Es Krim Pertama

Bacaan Matius 7:7-11
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia

Nasihat Yesus untuk bertekun dalam doa
(Luk. 11:9-13)
7 “Mintalah terus kepada Allah, maka kamu akan menerimanya. Carilah terus, maka kamu akan menemukannya. Ketuklah terus, maka pintu akan dibukakan bagimu.

8 Karena setiap orang yang meminta dengan tekun akan menerima apa yang dia minta. Setiap orang yang mencari dengan tekun akan mendapatkan apa yang dia cari. Dan setiap orang yang terus mengetuk pintu, maka pintu itu akan dibukakan baginya.
9 “Kalau anakmu minta makanan* pastilah kamu tidak akan memberi dia batu— bukan?!
10 Atau kalau anakmu minta ikan, kamu pasti tidak akan memberinya ular yang berbisa— bukan?!
11 Kalau kamu yang jahat tahu memberikan yang baik kepada anak-anakmu, terlebih lagi Bapamu yang di surga! Dia pasti akan memberikan yang baik kepada setiap kita yang meminta kepada-Nya.”

Saya masih ingat es krim pertama saya. Saat itu saya masih kecil dan keluarga kami kemana-mana hanya naik sepeda.
Ibu di belakang menggendong adik. Saya duduk di depan. Ayah mengayuh. Sekarang saya sudah bekerja. Saya bisa membeli es krim enak tetapi tidak pernah saya menemukan es krim seenak dulu. Apakah yang membuat es krim pertama itu nikmatnya tak tertandingi?

Firman Tuhan pada nats membantu saya mene­mukan jawabannya. Ayat tersebut dikenal sebagai ja­minan jawaban doa. Namun, melihat perikop-perikop sebelumnya, kita tahu Tuhan memberikannya setelah Dia memberi petunjuk tentang standar menjadi murid-Nya. Tidak main-main, standarnya “Hendaklah kamu mengasihi semua orang! Dengan demikian kamu akan menjadi sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.”” (Mat. 5:48).

Untuk memenuhinya, Dia memberi beberapa pe­tunjuk hidup murid—dari berbahagia sebagai orang yang miskin di hadapan Allah, menjadi garam dan terang dunia, mengasihi sesama, sampai tidak menghakimi orang lain dengan ukuran sendiri. Harus diakui, standar tersebut tidak sesuai dengan natur manusia yang mendambakan kenikmatan. Justru kita bisa mengecap kenikmatan jawaban doa ketika kita sudah melakukan standar- Nya. Syukurnya, kita tidak akan pernah bisa memenuhi standar tersebut dengan kekuatan sendiri sehingga Dia memberikan Roh-Nya menolong kita.

Sungguh, es krim pertama itu sangat nikmat karena saya tidak bisa membelinya sendiri dan diberikan setelah saya menjalani keterbatasan serta kesederhanaan. Mari bersyukur kepada Tuhan bila saat ini kita ada dalam kesulitan atau keterbatasan, karena dengan hal tersebut justru kita akan bisa mengecap kenikmatan jawaban doa
dari Tuhan dengan sepenuhnya. (AST)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Catatan Kaki
*7:9 makanan Secara harfiah, “roti.” Di Israel pada waktu Yesus mengajar, makanan pokok mereka adalah roti. Tim penerjemah menerjemahkan sebagai ‘makanan’ karena untuk kebanyakan orang Indonesia, roti adalah makanan istimewa dan bukan makanan pokok.

Tak Selamanya Diam Itu Emas

Bacaan Mazmur 39:1-10
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Pengakuan orang yang sedang menderita
1 Untuk pemimpin kor. Mazmur Daud. Untuk Yedutun. ( 39 – 2 ) Pikirku, “Aku mau menjaga diri supaya tidak berdosa dengan lidahku. Aku tak mau berbicara selama orang jahat masih dekat. “
2 ( 39 – 3 ) Aku diam seribu bahasa, sehingga merugikan diriku sendiri. Dan penderitaanku terasa semakin berat;
3 ( 39 – 4 ) aku dicekam kecemasan yang hebat. Makin dipikirkan, makin susah hatiku; akhirnya berkatalah aku,
4 ( 39 – 5 ) “TUHAN, beritahukanlah kapan ajalku supaya aku tahu betapa pendek hidupku. “
5 ( 39 – 6 ) Betapa singkat Kautentukan umurku ! Bagi-Mu jangka hidupku tidak berarti. Sungguh, manusia seperti hembusan napas saja,
6 ( 39 – 7 ) hidupnya berlalu seperti bayangan. Semua kesibukannya sia-sia belaka; ia menimbun harta, tapi tak tahu siapa akan memakainya.
7 ( 39 – 8 ) Sekarang apa yang kunantikan, ya TUHAN? Pada-Mulah harapanku.
8 ( 39 – 9 ) Lepaskanlah aku dari semua dosaku, jangan biarkan aku menjadi ejekan orang dungu.
9 ( 39 – 10 ) Aku diam dan tidak membuka mulutku, sebab Engkaulah yang menghajar aku.
10 ( 39 – 11 ) Ambillah hukuman-Mu daripadaku, sebab aku hampir mati karena pukulan-Mu.

Pepatah mengatakan, “Diam itu emas”. Memang harus diakui terkadang persoalan hidup yang berat membuat orang malas bicara dan ingin menyendiri. Bahkan, saat seperti itu berdiam diri, merenung dan introspeksi diri itu lebih baik. Meski demikian, tak semua masalah bisa terpecahkan dengan ‘diam’. Ada kalanya harus bicara dan kebenaran yang sesungguhnya diungkapkan.
Sesungguhnya, diam bukanlah satu-satunya solusi untuk keluar dari setiap masalah. Sering orang, yang terlihat
diam, ternyata hatinya bergejolak, bergemuruh seperti ombak laut yang diterpa angin.

Demikian juga pemazmur berkata, “Aku diam seribu bahasa….aku dicekam kecemasan yang hebat.”. Namun syukur, ternyata ia menemukan solusi tepat di tengah-tengah bergejolaknya hati. Ia berkomunikasi dengan Tuhan dan berkata-kata kepada-Nya. Ketika ia berkomunikasi dengan Tuhan, mata hatinya dibukakan. Ia disadarkan Tuhan akan beberapa hal: Pertama, hidup itu singkat atau pendek seperti beberapa telempap (ukuran sebesar telapak tangan) dan cepat berlalu seperti bayangan yang
berlalu. Kedua, sumber pengharapan satu-satunya yang bisa diandalkan adalah Dia. Ketiga, kekudusan menjadi sangat penting sehingga menjadi prioritas utama bagi Daud. Hal ini terlihat dari ungkapan doanya, “Lepaskanlah aku dari semua dosaku,”. Ia tidak berdoa “Lepaskan aku dari segala penderitaanku!”

Akhirnya, Daud bukan sekadar diam tetapi hatinya penuh dengan gejolak. Namun, setelah berkomunikasi dengan Tuhan, ia diam dan disertai percaya dan kete­ nangan yang sesungguhnya sehingga dapat berkata, “Aku kelu, tidak kubuka mulutku, sebab Engkau sendirilah yang bertindak”. Bagaimanakah dengan Anda saat ini? Apakah sudah seperti yang dicontohkan Daud? (TIT)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Pembawa Pesan

Bacaan Yunus 3:1-10
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Yunus Mentaati TUHAN

1 Untuk kedua kalinya TUHAN berbicara kepada Yunus.
2 Kata-Nya, “Pergilah ke Niniwe, kota besar itu, dan sampaikanlah kepada rakyatnya, pesan yang Kuberikan kepadamu. “
3 Maka Yunus mentaati TUHAN dan pergi ke Niniwe, sebuah kota yang besar sekali; sehingga diperlukan tiga hari untuk melintasinya.
4 Yunus memasuki kota itu dan sesudah berjalan sepanjang hari, ia mulai berkhotbah, katanya, “Empat puluh hari lagi, Niniwe akan hancur ! “
5 Penduduk Niniwe percaya kepada pesan Allah itu. Seluruh rakyat memutuskan untuk berpuasa, dan semua orang, baik besar maupun kecil, memakai kain karung untuk menunjukkan bahwa mereka menyesali dosa-dosa mereka.
6 Waktu raja Niniwe mendengar kabar itu, ia segera turun dari takhtanya. Dilepaskannya jubah kerajaannya dan dipakainya kain karung, lalu duduklah ia di atas abu.
7 Ia juga menyiarkan maklumat ini, “Perintah ini dikeluarkan di Niniwe atas keputusan raja dan para menteri: Semua orang, sapi, domba dan ternak lainnya dilarang makan dan minum.
8 Manusia dan binatang harus memakai kain karung. Sebagai tanda penyesalan semua orang harus berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah. Mereka harus memperbaiki kelakuannya yang jahat dan perbuatannya yang penuh dosa.
9 Barangkali Allah akan mengubah niat-Nya dan tidak marah lagi sehingga kita tidak jadi binasa ! “
10 Allah melihat perbuatan mereka; Ia melihat bahwa mereka telah meninggalkan kelakuan mereka yang jahat. Maka Ia mengubah keputusan-Nya, dan tidak jadi menghukum mereka. 

Warga Kota Bandung dan sejumlah kota lainnya di Jawa Barat, Mengeluhkan pelayanan PT Pos Indonesia terkait pelayanan pengiriman barang dan surat yang terlambat, bahkan tidak sampai ke tangan penerima. Salah satu keluhan, mencuat dari seorang
pejabat perbankan di Kota Kembang tersebut setelah banyaknya kiriman dari mitra kerja di luar kota yang tidak sampai. Ia menjelaskan, keluhan lainnya adalah ketidakmampuan PT Pos Indonesia untuk mengantar kiriman tepat waktu, sehingga baik penerima maupun pengirim harus bolak-balik ke kantor pos untuk mengecek.

Tak berbeda dengan Yunus, karena keegoisannya, hampir saja seluruh penduduk di Niniwe tewas akibat kemarahan Allah. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya, seandainya kala itu Yunus tetap berpegang pada keegoisan dirinya sendiri! Belajar dari pengalaman Yunus dan orang-orang di Niniwe, hendaknya kita bersikap sebagai berikut. (1) Sebagai pembawa pesan, hendaknya jangan pernah kita menunda-nunda untuk menyampaikan pesan kepada si penerima pesan (orang yang dituju), mengingat pesan adalah amanat yang biasanya bersifat penting. (2) Oleh karena pesan bersifat amanat, maka jangan mengurangi
atau menambah isi pesan tersebut. (3) Sebagai si penerima pesan, responi dengan benar pesan yang kita dapat terutama pesan firman Tuhan.

Tak jarang, sebagai pembawa pesan Allah bagi dunia yang gelap ini kita justru memilih bersikap seperti Yunus yang menunda menyampaikan pesan Allah. Kita lebih menuruti egoisme diri sementara kita tahu di luar sana banyak orang sedang berjalan menuju kebinasaan kekal. Sampaikanlah pesan Allah supaya mereka pun beroleh hidup yang kekal seperti kita!. (LSK)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Aku Ada Untukmu

Bacaan Kejadian 44:18-34
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

18 Yehuda maju mendekati Yusuf dan berkata, “Maaf, Tuanku, izinkanlah hamba berbicara lagi dengan Tuanku. Jangan marah kepada hamba; Tuanku seperti raja Mesir sendiri.
19 Tuanku telah bertanya kepada kami ini,’Apakah kamu masih mempunyai ayah atau saudara yang lain?’
20 Kami menjawab,’Ayah kami sudah tua dan adik kami lahir ketika ayah sudah lanjut usia. Abang seibu dari adik kami itu sudah meninggal, jadi sekarang hanya dia sendirilah yang masih hidup dari mereka berdua, dan ayah sangat sayang kepadanya.’
21 Tuanku menyuruh kami membawa dia kemari, supaya Tuanku dapat melihatnya,
22 lalu kami menjawab bahwa anak itu tidak dapat berpisah dari ayahnya; jika ia berpisah dari ayahnya, ayah akan meninggal.
23 Kemudian Tuanku berkata,’Kamu tidak boleh menghadap aku lagi jika tidak membawa adikmu itu.’
24 Ketika kami kembali kepada ayah kami, kami sampaikan kepadanya perkataan Tuanku itu.
25 Kemudian ayah kami menyuruh kami datang lagi kemari untuk membeli makanan.
26 Kami menjawab,’Kami tidak dapat pergi ke sana, sebab kami tak boleh menghadap gubernur jika adik kami yang bungsu tidak ikut. Kami hanya dapat pergi ke sana kalau dia pergi juga.’
27 Kemudian ayah kami berkata,’Kalian tahu bahwa Rahel, istriku hanya punya dua anak.
28 Yang pertama telah meninggalkan aku. Dia pasti sudah diterkam binatang buas, karena sampai sekarang aku tidak melihatnya lagi.
29 Jika kalian mengambil anak yang bungsu ini daripadaku, dan terjadi apa-apa dengan dia, kesedihan yang kalian datangkan kepadaku itu akan mengakibatkan kematianku, karena aku ini sudah tua.’”
30 “Karena itu, Tuanku, ” kata Yehuda kepada Yusuf, “jika hamba kembali kepada ayah kami tanpa adik kami itu, pasti ayah kami akan meninggal. Nyawanya bergantung kepada anak itu, dan ia sudah begitu tua sehingga kesedihan yang kami datangkan kepadanya itu akan mengakibatkan kematiannya.
31 ( 44: 30 )
32 Lagipula, hamba telah berjanji kepada ayah hamba bahwa hamba menjadi jaminan anak itu. Hamba berkata kepadanya, bahwa jika hamba tidak membawa anak itu kembali kepadanya, hambalah yang akan menanggung hukuman seumur hidup.
33 Jadi, hamba mohon, Tuanku, izinkanlah hamba tinggal di sini menjadi hamba Tuanku menggantikan adik kami ini; biarlah ia pulang bersama-sama dengan abang-abangnya.
34 Bagaimana hamba dapat kembali kepada ayah kami jika anak itu tidak ikut? Hamba tidak tahan nanti melihat musibah yang akan menimpa ayah kami itu. “

Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Pilihan baginya untuk dimasa yang akan datang adalah belajar dari kesalahan di masa lalu dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik, atau tetap menjadi pribadi yang tidak berubah bahkan kualitas dirinya menurun.

Demikian pula saudara-saudara Yusuf. Dulu, memang mereka pernah melakukan kesalahan dengan menjadi pelaku kejahatan atas hidup Yusuf, hingga berdampak pada rasa duka mendalam pada ayahnya, karena kehilangan anak kesayangannya. Namun, seiring waktu berjalan, kehidupan saudara-saudara Yusuf ber­ubah, terkhusus pada diri Yehuda. Ini terbukti dari peris­tiwa hilangnya piala Yusuf, yang memang sengaja di taruh Yusuf di dalam karung si bungsu, Benyamin.
Taktik yang sengaja dibuat oleh Yusuf untuk menahan adik kandungnya tersebut agar memiliki ruang-waktu berlama-lama dengannya, justru memperlihatkan sesuatu yang baru yang mungkin belum pernah dilihat Yusuf dalam diri saudaranya. Taktik tersebut menggerakkan kasih sayang Yehuda

Taktik tersebut menggerakkan kasih sayang Yehuda sebagai keluarga kepada Benyamin. Yehuda rela memberi diri demi ayah dan adiknya. Yehuda rela menggantikan Benyamin sebagai hamba di kediaman Yusuf. Yehuda rela memasang badan demi menjaga keluarganya. Dari sini kita belajar bahwa: (1) Setiap orang bisa berbuat salah dan bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik. (2) Dalam hubungan dengan saudara kandung, harus saling menjaga.

Hubungan dalam keluarga tak selalu mulus. Ada hal- hal yang bisa menyebabkan persoalan hingga perpecahan. Untuk itu, bangunlah hubungan persaudaraan yang didasarkan pada kasih Allah agar masing-masing anggota saling menegur, saling menguatkan, saling melindungi, dan saling memberi. (ALX)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Dua Sisi

Bacaan Matius 23:28
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

28 Begitu juga dengan kamu, karena waktu orang lain melihat kamu dari luar, kamu kelihatan seperti orang yang benar. Tetapi sebenarnya hati kamu penuh dengan keinginan untuk melanggar perintah-perintah Allah dan hanya berpura-pura saja sebagai orang benar

Beberapa waktu lalu, saya kehilangan teman. Dimata saya teman tersebut seorang yang ramah, ringan tangan menolong sesama, rajin, semangat bekerja, dan baik hati. Namun, betapa terkejutnya ketika saya mendengar kesan mengenai dirinya dari rekan kerjanya. Menurutnya, teman saya tersebut adalah sosok yang tak baik, senang mengeluh, iri hati, jahat pada rekan kerjanya, pikun, dst. Mendengar hal tersebut, saya tidak mau percaya begitu saja. Karena saya tidak melihat beliau seperti yang diceritakan rekan kerjanya.

Kehidupan dipercaya memiliki dua sisi, yaitu sisi hitam dan putih. Demikian juga orang-orang Farisi. Satu sisi, kelompok religius di dalam Yudaisme ini perjuangkan pengetahuan yang mendasar tentang Taurat dan tradisi pada nenek moyang (Misna; Talmud). Mereka menuntut penafsiran yang paling keras, terutama hal-hal yang berhubungan dengan Sabat, kebersihan ritual (tahir), dan yang berkaitan dengan persepuluhan. Namun, di sisi lain siapa sangka kehidupan mereka begitu jauh dari apa yang mereka kerjakan. Orang-orang Farisi tega mengambil rumah janda-janda bahkan menipu mereka. Tidak ada kasih Allah. Para pengikutnya dituntut banyak sekali hal yang sulit untuk dilakukan dan peraturan agama yang berat, tetapi mereka sendiri cuek. Mereka tidak peduli dengan orang-orang Yahudi agar bisa menjalani Taurat.

Perilaku orang-orang Farisi itu juga tak jarang ada dalam orang-orang percaya masa kini, termasuk mereka yang pekerjaannya melayani di gereja. Jika kita mengetahui ada orang-orang yang demikian, jangan hakimi! Lebih baik, koreksi diri sendiri kemudian berubahlah kalau diri sendiri kedapatan memiliki dua sisi semacam itu, supaya hidup kita dikenan oleh Tuhan. (RES)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Pertolongan dan Penghargaan

Bacaan Mazmur 146:1-10
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Pujian Bagi Allah Penyelamat
1 Pujilah TUHAN ! Hai jiwaku, pujilah TUHAN !

2 Aku mau memuji TUHAN selama hidupku dan menyanyi bagi Allahku selama aku ada.
3 Janganlah berharap kepada penguasa, kepada manusia yang tak dapat menyelamatkan.
4 Kalau mereka mati, mereka kembali ke tanah; hari itu juga semua rencana mereka lenyap.
5 Berbahagialah orang yang mengandalkan TUHAN Allahnya, dan mempunyai Allah Yakub sebagai penolongnya.
6 Dialah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; Ia tetap setia selama-lamanya.
7 Ia membela hak orang-orang yang tertindas, dan memberi makan kepada orang yang lapar. TUHAN membebaskan para tahanan,
8 dan membuat orang buta dapat melihat. Ia menegakkan orang yang jatuh, dan mengasihi orang yang jujur.
9 Ia melindungi orang-orang asing; Ia menolong para janda dan yatim piatu, tetapi menggagalkan rencana orang jahat.
10 TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya. Hai Sion, Allahmu berkuasa selama segala abad. Pujilah TUHAN !

Desember 2016 adalah bulan dimana saya memperingati hari kelahiran saya. Dua minggu sebelumnya,
saya berdoa kepada Tuhan supaya Dia memberikan saya uang untuk mentraktir keluarga pendeta dan keluarga saya sendiri. Memang waktu itu saya juga sedang bingung, uang apa yang akan saya gunakan untuk mentraktir mereka. Ternyata, seminggu sebelumnya saya diminta untuk khotbah di salah satu gereja. Setelah selesai khotbah, saya menerima amplop berisi uang dan cukup untuk mentraktir mereka makan.

Allah yang dimaksud oleh pemazmur adalah Allah Yakub. Mengapa dikatakan Allah Yakub? Karena pada waktu itu Yakub sangat membutuhkan pertolongan. Setelah ia menipu kakak dan ayahnya, Yakub harus meninggalkan rumah. Yakub seorang diri dalam situasi yang tidak ramah. Walaupun demikian, Allah melindungi, memimpin dan menyediakan kebutuhannya. Bila ada yang mencoba melukai Yakub, Allah bertindak. Dia mengerjakan semua maksud-Nya untuk Yakub dan menjadikannya bapak dari suku-suku Israel. Walaupun Yakub sekali waktu tidak taat, tetapi Allah tetap menolong dan memimpinnya ke luar dari
segala kesukaran hidup. Itulah yang membuat pemazmur berkata bahwa hanya Allah Yakub yang telah menolong itulah yang pantas dijadikan tumpuan harapan.

Allah yang menolong Yakub adalah Allah yang sama yang menolong kita. Tentunya kita tiap-tiap hari merasakan pertolongan Tuhan dalam hidup ini. Bagi orang percaya, berharap kepada Tuhan bukan khayalan atau optimisme yang buta. Harapan dalam Kristus adalah pasti. Jadi, mari cek kembali, apakah kita masih tetap berharap kepada Tuhan atau yang lain? (THF)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Kebangkitan-Nya Memberi Pengharapan

Bacaan 1 Korintus 15:14-22
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

 

Sesudah mati, kita akan hidup kembali

12 Jadi, kalau kami para rasul selalu memberitakan bahwa Kristus sudah dihidupkan kembali dari kematian, kenapa ada beberapa orang di antara kalian yang berkata bahwa kita orang-orang percaya tidak akan dihidupkan dari kematian?
13 Karena kalau kita tidak dihidupkan kembali dari kematian, itu berarti Kristus juga tidak pernah hidup kembali dari kematian.
14 Dan sekiranya Kristus tidak pernah dihidupkan kembali, maka sia-sialah berita yang kami sampaikan. Dan keyakinan kalian juga sia-sia saja.
15 Kalau begitu kami juga keliru, karena ternyata kami sudah mengajarkan yang salah tentang Allah. Karena kami sudah memberitakan bahwa Allah sudah menghidupkan Kristus kembali. Padahal— kalau benar bahwa orang-orang mati tidak pernah dihidupkan kembali, maka Allah pun tidak pernah menghidupkan Kristus!
16 Karena kalau benar orang-orang mati tidak akan pernah dihidupkan kembali, berarti Kristus juga tidak pernah dihidupkan kembali.
17 Dan kalau Kristus tidak dihidupkan kembali dari kematian, percuma saja keyakinan kita, dan kita masih hidup di dalam dosa!
18 Demikian juga saudara-saudari kita yang sudah bersatu dengan Kristus dan yang sudah mati. Mereka tidak diselamatkan melainkan sudah binasa!
19 Dan kalau pengharapan kita kepada Kristus hanya untuk kehidupan di dalam dunia ini saja, kitalah yang paling malang di antara semua manusia!
20 Tetapi sebenarnya Kristus sudah dihidupkan kembali dari antara orang-orang mati! Hal itulah yang menjadi jaminan bahwa orang-orang lain yang sudah mati pasti akan dihidupkan kembali.*
21 Jadi perhatikanlah hal ini: Kuasa kematian menular kepada manusia karena perbuatan satu orang— yaitu Adam. Jadi sekarang oleh karena Satu Orang jugalah— yaitu Yesus, manusia dihidupkan kembali dari kematian.
22 Karena sebagai keturunan Adam, semua manusia mengalami kematian. Tetapi setiap kita yang bersatu dengan Kristus dihidupkan kembali dari kematian.

Dunia postmodern sedang mulai “menggoyahkan” kekristenan dengan menyodorkan mulai beribu “fakta”tentang Kristus yang tidak bangkit. Sejak diterbitkannya buku The Da Vinci Code sampai buku-buku seperti “Injil” Thomas, The Lost Tomb of Jesus, dll, Kristus dihujat dan dinyatakan tidak bangkit dengan argumen ditemukannya mayat yang diduga berasal dari keturunan Yesus. Lebih parahnya lagi, seorang pemimpin gereja dari gereja arus utama dan dosen di sekolah teologi arus utama berani membuat suatu artikel di suatu surat kabar bahwa Yesus tidak bangkit, lalu orang ini ditegur oleh gereja di tempat ia melayani.

Jangan biarkan diri sendiri ditipu oleh tipuan Iblis di zaman postmodern ini! Sekalipun kita tidak mengalami pengalaman seperti Tomas (Yoh. 20:28) dan Paulus ketika sedang dalam perjalanan ke Damsyik (Kis. 9:5), tetaplah percaya akan kebangkitan Kristus. Sebab kebangkitan- Nya memberikan harapan bagi barangsiapa yang percaya. Pertama, kebangkitan Kristus memberi pengharapan perubahan hidup (ay. 9-11). Ada dua hal perubahan yang dialami Paulus, yakni perubahan status (ay. 9-10a) dan
perubahan arah hidup (ay. 10b-11). Kedua, kebangkitan Kristus memberi pengharapan akan kepastian iman (ay. 14, 17), yaitu kepastian iman yang berkaitan dengan keselamatan (ay. 19) dan kepastian yang berkaitan dengan kebangkitan tubuh di kekekalan kelak (ay. 16, 35-58).

Tidak ada pengharapan yang paling agung dan mulia yang dapat kita jumpai dan alami selain pengharapan di dalam Kristus dan kebangkitan-Nya. Mari sadari kembali bahwa jika Kristus tidak bangkit, kita akan terus hidup dalam dosa dan kebinasaan kekal menanti kita. (YS)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Catatan Kaki
*15:20 menjadi jaminanSecara harfiah, “hasil (panen) pertama dari yang tertidur (dalam kematian).” Yesus digambarkan seperti hasil panen pertama. Dalam Perjanjian Lama, hasil panen yang pertama diberikan kepada Allah. (Im. 23:9-14) Dalam ayat ini hasil panen pertama merupakan jaminan bahwa pasti masih ada banyak lagi hasil yang akan dipanen.

Kasih Tertinggi

Bacaan Yohanes 15:1-13
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Yesuslah pohon anggur

1 Lalu Yesus berkata kepada kami murid-murid-Nya, “Aku seperti pohon anggur yang benar-benar menghasilkan buah sesuai dengan kehendak Allah, dan Bapa-Ku seperti petani yang merawat pohon anggur itu.
2 Dia memangkas setiap cabang-Ku yang tidak menghasilkan buah. Dan Dia mengurangi daun pada setiap cabang yang sedang berbuah, supaya buahnya* bertambah banyak lagi.
3 Kalian masing-masing memang sudah siap untuk berbuah karena ajaran yang Ku-berikan kepadamu.
4 Hendaklah kamu hidup bersatu dengan Aku, dan Aku pun akan tetap hidup bersatu denganmu. Sama seperti cabang tidak bisa berbuah kalau hidup terpisah dari pohonnya, begitu juga dengan kamu. Kalau kamu tidak hidup bersatu dengan Aku, kamu tidak akan bisa berbuah.
5 “Aku memang seperti pohon anggur, dan kamu seperti cabang-cabang-Ku. Kalau kamu tetap hidup bersatu dengan Aku, dan Aku tetap hidup bersatu dengan kamu, maka kamu akan menghasilkan banyak buah. Tetapi kalau kamu terpisah dari-Ku, kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa.
6 Setiap orang yang hidupnya terpisah dari-Ku seperti cabang-cabang pohon yang dibuang ke luar dan menjadi kering. Cabang-cabang itu akan dikumpulkan, lalu dilemparkan dan dibakar ke dalam api.
7 Kalau kamu tetap hidup bersatu dengan Aku, dan ajaran-Ku hidup di dalam hatimu, kamu boleh minta apa saja yang kamu perlukan, maka hal itu akan diberikan kepadamu.
8 Bapa-Ku akan dimuliakan apabila kamu menghasilkan banyak buah. Hal itu juga menunjukkan bahwa kamu benar-benar murid-Ku.
9 “Seperti Bapa selalu mengasihi Aku, begitu juga Aku selalu mengasihi kamu. Hendaklah kamu terus hidup sebagai orang yang Aku kasihi.
10 Tetaplah taat kepada perintah-perintah-Ku, Aku juga akan tetap mengasihi kamu. Begitu juga Bapa-Ku tetap mengasihi-Ku, karena Aku selalu taat kepada perintah-Nya.
11 Aku sudah memberitahukan semua ini kepadamu, supaya kamu ikut merasakan sukacita-Ku, dan supaya tidak ada sesuatu pun yang kurang dari sukacitamu.
12 Inilah perintah yang Ku-berikan kepadamu: Hendaklah kamu saling mengasihi satu sama lain, sama seperti Aku mengasihi kamu.
13 Bukti seseorang mempunyai kasih yang paling luar biasa adalah ketika dia rela mengurbankan dirinya sendiri demi menyelamatkan sahabat-sahabatnya. 

Pada Perang Dunia II, pengepungan pasukan Hitler terhadap Leningrad mengakibatkan jutaan orang dalam
kota mati kelaparan. Dari sekian banyak korban, 12 orang mati kelaparan di tengah-tengah bahan makanan yang dapat mempertahankan hidup mereka di penyimpanan bibit tanaman unggul di Pavlovsk. Ahli tanaman kacang, Alexander Stchukin mati di meja kantornya, melindungi ribuan ton sumber makanan yang bisa menyelamatkan hidup semua orang. Mereka memilih mati karena ingin memastikan generasi penerus bangsa Rusia dapat mengon­sumsi makanan yang telah mereka jaga dengan nyawa.

Kembali kita diingatkan bahwa tidak ada kasih yang lebih besar daripada seseorang yang menyerahkan
nyawanya untuk orang lain. Dasar dari pengurbanan ini adalah kasih dan kasih ini berada pada tingkat yang tak
dapat ditandingi oleh jenis yang lain. Bapa mengirim anak-Nya yang tunggal untuk mati bagi dosa-dosa manusia,
yang seharusnya tak perlu dilakukan-Nya. Jika keadilan Allah semata yang ditegakkan, manusia sendiri yang harus
menanggung dosa. Namun, Allah juga merupakan pribadi yang Maha pengasih dan bukti terbesar akan kasih-Nya
adalah ketika Dia mati di kayu salib untuk menyelamatkan manusia.

Menjelang peringatan kematian Kristus, mari kita melihat diri sebagai pribadi-pribadi yang telah ditebus oleh
Yesus Kristus. Saat kehidupan mulai membawa pengaruh yang mengatakan manusia adalah pusat dari segalanya,
memahami tingkat kasih yang tertinggi dapat menyadarkan posisi Allah dan posisi kita yang sebenarnya. Sepatutnya
kita bersyukur setiap hari bahwa ada seseorang yang rela menyerahkan nyawa-Nya supaya kita tidak binasa tetapi
memperoleh kehidupan yang bermakna. (NSG)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017
Catatan Kaki
*Menghasilkan buah Karena arti sebenarnya adalah orang dan bukan pohon yang berbuah, artinya hidup dengan cara menunjukkan bahwa mereka adalah milik Yesus. Termasuk dalam cara hidup itu adalah 1) “Hasil dan bukti Roh Kudus terlibat dalam hidup kita”— yang disebut di Gal. 5:22-23. (Lihat juga Ef. 5:9; Ibr. 12:11; Yak. 3:18.) 2) ‘Panen gandum’ rohani— yaitu memenangkan jiwa-jiwa supaya hidup mereka juga diubahkan dan mereka memperoleh keselamatan yang selama-lamanya, seperti yang Yesus jelaskan dalam Yoh. 4:34-38 dan Yoh. 15:16. Yesus menyerahkan diri-Nya untuk hal itu, seperti yang dinyatakan dalam Yoh. 12:24.

Menunda-nunda

Bacaan Amsal 6:1-11
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Nasihat-nasihat lain
1 Anakku, barangkali kau pernah berjanji kepada seseorang untuk menanggung utangnya.
2
Dan boleh jadi kau telah terjerat oleh kata-katamu dan terjebak oleh janjimu sendiri.

3 Kalau benar begitu, anakku, engkau sudah berada dalam kekuasaan orang itu. Tetapi inilah caranya kau dapat
lolos: cepatlah pergi kepada orang itu; mintalah dengan sangat supaya ia mau membebaskan engkau.
4 Janganlah pergi tidur dahulu, dan jangan beristirahat.
5 Lepaskanlah dirimu dari perangkap itu seperti burung atau kijang melepaskan diri dari pemburu.
6 Orang yang malas harus memperhatikan cara hidup semut dan belajar daripadanya.
7 Semut tidak punya pemimpin, tidak punya penguasa atau pengawas,
8 tetapi selama musim menuai mereka mengumpulkan bekal untuk musim paceklik.
9 Sampai kapan si pemalas itu mau tidur? Kapankah ia mau bangun?
10 Ia duduk berpangku tangan untuk beristirahat, dan ia berkata, “Ah, aku tidur sejenak, aku mengantuk. “
11 Tetapi sementara ia tidur, ia ditimpa kekurangan dan kemiskinan yang datang seperti perampok bersenjata.

Sepuluh tahun terakhir, dunia dihebohkan dengan berita-berita yang menyatakan bahwa tanggal sekian bulan sekian dan tahun sekian akan terjadi kiamat. Pernyataan-pernyataan tersebut bukan hanya berasal dari peramal, tetapi juga dari beberapa hamba Tuhan yang mengatakan mendapat pesan Tuhan dalam berbagai bentuk. Ada yang mendapat penglihatan, suara Tuhan secara audible, hingga mimpi. Namun tiba tanggal yang disebutkan, bumi ini baik-baik saja. Tak ada tanda-tanda sedikit pun yang menunjukkan akan terjadi kiamat atau semacamnya.

Faktanya, ketika semua itu meleset, satu hal yang saya syukuri adalah saya masih mempunyai kesempatan
sekali lagi untuk serius mengikut Tuhan dan hidup sesuai perintah-Nya. Sayangnya, respons ini tidak ditunjukkan
oleh orang-orang di sekitar saya. Mungkin juga di ling­kungan Anda. Nyatanya, saya masih melihat banyak orang
mengaku Kristen tetapi hidupnya bermalas-malasan. Bukan malas bekerja atau menempuh pendidikan, tetapi
menunda untuk melakukan perintah Tuhan. Menunda berdoa, menunda membaca firman Tuhan, menunda ke
gereja, dan hidup semaunya sendiri. Padahal firman Tuhan memberitahukan kepada kita akan ruginya diri sendiri
ketika memelihara kebiasaan menunda. Menunda adalah bentuk dari kemalasan.

Jika kita malas bekerja atau belajar, maka kemiskinan dan kekurangan adalah buah yang akan kita nikmati di
waktu yang akan datang. Sementara, kalau kita tidak serius mengikut Tuhan maka kemalangan hidup akan menimpa
kita. Bahkan, kebinasaan kekal sudah menanti kita. Tentu Anda tidak mau, bukan? Selagi masih memiliki
waktu untuk serius dengan Tuhan, maka jangan lagi menunda-nunda untuk melakukan perintah-Nya. Jangan
sampai kita menyesal dikemudian hari. (MUD)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Apa Cita-Citamu?

Bacaan Filipi 3:1-11
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia

Mengenal Kristus jauh lebih berarti dari segala apa pun

1 Akhirnya Saudara-saudari yang saya kasihi, bersukacitalah karena bersatu dengan Tuhan! Saya tidak bosan-bosan mengulangi apa yang sudah saya tuliskan sebelumnya. Bahkan saya menegaskan hal bersukacita itu supaya secara rohani kalian aman.
2 Hati-hatilah terhadap guru-guru palsu! Mereka seperti anjing! Menurut mereka adat sunat Yahudi wajib untuk setiap laki-laki. Tetapi sebenarnya mereka adalah penjahat yang hanya mau memotong kulit alat kelaminmu saja!
3 Tetapi kita sudah menerima sunat yang sejati— yaitu sunat hati!* Buktinya kita menyembah Allah melalui Roh-Nya dan kita hanya bangga dengan apa yang Kristus Yesus kerjakan untuk menyelamatkan kita. Dan kita tidak bergantung pada upacara yang dilakukan dengan tangan manusia pada tubuh laki-laki atau peraturan-peraturan jasmani yang lain.
4 Kalau guru-guru palsu itu merasa bahwa mereka bisa bergantung kepada hal-hal jasmani seperti itu, atau status mereka dalam agama Yahudi, maka saya lebih pantas lagi berbangga atas hal seperti itu!
5 Saya disunat waktu berumur satu minggu.** Saya adalah keturunan Israel dari suku Benyamin. Saya orang Ibrani dan orang tua saya juga orang Ibrani. Saya juga anggota kelompok Farisi, jadi jelaslah bahwa saya sangat menaati semua Hukum Taurat.
Dan saya begitu semangat berjuang mempertahankan agama Yahudi sehingga saya menganiaya orang-orang yang percaya kepada Yesus. Pada waktu itu semua orang Yahudi bersaksi bahwa saya hidup benar dan tanpa noda sesuai dengan Hukum Taurat.
7 Memang dulu saya bangga dan merasa beruntung karena semuanya itu. Tetapi sekarang saya menganggap semua hal itu tidak berguna, karena sekarang saya hanya berbangga atas apa yang sudah Kristus kerjakan!
8 Bukan hanya itu saja! Bahkan saya menganggap segala sesuatu tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan apa yang saya miliki sekarang— yaitu mengenal Tuhan saya Kristus Yesus! Karena Kristus, semua yang dulu saya banggakan sekarang saya anggap tidak ada artinya dan sama saja dengan sampah. Mengenal Kristus jauh lebih berarti!
9 Jadi saya hanya ingin terus bersatu dengan Dia. Saya dibenarkan di hadapan Allah bukan karena hasil usaha saya dalam menaati Hukum Taurat, melainkan hanya karena Kristus! Ya, saya percaya penuh atas apa yang Kristus kerjakan, dan lewat percaya itu saja saya dibenarkan di hadapan Allah.
10 Maka sekarang saya hanya rindukan mengenal Kristus dan kuasa yang menghidupkan Dia dari kematian. Dan saya rindu ikut menderita dalam rangka melayani Kristus sama seperti Dia sendiri menderita— sampai saya rela mati seperti Dia!
11 Dengan begitu saya sangat berharap supaya saya sendiri pantas ikut dihidupkan kembali dari kematian.

Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit!” Kata-kata mutiara ini sering kita temukkan pada tempelan-tempelan di ruang kelas untuk memicu semangat belajar meraih cita-cita. Bagaimana dengan cita-cita saudara? Saya yakin, saudara tidak pernah bercita-cita menjadi orang yang susah, tetapi mungkin cita-cita saudara ada di deretan profesi terhormat di dunia ini.

Kali ini, mari belajar dari cita-cita Paulus. Dari penjelasannya, mungkin saja cita-cita awal Paulus sudah ia capai, yaitu menjadi ahli Taurat yang sangat unggul. Kehormatan dan kebanggaan dari manusia sudah pasti ia dapat. Namun, terjadi titik balik yang membuat Paulus berkesimpulan bahwa semuanya itu sampah dan rugi karena pengenalan akan Kristus sebagai Tuhannya lebih mulia dari­ pada semuanya itu. Karenanya, ia memutuskan untuk melepaskan semua kebanggaannya dan meng­anggapnya sampah. Sekarang ia memiliki pengejaran atau cita-cita baru. Di situ, kita lihat bahwa salah satu cita-citanya adalah persekutuan dalam penderitaan Kristus supaya ia menjadi serupa dengan Kristus dalam penderitaan-Nya. Baginya, itulah yang menjadi dambaannya. Pada saatnya, ia akan bangkit dari antara orang mati. Penderitaan bagi Kristus bukanlah sesuatu yang membuatnya malu atau bersedih tetapi menjadi sukacitanya, seperti tema tulisan suratnya kepada jemaat Filipi. Sekalipun ia menderita dalam penjara ketika menuliskannya.

Firman Tuhan ini mengajak kita untuk menge­jar cita-cita yang jauh lebih mulia, yaitu mengenal Kristus dalam penderitaan bagi-Nya. Dengan cara apa kita bisa secara sengaja menjadikan penderitaan bagi Kristus sebagai cita-cita kita hari ini? kiranya Roh Kudus menolong kita menemukan dan melakukannya.

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Catatan Kaki
* Sunat hati Lihat Kol. 2:11.
** 3:5 satu minggu Secara harfiah, “delapan hari.” Kalau bayi laki-laki lahir pada hari Senin, maka dia disunat pada hari Senin berikutnya. Menurut cara hitung orang Yahudi, hari pertama dan hari terakhir dihitung. Dalam contoh di atas, hari Senin yang pertama dihitung sebagai hari kesatu, dan hari Senin berikutnya dihitung sebagai hari kedelapan.

Scroll to top