Open post

Melawan Rasa Takut

Bacaan Matius 8:28-34
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Yesus mengusir setan-setan dari orang-orang Gadara*

28 Waktu Yesus tiba di seberang danau— yaitu daerah orang Gadara,** dua orang yang dikuasai setan-setan datang menemui Dia. Kedua orang itu tinggal di lokasi perkuburan,*** dan mereka begitu berbahaya sehingga tidak seorang pun berani lewat ke sana. 
29 Kedua orang itu berteriak kepada-Nya, “Hei Anak Allah! Kenapa engkau**** mengganggu kami? Apakah engkau datang untuk menyiksa kami sebelum waktu yang ditentukan Allah?”
30 Tidak jauh dari situ ada sekelompok besar babi sedang makan. 
31 Setan-setan itu minta berulang kali kepada-Nya, “Kalau engkau mengusir kami keluar dari kedua orang ini, ijinkanlah kami masuk ke dalam babi-babi itu.”
32 Kata-Nya, “Pergilah!” Lalu setan-setan itu pergi dari kedua orang itu dan memasuki babi-babi itu. Dan semua babi itu lari dan terjun dari pinggir jurang ke dalam danau, lalu mati tenggelam. 
33 Para penjaga babi itu lari ke kota dan menceritakan apa yang sudah terjadi dengan babi-babi itu dan kedua orang yang dulu dikuasai setan-setan itu. 
34 Lalu seluruh penduduk kota keluar untuk menemui Yesus dan mereka memohon dengan sangat supaya Dia meninggalkan daerah mereka.

Kecenderungan orang yang berbuat salah biasanya akan sering marah-marah. Sebenarnya ia sadar bahwa dirinya bersalah, tetapi sebelum disalahkan, perlindungan dirinya keluar. Contohnya, seorang pria berselingkuh tetapi istrinya tidak tahu. Namun, setiap bertemu istrinya, pria tersebut suka tiba-tiba marah-marah tidak jelas. Tujuannya jelas, agar istrinya tidak punya kesempatan menanyakan banyak hal kepadanya. Kita mungkin juga pernah merasa takut bertemu seseorang karena kita bersalah kepada orang tersebut. Padahal, belum tentu orang tersebut mengerti kesalahan yang kita maksudkan.

Ada banyak penyebab rasa takut dalam diri manusia. Selain takut karena bersalah, ada pula ketakutan yang disebabkan karena sesuatu yang dapat membahayakan atau mengancam jiwa. Orang-orang di daerah Gadara mengalami hal ini ketika ada dua orang kerasukan yang hidup di daerah pekuburan di Gadara. Dua orang itu sangat berbahaya sehingga tak ada seorangpun berani melewati jalan di dekat pekuburan itu. Namun, Yesus sama sekali tidak gentar dengan dua orang yang kerasukan tersebut. Dalam diri-Nya ada kuasa dan wibawa yang luar biasa, sehingga ketika ia berkata, “Pergilah!”, maka roh-roh jahat yang merasuki kedua orang itu pun menurut. Dua orang itu pun sembuh dan hidupnya dimerdekakan dari kuasa gelap.

Rasa takut memang lazim dialami oleh manusia, dengan kadar yang berbeda. Namun, jangan pernah biarkan rasa takut menguasai kita. Jika rasa takut kita berkaitan dengan kuasa kegelapan, singkirkan ketakutan itu dengan kuasa nama Yesus. Jangan pernah lari dari rasa takut, tetapi hadapilah bersama dengan keberanian yang Tuhan berikan, karena sering kali apa yang kita takutkan atau khawatirkan tak pernah terbukti.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Desember 2017

Catatan Kaki:
* Perikop: Mrk. 5:1-20; Luk. 8:26-39
** 8:28 Gadara Suatu daerah sebelah tenggara Danau Galilea. Daerah itu juga disebut Gerasa.
*** 8:28 lokasi perkuburan Pada waktu itu orang Yahudi sering menguburkan mayat orang di gua atau di ruangan kecil yang digali di dalam gunung batu. Kejadian ini banyak berbicara tentang hal-hal yang najis— roh jahat, kuburan, babi, dan daerah orang yang bukan Yahudi. Ini semua dianggap najis oleh orang Yahudi.
**** 8:29 engkau Huruf kecil dipakai di sini sebagai kata ganti untuk nama Yesus. Walaupun roh-roh jahat itu tahu bahwa Yesus adalah Anak Allah, mereka tidak sesungguhnya menghormati dan tunduk kepada-Nya (Yak. 2:19). 

Open post

Tim Pilihan

Bacaan Lukas 5:27-35
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Matius mengikut Yesus*

27 Sesudah itu Yesus keluar dan melihat seorang petugas pemerintah yang sedang duduk di tempat kerjanya. Pekerjaan orang itu adalah penagih pajak** dari masyarakat untuk diberikan kepada pemerintah Roma. Nama orang itu Matius.*** Yesus berkata kepadanya, “Mari, ikutlah Aku.” 
28 Matius pun berdiri, meninggalkan segala sesuatu yang ada di tempat kerjanya, dan ikut Yesus dalam perjalanan.
29 Matius mengadakan perjamuan makan besar bagi Yesus di rumahnya. Banyak penagih pajak dan orang-orang lain makan bersama mereka. 
30 Melihat hal itu, orang-orang Farisi dan para ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid-Nya, “Kenapa kalian makan dan minum bersama para penagih pajak dan orang-orang berdosa yang lain?”
31 Yesus menjawab mereka, “Orang yang sehat tidak perlu ke dokter. Yang perlu ke dokter adalah orang sakit. 32 Begitu juga dengan Aku. Aku datang untuk memanggil orang-orang berdosa supaya bertobat— bukan untuk orang-orang yang merasa dirinya benar!”

Hal berpuasa****

33 Lalu ada orang-orang yang berkata kepada Yesus, “Para murid Yohanes sering berdoa dan berpuasa. Para anggota kelompok Farisi juga begitu. Tetapi murid-muridmu terus makan dan minum.”
34 Yesus menjawab dengan memberikan contoh yang menunjukkan persamaan, “Pasti tidak ada tamu-tamu dalam suatu pesta pernikahan disuruh berpuasa selama pengantin laki-laki masih ada bersama mereka! Begitu juga selama Aku masih bersama murid-murid-Ku, mereka tidak akan berpuasa. 
35 Tetapi coba kalian pikir apa yang akan terjadi kalau pengantin laki-laki ditangkap oleh yang memusuhi-Nya. Hal itulah yang akan terjadi kepada-Ku, dan pada waktu itulah murid-murid-Ku akan berpuasa.”

Dalam film Moneyball (2011), Billy Beane tim membangun tim baseball Oakland Atheticks menjadi tim pemenang dengan cara yang tak lazim. Sebelum memasuki musim kompetisi 2002, tim ini telah kehilangan tiga pemain kunci mereka dan tak ada lagi dana untuk membeli pemain baru. Beane selaku manajer utama menggunakan data statistik yang saat itu jarang digunakan, untuk membangun satu tim yang terdiri dari pemain-pemain kurang terkenal, baik yang sudah “tua” maupun yang dianggap kurang berprestasi oleh tim lainnya. Hasilnya, tim pilihan yang “bukan apa-apa” itu berhasil memenangkan 20 pertandingan berturut- turut hingga memuncaki klasemen divisi mereka.

Film Moneyball mengingatkan kita mengenai cara Yesus dalam mengumpulkan orang-orang untuk menjadimurid-Nya. Dalam tim pilihan Yesus, kita menemukan para pelaut garang dari Galilea, seorang zelot (pemberontak terhadap kuasa Romawi), bahkan pemungut cukai yang dibenci banyak orang. Yesus tidak mencari orang-orang yang hebat—Tetapi Allah memilih ajaran dan orang-orang percaya yang dianggap bodoh oleh manusia di dunia ini, untuk mempermalukan orang-orang yang dianggap bijak. Dan Dia memilih para penginjil dan Kabar Baik tentang Kristus yang dianggap lemah oleh manusia di dunia ini, untuk mempermalukan orang-orang kuat.  (1 Kor. 1:27 PB-TSI). Allah menggunakan orang-orang seperti ini untuk menghadirkan suatu gerakan yang kelak begitu berdampak sehingga dunia pun dijungkirbalikkan.

Sifat naluri kita akan selalu mencari hal-hal yang familiar, berdampak, dan kaya. Kita biasanya mengabaikan yang berstatus rendah atau secara jasmani terbatas. Namun, Yesus memilih untuk menempatkan orang-orang yang dipandang sebelah mata untuk menjadi tim pilihan-Nya. Dalam Yesus Kristus, kita semua berguna dan penting. Saat kita memperlakukan secara baik dan menghormati siapapun, di situlah kita sedang menghormati Allah.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Desember 2017

Catatan Kaki:
Perikop: Mat. 9:9-13; Mrk. 2:13-17
** 5:27 penagih pajak Lihat catatan di Luk. 3:12.
*** 5:27 Matius Lukas menulis nama lain untuk Matius— yaitu “Lewi.” Sekarang kita lebih mengenal dia sebagai Matius, seperti tertulis dalam Mat. 9:9-13; 10:3.
**** Perikop: Mat. 9:14-17; Mrk. 2:18-22

 

Open post

Dimulai dari Diri Sendiri

Bacaan Matius 7:12
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Hukum yang terutama

12 “Perlakukanlah setiap orang seperti yang kamu inginkan dia lakukan kepadamu, karena itulah inti yang diajarkan oleh Hukum Taurat dan ajaran para nabi.”

Perilaku pengguna jalan raya sekarang dan dulu jauh berbeda, baik pejalan kaki maupun pengendara motor tak lagi saling menghargai sesama pengguna jalan. Contoh ketika di traffic light. Banyak pengendara motor yang justru melaju kencang padahal lampu kuning sudah menyala, atau timer di traffic light masih tersisa 3 detik tetapi pengendara sudah melajukan kendaraannya. Belum lagi pejalan kaki menyeberang tidak di zebra cross, atau menyeberang ketika lampu hijau menyala. Padahal semua itu perilaku yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Jika perilaku tidak menghormati dan menghargai terus kita biasakan dalam kehidupan ini, dampak yang lebih buruk akan terjadi. Anak tidak akan menggubris nasihat kita selaku orangtuanya jika diri sendiri tidak dapat menunjukkan teladan yang baik baginya. Rekan kerja/rekan pelayanan tak akan respect terhadap kita jika kita sendiri tak pernah respect dengannya. Kita tak akan pernah dihargai dan dihormati orang lain kalau kita tak pernah menghormati dan menghargai orang lain. Ini adalah hukum alam yang Yesus sampaikan kepada manusia, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka”. Itu artinya tidak dapat diganggu gugat apalagi diubah.

Jadi, apa yang kita tabur itulah yang akan dituai. Kita memperlakukan orang lain dengan buruk, kelak kita juga pasti diperlakukan buruk oleh orang lain, sebaliknya pun begitu. Mari renungkan sikap dan perilaku kita selama ini! Jangan sampai kita menyesal dikemudian hari karena perilaku buruk kita selama ini.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Desember 2017

 

Open post

Malaikat Penolong

Bacaan Kisah Para Rasul 23:12-22
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Orang Yahudi membuat rencana untuk membunuh Paulus

12 Besok paginya orang Yahudi mengatur rencana secara rahasia untuk membunuh Paulus. Mereka bersumpah kepada Allah bahwa mereka tidak akan makan dan tidak akan minum sebelum mereka berhasil membunuh Paulus. 
13 Ada lebih dari empat puluh orang yang sepakat bersumpah seperti itu. 
14 Lalu mereka pergi kepada imam-imam kepala dan para pemimpin Yahudi untuk memberitahukan, “Kami sudah bersumpah di hadapan Allah bahwa kami tidak akan makan dan tidak akan minum apa-apa sebelum kami berhasil membunuh Paulus. 
15 Sekarang kalian atas nama sidang Mahkamah Agama mintalah kepada komandan batalion supaya Paulus dibawa lagi kepada kalian, seolah-olah kalian mau memeriksa perkaranya lebih teliti. Tetapi dia tidak akan sampai di sini, karena kami sudah siap untuk membunuh dia di dalam perjalanan sebelum dia tiba di sini.”
16 Tetapi keponakan laki-laki Paulus mendengar tentang rencana itu. (Dia adalah anak dari saudara perempuan Paulus.) Lalu dia pergi ke markas dan memberitahukan hal itu kepada Paulus. 
17 Lalu Paulus memanggil salah satu komandan kompi dan berkata, “Tolong bawa remaja ini kepada komandan batalion, karena dia mau menyampaikan sesuatu kepadanya.”
18 Maka komandan kompi itu membawa dia kepada komandan batalion dan berkata, “Paulus, tahanan itu, memanggil dan meminta saya supaya remaja ini diantarkan kepadamu. Dia mau menyampaikan sesuatu.”
19 Lalu komandan batalion itu memegang tangan remaja itu dan membawa dia ke samping dan bertanya, “Apa yang kamu mau katakan kepada saya?”
20 Dan remaja itu berkata, “Orang-orang Yahudi sudah membuat rencana untuk meminta kepada Tuan supaya membawa Paulus ke Mahkamah Agama besok pagi. Mereka akan berpura-pura mau memeriksa perkaranya lebih teliti. 
21 Tetapi Tuan, jangan mendengarkan mereka, karena lebih dari empat puluh orang dari mereka sudah mengatur rencana untuk menyerang dia dalam perjalanan. Mereka sudah bersumpah bahwa mereka tidak akan makan dan tidak akan minum sebelum mereka berhasil membunuh Paulus. Dan sekarang mereka sudah siap dan hanya menunggu keputusan dari Tuan.”
22 Maka komandan itu menyuruh remaja itu pulang dan berpesan, “Jangan katakan kepada siapa pun bahwa kamu sudah memberitahukan hal ini kepada saya.”

Pernahkah saudara mengalami kejadian aneh dan tampak seperti kebetulan? Misalnya, ketika sepeda motor atau mobil kita mogok di tengah jalan, seorang rekan kerja
kebetulan lewat lalu membantu, atau belum lama di-PHK, tiba-tiba seorang teman lama menelpon dan menawarkan pekerjaan. Mungkin Anda juga pernah mengalami ketika anak saudara membutuhkan biaya kuliah, tiba-tiba ada kerabat jauh datang memberi sejumlah uang dengan nominal sama seperti yang saudara butuhkan. Sekalipun kelihatan kebetulan, tetapi saya percaya bahwa di dunia ini tak ada yang namanya kebetulan. Orang-orang tersebut sengaja ditempatkan Tuhan ibarat malaikat penolong bagi kita.

Paulus juga pernah mengalami pertolongan aneh. Ketika itu ada lebih dari 42 orang Yahudi datang menghadap para imam kepala dan tua-tua, yang semuanya bersumpah tidak akan makan atau minum sebelum membunuh Paulus. Mereka lalu mengajukan rencana pembunuhan terhadap Paulus. Namun, rencana jahat ini didengar keponakan Paulus. Alhasil, rencana mereka gagal total. Mari renungkan! Seandainya tidak ada keponakannya di sana, Paulus pasti mati terbunuh! Kita mungkin dapat menyebutnya sebagai kebetulan, tetapi sesunggunya, Tuhan memang menempatkan keponakan Paulus di situ sebagai “malaikat penolong” baginya.

Tuhan memiliki banyak cara untuk menolong. Dalam situasi sulit, Dia dapat memakai siapa pun sebagai perpanjangan tangan-Nya. Namun, tentunya kita tidak hanya ingin berada di pihak yang ditolong. Tuhan rindu memakai hidup kita untuk menolong orang lain. Apakah saudara bersedia untuk dipakai Tuhan sebagai “malaikat penolong” bagi sesama yang membutuhkan?

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Desember 2017

 

Open post

Ditopang Untuk Menopang

Bacaan 2 Korintus 8:1-15
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Cara memberi bantuan dana sesuai dengan kehendak Allah

1 Dan sekarang, Saudara-saudari, kami ingin kalian tahu bagaimana kebaikan hati Allah sudah bekerja di dalam hati saudara-saudari kita jemaat-jemaat di propinsi Makedonia.
Mereka sedang diuji dengan banyak penderitaan, tetapi karena kebaikan hati Allah itu, sukacita mereka melimpah sehingga mereka memberi bantuan dana dengan sangat murah hati. Biarpun mereka sangat miskin, tetapi mereka menjadi kaya dalam hal memberi.
3 Saya bersaksi bahwa mereka memberi di luar kemampuan mereka, sampai mereka semakin miskin. Dan mereka memberi dengan hati yang rela.
4 Bahkan mereka berulang kali memohon kepada kami supaya kami mengijinkan mereka untuk ikut ambil bagian juga dalam pelayanan yang mulia ini kepada umat Allah di Yerusalem.
5 Dan waktu kami memberi ijin, mereka ikut ambil bagian dengan cara yang tidak kami sangka-sangka— di mana sebelum mereka memberi, mereka menyerahkan diri dulu kepada TUHAN, baru kepada kami rasul-rasul-Nya. Hal yang luar biasa ini mereka lakukan sesuai dengan kehendak Allah!
6 Karena itulah kami minta Titus untuk meneruskan pelayanan ini, karena pada awalnya dialah yang sudah memulainya oleh karena kebaikan hati Allah.
7 Kalian sudah sangat diberkati dalam segala hal, sehingga kalian berlimpah-limpah dalam berbagai kemampuan khusus yang diberikan Roh Allah: Kalian sungguh luar biasa percaya kepada Kristus, kemampuan berbicara kalian sungguh luar biasa, dan hikmat kalian luar biasa. Semangat kalian untuk TUHAN juga luar biasa, dan kasih kalian sangat dalam untuk kami. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini hendaklah kemurahan hati kalian juga semakin luar biasa!
8 Yang saya tuliskan ini bukanlah suatu perintah. Tetapi oleh karena jemaat lain sudah menunjukkan semangat yang luar biasa untuk membantu saudara-saudari kita seiman di Yerusalem, maka sudah waktunya kalian membuktikan bahwa kalian juga sungguh-sungguh mengasihi saudara-saudari kita itu.
9 Karena kalian sudah mengenal kebaikan hati Tuhan kita Kristus Yesus: Biarpun Dia sangat kaya, tetapi demi untuk menyelamatkan kita, Dia pernah menjadi miskin— bahkan menjadi orang yang paling miskin, supaya kita menerima semua kekayaan rohani!
10-11 Jadi inilah nasihat saya tentang apa yang terbaik bagi kalian dalam pelayanan ini: Tahun lalu kalian menjadi jemaat pertama yang rela menyumbangkan sesuatu dan yang memulai mengumpulkan dana. Oleh karena kalian sudah menjadi teladan bagi jemaat-jemaat lain, sebaiknya selesaikanlah pelayanan yang kalian sudah mulai itu. Biarlah kalian masing-masing melakukannya dengan hati yang rela seperti waktu itu, dan berikanlah apa saja sesuai dengan kemampuanmu.
12 Karena kalau seseorang ingin memberikan bantuan, maka Allah akan menerima apa yang diberikan orang itu menurut kemampuannya. Karena TUHAN tidak pernah menuntut kita untuk memberi di luar kemampuan kita.
13 Dan kami memang tidak mau kalian berkekurangan supaya orang lain berkelebihan. Bukan begitu! Kami mau supaya kebutuhan hidup kita masing-masing sama-sama tercukupi.
14 Saat ini kalian berkelimpahan dan mampu menolong saudara-saudari seiman yang berkekurangan di Yerusalem. Tetapi suatu saat nanti ada waktunya mereka berkelimpahan dan kalian berkekurangan, dan mereka juga bisa mencukupi kekurangan kalian. Dengan demikian kebutuhan hidup kita sama-sama tercukupi.
15 Jadi bisa terjadi lagi seperti yang tertulis dalam Kitab Suci, “Pada waktu itu, orang-orang yang mengumpulkan banyak manna tidak mengalami kelebihan, dan mereka yang mengumpulkan sedikit tidak mengalami kekurangan.”*

Mungkin kita pernah tawar menawar dengan tukang reparasi payung hingga cekcok, demi mendapatkan harga semurah-murahnya untuk reparasi sebuah payung. Padahal, harga yang kita ributkan tidak seberapa dibanding gaya hidup konsumtif kita, dan jika dibanding keahlian mereka memperbaiki payung dan manfaat payung itu sendiri. Mungkin tak pernah terpikirkan oleh kita jika pada hari itu, ia tak mendapat pelanggan lain sehingga tak ada sepeser uang pun yang akan dibawanya pulang. Bisa dibayangkan betapa beratnya ia menafkahi keluarganya.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk jangan berpusat pada diri sendiri, tetapi mari belajar dari kehidupan jemaat di Makedonia yang miskin, menderita dan kesulitan, justru tergerak memberi persembahan kasih bagi jemaat di Yerusalem. Berbanding terbalik dengan jemaat Korintus, yang kaya dan berjanji menolong tetapi tidak lekas melakukannya. Hal ini bukan sebatas materi saja, tetapi terkait kemampuan rohani juga. Contoh ketika kita lemah, butuh penguatan, butuh didengarkan orang lain agar lebih lega, justru orang lain datang lalu curhat kepada kita mengenai masalahnya, kemudian kita pun tetap memberi diri bagi mereka, dan masalah mereka selesai. Ini bisa terjadi, karena Tuhan yang sudah sangat mendukung kita.

Jangan pernah takut beban kita akan bertambah! Sebab, ketika kita membuka tangan bagi mereka yang berbeban berat, kita menguatkan mereka kala kita pun butuh penguatan, kita mengulurkan tangan bagi mereka yang berkekurangan saat kita juga kekurangan, saat itulah kuasa Tuhan bekerja atas kita. Kekuatan mana yang menyanggupkan kita untuk menopang orang lain? Kuasa Roh Kudus!

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset November 2017

Catatan Kaki:
* 8:15: Kel. 16:18

Open post

Polemik

Bacaan Yohanes 9:8-41
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Yesus membuat seorang yang buta sejak lahir bisa melihat

1 Pada waktu kami murid-murid berjalan bersama Yesus, kami semua melihat seseorang yang buta sejak lahir.
2 Lalu kami bertanya, “Guru, kira-kira siapa yang berbuat dosa sampai dia dilahirkan buta? Apakah karena dosanya sendiri waktu dia masih berada di dalam kandungan ibunya, atau karena dosa ibu atau bapaknya?”
3 Lalu Yesus menjawab, “Dia dilahirkan buta bukan karena dosanya, dan juga bukan karena dosa ibu atau bapaknya. Tetapi hal itu terjadi supaya melalui dirinya kuasa Allah bisa dinyatakan kepada banyak orang.
4-5 Selama Aku masih berada di dunia ini, Aku adalah terang dunia. Jadi sekarang selama hari masih siang, kita harus melakukan berbagai tugas yang diberikan oleh Bapa yang sudah mengutus Aku. Karena malam segera akan tiba dan siapa pun tidak ada yang bisa melakukan apa-apa lagi.”
6 Sesudah Yesus berkata begitu, Dia membuang ludah ke tanah dan mengaduk ludah-Nya itu dengan tanah sampai menjadi lumpur, kemudian Dia oleskan pada kelopak mata orang buta itu.
7 Lalu Dia berkata, “Pergilah ke kolam Siloam dan cucilah matamu di sana.” (Dalam bahasa Ibrani, ‘Siloam’ berarti ‘Diutus’.) Lalu orang itu pergi mencuci matanya ke kolam itu. Ketika dia kembali, dia sudah bisa melihat.
8 Sesudah dia kembali, para tetangganya dan orang-orang yang pernah melihat dia mengemis sebelumnya berkata satu sama lain, “Bukankah dia ini orang buta yang biasa duduk minta-minta uang?!”
9 Ada yang menjawab, “Benar, memang inilah dia.” Tetapi ada juga yang berkata, “Bukan! Dia hanya mirip dengan orang buta itu.” Lalu dia pun berkata, “Benar. Sayalah si buta yang dulu itu!”
10 Karena itu mereka bertanya kepadanya, “Bagaimana caranya kamu bisa melihat?”
11 Dia menjawab, “Orang yang bernama Yesus itu mencampur ludahnya dengan tanah sampai menjadi lumpur, lalu dia oleskan pada kelopak mata saya. Lalu dia menyuruh saya pergi mencuci mata saya di kolam Siloam. Kemudian saya pergi. Sesudah saya mencuci mata saya, saya bisa melihat.”
12 Lalu mereka bertanya lagi kepadanya, “Di mana orang itu?”Dan dia menjawab, “Saya tidak tahu.”

Kelompok Farisi memeriksa apakah benar mantan orang buta itu buta sejak lahir

13 Lalu orang-orang itu membawa mantan orang buta itu kepada anggota-anggota kelompok Farisi,
14 karena hari ketika Yesus membuat lumpur dan membuat si buta itu bisa melihat adalah Hari Sabat.
15 Jadi orang-orang Farisi itu juga bertanya kepadanya, “Bagaimana caranya kamu bisa melihat?”
Lalu orang itu menjawab, “Yesus mengoleskan lumpur pada kelopak mata saya, lalu saya pergi mencuci mata saya, dan sekarang saya bisa melihat.”
16 Kemudian beberapa orang Farisi itu berkata, “Tidak mungkin Yesus diutus Allah, karena dia tidak taat kepada aturan Hukum Taurat tentang Hari Sabat.” Tetapi beberapa anggota lain berkata, “Orang berdosa tidak mungkin bisa melakukan keajaiban seperti ini!” Maka terjadilah beda pendapat yang hebat di antara mereka.
17 Lalu mereka bertanya lagi kepada orang itu, “Kamulah si buta yang sudah dibuatnya bisa melihat. Jadi bagaimana pendapatmu tentang orang itu?” Mantan orang buta itu menjawab, “Dia adalah nabi.”
18 Tetapi mereka tetap tidak percaya bahwa dia memang buta sebelumnya dan sekarang sudah bisa melihat. Oleh karena itu, mereka memanggil ibu dan bapaknya.
19 Lalu mereka bertanya kepada kedua orang tuanya, “Orang ini anakmu— bukan! Apakah dia benar-benar buta sejak lahir? Kalau begitu, bagaimana caranya sehingga dia bisa melihat?”
20 Orang tua itu menjawab, “Benar dia ini anak kami. Dia benar-benar buta sejak lahir.
21 Tetapi kami tidak tahu bagaimana caranya sehingga dia bisa melihat, dan kami tidak mengenal orang yang membuat matanya bisa melihat. Silakan Bapak-bapak bertanya kepadanya. Dia sudah dewasa, dan dia sendiri bisa menjawabnya.”
22 Ibu dan bapaknya berkata begitu kepada orang-orang Farisi itu karena mereka takut kena hukuman— yaitu mereka bisa dilarang masuk ke dalam setiap rumah pertemuan orang Yahudi. Karena sebelumnya, para pemimpin orang Yahudi sudah bersepakat bahwa siapa yang mengaku Yesus adalah Kristus dilarang masuk ke dalam setiap rumah pertemuan.* 
23 Oleh karena itulah orang tuanya itu berkata, “Silakan Bapak-bapak bertanya kepadanya. Dia sudah dewasa, dan dia sendiri bisa menjawabnya.”
24 Jadi, untuk kedua kalinya orang-orang Farisi itu memanggil orang yang tadinya buta itu dan berkata kepadanya, “Bersumpahlah di hadapan Allah bahwa kamu akan mengatakan yang benar kepada kami! Karena kami tahu Yesus itu orang berdosa.”
25 Lalu dia menjawab, “Dia orang berdosa atau tidak, saya tidak tahu. Yang saya tahu ini saja: Dulu saya buta, tetapi sekarang saya sudah bisa melihat!”
26 Lalu mereka bertanya, “Apa yang dia perbuat terhadap kamu? Bagaimana dia membuat matamu bisa melihat?”
27 Dan dia menjawab, “Baru saja saya jelaskan kepada kalian, tetapi kalian tidak memperhatikannya. Kenapa kalian mau mendengarkannya lagi?! Jangan-jangan kalian juga mau menjadi pengikutnya!”
28 Lalu mereka menghina dia dengan berkata, “Kamulah pengikut orang berdosa itu— bukan kami! Kami adalah pengikut Musa.
29 Kami tahu bahwa Allah sudah berbicara kepada Musa. Tetapi kami tidak tahu apa-apa tentang orang itu!”
30 Lalu orang yang tadinya buta itu berkata kepada mereka, “Wah, ini aneh sekali! Kalian berkata bahwa kalian tidak tahu apa-apa tentang Yesus, padahal dia sudah membuat mata saya bisa melihat.
31 Karena kita tahu bahwa Allah tidak mungkin mendengar permohonan orang berdosa. Tetapi Dia mendengar setiap orang yang menghormati-Nya dan yang melakukan kehendak-Nya.
32 Dari sejak dunia ada sampai sekarang, belum pernah kita dengar tentang orang yang sanggup membuat mata orang yang buta sejak lahir bisa melihat.
33 Kalau orang itu tidak diutus oleh Allah, tidak mungkin dia melakukan keajaiban seperti ini!”
34 Lalu mereka berkata kepadanya, “Saat kamu dilahirkan kamu sudah penuh dengan dosa. Karena itulah kamu buta! Dan sekarang kamu menganggap dirimu pantas untuk mengajar kami— begitu?!” Dan sejak saat itu, dia dilarang masuk ke dalam rumah pertemuan mana pun.

Jangan sampai mata hati kita menjadi buta

35 Pada waktu Yesus mendengar bahwa mantan orang buta itu dilarang masuk ke dalam rumah pertemuan mana pun, Yesus mencari dia, dan ketika bertemu Yesus bertanya, “Apakah kamu percaya kepada Anak Manusia?”
36 Lalu orang itu menjawab, “Bapa, siapakah Dia? Katakanlah kepada saya supaya saya percaya kepada-Nya!”
37 Lalu Yesus berkata, “Kamu sudah melihat Dia. Sebenarnya Anak Manusia itu adalah Aku— yang sudah diutus oleh Allah ke dalam dunia ini dan sekarang sedang berbicara dengan kamu.”
38 Orang itu menjawab, “Saya percaya, Tuhan!” Lalu dia sujud menyembah-Nya.
39 Lalu Yesus berkata, “Aku datang ke dunia ini untuk membuat pemisahan di antara manusia: Orang yang buta akan melihat, dan orang yang menganggap dirinya bisa melihat akan menjadi buta.”
40 Ada beberapa anggota dari kelompok Farisi di situ yang mendengar perkataan Yesus itu. Mereka berkata kepada-Nya, “Jadi maksudmu, kami ini buta— begitu?!”
41 Jawab Yesus, “Kalau kalian masing-masing mengaku kamu buta, berarti saat ini kamu tidak melakukan dosa. Tetapi karena kamu masih tetap berkata bahwa kamu bisa melihat, itu berarti kamu terus memelihara dosamu.”

Polemik adalah diskusi atau perdebatan sengit di tempat umum atau media massa. Polemik digunakan untuk menyangkal atau mendukung pandangan agama atau politik. Polemik berawal dari sesuatu yang berpeluang untuk diperdebatkan. Latar belakang polemikus relatif heterogen saat menanggapi permasalahan. Polemik bo­leh terjadi asal bijak saat menanggapinya. Untuk itu, kita harus fokus pada masalah, bukan pribadi; bahasanya santun dan mudah dimengerti; pengendalian diri harus diperhatikan saat berdebat; wawasannya harus terbuka saat menerima masukan.

Namun, hal itu tidak terjadi dalam perikop hari ini. Polemik bermula saat para tetangga terkejut melihat orang yang buta sejak lahir sudah melek. Barangkali, polemik ini biasa karena keterkejutan. Namun, setelah ia diperhadapkan pada orang Farisi, polemiknya menjadi tak mutu dan tidak membangun. Polemiknya terkait dengan isu agama: Pertama, mereka memandang Yesus bahwa Dia bukan berasal dari Allah. Dia tidak memelihara Sabat. Dia orang berdosa tetapi bisa membuat mukjizat. Kedua, ketika ditanya orang Yahudi, orangtua si buta takut dikucilkan kalau mengatakan bahwa Yesus adalah Mesias sehingga mempersilakan mereka untuk menanyai anaknya. Ketiga, si buta berpendapat bahwa Yesus adalah nabi. Ketika mereka menilai bahwa ia seolah-olah meng­ gurui ketika berkata, “Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa”, ia diusir. Bermula dari kesembuhan seseorang, akhir kisah tidak berujung kesaksian tetapi perbantahan.

Jadi, lebih baik ketika mukjizat terjadi, biarkan kesaksian diutamakan demi kemuliaan Tuhan. Untuk hal ini kita harus berani. Kemudian, mendekatlah kepada-Nya, agar ajaran-Nya semakin diresapi.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset November 2017

Catatan Kaki:
* 9:22 rumah pertemuan orang Yahudi Lihat catatan di Yoh. 6:59. Seorang yang dilarang masuk ke dalam rumah pertemuan juga dijauhkan oleh semua orang.

Open post

Berjuang Sampai Akhir

Bacaan Markus 7:24-30
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Yesus menguji hati seorang ibu yang bukan orang Yahudi*

24 Lalu Yesus meninggalkan tempat itu dan pergi ke daerah Tirus. Di situ Yesus masuk ke satu rumah dan Dia tidak ingin orang lain tahu bahwa Dia berada di situ. Tetapi karena Dia sudah dikenal di mana-mana, Dia tidak bisa menyembunyikan diri. 
25 Di situ ada seorang ibu yang anak perempuannya sedang kerasukan roh jahat. Waktu ibu itu mendengar berita bahwa Yesus sudah datang, dia langsung datang dan berlutut di kaki Yesus. 
26 Ibu itu bukan orang Yahudi. Dia berasal dari daerah Fenisia di propinsi Siria, dan dia berbahasa Yunani. Dia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya.
27 Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Kamu bukan orang Yahudi. Jadi kalau Aku menolongmu, itu sama seperti orang yang membuang makanan anak-anaknya kepada anjing. Biarlah mereka duluan diberikan makanan dan makan sampai puas.”
28 Tetapi ibu itu menjawab, “Benar, Pak. Biar anak-anak Yahudi makan sampai puas. Dan biasanya anjing-anjing boleh makan sisa-sisa makanan yang tidak dimakan oleh anak-anak.”
29 Lalu Yesus berkata, “Karena jawabanmu seperti itu, Ibu boleh pulang. Sekarang setan itu sudah keluar dari anakmu.” 
30 Lalu ibu itu pulang dan melihat anaknya berbaring dengan tenang di tempat tidurnya, karena roh jahat itu sudah keluar dari dia.

Setiap orang tua tentu akan mengurbankan segala hal demi anaknya. Misalnya, ibu rela bangun pagi-pagi sebelum anaknya bangun demi menyiapkan makanan bergizi baik mereka. Ayah rela bekerja keras, membanting tulang demi memenuhi segala kebutuhan keluarga. Belum lagi jika anak sakit, apapun pasti diupayakan oleh orangtua untuk kesembuhannya termasuk menjual harta benda hasil keringatnya demi kebaikan buah hatinya.

Ini juga yang dilakukan seorang ibu dari bangsa Siro-Fenesia yang datang dengan keyakinannya kepada Yesus untuk mendapatkan kesembuhan bagi putrinya yang kerasukan setan. Sekalipun dia sadar bahwa dirinya akan mendapat penolakan lantaran dia adalah seorang Yunani (orang asing), tetapi dia tidak peduli. Demi kesembuhan anaknya, dia mau merendahkan diri dan tersungkur di depan kaki Yesus. Dia tak goyah sekalipun tidak layak sekalipun Yesus memakai analogi anjing. Ia mengerahkan semua kemampuannya asal berjumpa Yesus termasuk menembus beberapa tembok tabu masyarakat Yahudi- non Yahudi. Imannya sanggup menembus itu, demi anaknya yang sembuh. Sekalipun hanya ‘remah-remah’ berkat kalau itu dari Yesus, berarti itulah jalan keluar bagi sakit anaknya. Benar, perjuangannya membuahkan hasil yang indah.

Bagi ibu ini, Yesus adalah jawaban sekaligus jalan keluar bagi pergumulan keluarganya. Baginya Yesus itu lebih dari segalanya. Bagaimana dengan kita? Kiranya, kita pun memiliki anggapan yang sama seperti perempuan Siro-Fenisia bahwa Yesus adalah Kunci kemenangan atas setiap persoalan. Mari yakinkan diri sendiri bahwa sekalipun hanya ‘remah-remah’, tetapi selama berkat itu dari Tuhan, kita pasti bisa menjalani hidup ini seperti yang Dia kehendaki.

 

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset November 2017

Catatan Kaki:
*Perikop: Mat. 15:21-28

 

 

 

Open post

Air Mata Kebahagiaan

Bacaan Lukas 6:20-26
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

20 Dia memandang khusus kepada para murid-Nya dan berkata,
“Sungguh diberkati Allah setiap kalian yang miskin,
karena kamulah yang akan menjadi warga kerajaan Allah.
21 Sungguh diberkati Allah kamu yang sekarang ini lapar,
karena kamu akan dikenyangkan.
Sungguh diberkati Allah kamu yang sekarang ini menangis,
karena kamu akan tertawa.
22 Sungguh diberkati Allah kamu yang dibenci, dihina, ditolak, dan difitnah karena kamu menjadi pengikut Aku— Anak Manusia. 
23 Waktu kamu dibuat susah seperti itu, bersukacitalah dan menarilah dengan gembira, karena upahmu besar di surga!
Karena ingatlah: Nabi-nabi yang hidup di masa lalu juga dianiaya seperti itu oleh nenek moyang orang-orang yang sekarang ini menyusahkan kamu.
24 Tetapi celakalah setiap kalian yang sekarang ini kaya,
karena kesenangan yang kamu nikmati di dunia tidak akan terulang lagi di dalam kerajaan Allah.
25 Celakalah kamu yang sekarang ini kenyang,
karena kamu akan mengalami kelaparan.
Celakalah kamu yang sekarang ini tertawa,
karena kamu akan berdukacita dan menangis.
26 Celakalah kamu kalau semua orang memujimu.
Karena ingatlah: Nabi-nabi palsu yang hidup pada waktu dulu juga dipuji seperti itu oleh nenek moyang orang-orang yang sekarang ini memujimu.”

Air mata bukan indikator seseorang yang sentimentil. Air mata adalah sesuatu yang alami, bahkan baik untuk tubuh. Sebagian orang menangis saat menonton film, sebagian lain menangis karena sedih, dan banyak lagi alasan mendorong kita mengeluarkan air mata. Tak perlu menahan diri bila uraian air mata tak mau berhenti, karena menangis bisa menurunkan stres. Beberapa ahli membandingkan efek olahraga dan menangis untuk meredakan stres. Mereka menemukan bahwa ketika menangis, air mata akan menghilangkan zat kimia yang terkumpul dalam tubuh seperti endorfin, leucin-enkaphalin, dan prolactin yang bisa memicu stres dan memperburuk mood.

Tak heran, sebagian orang akan merespons dengan air mata ketika masalah dalam hidupnya dirasakan begitu berat terutama kaum Hawa. Menjalani kehidupan sebagai orang percaya pun bukan hal mudah. Penderitaan, kesusahan, dan penolakan pasti akan kita alami. Yesus sudah memperingkatkan setiap orang percaya bahwa jalan mengikut Dia tidak mulus. “Dan banyak sekali orang yang akan membenci kalian karena kalian percaya kepada-Ku, tetapi setiap orang yang tetap setia kepada-Ku sampai akhir, jiwanya akan diselamatkan” (Mat. 10:22 TSI ). Meski mengikut Dia penuh dengan air mata karena beratnya tantangan, kita harus tetap setia karena air mata ini hanya sementara. Tangisan itu akan digantikan dengan kebahagiaan yang akan membuat kita tertawa selamanya. Inilah janji Tuhan bagi barangsiapa setia kepada Tuhan Yesus sampai akhir hidupnya.

Orang-orang yang dewasa rohanilah yang sanggup menghadapi tantangan-tantangan itu. Maka, bangunlah kehidupan yang melekat dan dekat kepada Tuhan agar kita senantiasa memiliki kekuatan untuk menjalani kehidupan selama kita berada di dunia ini.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset November 2017

 

 

 

Open post

Orientasi Pada Solusi

Bacaan Yohanes 9:1-7
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Yesus membuat seorang yang buta sejak lahir bisa melihat

1 Pada waktu kami murid-murid berjalan bersama Yesus, kami semua melihat seseorang yang buta sejak lahir. 
2 Lalu kami bertanya, “Guru, kira-kira siapa yang berbuat dosa sampai dia dilahirkan buta? Apakah karena dosanya sendiri waktu dia masih berada di dalam kandungan ibunya, atau karena dosa ibu atau bapaknya?”
3 Lalu Yesus menjawab, “Dia dilahirkan buta bukan karena dosanya, dan juga bukan karena dosa ibu atau bapaknya. Tetapi hal itu terjadi supaya melalui dirinya kuasa Allah bisa dinyatakan kepada banyak orang. 
4-5 Selama Aku masih berada di dunia ini, Aku adalah terang dunia. Jadi sekarang selama hari masih siang, kita harus melakukan berbagai tugas yang diberikan oleh Bapa yang sudah mengutus Aku. Karena malam segera akan tiba dan siapa pun tidak ada yang bisa melakukan apa-apa lagi.”
6 Sesudah Yesus berkata begitu, Dia membuang ludah ke tanah dan mengaduk ludah-Nya itu dengan tanah sampai menjadi lumpur, kemudian Dia oleskan pada kelopak mata orang buta itu. 
7 Lalu Dia berkata, “Pergilah ke kolam Siloam dan cucilah matamu di sana.” (Dalam bahasa Ibrani, ‘Siloam’ berarti ‘Diutus’.) Lalu orang itu pergi mencuci matanya ke kolam itu. Ketika dia kembali, dia sudah bisa melihat.

Tidak ada manusia yang tidak bermasalah. Hanya sikap yang membedakan. Orang bijak menghadapi masalah, orang tidak bijak hanya mengeluh. Kalau begitu, cara mengatasi masalah adalah tidak fokus pada masalah tetapi solusi. Solusi dimulai dengan menenangkan pikiran, berpikir positif, optimis, dan kreatif. Jika masih buntu, cara terakhir adalah pantang menyerah dan bergantung pada Tuhan.

Seharusnya memang demikian, tetapi ini tidak dila­kukan para murid. Mereka lebih berorientasi pada masalah ketika bertemu dengan orang yang buta sejak lahir. Ini terlihat dari masalah-masalah yang mereka paparkan: kebutaan yang dideritanya, dosanya atau dosa orangtuanya, mempermasalahkan masa lalu dengan mem-  pertanyakan dosa mereka, mengkambinghitamkan si buta atau orangtuanya sehingga ia dilahirkan dosa. Namun, Yesus mengabaikan semua itu. Justru, Dia memberi solusi dengan mencelikkan matanya. Jika tidak buta, artinya kuasa Allah tidak bisa dilihat manusia. Namun bukan berarti Allah yang membuat penyakit supaya kuasa-Nya bisa dilihat.

Dosa yang dibuat manusialah yang membuatnya, tetapi Dialah yang mengatasi masalah meski Dia bukan oknum yang membuat masalah. Dengan kata lain, meski para murid-Nya melek, bukan berarti, mereka tidak berdosa. Faktanya, dalam konteks ini, Dia yang menyembuhkan si buta. Fakta lainnya, dalam konteks luas, Dialah yang menjadi Juruselamat yang menebus dosa, termasuk dosa para murid.

Dosa tidak hanya menjauhkan manusia dari Allah. Dosa membuat manusia rentan pe­nyakit. Faktanya, sebelum kejatuhan manusia, mereka selalu sehat. Karena itu, ketika menghadapi masalah, berorientasilah pada solusi untuk mengatasi masalah. Kalau berorientasi pada masalah, masalah akan terus menjadi masalah.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset November 2017

 

 

 

Open post

Pemberontakan dan Akibatnya

Bacaan Yesaya 1:10-20
Perjanjian Lama Bahasa Indoensia Masa Kini (PL-BIMK)

Allah Menegur umat-Nya
10 Yerusalem, para pemimpin dan bangsamu sudah menjadi seperti orang Sodom dan Gomora. Dengarlah apa yang dikatakan Tuhan kepadamu; perhatikanlah apa yang diajarkan Allah kita.
11 Tuhan berkata, “Sangkamu Aku suka akan semua kurban yang terus-menerus kaupersembahkan kepada-Ku? Aku bosan dengan domba-domba kurban bakaranmu dan lemak anak sapimu. Darah sapi jantan, domba dan kambing tidak Kusukai.
12 Siapa menyuruh kamu membawa segala persembahan itu pada waktu kamu datang beribadat kepada-Ku? Siapa menyuruh kamu berkeliaran di Rumah Suci-Ku?
13-14 Percuma saja membawa persembahanmu itu. Aku muak dengan baunya. Aku benci dan tak tahan melihat kamu merayakan Bulan Baru, hari-hari Sabat dan hari-hari raya serta pertemuan-pertemuan keagamaan. Semua itu kamu nodai dengan dosa-dosamu dan merupakan beban bagi-Ku; Aku sudah lelah menanggungnya.
15 Apabila kamu mengangkat tanganmu untuk berdoa, Aku tak mau memperhatikan. Tak peduli berapa banyak doamu, Aku tak mau mendengarkannya, sebab dengan tanganmu itu kamu telah banyak membunuh.
16 Basuhlah dirimu sampai bersih. Hentikan semua kejahatan yang kamu lakukan itu. Ya, jangan lagi berbuat jahat,
17 belajarlah berbuat baik. Tegakkanlah keadilan dan berantaslah penindasan; berilah kepada yatim piatu hak mereka dan belalah perkara para janda.”
18 Tuhan berkata, “Mari kita bereskan perkara ini. Meskipun kamu merah lembayung karena dosa-dosamu, kamu akan Kubasuh menjadi putih bersih seperti kapas. Meskipun dosa-dosamu banyak dan berat, kamu akan Kuampuni sepenuhnya.
19 Kalau kamu mau taat kepada-Ku, kamu akan menikmati semua yang baik yang dihasilkan negerimu.
20 Tetapi kalau kamu melawan Aku, kamu akan mati dalam perang. Aku, Tuhan, telah berbicara.”

Indonesia dibanjiri oleh film dan drama Korea. Penggemarnya pun tak hanya kaum muda, orang tua pun tak sedikit yang menyukai tayangan dari negeri ginseng ini. “Ceritanya beragam dan tidak berlebihan apalagi drama kolosalnya yang bertajuk sejarah”, menurut seorang teman sekaligus penggemar drama Korea. Ia juga menambahkan mengenai alasannya itu bahwa drama Korea itu memiliki ciri khas, seperti pemberontakan yang selalu disuguhkan dalam drama kolosal.

Pemberontakan sama dengan ketidaktaatan, dan pemberontakan menjadi ciri khas manusia sejak kejatuhan manusia pertama. Tak heran bila dalam kehidupan sehari-hari kita menyaksikan anak memberontak kepada orangtua, bawahan memberontak terhadap atasan, peserta didik (siswa) memberontak kepada guru dan aturan sekolah. Bahkan Alkitab juga mencatat orang-orang yang memberontak kepada Tuhan. Sebut Raja Saul. Selama Saul menjadi raja atas Israel, Saul hidup dalam ketidaktaatan kepada Tuhan, dan puncak ketidaktaatannya dapat dilihat dalam 1 Samuel 13. Akibatnya, kehidupan Saul berakhir dengan kehancuran.

Dari kehidupan Saul, kita belajar beberapa hal penting: (1) Pemberontakan atau ketidaktaatan terha­dap Tuhan pasti kehancuran hidup terjadi. (2) Hal pertama yang diinginkan Tuhan untuk kita lakukan ketika berdosa/bersalah adalah pertobatan, bukan kurban persembahan. (3) Tuhan jijik dengan kurban persembahan yang di tunjukkan kepada-Nya tanpa pertobatan.

Seberat apapun kehidupan kita, jangan pernah memberontak kepada-Nya! Pemberontakan bukan karakter murid Kristus. Prinsip kehidupan murid Kristus adalah taat. Maka, ketaatan bukan untuk dihindari! Tuhan akan memberikan imbalan apabila kita taat (ay. 19).

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset November 2017

 

 

 

Posts navigation

1 2 3 4 14 15 16
Scroll to top