budak berarti orang yang dimiliki orang lain— baik kalau dijual kepada pemilik atas kemauannya sendiri atau secara terpaksa. Jadi kedua arti untuk ‘hamba’ adalah: Setiap hamba Tuhan yang dipuji dan dihormati manusia zaman ini harus ingat arti dasar kata hamba supaya tidak menjadi sombong. Itulah sebabnya Pemilik kita memberi ajaran ini:

“Kalau di antara kalian ada seseorang yang mempunyai seorang budak yang membajak di ladang atau menggembalakan domba-dombamu, ketika budak itu pulang dari ladang pastilah kamu tidak akan berkata kepadanya, ‘Mari masuk dan makan.’ Melainkan kamu akan berkata kepada budakmu itu, ‘Siapkan makanan untuk saya. Pakailah pakaian yang disediakan untuk tugas dalam rumah. Layanilah saya di meja makan sampai saya selesai makan. Sesudah itu kamu boleh makan.’ Dan kamu tidak perlu berterima kasih kepada budak itu ketika dia sudah selesai melakukan hal-hal yang diperintahkan olehmu. Hendaklah kamu masing-masing juga seperti itu. Ketika kamu sudah melakukan semua yang diperintahkan Allah kepadamu, hendaklah kamu berkata, ‘Saya hanyalah seorang budak yang biasa saja. Saya hanya melakukan apa yang sudah menjadi tugas saya.’”

Lukas 17:7-10

Catatan-catatan:

  1. *Perlu diingat bahwa bahasa Ibrani kuno dan bahasa Yunani Koine tidak ditulis dengan perbedaan huruf besar/kecil untuk menunjukkan keilahian. Jadi bentuk kata ‘adonai’ tetap sama kalau merujuk kepada manusia atau kepada Allah. Begitu juga dengan ‘kyrios’ di PB. Pada waktu PB ditulis, semua huruf satu ukuran saja, yang disebut ‘uncial’. Tetapi dalam PB Yunani yang dicetak zaman sekarang, huruf besar/kecil sudah ditambahkan.
  2. **Bahasa Ibrani zaman dahulu tidak menuliskan huruf vokal. Karena itu dan kebiasaan tersebut, maka tidak ada ahli bahasa Alkitab yang dapat mengatakan pengucapan persis yang terdengar oleh Musa saat Allah menyampaikan nama-Nya (Kej. 3). Tetapi sudah pasti bahwa pengucapan nama YHWH tidak sesuai tulisan bahasa Ibrani yang menggunakan ‘vowel points’, karena vowel points yang digunakan adalah sesuai kata ‘Adonai’, bukan Yahweh. Itu sebabnya terjadi pengucapan salah karena KJV menuliskan ‘Jehovah’.
  3. ***Bahasa ibukota Roma dan negri Italia adalah bahasa Latin.
  4. ****Huruf besar K terjadi untuk kata Kyrios karena permulaan dari kutipan, bukan sebagai tanda bahwa perempuan Samaria ini menganggap bahwa Yesus adalah Allah.
  5. *****TSI dan TB menggunakan cara yang berbeda dalam menentukan kalau kata seperti ‘engkau’ akan diberi huruf besar. Di contoh ini, saya menggunakan cara TSI. Dalam TSI, hanya menggunakan huruf besar untuk kata ganti orang yang merujuk kepada Yesus kalau orang yang berbicara percaya bahwa Yesus adalah ilahi. TB selalu menggunakan huruf besar, tanpa membedakan kalau orang yang mengatakan sesuatu percaya kepada Tuhan Yesus atau tidak. Cara itu menimbulkan kesalahpahaman di beberapa tempat di PB. Lihat keterangan mengenai hal ini juga di Prakata TSI.
  6. ******10:9 Penguasa hidupmu Secara harfiah, ‘Tuhan’ (κύριον). TSI menggunakan kata “Penguasa hidupmu” supaya jelas bahwa maksud Paulus bukan sekedar bahwa Yesus adalah ilahi. Memang Yesus adalah ilahi, tetapi arti κύριον yang ditekankan oleh Pauls di ayat ini adalah bahwa Yesus adalah Penguasa setiap kita. Tim penerjemah TSI juga mau supaya orang-orang yang hanya mendengar pembacaan ayat ini tanpa melihat bentuk huruf, juga menangkap arti yang benar. Untuk informasi selanjutnya mengenai arti kata ‘Tuhan’, lihat Prakata TSI.
  7. Teman sekerja yang tersebut pada permulaan naskah ini menambah informasi ini yang saya masukkan sebagai catatan:
    1. I noticed that you didn’t mention that ’adonay is actually a plural form “my lords” in contrast to ’adoni “my lord”—maybe because the idea of “majestic plural” is hard to explain to common folk?  Or maybe because that analysis isn’t certain?  I see that in the Theological Lexicon of the Old Testament the entry says:
      The form ʾadōnāy, reserved as a designation for Yahweh, is usually understood as a fixed vocative form of the majestic plural with a personal suffix in (affect-stressed) pause, “my lords = my lord = the lord” (extensive treatment in W. W. Baudissin, Kyrios [1929], 2:27ff.), although the grammatical analysis of the ending -āy is disputed.
      At any rate, whether it’s a plural form or not, when ’adonay has a singular sense, it refers exclusively to God, in contrast with ’adoni “my lord”.


Keluarga Pak Phil pada peresmian PB bahasa Orya pada tahun 2005.
Keluarga Pak Phil pada peresmian PB bahasa Orya pada tahun 2005.

Phil Fields datang ke Indonesia dengan istrinya (Gale) dan ketiga anak mereka (David, Rachel, dan Hannah) pada bulan Oktober tahun 1983. Proyek terjemahan mereka yang pertama adalah Perjanjian Baru dalam bahasa Orya. Suku Orya terdiri dari sekitar 2000 penduduk yang tinggal di daerah berbukit-bukit yang luas—  memulai dari dekat tempat transmigrasi Bonggo dan sampai Taja dan Wamho. 

Hobby Pak Phil adalah main musik dengan Irish flute, penny whistle, clarinet, dan saxophone. Situs lain yang dimilikinya termasuk clarinetpages.net dan dailybiblereading.info.

Open post

Alkitab Dipalsukan? — Naskah dari YesHeIs.com

Alkitab memiliki keunikan tersendiri yang tak tersaingi oleh kitab manapun yang pernah ada dan yang akan ada di dunia ini. Sekalipun Alkitab ditulis oleh lebih dari 40 orang, dengan latar belakang yang berbeda, tapi keselarasan dan kontinuitasnya terpelihara. Para penulis yang terpilih itu terdiri dari para raja, petani, filsuf, nelayan, dokter, negarawan, sarjana, penyair, dan pembajak sawah.

Alkitab ditulis dalam 2 bahasa yang berbeda, yakni Ibrani dan Yunani.

Para penulis hidup di negeri yang berbeda dan dengan pengalaman yang berbeda-beda pula. Mereka tidak dalam satu generasi sehingga tidak pernah mengadakan pertemuan, konsultasi, seminar, lokakarya, konferensi, atau semacamnya untuk suatu persetujuan atau kesepakatan mengenai pembagian tugas, materi, outline, tujuan dan alamat penulisan. Alkitab ditulis dalam satu periode sejarah yang cukup panjang, memakan waktu kurang lebih 1.600 tahun. Tak dapat disangkal bahwa kumpulan dari 66 kitab ini merupakan lembaran-lembaran yang paling banyak dibaca dan terus-menerus dibaca hingga kini. Kumpulan kitab ini memiliki paling banyak bahasa terjemahan, paling banyak jilid penerbitan, dan paling banyak pengaruh terhadap hidup manusia. Tak terhitung jumlah orang yang rela menjadi martir, dianiaya, dan bahkan mengorbankan apa saja atas keyakinannya terhadap Alkitab. Sementara yang lain meninggalkan kehidupan yang jahat; yang lain lagi dikuatkan dari keputusasaan atas keyakinan akan Alkitab sebagai firman Allah yang hidup.

Karena fenomena ini, Alkitab terus menerus diselidiki dan dipermasalahkan kelayakannya. Alkitab mendapat perhatian istimewa dibandingkan dengan kitab-kitab lain di dunia ini, terutama relevansinya terhadap kehidupan manusia dalam dunia yang terus berubah. Dalam studi teologi sistematika masalah ini dibahas khusus dalam sektor bibliologi. Salah satu pokok yang dipermasalahkan adalah keyakinan tradisional bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang tanpa kesalahan (Inerrancy) dalam naskah aslinya; bukan hanya doktrin melainkan juga fakta sejarah dan kehidupan.

Sebagai orang percaya, kita meyakini bahwa Kitab Suci (Alkitab) adalah Firman Allah, yang artinya bahwa setiap tulisan di dalamnya adalah perkataan Allah sendiri dan berfokus pada hubungan antara Allah dengan manusia.

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2 Timotius 3:16)

Maka, jika Alkitab berubah-ubah dan telah dipalsukan seharusnya:

  1. Inti (Esensi) tulisan antara penulis satu dengan yang lain berbeda
  2. Tidak ada salinan aslinya. Kalaupun ada, kembali kepada poin pertama seharusnya esensinya berbeda.

Namun, pada kenyataannya, tidak demikian yang terjadi dengan Alkitabsalinan asli masih terjaga hingga hari ini dan esensi keseluruhan isi Alkitab tidak berbeda, menyatakan hal yang sama dan selaras yaitu rancangan keselamatan (Kasih) dari Allah bagi manusia melalui Yesus Kristus.

Para ahli dapat mempelajari tulisan asli para rasul dari salinan yang disalin dengan hati-hati, untuk menentukan ke-otentisitas– an Alkitab sehingga tiba pada sebuah kesimpulan yang sangat dekat dengan dokumen aslinya.

Tes yang digunakan untuk menentukan keabsahan salinan yang selamat antara lain:

1. Tes bibliografis 
Tes ini membandingkan isi Alkitab dengan dokumen kuno lain dari periode yang sama. Yang dibandingkan: jumlah salinan yang eksis saat ini, jarak waktu antara tulisan asli dan salinan paling awal yang selamat, dan perbandingan sejarah dengan dokumen kuno yang lain. Lebih dari 5000 manuskrip salinan dalam bahasa Yunani telah ditemukan, dan jika dihitung dalam bahasa-bahasa lain, jumlah tersebut menjadi 24000, semuanya berasal dari abad kedua hingga abad keempat.

2. Tes bukti internal 
Tes ini mempertanyakan konsistensi saksi mata, detail nama orang, nama tempat, dan nama kejadian, surat kepada individu atau kelompok kecil, kejadian yang memalukan sang penulis, kehadiran materi yang tidak relevan atau kontra-produktif, dan tidak adanya materi yang relevan. Jika keempat Injil menulis hal yang sama persis, maka hal itu menjadi patut dicurigai. Para saksi mata yang menuliskan Injil menceritakan kisah Yesus dari perspektif yang berbeda-beda, namun catatan mereka tetap konsisten satu dengan yang lain, sehingga secara keseluruhan, keempat Injil memberikan gambaran yang jelas dan utuh tentang Yesus. Para sejarawan sangat menyukai detail karena hal tersebut mempermudah pelacakan kebenaran. Surat-surat Paulus dan keempat Injil penuh dengan detail nama orang, nama tempat, dan kejadian dan banyak di antaranya telah dibuktikan oleh sejarawan dan arkeologis. Nama-nama yang ditulis oleh penulis Injil akan dengan mudah ditemukan oleh orang-orang yang menentang mereka, para imam Yahudi dan tentara Romawi.
Ahli sejarah Louis Gottschalk berpendapat bahwa surat yang tidak dipublikasikan secara umum dan ditujukan pada seseorang atau sekelompok kecil orang memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk dapat dipercaya.
Selain tes-tes di atas, sejarawan juga mencari materi-materi kontraproduktif dan tidak relevan. Hasil yang tidak sesuai dengan yang diharapkan (Yesus mati disalib padahal dianggap akan menyelamatkan Israel, kubur Yesus yang kosong ditemukan oleh wanita padahal zaman itu kesaksian wanita tidak dianggap sama sekali) dan detail-detail yang tidak berhubungan dengan cerita utama dan hanya disinggung sekali saja dianggap sebagai tanda bahwa materi-materi tersebut memang benar-benar terjadi atau mereka tidak akan dituliskan. Demikian pula dengan isu-isu yang dihadapi oleh gereja abad pertama ─ pengabaran Injil kepada non-Yahudi, karunia Roh Kudus, sakramen baptis, kepemimpinan gereja ─ sedikit sekali disinggung oleh Yesus. Adalah masuk akal jika para rasul hanya ingin menyelesaikan masalah tersebut dengan menambahkan materi-materi ke dalam Injil yang ditulis. Dalam satu masalah, Paulus dengan terus terang berkata, “Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan”

3. Tes bukti eksternal
Tes ini mengukur reliabilitas suatu dokumen dengan membandingkan dengan catatan sejarah yang lain. Dalam hal ini yaitu catatan sejarah non-Kristen tentang Yesus. Paling tidak ada tujuh belas tulisan non-Kristen yang mencatat lebih dari lima puluh detail tentang kehidupan, pengajaran, kematian, dan kebangkitan Yesus, ditambah dengan detail gereja mula-mula. Lebih jauh lagi, reliabilitas Perjanjian Baru didukung oleh lebih dari 36.000 dokumen non-Alkitab (kutipan dari pemimpin gereja tiga abad pertama) sehingga jika seluruh salinan Perjanjian Baru hilang, maka para ahli dapat merekonstruksi ulang menggunakan dokumen-dokumen tersebut dengan perkecualian beberapa ayat saja.

Esensi seluruh kisah di Alkitab, dari Kitab Kejadian sampai dengan Wahyu, memiliki benang merah yaitu menyatakan rancangan keselamatan Allah bagi manusia melalui Yesus Kristus. Dan salinan asli Alkitab masih terjaga sampai sekarang. Tidak banyak orang di luar Kristen yang mengetahui, bahwa segala yang tertulis di Alkitab telah diberikan peringatan keras oleh Allah untuk tidak menambah atau mengurangi isi FirmanNya.

“Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.” (Wahyu 22:18–19)

Jika masih ada pihak yang mengatakan bahwa Alkitab itu palsu, bukankah seharusnya mereka bisa menunjukkan yang mana Alkitab versi asli dan palsu ? Bukan hanya sekedar menyatakan klaim berdasarkan tulisan seseorang yang tidak berdasar dan tidak dapat dipertanggungjawabkan?

[Naskah ini tidak ditulis oleh anggota Albata, tetapi hanya diposting di sini. Aslinya terdapat di situs YesHeIs.com.]

Posts navigation

1 2
Scroll to top