Open post

Mendidik lewat Teguran

 

Bacaan  Amsal 1:20-23
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

SUARA HIKMAT

20 Dengarlah ! Hikmat memanggil di jalan-jalan dan berteriak di lapangan-lapangan !
21 Ia berseru di pintu-pintu gerbang dan di tempat-tempat yang ramai:
22 "Hai orang-orang bebal ! Sampai kapan kamu mau tetap demikian? Kapan tiba waktunya kamu berhenti meremehkan pengetahuan dan menolak pelajaran?
23 Dengarkanlah aku apabila aku menegurmu, maka kepadamu akan kunyatakan isi hatiku dan kuajarkan pengetahuanku.

Dahulu saya termasuk anak yang bandel. Saya lebih mengindahkan teguran ayah dibandingkan ibu, karena saya menganggap ibu hanya terlalu banyak bicara. Teguran dan nasihatnya saya anggap bukan karena isi nasihatnya, melainkan karena saya menilai ibu saya cerewet. Kebiasaan itu berlanjut hingga saya SMA. Namun, ketika hati dan pikiran saya mulai terbuka, saya semakin memahami bahwa ajaran ayah dan ibu adalah ajaran yang selalu diberikan karena kasih mereka kepada saya.

Mendidik anak adalah tugas dan tanggung jawab setiap orangtua. Namun, sebagai orangtua kita juga perlu belajar cara mendidik anak seturut perkembangan zaman. Jika dahulu para orangtua sering menggunakan kekerasan verbal maupun fisik sebagai cara mendidik anak, tentu saat ini cara tersebut tidak bisa sepenuhnya, apalagi kita gunakan. Didikan model demikian terkadang cukup berisiko, karena terkadang menjadikan mereka sebagai anak-anak yang menyukai kekerasan, bahkan menjadi pemberontak. Lalu, bagaimana cara mendidik anak yang tepat? Salah caranya adalah menegur buah hati ketika berbuat salah. Sebagai orangtua, jangan pernah kita melakukan pembiaran ketika kita mengetahui anak-anak berbuat salah. Sekali kita menoleransi kesalahan anak, bisa jadi ia akan memiliki anggapan bahwa kita setuju dengan perbuatannya tersebut.

Tegurlah buah hati dengan cara yang baik supaya mereka tidak merasa dihakimi. Berikan mereka pengertian agar mereka menyadari bahwa perbuatan mereka keliru. Teguran yang mendidik adalah jalan kehidupan. Oleh sebab itu, sebagai orangtua jangan pernah ragu, malas, atau bosan menegur buah hati kita ketika mereka melakukan kekeliruan, karena ujungnya pasti baik bagi mereka.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juni 2017

Open post

Berserah Penuh

 

Bacaan  Yesaya 55:1-11
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

TUHAN menawarkan belas kasihan

1 TUHAN berkata, "Marilah kamu semua yang haus, minumlah, air tersedia. Datanglah kamu yang tidak punya uang, terimalah gandum tanpa membayar, dan makanlah ! Anggur dan susu tersedia, terimalah dengan cuma-cuma.
2 Untuk apa membeli sesuatu yang tidak memuaskan, dan bekerja untuk apa yang tidak mengenyangkan? Turutlah perintah-Ku, maka kamu akan makan yang baik, dan menikmati hidangan yang lezat.
3 Dengarlah, hai bangsa-Ku, datanglah kepada-Ku, kamu akan Kuberi hidup sejati. Demi kasih dan kesetiaan yang Kujanjikan kepada Daud, Aku mengikat janji abadi dengan kamu.
4 Sesungguhnya, dia Kujadikan pemimpin dan panglima, saksi dari kuasa-Ku untuk bangsa-bangsa.
5 Kamu akan memanggil bangsa-bangsa asing, dan mereka segera datang kepadamu, demi Aku, TUHAN Allahmu, Allah kudus Israel, sebab Aku telah mengagungkan kamu. "
6 Kembalilah kepada TUHAN selama masih dapat; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat.
7 Hendaklah orang jahat memperbaiki hidupnya, dan mengubah jalan pikirannya. Biarlah ia kembali kepada TUHAN, supaya mendapat belas kasihan-Nya. Hendaklah ia berpaling kepada Allah kita, sebab TUHAN mengampuni dengan murah hati.
8 TUHAN berkata, "Pikiran-Ku bukan pikiranmu, dan jalan-Ku bukan jalanmu.
9 Setinggi langit di atas bumi, setinggi itulah pikiran-Ku di atas pikiranmu, dan jalan-Ku di atas jalanmu.
10 Seperti hujan turun dari langit, dan tidak kembali, melainkan membasahi bumi, menyuburkannya dan menumbuhkan tanam-tanaman, memberi hasil untuk ditabur dan dimakan,
11 begitu juga perkataan yang Kuucapkan tidak kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi berhasil melakukan apa yang Kukehendaki, dan mencapai segala yang Kumaksudkan.

Seorang pemuda berencana pindah kos supaya lebih dekat dengan lokasi pelayanan. Akhirnya, setelah mencari ke sana-kemari, ia pun mendapatkan rumah kos, dengan pemilik rumah yang sangat baik. Namun, baru satu bulan ia berada di sana, ayahnya meninggal dunia sehingga ibunya hanya tinggal seorang diri. Ia pun memutuskan untuk kembali pulang, lalu tinggal di rumah menemani ibunya. Ia pun terpaksa berpamitan dari pelayanan karena terkendala jarak. Rencananya memang berubah, tetapi pemuda tersebut belajar berserah penuh kepada Tuhan.

Sebagai manusia, rancangan kita bisa saja salah atau tidak selaras dengan kehendak Tuhan. Rencana dan rancangan yang terbaik menurut versi kita, dapat gugur atau luntur di tengah jalan. Apa yang kita pikir dan perkirakan hebat, bisa jadi justru dianggap biasa di hadapan Allah. Jalan yang kita anggap paling baik, belum tentu baik pula menurut Allah. Ketika segala sesuatu yang kita rencanakan berubah, langkah yang paling tepat adalah dengan berserah kepada kehendak Tuhan. Percayalah bahwa sekalipun sering kali rencana Tuhan tak terselami oleh pikiran kita, rencana dan jalan Tuhan selalu yang terbaik. Memilih untuk berserah juga berarti kita mengizinkan Dia bekerja dengan lebih leluasa dalam kehidupan kita. Situasi yang getir sekalipun, sanggup diubah oleh-Nya menjadi keadaan yang manis.

Kapan terakhir kali kita berserah penuh? Apakah kita tidak ingat lagi karena sudah terlalu lama? Malam ini kita kembali diingatkan pentingnya berserah kepada Tuhan. Apa pun yang sedang kita alami, percayalah bahwa Allah sedang merenda perkara yang luar biasa bagi kita. Sekarang kita mungkin belum memahaminya, tetapi kelak kita akan mengakui bahwa rencana-Nya yang terbaik.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juni 2017

Open post

Akibat Kemalasan

 

Bacaan  Amsal 10:16-18
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Petuah-petuah Salomo

16 Kalau berbuat baik, upahnya ialah hidup bahagia; kalau berbuat dosa, akibatnya lebih banyak dosa.
17 Siapa mengindahkan teguran akan hidup sejahtera, siapa enggan mengakui kesalahan berada dalam bahaya.
18 Orang yang menyembunyikan kebencian adalah penipu. Orang yang menyebarkan fitnah adalah dungu.

Saya pernah sengaja menunda perbaikan atap rumah yang sedikit retak setelah tertimpa buah mangga milik tetangga sebelah rumah. Akibatnya, begitu tertimpa buah mangga lagi, keretakan itu pun menjadi lubang yang cukup besar. Begitu hujan turun, kebocoran dari atap pun membasahi kursi di ruang tamu. Peristiwa itu pun menjadi pelajaran berharga bagi saya, agar tidak menunda perbaikan rumah. Menunda berarti memperbesar risiko, juga dana yang dikeluarkan untuk perbaikan rumah.

Kebiasaan menunda terkait erat dengan kemalasan. Keduanya sering berkolaborasi untuk menggoda manusia dalam berbagai bidang kehidupan. Firman Tuhan malam ini hanyalah salah satu contoh akibat kemalasan, yang bisa berakibat atap rumah runtuh atau bocor. Peringatan yang bisa diartikan secara harfiah maupun kiasan. Atap yang runtuh atau bocor juga bisa berarti suatu kondisi yang mengakibatkan kesusahan. Kemalasan dan penundaan sering kali juga membuat pelakunya harus mengeluarkan dana esktra untuk perbaikan karena tingkat kerusakan yang lebih parah.

Setiap orang biasanya memiliki pergumulan tersendiri terkait rasa malas. Namun, tak sedikit pula orang yang berhasil mengatasinya. Nasihat firman Tuhan malam ini kiranya bisa menggugah semangat kita untuk segera meninggalkan kemalasan dan kebiasaan menunda. Jika sampai malam ini kita masih bergumul dengan kemalasan dan kebiasaan menunda, ambillah komitmen untuk mulai berubah. Lebih cepat lebih baik dan jangan menunggu sampai kita mendapat “pelajaran” akibat kemalasan atau penundaan. Semakin cepat kita menanggalkan kemalasan, dampak positifnya akan semakin cepat kita rasakan. Selamat memperbaiki diri

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juni 2017

Open post

Menabur dan Menuai

 

Bacaan  Bilangan 12:1-15
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Miryam dihukum

1 Musa telah mengambil seorang wanita Kus menjadi istrinya, dan hal itu dijadikan alasan oleh Miryam dan Harun untuk mencela Musa.
2 Kata mereka, "Apakah melalui Musa saja TUHAN berbicara? Bukankah melalui kita juga Ia berbicara? " TUHAN mendengar apa yang mereka katakan.
3 Musa adalah orang yang sangat rendah hati, melebihi semua orang yang hidup di bumi ini.
4 Tiba-tiba TUHAN berkata kepada Musa, Harun dan Miryam, "Kamu bertiga pergilah ke Kemah-Ku. " Lalu mereka pergi ke situ
5 dan TUHAN turun dalam tiang awan. TUHAN berdiri di pintu Kemah-Nya dan memanggil Harun serta Miryam. Kedua orang itu maju,
6 dan TUHAN berkata, "Dengarlah kata-kata-Ku ini ! Jika di antara kamu ada seorang nabi, Aku menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan-penglihatan, dan berbicara dengan dia dalam mimpi.
7 Tetapi tidak begitu dengan hamba-Ku Musa. Dialah orang yang setia di antara umat-Ku.
8 Dan Aku berbicara dengan dia berhadapan muka, secara jelas dan tidak dengan teka-teki. Bahkan rupa-Ku pun sudah dilihatnya ! Mengapa kamu berani melawan Musa, hamba-Ku itu? "
9 TUHAN marah sekali kepada mereka berdua, dan Ia pergi.
10 Ketika awan itu meninggalkan Kemah TUHAN, tampaklah Miryam kena penyakit kulit yang berbahaya; kulitnya putih seperti kapas. Ketika Harun berpaling kepada Miryam dan melihat bahwa ia sudah kena penyakit itu,
11 berkatalah ia kepada Musa, "Tolonglah, Tuanku, jangan biarkan kami disiksa karena dosa yang kami buat dalam kebodohan kami.
12 Jangan biarkan dia menjadi seperti bayi yang lahir sudah mati, dengan dagingnya setengah busuk. "
13 Maka berserulah Musa kepada TUHAN, "Ya Allah, saya mohon, sembuhkanlah dia ! "
14 TUHAN menjawab, "Andaikata mukanya diludahi ayahnya, bukankah selama tujuh hari ia harus menanggung malu?
Singkirkanlah dia dari perkemahan selama tujuh hari, dan sesudah itu ia boleh masuk kembali. "
15 Lalu Miryam dikeluarkan dari perkemahan selama tujuh hari, dan bangsa itu tidak pindah dari situ sampai Miryam diperbolehkan kembali ke perkemahan.
16 Kemudian mereka meninggalkan Hazerot dan berkemah di padang gurun Paran.

Seorang anggota komsel saya bercerita bahwa sejak muda ibunya selalu menanamkan kepadanya, “Kalau kamu ingin orang lain melakukan seperti yang kamu harapkan, maka lakukanlah hal tersebut lebih dahulu kepada orang lain. Jika kamu ingin orang lain baik padamu, berbaik hatilah lebih dahulu kepada orang lain”.

Prinsip tabur-tuai seperti yang diajarkan dalam Galatia 6:7, “Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” sebenarnya bukan hal baru, atau baru diajarkan pada Perjanjian Baru. Kalau kita melihat peristiwa yang dialami Miryam dan Harun dalam perikop hari ini, murka Allah yang diterima mereka berupa kusta, juga menggunakan prinsip tabur-tuai. Oleh karena Miryam dan Harun memberontak akan kepemimpinan Musa, maka Allah marah kepada Miryam dan Harun. Akibat kemarahan itulah, Allah kemudian menimpakan penyakit kusta kepada Miryam sehingga ia dikucilkan dari lingkungannya selama
tujuh hari lamanya.

Dari peristiwa Miryam dan Harun ini, ada dua poin yang dapat menjadi pelajaran penting bagi kita. Pertama, hormatilah keputusan orang lain dan jangan memandang sebelah mata keputusannya, terutama orang dekat kita. Pemberontakan Miryam dan Harun bermula ketidaksukaan mereka atas keputusan Musa mengambil perempuan Kush. Kedua, belajarlah untuk setuju dengan keputusan Allah, meski tidak sesuai dengan harapan diri sendiri.

Setiap orang akan membuat banyak keputusan dalam hidupnya. Tentunya, kita pun ingin agar keputusan tersebut dihargai, bahkan didukung oleh orang-orang terdekat, bukan? Jika ya, maka lakukan hal ini terlebih dulu kepada orang lain. Ingatlah bahwa apa yang kita tabur, cepat atau lambat akan kita tuai.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juni 2017

Open post

Kaya dalam Segala Hal

 

Bacaan  I Korintus 1:5-9
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Paulus bersyukur kepada Allah

5 Buktinya, kalian sudah diperkaya dalam segala hal, baik dalam segala perkataan maupun pengetahuan. Hal ini terjadi karena kalian bersatu dengan Yesus.
6 Dan hal itu membuktikan bahwa kesaksian yang saya berikan tentang Kristus kepada kalian adalah benar.
7 Dan akibatnya kalian mempunyai semua kemampuan khusus yang diberikan oleh Roh Allah sementara kita menunggu kedatangan Tuhan kita Kristus Yesus.
8 Yesus juga akan selalu menguatkan kalian supaya bisa bertahan sampai pada akhirnya, sehingga kalian tidak bercela pada hari kedatangan Tuhan kita Kristus Yesus.
9 Allah selalu bisa dipercaya. Dialah yang sudah memanggil kalian untuk mendapat bagian dalam hidup bersama dengan Anak-Nya Kristus Yesus— Tuhan kita.

Kalau semua orang ditanya, “Apakah Anda ingin menjadi kaya?”, pasti sebagian besar orang akan menganggukkan kepala. Ya, menjadi kaya adalah impian banyak orang. Tuhan pun mengetahui hal itu. Karena itulah, firman-Nya berkata bahwa di dalam Dia (Kristus), kita telah menjadi kaya dalam segala hal. Wah, kaya dalam segala hal? Apalagi ini, semua pasti menginginkannya!

Namun, jangan terlalu senang dulu. Firman ini sebenarnya tidak berbicara soal kekayaan berwujud materi. Tidak! Firman ini menegaskan ada tiga jenis kekayaan yang Tuhan berikan kepada setiap orang percaya. Pertama, kaya dalam segala macam perkataan (ay. 5). Kita perlu belajar menggali potensi di dalam kata, memilih dan memilahnya sehingga nantinya perkataan-perkataan kita akan menimbulkan harapan, iman, dan semangat bagi setiap orang yang mendengarnya. Kedua, kaya dalam segala macam pengetahuan (ay.5). Ini adalah salah satu bekal untuk menjadi kaya secara materi. Pengetahuan adalah kunci agar kita dapat membuka pintu-pintu inovasi atau penemuan baru. Tanpa pengetahuan, kita tidak akan bisa menjelajahi dan menciptakan hal-hal baru. Ketiga, kaya dalam segala karunia (ay. 7). Karunia menolong dan memampukan kita untuk bisa maksimal dalam area di mana potensi dan bakat kita ada di situ. Kondisi yang juga dapat membuat hidup kita menjadi berkat.

Pernahkah kita menyadari bahwa di dalam Tuhan, sebenarnya kita sudah diperkaya dalam segala hal? Jadi tak ada lagi alasan tidak bisa maju karena merasa tak pandai berkata-kata, tak punya banyak karunia, dan tak terlalu pintar. Yakini dan percayalah pada firman-Nya karena orang yang berhasil di dalam Tuhan adalah yang menyelaraskan hidupnya dengan firman Allah.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juni 2017

Open post

Berkat dalam Komunitas

 

Bacaan Kisah Para Rasul 4:32-37
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Orang percaya saling berbagi harta mereka

32 Seluruh kelompok orang percaya sehati dan sejiwa. Tidak ada orang yang mengatakan bahwa harta yang dimilikinya adalah kepunyaannya sendiri saja. Semua yang dimiliki mereka digunakan untuk kepentingan bersama.
33 Dan dengan kuasa besar rasul-rasul memberitahukan kesaksian mereka bahwa Tuhan Yesus sudah dihidupkan kembali dari kematian. Dan Allah terus saja menunjukkan bahwa Dia sangat baik hati kepada semua orang percaya
34 Pada waktu itu, tidak ada seorang pun dari antara mereka yang berkekurangan. Karena sering terjadi bahwa salah satu dari antara mereka yang memiliki ladang atau rumah, menjual miliknya itu dan hasil penjualannya dibawa

35 dan diserahkan kepada rasul-rasul. Lalu uang itu dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.
36 Hal seperti itu dibuat oleh seorang dari mereka yang bernama Yusuf, yang berasal dari pulau Siprus dan dari keluarga suku Lewi. Rasul-rasul memberi nama baru kepadanya— yaitu Barnabas. Nama itu berarti “orang yang menguatkan orang lain.”
37 Barnabas menjual ladang miliknya, lalu membawa dan menyerahkan uang penjualan ladang itu kepada rasul-rasul.

Saya pernah memiliki pandangan keliru mengenai manfaat hidup dalam komunitas. Saya sempat berpikir, “Untuk apa saya bersekutu atau bergereja, jika di kamar kos saja saya bisa mendengarkan khotbah secara online?” Namun, sejak kuliah, saya mulai menyadari bahwa Tuhan bekerja dalam kehidupan saya melalui komunitas yang saya ikuti. Jika sebelumnya saya cenderung minder, sekarang saya menjadi lebih percaya diri dan belajar banyak hal. Saya pun belajar melayani sebagai singer, pemimpin pujian, bahkan sesekali menyampaikan renungan. Senang sekali rasanya karena Tuhan mengubahkan kehidupan
saya dan memakai saya menjadi berkat bagi sesama.

Cara hidup komunitas yang luar biasa terlihat jelas pada jemaat mula-mula. Alkitab mencatat bahwa jemaat mula-mula hidup sehati dan sejiwa. Mereka hidup dalam kasih karunia yang berlimpah, menganggap milik pribadi sebagai milik bersama, dan tak ada seorang pun yang hidup dalam kekurangan. Kitab yang sama menjelaskan bahwa kehidupan jemaat pada saat itu disukai oleh semua orang (Kis. 2:47). Sungguh luar biasa jika cara hidup berkomunitas itu dapat diterapkan pada masa kini. Kuasa dan kasih Tuhan yang bekerja di dalamnya akan mengubahkan hati dan kehidupan orang-orang di komunitas tersebut. Cara hidup yang diterapkan oleh mereka pun akan menjadi berkat bagi banyak orang.

Malam ini sebelum menutup hari, mari kita ingat sejenak akan komunitas dan gereja lokal kita dimana kita bertumbuh. Berdoalah supaya kasih dan kuasa Tuhan semakin dinyatakan, sehingga lebih banyak orang yang hidupnya diubahkan oleh Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama di sekitarnya

*Dikutip dari renungan Andi Offset Mei 2017

 

 

Open post

Ketika Tuhan Bertindak

 

Bacaan Mazmur 37:1-15
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini

Nasib Orang Jahat dan Orang Baik

1 Dari Daud. Jangan gelisah karena orang jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat salah.
2 Sebab mereka segera hilang seperti rumput, dan layu seperti tanaman hijau.
3 Percayalah kepada TUHAN, dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri itu dan berlakulah setia.
4 Carilah kebahagiaanmu pada TUHAN, Ia akan memuaskan keinginan hatimu.
5 Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN, berharaplah kepada-Nya, Ia akan menolongmu.
6 Ia akan menyatakan kesetiaanmu seperti terang, dan ketulusanmu seperti siang.
7 Nantikanlah TUHAN dengan hati yang tenang, tunggulah dengan sabar sampai Ia bertindak. Jangan gelisah karena orang yang berhasil hidupnya, atau yang melakukan tipu muslihat.
8 Jangan marah dan panas hati, itu hanya membawa celaka.
9 Sebab orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi yang berharap kepada TUHAN akan mewarisi tanah itu.
10 Orang jahat akan lenyap dengan segera, kalau dicari, ia sudah tidak ada.
11 Orang yang rendah hati akan mewarisi tanah itu, dan menikmati kemakmuran yang berlimpah.
12 Orang jahat merencanakan yang jahat terhadap orang baik, dan memandang dia dengan benci.
13 Tetapi TUHAN menertawakan orang jahat, sebab Ia tahu kesudahan orang itu sudah dekat.
14 Orang jahat menghunus pedang dan membidikkan panah untuk membunuh orang miskin dan sengsara, untuk membantai orang yang hidup baik.
15 Tetapi orang jahat akan tertikam oleh pedangnya sendiri, busur mereka akan dipatahkan.

Seorang teman mengalami kebosanan luar biasa dalam kehidupannya. Suatu ketika, ia berkenalan dengan seorang pria, lalu dalam waktu singkat hubungan mereka menjadi dekat. Warna hidupnya pun berubah menjadi lebih ceria. Terlebih karena ia merasa bahwa kejombloannya akan segera berakhir, karena ia mendambakan hubungan serius dengan pria tersebut. Namun, dalam waktu singkat harapan sekaligus relasinya hancur setelah terkuak fakta bahwa pria tersebut ternyata sudah beristri dan mempunyai anak. Namun, pengalaman pahit tersebut juga memberinya “modal” berharga untuk mengingatkan atau menguatkan orang lain dengan pengalaman yang sama.

Bagi teman saya tadi, Tuhan sedang bertindak karena ia telah menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Dia sedang menolong sekaligus menghindarkan dirinya dari pria yang keliru. Benarlah perkataan Pemazmur, “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak” (Mzm. 37:5). Nasihat yang masih relevan untuk diterapkan pada masa kini oleh orang percaya, dalam kondisi apa pun. Ketika kita menyerahkan hidup kepada Tuhan dan percaya kepada-Nya, Dia sanggup melindungi dan meluputkan kita dari apa pun yang dapat membahayakan hidup kita. Terkadang, Dia mengizinkan peristiwa tak mengenakkan untuk kita alami, tetapi semua tetap ada dalam kendali-Nya.

Ada banyak hal dalam kehidupan kita yang tak dapat diprediksi, antisipasi, atau kendalikan sepenuhnya. Itulah sebabnya kita perlu menyerahkan dan mempercayakan hidup kita kepada Allah. Sebagai Bapa yang baik, Allah akan selalu mengawasi hidup kita dan bila ada yang “tidak beres”, percayalah bahwa Dia akan segera bertindak untuk menolong kita.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Mei 2017

 

 

<div class="line-it-button" data-lang="id" data-type="share-e" data-url="https://albata.info/ketika-tuhan-berkata-tidak/" style="display: none;"></div>
<script src="https://d.line-scdn.net/r/web/social-plugin/js/thirdparty/loader.min.js" async="async" defer="defer"></script>
<div class="line-it-button" data-lang="id" data-type="like" data-url="https://albata.info/ketika-tuhan-berkata-tidak/" style="display: none;"></div>
<script src="https://d.line-scdn.net/r/web/social-plugin/js/thirdparty/loader.min.js" async="async" defer="defer"></script>

Open post

Ketika Tuhan Berkata “Tidak”

Bacaan Lukas Matius 7:7-11
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Nasihat Yesus untuk bertekun dalam doa*

7 “Mintalah terus kepada Allah, maka kamu akan menerimanya. Carilah terus, maka kamu akan menemukannya. Ketuklah terus, maka pintu akan dibukakan bagimu.
8 Karena setiap orang yang meminta dengan tekun akan menerima apa yang dia minta. Setiap orang yang mencari dengan tekun akan mendapatkan apa yang dia cari. Dan setiap orang yang terus mengetuk pintu, maka pintu itu akan dibukakan baginya.
9 “Kalau anakmu minta makanan,** pastilah kamu tidak akan memberi dia batu— bukan?!
10 Atau kalau anakmu minta ikan, kamu pasti tidak akan memberinya ular yang berbisa— bukan?!
11 Kalau kamu yang jahat tahu memberikan yang baik kepada anak-anakmu, terlebih lagi Bapamu yang di surga! Dia pasti akan memberikan yang baik kepada setiap kita yang meminta kepada-Nya.”

Awal Januari 2015, Saya melangsungkan pertunangan dan berencana akan menikah enam bulan kemudian. Semua persiapan pun sudah dilakukan. Namn hingga H-3 sebelum pernikahan berlangsung, pihak laki-laki membatalkan rencana pernikahan secara sepihak. Peris­
tiwa itu membuat hati saya hancur dan impian untuk hidup berkeluarga seakan musnah. Saya juga sempat mempertanyakan kebenaran firman Tuhan bahwa Dia adalah Bapa yang baik. Namun, seiring berjalannya wak­tu, kebenaran pun mulai terkuak. Sebelum kami me­nikah, ternyata mantan tunangan saya telah hidup ber­sama wanita lain! Saya bersyukur, karena Tuhan sangat menyayangi saya. Ia tidak ingin saya memasuki pernikahan kelabu karena menikah dengan pria yang salah.

Dalam perikop bacaan kita malam ini tertulis,“Kalau anakmu minta makanan,** pastilah kamu tidak akan memberi dia batu— bukan?!
Atau kalau anakmu minta ikan, kamu pasti tidak akan memberinya ular yang berbisa— bukan?!  (ay. 9-10). Melalui ayat tersebut, Yesus sengaja membuat perbandingan antara Bapa Surgawi dan orangtua di dunia. Jika orangtua yang jahat sekalipun tidak akan sengaja memberi yang tidak baik kepada anaknya, apalagi Bapa Surgawi yang baik! Namun terkadang, dalam hikmat-Nya yang luar biasa, Allah menolak keinginan kita atau mengizinkan suatu peristiwa terjadi, karena Dia ingin memastikan kita menerima yang terbaik.

Bagi Allah tidak ada yang sulit untuk mengabulkan doa atau keinginan kita, asalkan sesuai dengan kehendak-Nya. oleh-Nya, Jika permintaan mungkin Dia atau sedang keinginan mencegah kita tidak sesuatu dikabulkan yang buruk atas kehidupan kita. Tetaplah bersyukur dan percaya
bahwa Dia adalah Bapa yang baik.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Mei 2017

Catatan Kaki:
*Perikop:
Luk. 11:9-13
**7:9 makanan
Secara harfiah, “roti.” Di Israel pada waktu Yesus mengajar, makanan pokok mereka adalah roti. Tim penerjemah menerjemahkan sebagai ‘makanan’ karena untuk kebanyakan orang Indonesia, roti adalah makanan istimewa dan bukan makanan pokok.

 

Open post

Pikiran Kristus

Bacaan Lukas 1 Korintus 2:6-16
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Hikmat Allah 

6 Tetapi sebenarnya, waktu bersama orang-orang yang dewasa secara rohani, kami mengajarkan hikmat. Tetapi hikmat kami tidak berasal dari dunia ini, dan tidak berasal dari penguasa-penguasa dunia yang akan segera dibinasakan.
7
Yang kami ajarkan adalah hikmat Allah yang dulu tersembunyi bagi manusia sejak penciptaan dunia. Tetapi sekarang hikmat itu sudah Allah nyatakan kepada kita, supaya kita ikut menikmati kemuliaan-Nya.

8 Sebelumnya, para penguasa dan raja-raja dunia ini tidak pernah mengerti hikmat itu. Kalau mereka mengerti, maka mereka tidak akan menyalibkan Yesus— Tuhan kita yang mulia.
9 Tetapi hal itulah yang dimaksudkan ayat Kitab Suci ini: “Tidak ada manusia yang pernah melihat, mendengar, ataupun membayangkan apa yang sudah Allah siapkan bagi orang-orang yang mengasihi Dia.”*
10 Tetapi sekarang Allah sudah menunjukkan hal-hal itu kepada kita melalui Roh-Nya! Karena Roh Kudus itu mengetahui segala sesuatu— bahkan rahasia Allah yang tersembunyi sekalipun.
11 Contohnya, tidak seorang pun tahu pikiran orang lain, kecuali rohnya yang tinggal di dalam dia. Demikian juga halnya dengan Allah: Tidak ada yang tahu pikiran Allah, kecuali Roh Allah sendiri.
12 Dan sekarang kita tidak menerima roh yang berasal dari dunia ini, tetapi kita sudah menerima Roh Allah sendiri! Maka dengan bantuan Roh-Nya kita diberikan kemampuan untuk mengerti hal-hal yang Allah berikan kepada kita karena kebaikan hati-Nya.
13 Jadi waktu kami mengajarkan hal-hal rohani tersebut, kami tidak menyampaikannya dengan menggunakan kata-kata yang diajarkan oleh hikmat manusia. Melainkan kami menggunakan kata-kata yang diberikan oleh Roh Kudus kepada kami. Dengan demikian kata-kata hikmat dari Roh Kudus dipakai untuk menjelaskan hal-hal rohani.
14 Tetapi seorang yang tidak hidup bersama Roh Allah tidak bisa menerima ajaran yang berasal dari Roh Allah itu. Karena orang seperti itu akan berpikir bahwa ajaran itu merupakan suatu kebodohan. Dia tidak mungkin mengerti, karena ajaran dari Roh Allah hanya bisa dimengerti dengan bantuan Roh Allah.
15 Oleh karena itu, kita yang bersatu dengan Roh Allah bisa menilai semua ajaran rohani yang dalam. Sedangkan orang-orang yang belum menerima hikmat dari Roh Allah tidak mampu menilai hal apa pun tentang kita. Hal ini sesuai dengan Firman Allah yang berkata,
16 “Manusia tidak mungkin mengetahui pikiran TUHAN! Siapa pun tidak mampu memberikan nasihat kepada-Nya.”** Oleh karena itu hal yang sangat luar biasa bagi kita adalah: Melalui Roh-Nya kita diberikan kemampuan untuk berpikir seperti Kristus!

Sampai malam ini, kita mungkin tak bisa hadir pikir dengan perilaku dan perangai manusia yang semakin tidak masuk akan. Ada banyak orang melakukan kejahatan, baik terhadap diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat pada umumnya. Misalnya, orang yang sengaja merusak dirinya
dengan mengonsumsi narkoba atau minuman keras, atau orang yang tega melukai pasangan maupun anaknya karena keinginannya tidak dipenuhi. Belum lagi deretan daftar tindak kejahatan dengan motif yang semakin lama semakin sukar diterima logika. Mengamati semuanya itu, terkadang kita mungkin bertanya, “Apa yang ada di pikiran mereka saat melakukan semuanya itu?”

Kami memiliki pikiran Kristus. Penegasan ini disam­ paikan oleh para rasul ketika menasihati jemaat di Korintus. Apakah mungkin seseorang memiliki pikiran Kristus? Bagi mereka yang masih hidup dengan cara duniawi—Alkitab menyebut dengan istilah ‘manusia duniawi’—hal tersebut sukar untuk dimengerti. Namun, bagi manusia rohani— sebutan bagi mereka yang memberi diri untuk hidup dipimpin oleh
Roh Kudus— maka hal tersebut mungkin. Orang yang memiliki pikiran Kristus akan memikirkan hal-hal yang sesuai kehendak Allah (bdk. Flp. 4:8), yang akan terwujud melalui sikap dan perbuatannya. Mustahil seseorang mengaku memiliki pikiran Kristus, tetapi orang yang sama sering melakukan perbuatan yang melanggar Firman Tuhan.

Mungkin selama ini kita memiliki kerinduan untuk memiliki pikiran Kristus, tetapi belum mampu mewu­judkannya. Berdoalah agar kita dimampukan untuk melatih diri agar semakin hari, kita semakin memiliki pikiran Kristus, sehingga kita terhindar dari melakukan perbuatan yang
tidak memuliakan Kristus dalam keseharian kita.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Mei 2017

Catatan Kaki:
*2:9
Yes. 64:4
**2:16 Yes.
40:13

 

Open post

Berhenti Meremehkan

Bacaan Lukas 16:10-13
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

10 “Setiap orang yang bisa dipercaya dalam hal-hal kecil juga akan bisa dipercaya dalam hal-hal besar. Dan setiap orang yang tidak jujur dalam hal-hal kecil juga tidak akan jujur dalam hal-hal besar.
11 Jadi, kalau kamu ternyata tidak bisa dipercaya untuk mengurus harta duniawi dengan jujur, maka Allah tidak akan mempercayakan harta surgawi kepadamu.
12 Dan kalau ternyata kamu tidak bisa dipercaya untuk mengurus harta yang sebenarnya bukan milikmu— tetapi milik Allah, maka kamu tidak akan diijinkan memiliki apa pun di surga.
13 “Perhatikanlah contoh ini: Tidak baik kalau seseorang mempunyai dua majikan. Karena tidak mungkin dia melayani kedua-duanya dengan baik. Tentu dia akan mengasihi dan setia kepada majikan yang satu, tetapi benci dan masa bodoh terhadap majikan yang lain. Demikian juga, kamu tidak bisa menjadi hamba Allah dan sekaligus menjadi hamba uang.”

Suatu ketika, seorang pemburu asal Jepang berburu di daerah Maroko. Ia lalu meninggalkan senapannya untuk seorang penduduk setempat. Orang itu lalu menjual senapan tersebut kepada temannya, lalu diserahkan kepada kedua anaknya yang biasa menggembalakan kambing domba. Tak disangka mereka menembakkannya pada sebuah bus yang lewat. Peluru mengenai turis Amerika yang ada di dalam bus itu. Polisi kemudian
melakukan penyelidikan dan memanggil semua pihak yang dianggap terlibat. Alhasil, berawal dari hal sepele, tiga negara terlibat konflik, yakni Jepang, Maroko, dan Amerika Serikat. Kisah di atas merupakan cuplikan dari film Babel.

Dalam kehidupan ini, terkadang kita sering men­ dengar perkataan, “Ah, hanya tugas kecil, tidak dikerjakan hari ini juga tidak apa-apa. Masih ada besok, jadi kalau tertunda sebentar, ya tidak masalah. Datang terlambat sedikit, sepertinya tidak masalah.” Ya, orang yang sama mungkin tak berpikir bahwa hal-hal kecil yang selama ini diremehkan akan membawa dampak besar atau buruk bagi orang lain. Malam ini, firman Tuhan mengajarkan agar kita setia dan menjadi benar dalam perkara-perkara kecil. Siapa pun yang melakukannya, akan mampu setia dan hidup benar juga untuk perkara-perkara yang besar.

Jika selama ini kita terbiasa menyepelekan atau menganggap remeh hal-hal kecil, sebaiknya kita mulai tinggalkan kebiasaan tersebut. Mulailah memberi per­hatian pada hal-hal kecil, sederhana, atau yang biasa diabaikan oleh banyak orang! Sebab, orang yang terbiasa memperhatikan hal kecil, biasa menghargai perkara- perkara sepele, suatu saat ia akan dipercaya untuk hal yang lebih besar.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Mei 2017

 

Posts navigation

1 2 3 9 10 11 12 13 14 15 16
Scroll to top