Open post

Orang Kristen kok GR-an

 

Bacaan  Yakobus 2:18-26
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia  (PB-TSI)

Keyakinan kita dilengkapi dan dibuktikan lewat perbuatan baik     

18 Tetapi akan ada orang yang menentang saya dengan berkata, “Tetapi saya tidak seperti kamu! Saya percaya penuh tanpa harus membuktikannya melalui perbuatan.” Tetapi saya menjawab orang seperti itu, “Bagaimana saya bisa tahu kalau kepercayaanmu itu benar-benar ada atau omong kosong saja kalau kamu sendiri tidak pernah membuktikannya? Saya yakin kita lebih baik membuktikan kepercayaan kita kepada Kristus lewat kasih dalam perbuatan!” 
19 Sebagai contoh, kamu mengatakan bahwa kamu mempunyai kepercayaan karena kamu yakin bahwa hanya ada satu Allah. Oh kamu sungguh hebat! Setan-setan pun percaya seperti kamu! Dan mereka gemetar ketakutan karena mereka sudah tahu bahwa ‘kepercayaan’ mereka itu tidak mampu menyelamatkan mereka dari neraka. 
20 Janganlah begitu bodoh! Kalau kamu masih memerlukan bukti bahwa kepercayaan yang tidak ditunjukkan lewat perbuatan tidak ada artinya, pikirkanlah contoh ini: 
21 Pasti nenek moyang kita Abraham diterima oleh Allah sebagai orang benar karena perbuatannya— yaitu ketika Allah melihat bahwa Abraham sudah siap mengurbankan anaknya Isak di atas mezbah. 
22 Jadi, kita bisa melihat bahwa kepercayaan dan perbuatan Abraham bekerja sama. Maksudnya, kepercayaannya dilengkapi karena ada perbuatan yang membuktikannya.
23 Itulah yang dimaksudkan ayat Kitab Suci yang mengatakan, “Abraham percaya kepada janji Allah, dan karena itu dia diterima Allah sebagai orang benar.”* Karena itulah dalam Kitab Suci tertulis dia sebagai “Sahabat Allah.” 
24 Jadi jelaslah bahwa kita dibenarkan di hadapan Allah lewat perbuatan kita juga— dan bukan hanya karena percaya. 
25 Begitu juga dengan Rahab— yaitu pelacur yang menerima dua orang mata-mata yang diutus oleh Yosua. Kepercayaannya menjadi nyata lewat perbuatannya ketika dia mengajak mereka berdua pulang melalui jalan lain, dan karena itu dia diterima sebagai perempuan yang benar dan diselamatkan.**
26 Ketika seseorang tidak bernapas lagi, berarti dia sudah mati. Begitu juga kalau mengaku percaya penuh kepada Kristus tetapi tidak menunjukkan keyakinannya lewat perbuatan yang baik. Hal itu percuma saja!

Awal 2008, saya memutuskan mengontrak rumah bersama teman masa kecil yang bertemu kembali di perantauan. Awal-awal saya tinggal bersamanya, saya tak merasakan ada yang berbeda dengan teman tersebut, kecuali kehidupannya sebagai orang Kristen. Ia tak berdoa, bahkan doa sebelum makan pun tidak dilakukannya. Ia tak pernah membaca Alkitab. Alkitabnya hanya digeletakkan begitu saja di rak buku. Ia juga tak pernah ibadah Minggu di gereja. Beberapa kali saya bertanya padanya, beberapa kali pula ia menjawab, “Yang penting kan saya percaya kepada Yesus. Yang penting saya beriman kepada-Nya.”

Seberapa banyak dari kita yang juga ke-GR-an seperti teman tersebut? Kita merasa puas dengan iman yang pasif. Kita merasa cukup dengan iman yang tak terimplementasi pada perbuatan nyata. Dalam Roma 10:9 tertulis, memang kita dibenarkan oleh iman, lewat pengakuan percaya kita kepada Yesus Kristus. Namun, Bapa menghendaki agar iman tidak berhenti pada pengakuan saja. Iman yang benar adalah iman yang didalami dan diimplementasikan ke dalam perbuatan-perbuatan nyata yang dapat dirasakan oleh sesama kita. Ibarat tanaman buah. Pohon apel tidak akan disebut sebagai pohon apel sampai pohon tersebut
mengeluarkan buah dan buah tersebut dapat dinikmati.

Demikian juga status kita sebagai orang beriman. Bagaimana orang lain yang belum percaya kepada- Nya dapat melihat Kristus dalam hidup kita sementara keimanan kita hanya sebatas pengakuan? Malam ini, mari kita melakukan introspeksi diri! Jangan kita menjadi orang Kristen yang ke-GR-an. Perdalam iman kita kepada Kristus dan lakukanlah bagian kita sebagai orang percaya, yakni
melakukan kebenaran firman-Nya.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juli 2017

Catatan Kaki:
*2:23 Kej. 15:6; 2Taw. 20:7; Yes. 41:8
**2:25 Yos. 2:1-21

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Semua ada Waktunya

 

Bacaan  Pengkhotbah 3:1-11
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

       Segala sesuatu ada waktunya

1 Segala sesuatu di dunia ini terjadi pada waktu yang ditentukan oleh Allah.
2 Allah menentukan waktu untuk melahirkan dan waktu untuk meninggal, waktu untuk menanam dan waktu untuk mencabut,
3 waktu untuk membunuh dan waktu untuk menyembuhkan, waktu untuk merombak dan waktu untuk membangun.
4 Allah menentukan waktu untuk menangis dan waktu untuk tertawa, waktu untuk meratap dan waktu untuk menari,
5 waktu untuk bersenggama dan waktu untuk pantang senggama, waktu untuk memeluk dan waktu untuk menahan diri.
6 Allah menentukan waktu untuk menemukan dan waktu untuk kehilangan, waktu untuk menabung dan waktu untuk memboroskan,
7 waktu untuk merobek dan waktu untuk menjahit, waktu untuk berdiam diri dan waktu untuk berbicara.
8 Allah menentukan waktu untuk mengasihi dan waktu untuk membenci, waktu untuk berperang dan waktu untuk berdamai.
9 Apakah hasil segala jerih payah kita?
10 Aku tahu bahwa Allah memberi beban yang berat kepada kita.
11 Ia menentukan waktu yang tepat untuk segala sesuatu. Ia memberi kita keinginan untuk mengetahui hari depan, tetapi kita tak sanggup mengerti perbuatan Allah dari awal sampai akhir.

Jembatan Mississippi pernah memegang peranan penting bagi perekonomian Amerika Serikat, khususnya bagi negara bagian Minnesota yang berbasis pertanian. Namun, jembatan setinggi 20 meter tersebut ambruk pada Rabu, 1 Agustus 2007, sekitar pukul 6 sore waktu setempat. Setelah diteliti, ambruknya jembatan ternyata sama sekali tidak berkaitan dengan aksi teror, murni karena rapuhnya konstruksi jembatan akibat ditelan usia. Akhirnya, 40 tahun setelah dibangun dan secara resmi dapat dilintasi, saatnya jembatan Mississippi runtuh.

Bacaan firman Tuhan hari ini mengatakan bahwa segala sesuatu ada masanya. “Sekolah kehidupan” nampaknya telah mengajarkan kepada penulis kitab ini, yakni Salomo, yang dikenal berhikmat, bahwa segala sesuatu di bawah langit ada waktunya. Waktu itu berlalu begitu cepat sehingga tidak ada seorang pun mampu membendungnya. Seseorang dapat menikmati dinamika kehidupan seiring berjalannya waktu. Ada waktu yang menyenangkan, tetapi ada pula waktu yang menyedihkan. Namun, Allah selalu membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Tidak rencana atau niat jahat apa pun dari Allah. Dia sepenuhnya Allah mengerti waktu yang tepat untuk menyatakan kehendak agung-Nya.

Sementara napas masih dikandung badan, mari kita belajar menggunakan waktu dengan bertanggung jawab. Sebagai tanda awas-awas, meminjam ungkapan bijak filsuf bernama Heraclitus, “Tidak ada yang tetap dalam dunia ini, kecuali perubahan-perubahan.” Kehidupan ini dapat berubah begitu cepat, tanpa kita sadari dan harapkan. Oleh karena itu, taklukkan diri kita kepada-Nya, sebelum segala sesuatunya ambruk bak jembatan Mississippi, saatnya berbenah diri dan mencari Tuhan.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juni 2017

 

 

 

 

 

 

Open post

Dua Sisi Kehidupan

 

Bacaan  Yakobus 5:16-20
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

16 Karena itu saya mendorong supaya setiap kita saling mengakui dosa dan kelemahan kita supaya bisa saling mendoakan. Dengan demikian kita akan diampuni dan disembuhkan. Karena doa orang benar sangat berkuasa dan besar pengaruhnya.
17 Sebagai contohnya, Elia adalah orang biasa yang sama seperti kita. Tetapi dia berdoa dengan sungguh-sungguh supaya hujan tidak turun, dan ternyata hujan tidak turun di negeri itu selama tiga tahun enam bulan!
18 Lalu ketika Elia berdoa lagi meminta hujan, lalu hujan pun turun, dan tanaman di ladang tumbuh kembali.
19-20 Saudara-saudari yang saya kasihi, ingatlah hal ini: Kalau ternyata salah satu dari antara kita sudah mengikuti jalan sesat, tetapi saudara atau saudari yang lain memimpin dia kembali kepada ajaran dan cara hidup yang benar, berarti saudara atau saudari itu yang mengasihani dan yang memimpin dia kembali sudah menyelamatkan dia dari neraka dan membuka jalan baginya sehingga dosa dan kesalahannya yang banyak itu diampuni.*

Novel klasik The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde merupakan literatur Victorian (1884) yang memaparkan dualitas sifat manusia. Pemeran utama novel ini adalah dokter yang memiliki dua kepribadian. Bahkan para psikolog masa kini sering menggunakan kisah ini untuk menggambarkan gangguan kepribadian ganda—Dr. Jekyll adalah pribadi yang baik dan terpandang, sementara Mr. Hyde adalah pribadi yang menyeramkan dan jahat.

Terdapat dualisme serupa yang terkadang menjangkiti kita. Sebagai ciptaan Tuhan, kita dikenal oleh Tuhan dan akhirnya dikenal sesama. Satu sisi kehidupan meminta kita untuk eksis dan dikenal atas hal-hal baik yang kita lakukan. Namun di sisi lain, karena sifat alami yang fana, kita memiliki dosa dan kelemahan yang tak ingin kita ungkapkan atau diketahui orang lain. Sering kali kita menyebutnya sebagai sisi gelap hidup kita. Satu alasan kita tak bersedia untuk dikenal adalah ketakutan bakal ditolak dan dihina. Namun, ketika kita menyadari bahwa Allah mengenal, mengasihi, dan bersedia mengampuni kita, rasa takut untuk membuka diri terhadap Tuhan niscaya akan lenyap (band. Mzm 32:5). Kita pun akan merasa aman untuk mengakui dosa-dosa kita dalam kumpulan orang percaya yang memahami dinamika hubungan antara pengampunan dan pengakuan (Yak. 5:16).

Kehidupan iman yang baik dan benar tak sekadar mewajibkan kita untuk menampilkan sisi baik dari kehidupan kita. Kehidupan yang benar juga melibatkan proses menyingkapkan sisi gelap dalam kehidupan kita kepada terang Kristus, melalui pengakuan terhadap Allah dan sesama orang percaya. Dengan cara ini, kita pun dapat memperoleh pemulihan dan hidup merdeka untuk mengampuni seorang akan yang lain.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juni 2017

Catatan Kaki:
*5:19-20 Mat. 18:15; Gal. 6:1-2; 1Ptr. 4:8

 

 

 

 

 

Open post

Menjadi Bijaksana

 

Bacaan  Mazmur 90:1-12
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Allah, tempat perlindungan manusia

1 Doa Musa, hamba Allah. Ya TUHAN, Engkaulah tempat kami berlindung turun-temurun.
2 Sebelum gunung-gunung diciptakan, sebelum bumi dan dunia Kaubentuk, Engkaulah Allah yang kekal, tanpa awal tanpa akhir.
3 Engkau menyuruh manusia kembali ke asalnya, menjadi debu seperti semula.
4 Bagi-Mu seribu tahun seperti satu hari, hari kemarin yang sudah lewat; seperti satu giliran jaga di waktu malam.
5 Engkau menghanyutkan kami; kami seperti mimpi, seperti rumput yang bertunas;
6 di waktu pagi ia tumbuh dan berkembang, tetapi menjadi layu di waktu petang.
7 Kami terkejut oleh kemarahan-Mu, dan habis binasa oleh murka-Mu.
8 Engkau menaruh kesalahan kami di hadapan-Mu, dosa kami yang tersembunyi terlihat oleh-Mu.
9 Hidup kami pendek karena kemarahan-Mu, tahun-tahun kami berakhir seperti hembusan napas.
10 Masa hidup kami hanya tujuh puluh tahun, kalau kami kuat, delapan puluh tahun. Tetapi hanya kesukaran dan penderitaan yang kami dapat; sesudah hidup yang singkat, kami pun lenyap.
11 Siapakah yang mengenal kedahsyatan murka-Mu, atau cukup sadar akan akibat kemarahan-Mu?
12 Sadarkanlah kami akan singkatnya hidup ini supaya kami menjadi orang yang berbudi.

Seseorang berkata kepada anak perempuan Dr. Emmons bahwa bulan terbuat dari keju hijau. Anak itu lalu pergi kepada ayahnya dan menceritakannya. Namun orangtua yang bijaksana itu berkata, “Pergi, baca Alkitab dan temukan jawabannya.” Anak tersebut kemudian membuka Alkitabnya dan segera kembali kepada ayahnya dengan jawabannya. Ia berkata bahwa bulan dibuat pada hari keempat dan sapi diciptakan pada hari keenam. Oleh karena itu, bulan tidak bisa dibuat dari kue hijau.

Mazmur malam ini merupakan doa Musa ketika memimpin bangsa Israel melewati padang gurun untuk memasuki Tanah Kanaan. Walaupun setiap hari mereka merasakan penyertaan, perlindungan, dan kecukupan dari Tuhan, tetap saja bangsa ini tegar tengkuk, bahkan membuat Tuhan. Bagian ini merupakan pengakuan Musa bahwa mereka telah berdosa kepada Tuhan, dan masalahyang mereka alami karena keberdosaan mereka kepada- Nya. Pemazmur menyadari bahwa Allah telah memberikan anugerah kepada mereka dan waktu hidup mereka hanya singkat di bumi ini. Oleh karena itu, sangat perlu untuk menjadi bijaksana dalam menjalani hidup. Untuk menjadi saleh, kita harus bijaksana. Dari mana sumbernya? Kesalehan dan kebijaksanaan berasal dari hikmat Tuhan dan hikmat Tuhan berasal dari firman Tuhan.

Kebenaran ini penting bagi kita. Cobalah renungkan sejenak dan pikirkan, betapa baiknya Tuhan sehingga sampai penghujung malam ini kita masih dipelihara dan semua keperluan kita terpenuhi. Oleh karena itu, sungguh kurang bijaksana apabila kita sedang ada masalah, lalu kita langsung berkata bahwa Tuhan tidak peduli dengan kita. Boleh jadi kalau ada masalah, ada hal yang harus kita perbaiki dalam hidup ini. Mari berpikir bijaksana!

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juni 2017

 

 

 

 

 

Open post

Ciri orang yang Mengenal Tuhan

 

Bacaan  I Yohanes 4:8
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Kasih berasal dari Allah

8 Kalau seseorang tidak mengasihi saudaranya seiman, berarti dia tidak mengenal Allah, karena Allah mengasihi semua orang.

Apakah kita memahami perbedaan antara “mengenal” dan “tahu”? Jika kita ditanya siapakah penyanyi dunia yang terkenal dengan suara emasnya? Kita pasti tahu jawabannya Whitney Houston. Mungkin kita tahu dari media massa. Namun kalau ditanya lebih jauh apakah kita mengenalnya, mungkin banyak orang akan menggelengkan kepala karena merasa tidak mengenal Whitney Houston secara pribadi. Mengenal berarti lebih dari sekadar tahu.

Demikian pula dalam kehidupan kita sebagai orang percaya. Identitas kita sebagai orang Kristen tidak cukup untuk menunjukkan bahwa kita benar-benar mengenal Allah, jika kita tidak memiliki kasih Allah dalam dirinya. Seseorang dapat berbuat baik kepada orang lain sebatas respons balik dari orang tersebut sesuai dengan harapannya. Berbeda halnya dengan seseorang yang melakukannya karena kasih, apa pun respons objek kasihnya, tidak akan mengubah kasihnya. Ia dapat mengasihi karena ia telah hidup dalam sumber kasih, yang tidak akan pernah berhenti mengalir. Demikianlah kasihnya akan terus mengalir menjadi berkat bagi orang lain, karena kasihnya tidak bergantung kepada dirinya sendiri yang terbatas, tetapi kepada Allah yang tidak terbatas.

Menghadirkan kasih Allah dalam hidup sehari-hari memang membutuhkan proses yang panjang. Dalam proses ini kita seringkali mengalami kekecewaan karena mendapatkan respons yang tidak seimbang. Namun bila kasih Allah ada dalam kita, kekecewaan itu tidak mampu membendung kita kembali belajar mengasihi. Kasih itu pula yang membentuk karakter dan kepribadian kita, sehingga kita tidak lagi memikirkan diri sendiri tetapi bagaimana menyatakan kasih Allah agar semakin banyak orang mengenal Dia melalui kita.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juni 2017

 

 

 

 

 

Open post

Mengecap Air Hidup

 

Bacaan Yohanes 4:1-15
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Yesus bercakap-cakap dengan perempuan Samaria

1 Orang Farisi sudah mendengar bahwa Yesus menjadikan dan membaptis lebih banyak pengikut daripada Yohanes.
2 Tetapi sebenarnya bukan Yesus yang membaptis, melainkan kami murid-murid-Nya. Yesus tahu bahwa orang Farisi sudah mendengar tentang diri-Nya.
3 Jadi Dia bersama kami meninggalkan propinsi Yudea dan kembali lagi ke propinsi Galilea.
4 Dalam perjalanan ke sana Dia harus melewati daerah Samaria.
5 Waktu di Samaria, Yesus dan kami sampai di sebuah kampung yang bernama Sikar— yang dekat dengan tanah yang dulu diberikan Yakub kepada Yusuf, anaknya.
6 Dan sumur Yakub ada di situ. Karena perjalanan jauh, Yesus merasa sangat lelah, jadi Dia duduk di pinggir sumur itu. Waktu itu kira-kira tengah hari.
7 Kemudian seorang perempuan Samaria datang ke sumur itu untuk menimba air. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Tolong berikan air kepada-Ku, supaya Aku minum.”
8 Waktu kejadian itu, kami sudah pergi ke desa Sikar untuk membeli makanan.
9 Lalu perempuan itu berkata kepada-Nya, “Saya heran! Bagaimana mungkin Bapak— seorang Yahudi, minta air minum kepada saya— seorang Samaria!” Dia berkata begitu karena orang Yahudi menganggap orang Samaria najis.*
10 Lalu Yesus menjawab, “Ibu tidak tahu hadiah apa yang Allah mau berikan kepadamu dan tidak mengenal Aku yang minta air darimu. Kalau Ibu sudah mengenal Aku, pastilah Ibu akan lebih dulu minta air hidup dari Aku. Dan Aku siap memberikannya kepadamu.”
11 Lalu perempuan itu berkata, “Bapak tidak punya timba, dan juga sumur ini sangat dalam. Bagaimana mungkin Bapak bisa memberikan air hidup itu kepada saya?
12 Yakub, nenek moyang kita yang memberikan sumur ini kepada kami. Dulu dia dan anak-anaknya dan juga semua ternaknya minum dari air sumur ini. Pasti Bapak tidak merasa diri lebih besar dari dia— bukan?!”
13 Lalu Yesus menjawab, “Setiap orang yang minum air dari sumur ini akan haus lagi.
14 Tetapi siapa saja yang minum air yang akan Ku-berikan tidak akan haus lagi untuk selama-lamanya. Karena air itu akan menjadi seperti mata air di dalam dirinya, yang akan terus mengalir dan memberinya hidup yang selama-lamanya.”
15 Kata perempuan itu, “Bapak, berikanlah air itu kepada saya, supaya saya tidak haus lagi dan tidak usah kembali menimba air ke sini.”

Dunia ini sedang berusaha untuk menawarkan kepuasan semu dalam berbagai bentuk. Tak sedikit manusia akhirnya terpikat dan terjebak, lalu menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk kepuasaan duniawi. Tak jarang umat Allah pun juga terpikat, lalu mengalami hal yang sama seperti orang-orang yang belum mengenal Kristus. Padahal, bagi orang percaya, ada kepuasan sejati yang Yesus tawarkan. Kepuasan yang bernilai kekal dan tak dapat diberikan oleh dunia ini.

Ketika Yesus bercakap-cakap dengan perempuan Samaria, ada dua hal kontras mengenai topik pembicaraan itu. Sementara Yesus berbicara mengenai kebutuhan rohani manusia (ay. 10), perempuan Samaria ini justru menanggapi sesuai kebutuhan jasmaninya (ay. 11–12). Dalam pikirannya, air diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap hari. Tanpanya ia akan mati. Itu sebabnya ia segera menerima tawaran Yesus untuk mendapatkan air yang bersifat abadi. Perempuan itu berpikir, “Kalau saya meminum air itu, maka seumur hidup saya tidak akan kehausan lagi. Saya juga tak perlu ke sumur setiap hari untuk menimba air ketika kondisi  panas terik.” Kondisi serupa sering kali dialami oleh umat Tuhan. Ketika Yesus ingin memberikan kepuasan sejati, saat orang percaya tinggal di dalam Dia, fokus kita justru pada kepuasaan duniawi yang semu. Padahal, kepuasan hidup yang Yesus tawarkan melebihi kepuasan duniawi dalam bentuk apa pun dan bersifat kekal.

Bagi kita yang malam ini sudah mengecap “air hidup” yang Yesus berikan, sudah sepatutnya kita pun berlaku seperti wanita Samaria yang mengajak orang lain untuk berjumpa dengan Yesus (Yoh 4:29-30). Masihkah kerinduan itu berkobar dalam diri kita

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juni 2017

Catatan Kaki:
*4:9 menganggap orang Samaria najis Contohnya, pada waktu itu para pemimpin agama Yahudi melarang orang Yahudi memakai barang-barang yang sudah dipakai oleh orang Samaria. Jadi menurut peraturan itu, Yesus juga tidak boleh minum dengan memakai peralatan minum yang sudah dipakai oleh perempuan itu. Pada zaman Yesus, orang Yahudi tidak boleh bergaul dengan orang-orang Samaria karena penduduk Samaria bukan orang Yahudi asli, tetapi keturunan perkawinan campur antara orang Yahudi dengan suku-suku lain. Dalam Hukum Taurat, Allah melarang orang Yahudi kawin campur dengan suku-suku lain. Tetapi suku-suku itu berpindah ke daerah Palestina pada waktu kebanyakan orang Yahudi sudah dibawa ke negeri Babel. Orang-orang Yahudi juga tidak senang kepada penduduk Samaria karena agama mereka bukan agama Yahudi murni. Mereka mencampur agama mereka dengan adat-istiadat suku-suku lain yang masuk ke daerah itu pada waktu pembuangan bangsa Yahudi ke Babel.

 

 

 

 

Open post

Bangkit Bersama

 

Bacaan  Kejadian 3:1-24*
Perjanjian Lama Terjemahan Sederhana Indonesia (PL-TSI)

1 Ular merupakan binatang yang paling licik diantara semua binatang liar yang TUHAN ciptakan. Pada suatu hari ular datang kepada perempuan itu dan bertanya, “Apa benar Allah sudah berkata kepada kalian bahwa kalian tidak boleh makan buah-buahan dari semua pohon yang ada dalam taman ini?”
2-3 Jawab perempuan itu kepadanya, “Bukan begitu. Kami boleh makan semua buah dalam taman ini— kecuali buah pohon yang ada di tengah-tengah taman. TUHAN melarang kami menyentuh— apalagi makan buah dari pohon tersebut. Kalau kami melanggarnya, maka kami akan mati.”
4 Lalu kata ular itu kepadanya,“Tidak! Kamu tidak akan mati!
5 Allah berkata seperti itu karena Dia tahu bahwa kalau kalian makan buah dari pohon yang ada di tengah taman itu, maka mata dan pikiran kalian akan terbuka, dan kalian akan menjadi sama seperti Dia— yaitu mengetahui apa yang baik dan yang jahat.”
6 Perempuan itu melihat bahwa buah pohon tersebut sangat enak dilihat, dan juga enak dimakan. Lagi pula dia juga ingin menjadi bijaksana. Karena itu dipetiknyalah beberapa buah dari pohon tersebut dan dimakannya. Lalu dia juga memberikan buah itu kepada suaminya** untuk dimakan. Segera sesudah mereka makan buah itu,

7 mata dan pikiran mereka tiba-tiba terbuka. Mereka malu karena baru menyadari bahwa mereka telanjang. Lalu mereka menyambung berapa daun pohon ara untuk menutupi tubuh mereka.
8 Menjelang sore hari, ketika angin sepoi-sepoi mulai berhembus, mereka mendengar langkah kaki TUHAN Allah yang sedang berjalan di dalam taman. Lalu mereka bersembunyi di balik pohon-pohon yang ada di taman, supaya TUHAN tidak melihat mereka.
9 Tetapi TUHAN memanggil laki-laki itu dan berkata, “Kenapa kamu berusaha sembunyi dari-Ku?”2
10 Laki-laki itu menjawab, “Aku mendengar bunyi langkah kaki-Mu di taman ini. Dan karena aku telanjang— aku takut, maka aku sembunyi.”

11 Lalu TUHAN berkata, “Bagaimana kamu bisa tahu bahwa kamu telanjang? Apa kamu sudah makan buah dari pohon yang Aku larang itu?”
12 Laki-laki itu menjawab,“Bukan aku yang melanggarnya! Perempuan yang sudah Engkau berikan kepadaku itulah yang memberikan buah itu, sehingga aku memakannya.”
13 Lalu bertanyalah TUHAN Allah kepada perempuan itu, “Kenapa kamu melakukan itu?”
Jawab perempuan itu, “Ular itu sudah menipu aku, sehingga aku makan buah itu!”
14 Maka berkatalah TUHAN kepada ular itu,
“Karena kamu sudah melakukan hal ini,
maka dari semua binatang ternak dan binatang buas,
hanya kamu dan keturunanmu yang akan Aku hukum.
Mulai sekarang, kamu dan semua keturunanmu
akan bergerak dengan cara menjalar dan menggunakan perut,
dan kamu terpaksa menjilat debu seumur hidupmu.
15 Aku akan membuat kamu dan perempuan ini akan bermusuhan.
Dan keturunanmu beserta keturunan perempuan ini akan selalu bermusuhan.
Kamu akan menggigit tumit keturunannya yang laki-laki,
tetapi dia akan menghancurkan kepalamu.”***
16 Dan kepada perempuan itu TUHAN berkata,
“Aku akan memperbanyak penderitaan dan rasa sakit saat kamu melahirkan.
Kamu akan ingin memimpin suamimu,
tetapi dia akan berkuasa atas dirimu.”****
17 Lalu Allah berkata kepada laki-laki itu,
“Aku memerintahkanmu untuk tidak makan buah dari pohon itu.
Tetapi kamu melanggarnya dengan menuruti perkataan istrimu.
Maka oleh karena kelakuanmu itu, Aku mengutuk tanah.
Sepanjang hidupmu kamu akan terpaksa bekerja dengan susah payah untuk dapat menghasilkan makanan dari tanah.
18 Tanah akan cenderung menghasilkan semak dan tanaman berduri,
dan kamu terpaksa makan tumbuhan-tumbuhan liar.
19 Jadi sepanjang hidupmu— sebelum mati dan kembali menjadi tanah,
kamu harus mandi keringat untuk menghasilkan makanan dari tanah kebunmu.
Aku menciptakanmu dari tanah,
maka mayatmu akan membusuk dan akan kembali menjadi tanah lagi.”
20 Laki-laki itu bernama Adam.*****Adam menamai istrinya Hawa— yang berarti ‘pemberi kehidupan’, karena seluruh umat manusia adalah keturunannya.
21 TUHAN membuat pakaian dari kulit binatang dan memakaikannya kepada mereka.
22 Kemudian berkatalah TUHAN, “Sekarang mereka sudah menjadi seperti Kita karena mereka bisa membedakan apa yang baik dan yang jahat. Maka jangan sampai mereka memetik dan makan buah dari pohon kehidupan itu. Aku tidak ijinkan mereka hidup untuk selama-lamanya.”
23 Karena itu TUHAN mengusir Adam dan Hawa keluar dari taman Eden untuk menggarap tanah di tempat lain.
24 Sesudah itu TUHAN menempatkan beberapa malaikat penjaga****** di pintu masuk taman Eden— yang terletak di sebelah timur taman itu. TUHAN juga menempatkan satu pedang ajaib yang berapi dan yang dengan sendirinya berputar-putar di sekeliling pohon itu. Sehingga tidak ada lagi orang yang bisa mengambil buah pohon kehidupan itu.

Apakah yang terlintas dalam pikiran kita setiap kali mendengar nama Adam dan Hawa? Tak salah jika kita berkata bahwa mereka adalah manusia pertama yang diciptakan Allah atau pasangan pertama yang menjadi awal terbentuknya keluarga. Namun, ada hal lain yang akan selalu “melekat” pada Adam dan Hawa, yaitu kejatuhan mereka ke dalam dosa. Pernahkah kita mencoba berempati dengan keadaan mereka pasca kejatuhan? Bagaimana perasaan mereka, juga bagaimana mereka harus memulai kehidupan yang baru setelah terusir dari taman Eden?

Kisah mereka adalah gambaran dari kehidupan kita. Ketika membentuk sebuah keluarga baru, tentu bukan hal yang mudah. Pasti kita akan menemukan berbagai persoalan yang kemudian membuat satu sama lain saling tunjuk, karena merasa diri benar sementara orang lain yang bersalah. Namun, belajar dari kehidupan keluarga pertama ini, pembelaan diri bukanlah solusi yang tepat bahkan tindakan mereka justru tidak berbuah kebaikan, mereka tetap diusir dari kemudahan menjalani hidup. Mau tak mau mereka harus menghadapi kenyataan pahitnya hidup yang sesungguhnya. Mereka harus bekerja mengolah tanah untuk bertahan hidup.

Apakah mereka berhasil menjalani kehidupan yang sesungguhnya? Alkitab tidak mencatat secara detail, tetapi pada pasal 4 diceritakan bahwa mereka beranakcucu, bahkan hingga Adam tutup usia (930 tahun). Artinya, mereka bisa melewati masa-masa sulit itu berdua hingga bisa mengusahakan kebahagiaan berdua. Nah, malam ini, sebesar apa pun kesulitan yang sedang kita alami,
percayalah bahwa semua akan teratasi selama kita mau bersehati dan berjuang bersama untuk menghadapinya, serta senantiasa melibatkan Tuhan.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juni 2017

Catatan Kaki:
*Drafting Perjanjian Lama Terjemahan Sederhana Indonesia (PL-TSI)
**3:6 suaminya Kata ‘immah’ dalam bahasa Ibrani sering diterjemahkan (suami) ‘yang bersama dengannya’ (Hawa). Persoalan dari terjemahan ‘immah’ ini adalah kita sulit memastikan kalau arti yang dimaksud adalah: 1) Adam baru bersama dengan Hawa ketika buah yang dilarang itu diberikan kepadanya, atau, 2) Adam bersama-sama dengan Hawa, dan ikut menyaksikan pembicaraan Hawa dengan si ular.
***3:15 kesulitan jamak dan tunggal Dalam bahasa Ibrani, kata yang diterjemahkan ‘keturunan’ mempunyai arti dasar ‘bibit (tunggal)’. Tetapi walaupun ‘bibit’ disebut tunggal, itu juga merupakan kata kolektif— maksudnya, yang disebut ‘bibit’ sering dimengerti jamak. (Pasir sering disebut juga sebagai kolektif.) Kemungkinan besar, Hawa menyangka bahwa anaknya yang pertama akan meremukkan kepala si ular itu. Tetapi ketika tidak terjadi demikian, ‘bibit/keturunan’ Hawa yang dimaksudkan dimengerti oleh orang Yahudi sebagai jamak. Walaupun bagian kedua ayat ini berbicara tentang seorang keturunan laki-laki, itu masih bisa dianggap mewakili seluruh bangsa Israel. Tetapi akhirnya kita lihat bahwa ‘bibit/keturunan’ yang meremukkan kepala ular adalah tunggal— yaitu Yesus. Bandingkan dengan Gal. 3:16.
****3:16 arti alternatif Kedua baris terakhir juga bisa diterjemahkan, “Namun kamu akan tetap ingin hubungan intim dengan suamimu. Dan dia akan berkuasa atas dirimu.”
*****Adam 3:20 Nama Adam berarti ‘(seorang) manusia (laki-laki)’.
******3:24 malaikat penjaga Secara harfiah dalam bahasa Ibrani disebut ‘kerubim’.

 

 

 

 

 

Open post

Pemberian Kasih

 

Bacaan  Matius Filipi 4:10-20
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Ucapan terima kasih dari Paulus kepada jemaat di Filipi

10 Tuhan memberikan sukacita yang luar biasa kepada saya karena ternyata kalian masih mengingat saya yang dipenjarakan di sini dengan mengirimkan bantuan lagi. Memang kalian selalu peduli dengan keadaan saya, tetapi biasanya kalian tidak mempunyai kesempatan untuk membantu.
11 Saya mengatakan hal itu bukan karena saya masih merasa kekurangan, karena saya sudah terlatih untuk memuaskan diri dalam segala keadaan.
12 Jadi saya tahu bagaimana memuaskan diri— baik ketika hidup dalam kekurangan maupun dalam kelebihan. Karena saya sudah menemukan rahasia bagaimana caranya bisa merasa puas dalam segala keadaan— baik kenyang maupun lapar, baik kaya maupun miskin.
13 Saya bisa menghadapi segala keadaan karena Kristus yang selalu memberi kekuatan kepada saya!
14 Walaupun begitu, saya senang dan berterimakasih bahwa kalian sudah menolong saya dalam kesusahan yang saya alami sekarang ini.
15 Memang kalian tahu bahwa waktu pertama kali saya meninggalkan kalian di Makedonia untuk memberitakan Kabar Baik di tempat lain, tidak ada jemaat lain yang terlibat penuh— yaitu yang sungguh-sungguh menjadi sahabat sekerja saya, dan yang menerima berkat juga karena berulang kali mendukung saya dengan dana. Hanya kalianlah yang mendukung seperti itu.
16 Dan ketika saya melayani di Tesalonika, kalian sudah mengirimkan bantuan beberapa kali untuk mencukupi kebutuhan saya.
17 Saya mengatakan hal itu bukan untuk mencari bantuan lagi dari kalian! Tetapi saya mau supaya setiap kalian diberkati secara berlimpah-limpah karena kalian menabung harta di surga.
18 Semua kebutuhan saya sudah terpenuhi— bahkan saya mempunyai lebih dari yang saya butuhkan, karena Epafroditus sudah membawa bantuan kalian kepada saya. Bagi Allah, pemberian kalian itu merupakan suatu persembahan yang harum, dan Dia sudah menerima persembahan itu dan berkenan atasnya.
19 Allah yang saya layani akan membalasnya dengan mencukupi segala kebutuhanmu juga, karena Dia akan melimpahkan segala kekayaan rohani— yaitu kemuliaan surgawi, kepada kita yang bersatu dengan Kristus Yesus.
20 Kemuliaan bagi Allah dan Bapa kita untuk selama-lamanya! Amin!

Kebanyakan keluarga cenderung akan menghabiskan waktu liburan untuk berpiknik atau sekadar berjalanjalan. Namun, tidak demikian dengan keluarga Gregg Murset dari Phoenix, Amerika Serikat. Keluarga ini justru mengisi liburannya dengan berkeliling melintasi beberapa negara bagian di Amerika Serikat untuk membantu keluarga lain secara sukarela. Selama 20 hari mereka telah membantu 25 keluarga yang memiliki anak-anak dengan penyakit kanker, kelainan genetik, leukemia, dan penyakit lainnya. Keluarga Murset telah menempuh perjalanan sejauh 6500 mil untuk membersihkan debu, kaca jendela, mencabut rumput, dan pekerjaan rumah tangga lainnya yang tidak sempat dikerjakan oleh para orangtua karena harus merawat anak mereka yang sakit.

Sebagai rasul Kristus, Paulus kerap menasihati jemaat yang dilayaninya, seperti di Filipi, agar mereka menyatakan kasih Kristus dalam bentuk perbuatan. Tentunya, Paulus menasihati demikian bukan untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri, seperti di dukung dalam hal dana, dll. Namun, Paulus mengharapkan mereka yang sudah mengenal Kristus bersungguh-sungguh mengaplikasikan kasih itu ke dalam perbuatan nyata. Selain itu, Paulus juga memuji mereka karena telah mengambil bagian dalam
kesusahan yang dialaminya (ay. 14). Itulah sebabnya, kemudian Paulus memuji jemaat di Filipi dan menyebut bahwa persembahan mereka sebagai persembahan yang harum, disukai, dan berkenan kepada Allah.

Untuk memberi, seseorang tidak harus menunggu kaya karena memberi dimulai karena adanya kasih Kristus dalam diri sendiri. Maka, ciri orang yang memiliki kasih Kristus dalam hatinya adalah adanya kesukaan dan kerelaan untuk memberi apa pun yang ada padanya.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juni 2017

 

 

 

 

 

Open post

Pencuri yang Baik Hati

 

Bacaan  Matius 27:1-10
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Yesus diserahkan kepada Pilatus*

1 Pagi-pagi sekali pada besok harinya, semua imam kepala dan pemimpin Yahudi mengatur rencana bagaimana mendorong gubernur pemerintahan Roma untuk membunuh Yesus.
2Lalu mereka mengikat dan membawa Dia untuk diserahkan kepada Gubernur Pilatus.

Yudas bunuh diri**

3 Pada waktu Yudas— yaitu orang yang menjual Yesus, melihat bahwa Yesus dijatuhi hukum mati, maka dia menyesali perbuatannya. Lalu ketiga puluh keping uang perak yang sudah diterimanya itu, dia kembalikan kepada imam-imam kepala dan para pemimpin Yahudi.
4 Dia berkata kepada mereka, “Saya sudah berdosa karena saya sudah menjual orang yang tidak bersalah untuk dibunuh.” Tetapi para pemimpin Yahudi itu menjawab, “Untuk apa kamu berkata seperti itu kepada kami?! Kalau dosa, itu tanggung jawabmu sendiri!”
5 Lalu Yudas melemparkan uang perak itu ke dalam Rumah Allah dan meninggalkan mereka. Sesudah itu dia pergi ke luar kota dan bunuh diri dengan cara gantung diri.
6 Lalu, waktu imam-imam kepala mengambil uang perak itu, mereka berkata, “Dalam Hukum Taurat dilarang memasukkan uang ini ke dalam peti persembahan, karena uang ini adalah hasil dari menjual nyawa orang.”
7 Jadi, sesudah membicarakannya, mereka memutuskan memakai uang itu untuk membeli ladang yang dulu milik seorang tukang bejana keramik. Lalu tanah itu dijadikan sebagai kuburan untuk para pendatang dan orang-orang asing yang meninggal di Yerusalem.
8 Oleh karena peristiwa ini diketahui kepada para penduduk Yerusalem, maka sampai hari ini ladang itu dikenal dengan nama “Ladang Tumpahan Darah.”***
9 Dengan demikian, tanpa mereka sadari, mereka sudah menepati apa yang dinubuatkan oleh Nabi Yeremia, “Mereka akan mengambil ketiga puluh uang perak itu— yaitu harga jual yang ditetapkan oleh orang-orang Israel terhadap Dia,
10 dan mereka akan memakai uang itu untuk membeli sebuah ladang yang dulu milik seorang tukang bejana keramik. Ini sudah ditetapkan TUHAN dan diberitahukan kepada saya.”****

Bagi kita yang pernah kecurian atau kerampokan, biasanya kita terpaksa merelakan barang-barang yang hilang, karena kecil kemungkinan barang-barang itu kembali. Namun, peristiwa unik dialami oleh Anas Ulfan, warga kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Ia tak pernah menyangka bahwa para pencuri yang telah menggondol sepeda motornya, lima tahun kemudian datang ke rumahnya, lalu memberinya sepeda motor baru, lengkap dengan BPKB dan STNK-nya. Tentu saja, tindakan mencuri tak dapat dibenarkan. Namun, niat baik untuk mengganti sepeda motor yang hilang itu layak untuk dihargai.

Kisah di atas mengingatkan kita pada keputusan Yudas Iskariot setelah ia menyesali perbuatannya. Alkitab mencatat bahwa Yudas menyesal karena telah menjual Yesus senilai 30 keping perak. Apalagi setelah ia mengetahui bahwa Gurunya dijatuhi hukuman mati. Namun sayang sekali, penyesalan Yudas tidak membawanya pada pertobatan—seperti yang dialami oleh Petrus setelah ia menyangkal Yesus. Setelah mengembalikan uang kepada para imam, Yudas justru memutuskan untuk bunuh diri. Seandainya Yudas berpikir lebih jernih sebelum berbuat, mungkin kelanjutan kisah hidupnya akan lain.

Dalam kehidupan ini, melakukan kesalahan kecil maupun besar adalah hal yang wajar dialami oleh setiap orang. Keputusan untuk menyesali kesalahan dan bertobat merupakan keputusan yang baik. Namun, tindakan selanjutnya setelah menyesal dan bertobat, sebenarnya jauh lebih penting. Nah, kiranya pelajaran dari perbuatan bodoh yang dilakukan oleh Yudas Iskariot dapat menjadi pengingat bagi kita mengenai pentingnya pertobatan yang disertai perubahan nyata. Mari hidup senantiasa dalam pertobatan, supaya hati Tuhan disenangkan.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juni 2017

Catatan Kaki: 
*Perikop: Mrk. 15:1; Luk. 23:1-2; Yoh. 18:28-32
**Perikop: Kis. 1:18-19
***27:8 Ladang Tumpahan Darah Secara harfiah, “Ladang Darah.” Maksud kata ‘darah’ dalam nama ini adalah darah orang yang mati dibunuh. Atau nama ladang itu artinya ‘ladang yang dibeli dengan uang hasil dari menjual nyawa orang’.
****27:10 Kutipan Nabi Yeremia Sesuai dengan cara mengungkapkan nubuatan dalam Bahasa Indonesia, ayat ini diterjemahkan dengan kata ‘akan’ untuk menunjukkan masa yang akan datang. Bahasa Ibrani dan Yunani memakai kata kerja masa lampau, yang bisa dilakukan dalam kedua bahasa itu untuk mengungkapkan nubuatan. Ternyata kutipan ini adalah campuran dari Zak. 11:12-13 dan Yer. 32:6-9.

 

 

 

 

Open post

Layak Dipercaya

 

Bacaan  Mazmur 91:1-16
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-TSI)

Dalam Lindungan Allah

1 Orang yang berlindung pada Yang Mahatinggi, dan tinggal dalam naungan Yang Mahakuasa,
2 boleh berkata kepada TUHAN, "Engkaulah pembela dan pelindungku, Allahku, pada-Mulah aku percaya."

3 Ia akan melepaskan engkau dari bahaya tersembunyi, dan dari penyakit yang membawa maut.
4 Ia akan menudungi engkau dengan sayap-Nya, sehingga engkau aman dalam naungan-Nya; kesetiaan-Nya seperti perisai yang melindungi engkau.
5 Engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam, atau serangan mendadak di waktu siang;
6 akan bencana yang datang di waktu gelap, atau kehancuran yang menimpa di tengah hari.
7 Biar seribu orang tewas di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi engkau sendiri tak akan cedera.
8 Bila engkau memandang di sekelilingmu, engkau melihat orang jahat kena pembalasan.
9 Sebab engkau menjadikan TUHAN pembelamu, Yang Mahatinggi kaujadikan pelindungmu.
10 Maka engkau tak akan kena bencana, rumahmu tak akan kena ditimpa malapetaka.
11 Allah menyuruh malaikat-Nya menjagai engkau, untuk melindungi engkau ke mana saja engkau pergi.
12 Mereka akan mengangkat engkau di telapak tangannya, supaya kakimu jangan tersandung pada batu.
14 Kata TUHAN, "Orang yang mencintai Aku akan Kuselamatkan, yang mengakui Aku akan Kulindungi.
15 Kalau ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawabnya. Di waktu kesesakan, Aku akan menolong dia; dia akan Kuluputkan dan Kuberi kehormatan.
16 Dia akan Kupuaskan dengan umur panjang, dan Kuselamatkan.

Sejak Darlene Zschech didiagnosis mengidap kanker payudara pada 11 Desember 2013, ia dan suaminya tidak pernah menyerah. Mereka terus percaya bahwa Tuhan mampu melakukan mukjizat. “Dunia medis tidak suka menggunakan kata ‘sembuh’, tetapi ‘remisi’. Namun, saya meyakini pernyataan Tuhan atas hidup saya. Saya memperkatakan Mazmur 91 kepada diri saya setiap hari. Saya minum obat-obatan saya dan juga firman Tuhan. Saya berusaha melakukan yang terbaik dan percaya kepada Tuhan untuk sesuatu yang di luar kemampuan saya.” Benar, akhirnya secara ajaib Darlene Zschech berhasil mengalahkan kanker bersama Tuhan.

Orang yang berlindung kepada Tuhan yang hidup memang tidak akan pernah berakhir pada kesia-siaan. Karena Tuhan kita hidup dan dapat dipercaya. Itulah yang hendak disampaikan oleh Pemazmur dalam mazmur yang kita baca hari ini. Mazmur ini membicarakan penderitaan umum yang dihadapi oleh semua orang. Apa pun jenis penderitaan itu, entah sakit penyakit, musuh yang berupaya membinasakan, atau malapetaka lainnya, kalau Tuhan sudah menyatakan perlindungan-Nya maka perlindungan itu sudah pasti. Mazmur ini bukan menjanjikan kekebalan dari penderitaan, melainkan penyertaan, kekuatan, dan kelepasan dari hal tersebut.

Bagi siapakah janji itu diberikan? Pertama, bagi orang yang mengenal nama Tuhan sebagai kubu pertahanan- Nya. Kedua, bagi orang yang senantiasa bersekutu dengan Tuhan dan berseru kepada-Nya. Pribadi yang sama juga dapat melepaskan kita dari sakit-penyakit dan semua permasalahan yang akan menimpa kita. Datanglah kepada- Nya dan berserulah kepada-Nya, Tuhan yang hidup dan layak kita percaya!

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juni 2017

 

 

 

 

 

Posts navigation

1 2 3 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
Scroll to top