Open post

Season in Life

Bacaan Kejadian 8:22
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

22 "Selama dunia ini ada, selalu akan ada masa menanam dan masa menuai, musim dingin dan musim panas, musim kemarau dan musim hujan, siang dan malam."

Bila Indonesia mengenal dua musim: kemarau dan hujan, Amerika Serikat mengalami empat musim, masing-masing dengan perubahan suhu yang cukup besar. Itu artinya, masyarkat di sana harus menyesuaikan hidup empat kali pula dalam setahun. Setiap musim mempunyai ciri khas. Rendahnya temperatur selama musim dingin orang-orang mengurangi kegiatan di luar ruangan. Semen­tara, musim semi merupakan pilihan mahasiswa-maha­siswa di Amerika Serikat, ditandai dengan tingginya tingkat kehadiran di kelas. Pada musim panas juga banyak dipakai sebagai masa liburan para pelajar dan mahasiswa. Sedangkan, musim gugur bermula dengan cuaca hangat sebagai kelanjutan dari musim panas. Namun perlahan-lahan temperatur udara semakin menurun, dibarengi rontoknya dedaunan.

Bukan hanya Amerika Serikat yang memiliki empat musim, kehidupan kita juga memilikinya. Musim semi adalah periode dari kesegaran dan kehidupan baru, musim panas adalah periode pertumbuhan dan produktivitas, musim gugur adalah waktu panen dan upah dari karya yang sudah dikerjakan, dan musim dingin adalah musim tidur panjang dan penutupan akhir. Artinya, kehidupan manusia akan mengalami kesulitan terus sepanjang hidupnya atau tak selamanya perjalanan hidup manusia akan selalu mulus. Ada saatnya untuk berjuang, ada saatnya untuk menikmati hasil. Ada waktunya menabur dan ada waktunya menuai apa yang ditaburnya. Siklus ini akan dialami manusia sepanjang hidupnya di dunia.

Itu sebabnya, di dalam menjalani kehidupan ini sebaiknya kita tidak mengandalkan diri sendiri melainkan bergantunglah kepada Allah. Karena, Dia adalah Allah yang setia bahkan di setiap musim kehidupan Dia akan mendampingi kita melewatinya.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Mei 2017

 

Open post

Teladan Kasih dalam Keluarga

Bacaan 1 Yohanes 4:7-21
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Kasih berasal dari Allah

7 Saudara-saudari yang saya kasihi, marilah kita saling mengasihi. Karena kasih itu berasal dari Allah, dan setiap orang yang mengasihi sudah mendapat kelahiran baru dari Allah dan mengenal Allah.
8 Kalau seseorang tidak mengasihi saudaranya seiman, berarti dia tidak mengenal Allah, karena Allah mengasihi semua orang.
9 Dan inilah caranya Allah menyatakan kasih-Nya kepada kita: Dia mengutus Anak-Nya yang satu-satunya ke dalam dunia ini supaya kita bisa menerima hidup yang selama-lamanya melalui Anak-Nya.
10 Maka nyatalah kasih yang luar biasa itu: Kasih yang luar biasa bukan ketika kita mengasihi Allah, tetapi ketika Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita— yaitu ketika Allah mengutus Anak-Nya untuk menjadi kurban perdamaian yang menghapus dosa kita di mata Allah, sehingga Allah tidak marah lagi kepada kita.
11 Saudara-saudari yang saya kasihi, kalau Allah begitu mengasihi kita, maka kita juga harus saling mengasihi.
12 Seorang pun belum pernah ada yang melihat Allah. Tetapi kalau kita saling mengasihi, maka Allah hidup bersatu dengan kita, dan kasih-Nya nyata dengan sempurna melalui kita.
13 Beginilah caranya kita bisa mengetahui kalau kita hidup bersatu dengan Allah dan Dia hidup bersatu dengan kita: Melalui Roh-Nya yang sudah diberikan kepada kita.
14 Kami sendiri— yang sudah melihat dan menyaksikan Yesus, bersaksi kepada kalian bahwa hal ini benar: Allah Bapa sudah mengutus Anak-Nya menjadi Raja Penyelamat bagi manusia di dunia ini.
15 Siapa saja yang mengaku, “Saya percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah,” maka Allah bersatu dengan dia, dan dia bersatu dengan Allah.
16 Jadi kita sudah mengenal dan percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah mengasihi semua manusia. Dan kalau kita tetap mengasihi saudara-saudari kita, berarti kita tetap bersatu dengan Allah, dan Allah bersatu dengan kita.
17 Waktu kita hidup bersatu dengan Allah, kasih Allah semakin nyata dan sempurna di antara kita. Oleh karena itu kita tidak takut lagi akan Hari Pengadilan, karena sudah terbukti bahwa kita hidup di dunia ini sama seperti Kristus hidup.
18 Kalau kasih dari Allah itu berada di dalam hati kita, berarti kita tidak akan takut lagi kepada hukuman Allah. Karena kasih yang sempurna menghilangkan ketakutan. Siapa yang masih takut diadili oleh Allah, berarti dia masih menganggap dirinya layak dihukum. Jadi orang yang takut seperti itu belum mengalami kasih Allah yang sempurna itu.
19 Hendaklah kita saling mengasihi, karena Allah yang sudah terlebih dahulu mengasihi kita. 
20 Kalau seseorang berkata, “Saya mengasihi Allah,” tetapi dia masih membenci saudaranya, maka dia adalah penipu. Orang yang tidak mengasihi saudaranya yang kelihatan tidak mungkin bisa mengasihi Allah yang tidak kelihatan. 
21 Dan memang Allah yang sudah memberikan perintah ini kepada kita: Siapa yang mengasihi Allah harus mengasihi saudaranya juga.

Mengasihi menjadi salah satu ciri khas pengikut Kristus. Bahkan salah satu buah Roh adalah kasih. Sudah ribuan kali kita baca  dan renungka tentang kasih dalam kontek pengajaran. Bagaimana dengan praktiknya? Sepertinya banyak orang percaya yang masih lupa meminta hikmat untuk melakukan kasih itu, hingga hidupnya kurang memperlihatkan buah-buah kasih itu. Tidak jarang, kita tidak segan menyakiti saudara kandung bahkan orang tua atau anak kita secara verbal hingga non verbal.

Nats pada ayat 20 terasa semacam teguran bagi kita. Mana mungkin orang berkata mengasihi Allah tetapi masih membenci saudaranya? Ia adalah pendusta. Mengapa bisa hal itu terjadi? Pertama, orang yang tinggal dalam Allah, mengasihi-Nya harus hidup dalam kasih kepada
semua orang, karena Allah adalah kasih itu sendiri. Kedua, bagaimana mungkin seseorang mengasihi Allah yang tidak kelihatan sementara ia gagal mengasihi saudaranya yang kelihatan? “Saudara” di sini bisa dalam konteks luas: bisa sesama, dalam persekutuan; atau konteks kecil, sebagai saudara dalam keluarga. Dua-duanya sama, orang-orang yang sering bersama kita, di sekitar kita. Artinya, Allah berkehendak agar kita menyatakan kasih itu, pertama- tama dirasa buahnya oleh orang-orang dekat kita.

Kiranya sebagai keluarga kita mampu menerapkan hal ini dalam keluarga karena keluarga adalah tempat pembuktian pertama Roh itu berbuah nyata atau tidak. Percayalah, Roh Kudus sudah memeteraikan kita sebagai anak-anak Allah, sehingga tugas kita menjaga, merawat dan terus menumbuhkannya agar berbuah. Mari kita sepakat semakin menerapkan buah-buah kasih itu dengan menerapkan sikap saling mengasihi, saling rukun, saling penuh pengampunan terhadap sesama saudara.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Mei 2017

 

Open post

Jangan Berhenti Bersinar

Bacaan Mazmur 84:12
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

11 ( 84 - 12 ) Sebab TUHAN Allah pelindung kita dan raja yang agung, yang menganugerahi kita kasih dan kehormatan. Ia tak pernah menolak apa pun yang baik terhadap orang yang hidupnya tidak bercela.

Hampir setiap orang menyukai pemandangan ketika bulan purnama menghiasi langit pada malam hari. Bulan sebenarnya tidak memancarkan cahaya dari dirinya sendiri. Ia hanya memantulkan sinar yang dipancarkan oleh matahari, lalu meneruskannya untuk menerangi kegelapan malam. Seandainya bulan bisa mendengar dan memiliki hati, ia mungkin akan bangga dan tersenyum senang karena kehadirannya bisa memberi manfaat bagi kehidupan manusia. Namun, ia mungkin juga bisa menjadi lupa diri, terutama ketika ia mulai melupakan bahwa “tugasnya” hanya memantulkan sinar matahari ke bumi.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita akan keberadaan Tuhan Allah sebagai Matahari dan Perisai. Jika Allah adalah “Sang matahari”, maka kita diibaratkan sebagai bulan yang memantulkan sinar kemuliaan Allah di bumi ini. Ia memberikan kasih-Nya, mengizinkan kita menerima kemuliaan-Nya, dan tidak menahan ke­ baikan yang memang ingin diberikan kepada umat-Nya. Namun, ingatlah bahwa semua itu diberikan supaya kita memancarkan kasih dan kemuliaan-Nya di bumi serta menjadi saksi bagi-Nya. Sebagai “pemantul” dari kemuliaan Allah, kita juga perlu melewati proses demi proses yang Dia izinkan untuk kita alami. Seperti bulan yang melewati fase demi fase sebelum menerima cahaya penuh yang dikenal sebagai bulan purnama, demikianlah hidup kita akan memancarkan kemuliaan Allah secara penuh setelah proses dari-Nya kita lewati.

Sebagaimana bulan sampai malam ini belum berhenti memantulkan sinar yang diterimanya dari matahari, kita pun jangan pernah berhenti untuk memancarkan terang bagi sekeliling kita. Teruslah “bersinar” karena dunia ini sedang membutuhkan kelembutan cahaya purnama di
tengah kegelapan malam.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Mei 2017

 

Open post

Merasa Cukup

Bacaan Filipi 4:10-20
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Ucapan terima kasih dari Paulus kepada jemaat di Filipi

10 Tuhan memberikan sukacita yang luar biasa kepada saya karena ternyata kalian masih mengingat saya yang dipenjarakan di sini dengan mengirimkan bantuan lagi. Memang kalian selalu peduli dengan keadaan saya, tetapi biasanya kalian tidak mempunyai kesempatan untuk membantu.
11 Saya mengatakan hal itu bukan karena saya masih merasa kekurangan, karena saya sudah terlatih untuk memuaskan diri dalam segala keadaan.
12 Jadi saya tahu bagaimana memuaskan diri— baik ketika hidup dalam kekurangan maupun dalam kelebihan. Karena saya sudah menemukan rahasia bagaimana caranya bisa merasa puas dalam segala keadaan— baik kenyang maupun lapar, baik kaya maupun miskin.
13 Saya bisa menghadapi segala keadaan karena Kristus yang selalu memberi kekuatan kepada saya!
14 Walaupun begitu, saya senang dan berterimakasih bahwa kalian sudah menolong saya dalam kesusahan yang saya alami sekarang ini.1
5
Memang kalian tahu bahwa waktu pertama kali saya meninggalkan kalian di Makedonia untuk memberitakan Kabar Baik di tempat lain, tidak ada jemaat lain yang terlibat penuh— yaitu yang sungguh-sungguh menjadi sahabat sekerja saya, dan yang menerima berkat juga karena berulang kali mendukung saya dengan dana. Hanya kalianlah yang mendukung seperti itu.

16 Dan ketika saya melayani di Tesalonika, kalian sudah mengirimkan bantuan beberapa kali untuk mencukupi kebutuhan saya.
17 Saya mengatakan hal itu bukan untuk mencari bantuan lagi dari kalian! Tetapi saya mau supaya setiap kalian diberkati secara berlimpah-limpah karena kalian menabung harta di surga.
18 Semua kebutuhan saya sudah terpenuhi— bahkan saya mempunyai lebih dari yang saya butuhkan, karena Epafroditus sudah membawa bantuan kalian kepada saya. Bagi Allah, pemberian kalian itu merupakan suatu persembahan yang harum, dan Dia sudah menerima persembahan itu dan berkenan atasnya.
19 Allah yang saya layani akan membalasnya dengan mencukupi segala kebutuhanmu juga, karena Dia akan melimpahkan segala kekayaan rohani— yaitu kemuliaan surgawi, kepada kita yang bersatu dengan Kristus Yesus.
20 Kemuliaan bagi Allah dan Bapa kita untuk selama-lamanya! Amin! 

Wanita pada umumnya sangat suka berbelanja, meskipun pada akhirnya tak semua barang-barang hasil belanjanya akan langsung terpakai. Ada banyak alasan wanita melakukan hal itu. Apapun alasannya itu, dibandingkan pria pada dasarnya wanita rela menghabiskan uang untuk segala sesuatu yang membuat mereka bahagia dan merasa lebih baik. Namun, perlu diingat bahwa keinginan untuk berbelanja tanpa didasari kebutuhan
perlu dikendalikan agar tak menjadi kesenangan sesaat.

Jika menuruti hawa nafsu, manusia tidak akan pernah merasa cukup. Bukan hanya hal belanja, kita juga perlu mengendalikan diri sendiri dalam segala hal yang sifatnya jasmani. Kita perlu merasa cukup atas apa yang ada pada kita. Ketika diri sendiri tidak mampu “merasa cukup” akan sesuatu, kecenderungan untuk jatuh dalam dosa itu lebih besar. Ini berbahaya!

Bahaya ini disadari betul oleh Paulus. Itu sebabnya, dalam pelayanannya Paulus tidak membiarkan dirinya bersikap “aji mumpung”. Ia tidak memanfaatkan statusnya sebagai rasul besar untuk memperoleh keuntungan pribadi. Paulus justru melatih dirinya untuk bersyukur kepada Tuhan dalam segala hal dan keadaan yang dialaminya. Tujuannya, supaya: (1) Paulus tetap bergantung dan mengandalkan Tuhan. (2) Paulus tetap bersyukur kepada Tuhan atas segala rahmat-Nya. (3) Paulus selalu menyadari bahwa Tuhan yang dilayaninya adalah Tuhan yang memelihara
kehidupannya.

Kuncinya, senantiasa bersyukur! Bersyukurlah de­ngan makanan yang tersedia, bersyukurlah untuk pasang­an saudara, bersyukurlah untuk tempat tinggal yang saudara tempati sekarang, bersyukurlah untuk kendaraan yang saudara miliki, bersyukurlah atas tubuh saudara saat ini, bersyukurlah senantiasa hingga saudara merasa cukup dengan karunia Tuhan.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Mei 2017

 

Open post

Pasrah atau Berserah

Bacaan Mazmur 22:1-9
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Doa di waktu kesusahan dan nyanyian Pujian

1 Untuk pemimpin kor. Menurut lagu: Rusa di kala fajar. Mazmur Daud. ( 22 - 2 ) Allahku, ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.
2 ( 22 - 3 ) Ya Allahku, aku berseru di waktu siang, tetapi Engkau tetap diam. Aku berdoa di waktu malam, hatiku tidak juga tenang.
3 ( 22 - 4 ) Namun Engkau Raja Yang Mahasuci, yang dipuji-puji oleh Israel.
4 ( 22 - 5 ) Nenek moyang kami berharap kepada-Mu, mereka berharap, dan Engkau menyelamatkan mereka.
5 ( 22 - 6 ) Mereka berseru kepada-Mu dan diluputkan; mereka berharap dan tidak dikecewakan.
6 ( 22 - 7 ) Tetapi aku ini cacing, bukan manusia, dicemoohkan dan dihina orang banyak.
7 ( 22 - 8 ) Semua yang melihat aku, mengejek aku, mencibirkan bibir dan menggelengkan kepala.
8 ( 22 - 9 ) Kata mereka, "Biarlah ia mengandalkan TUHAN, supaya TUHAN menyelamatkan dia, kalau TUHAN senang kepadanya ! "
9 ( 22 - 10 ) Engkaulah yang mengeluarkan aku dari kandungan, dan membuat aku aman di pangkuan ibuku.

Beratnya pergumulan hidup yang kadang membenturkan kita pada ketiadaan jawaban yang melegakan hati membuat banyak orang memilih untuk berpasrah diri pada keadaan dan situasi hidup yang mereka alami. Sakit kronis yang tak kunjung sembuh, ekonomi hidup yang berat, persoalan keluarga yang rumit dan banyak hal lain membuat banyak orang merasa pasrah dan menyerah karena sudah merasa tak bisa berbuat apa-apa.

Ada perbedaan mencolok antara berpasrah dan berserah. Orang berpasrah itu berfokus pada kekuatan dirinya sementara orang berserah berfokus pada kekuatan yang lebih dari dirinya, yakni kekuatan Tuhan. Ini membuat orang yang berserah tidak takut memasrahkan diri pada Tuhan karena merasa dijamin oleh kekuatan Tuhan. Orang yang berpasrah artinya sudah kehilangan semangat hidup karena merasa sudah buntu dan tak lagi bisa berbuat apa-apa. Sementara orang berserah justru memiliki semangat hidup yang terus diperbarui, karena fokus hidupnya bukan lagi diri sendiri melainkan Tuhan dan kehendak-Nya.

Ketika diperhadapkan pada masalah, respons hati yang berpasrah dan berserah jelas berbeda. Orang yang berpasrah biasanya enggan berusaha lebih, inginnya menyerah dan berputus asa dan selalu merasa tak ada yang bisa menolong mereka. Sementara orang yang ber­serah justru tegar, legowo (berbesar hati) dan terus mengharapkan Tuhan untuk menolong mereka.

Jadi, kunci menang atas pergumulan dan masalah hidup kita sangatlah sederhana. (1) Pilihlah untuk berserah, bukan berpasrah. (2) Menyerahlah pada kehendak Tuhan, bukan kehendak diri sendiri. (3) Andal­kanlah kekuatan Tuhan, bukan kekuatan diri sendiri. (4) Fokuslah pada firman-Nya, bukan pada perasaan kita. 

*Dikutip dari renungan Andi Offset Mei 2017

 

Open post

Hasil Perbaikan

Bacaan Yeremia 29:4-14 
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

4 "Beginilah kata TUHAN Yang Mahakuasa, Allah Israel kepada semua orang yang telah dibuangnya dari Yerusalem ke Babel:
5 ’Menetaplah di situ. Bangunlah rumah-rumahmu. Bukalah ladang dan nikmatilah hasilnya.
6 Kawinlah supaya kamu mendapat anak, dan biarlah anak-anakmu juga kawin supaya mereka pun mendapat anak. Jumlahmu harus bertambah dan tidak boleh berkurang.
7 Bekerjalah untuk kesejahteraan kota-kota tempat kamu Kubuang. Berdoalah kepada-Ku untuk kepentingan kota-kota itu, sebab kalau kota-kota itu makmur, kamu pun akan makmur.
8 Aku TUHAN, Yang Mahakuasa, Allah Israel, memperingatkan kamu supaya jangan membiarkan dirimu ditipu oleh nabi-nabi yang tinggal di tengah-tengahmu atau oleh siapapun juga yang berkata bahwa mereka dapat meramalkan masa depan. Jangan memperhatikan mimpi-mimpi mereka.
9 Mereka memakai nama-Ku untuk menceritakan kepadamu hal-hal yang tidak benar. Aku tidak menyuruh mereka. Aku, TUHAN, telah berbicara.’
10 TUHAN berkata,’Apabila telah genap masa tujuh puluh tahun bagi Babel, Aku akan memperhatikan kamu lagi, dan menepati janji-Ku untuk membawa kamu kembali ke tempat ini.
11 Bukankah Aku sendiri tahu rencana-rencana-Ku bagi kamu? Rencana-rencana itu bukan untuk mencelakakan kamu, tetapi untuk kesejahteraanmu dan untuk memberikan kepadamu masa depan yang penuh harapan.
12 Maka kamu akan minta tolong kepada-Ku. Kamu akan datang untuk berdoa kepada-Ku, dan Aku akan menjawab doamu.
13 Kamu akan mencari Aku dan menemukan Aku, sebab kamu mencari dengan sepenuh hati.
14 Sungguh, kamu akan menemukan Aku. Kamu akan Kukumpulkan dari tengah-tengah setiap bangsa dan dari setiap negeri tempat kamu diceraiberaikan dan dibuang. Kamu akan Kubawa kembali ke negeri asalmu ini serta memulihkan keadaanmu. Aku, TUHAN, telah berbicara.’

Jalan yang sedang diperbaikiseringkali membuat para pengendara terganggu. Saya pun pernah mengalami hal tersebut dan agak mengeluh karena saya harus mengalami kemacetan atau harus mencari jakan alternatif. Mungkin bukan hanya saya yang merasakannya, melainkan pengendara lain juga merasa terganggu. Namun, perbaikan jalan tetap diperlukan supaya nantinya jalan tersebut lebih baik dan nyaman untuk dilalui. Tak jarang, para pengendara seperti dipaksa untuk menaati “aturan” yang dibuat oleh petugas perbaikan jalan, misalnya hanya dapat melintasi
separuh bagian jalan karena separuh bagian jalan lagi sedang diperbaiki.

Bacaan Alkitab kita malam ini merupakan salah satu isi surat yang disampaikan oleh Yeremia kepada orang-orang Yehuda yang sedang berada dalam pembuangan di Babel. Sebelumnya, Allah memerintahkan orang-orang Yehuda untuk menyerahkan diri secara sukarela kepada raja Babel. Namun, raja Zedekia dan beberapa orang Yehuda memberontak, sehingga akhirnya mereka mati terbunuh. Sebaliknya, kehidupan orang-orang Yehuda yang menyerahkan diri kepada raja Babel justru terpelihara. Mereka juga menerima janji Tuhan bahwa mereka akan terlepas sesudah tujuh puluh tahun. Peristiwa tersebut seperti suatu disiplin yang harus dijalani oleh bangsa Yehuda karena ketidaksetiaan mereka kepada Allah.
Namun, tujuan disiplin ini adalah untuk memperbaiki “jalan kehidupan” mereka selanjutnya, yang memberi damai sejahtera dan masa depan yang lebih indah.

Proses perbaikan dalam kehidupan kita pun seringkali tidak enak, tetapi kita perlu merespons dengan ucapan syukur dan penyerahan diri. Percayalah bahwa hasil perbaikan yang Allah kerjakan akan membuat kehidupan kita menjadi lebih indah.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Mei 2017

 

Open post

Makanan Pokok

Bacaan Yohanes 4:31-36 
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

31 Tetapi sebelum mereka datang, kami mengajak Dia makan, dengan berkata, “Guru, mari kita makan!”
32 Tetapi Dia menjawab, “Aku mempunyai makanan yang kalian belum ketahui.”
33 Oleh karena itu kami saling bertanya, “Apakah mungkin seseorang datang membawa makanan untuk Dia?”
34 Lalu Yesus berkata kepada kami, “Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa yang mengutus Aku ke dunia ini— yaitu untuk menyelesaikan tugas yang Dia berikan kepada-Ku.
35 Pada umumnya orang tahu dan berkata, ‘Sesudah empat bulan tibalah waktu panen.’ Tetapi Aku berkata kepada kalian, bukalah mata hati kalian! Lihatlah kebun-kebun ini. Gandum ini sudah siap dipanen.
36 Aku sudah menyuruh orang-orang menanam gandum yang sekarang ini kita lihat. Gandum ini Aku gambarkan sebagai jiwa-jiwa orang yang sedang diselamatkan, dan orang yang sedang memanen adalah gambaran dari kita yang bekerja supaya orang lain bisa masuk ke dalam hidup yang selama-lamanya. Semua orang yang ikut untuk memanen gandum ini akan menerima upah yang tahan untuk selama-lamanya. Jadi akhirnya, mereka yang dulu menanam gandum ini akan bergembira bersama-sama dengan kita yang sekarang sedang melakukan panen.

Makanan pokok adalah makanan yang menjadi gizi dasar. Biasanya tidak menyediakan seluruh nutrisi yang dibutuhkan tubuh sehingga harus dilengkapi lauk-pauk untuk mencukupi kebutuhan nutrisi seseorang dan mencegah kekurangan gizi. Namun, makanan pokok berbeda-beda sesuai tempat dan budaya tetapi biasanya berasal dari tanaman, baik dari serealia seperti beras, gandum, jagung, umbi-umbian (kentang, ubi jalar, talas dan singkong). Roti, mi atau pasta, nasi, bubur, dan sagu dibuat dari sumber-sumber tersebut. Beras dikenal sebagai makanan pokok yang paling banyak di konsumsi rakyat Indonesia.

Seperti kita, Yesus juga mempunyai “makanan pokok” tersendiri. Sebenarnya, “makanan-Nya” adalah satu tetapi seperti 2 sisi mata uang, yang terkesan kronologis. Pertama, melakukan. Maksudnya, dari belum melakukan sesuatu apa pun hingga Dia melakukan tindakan awal dalam suatu aktivitas untuk melakukan kehendak Bapa-Nya. Kedua, menyelesaikan. Kemudian, setelah tindakan awal itu, Dia harus menuntaskan atau tidak berhenti di tengah jalan sehingga pekerjaan Bapa-Nya selesai dengan sempurna. Ketika Yesus menyampaikan hal itu, para murid-Nya, yang menyodorkan makanan itu kepada-Nya, mengira bahwa ada orang yang sudah memberi-Nya makanan jasmani sehingga Dia sudah kenyang dan tidak memerlukan makanan yang disodorkan itu.

Namun, perkiraan mereka keliru. Jika dikaitkan dengan dialog Yesus dengan perempuan Samaria, “ma­kanan” yang Dia maksudkan adalah “makanan ro­hani”. Maksudnya, menjangkau jiwa yang terhilang dan membawanya untuk datang kepada Bapa-Nya. Demikianlah, pengertian melakukan dan menyelesaikan. Dengan mengerti “makanan-Nya”, artinya kita harus segera bertindak untuk meneladani-Nya. Kita harus pergi
dan menjangkau mereka yang terhilang.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Mei 2017

 

Open post

Cara Hidup yang Berbeda

Bacaan Lukas 5:13-16 
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Garam dan Terang dunia
(Mrk. 9:50; Luk. 14:34-35)

13 “Pengaruh baik kalian di dunia ini dapat digambarkan seperti garam dalam makanan. Waktu memasak setiap orang senang mencampur sedikit garam ke dalam masakannya. Tidak ada orang yang mau mencampurkan pasir ke dalam makanan, karena pasir tidak mengandung rasa asin seperti garam. Oleh karena itu, janganlah kalian menjadi seperti pasir, karena itu hanya dibuang keluar lalu diinjak-injak orang. Jadilah seperti garam!*
14 “Kamu seperti terang dalam dunia yang gelap ini. Jadi kamu seperti kota yang terletak di atas bukit. Terangnya bersinar dan kota itu tidak bisa disembunyikan.
15 Begitu juga, tidak ada orang yang menyalakan lampu lalu menutupnya dengan tempayan. Tetapi lampu selalu ditaruh di tempat yang tinggi, supaya menerangi semua orang yang ada di dalam rumah.
16 Begitulah hendaknya terangmu menyinari orang lain. Maksud-Ku, biar orang-orang lain melihat perbuatan-perbuatan baik yang kamu lakukan, lalu memuliakan Bapamu yang di surga.”

Saya mengenal seorang pria yang hidup seorang diri pada masa tuanya. Kabarnya, anak-anaknya tinggal diluar kota, tetapi ia sendiri memilih tetap tinggal di sebuah kota kcamatan kecil. Apakah keadaan ini lantas membuatnya hidup tanpa semangat dan mengasihani diri? Ternyata tidak! Sedapat mungkin ia menjalani hidup untuk menjadi berkat bagi orang lain, terutama lewat hobi fotografinya. Saya sendiri pernah diberi selembar foto, hasil jepretan kameranya dalam suatu acara, tanpa harus membayar serupiah pun!

Ada banyak orang menjalani hidup dalam kesendirian, tetapi mereka memilih untuk mengasihani diri sendiri atau meratapi nasib. Namun, tak sedikit yang memilih cara hidup yang berbeda, seperti dilakukan oleh Pak Djum, nama pria dalam cerita di atas. Kehidupannya seperti garam yang memberi rasa dan terang yang bercahaya dalam kegelapan malam. Mungkin yang dilakukan tak banyak, tetapi cukup memberi rasa, seperti garam yang dilarutkan ke dalam sepanci masakan atau seperti nyala api lilin yang bermanfaat untuk menerangi ruangan. Ajaran Yesus mengenai garam dan terang ditujukan bagi orang percaya pada sepanjang zaman. Ajaran yang masih relevan untuk diterapkan sampai hari ini.

Yesus merindukan, setiap orang yang mengakui dirinya sebagai anak-anak Allah, wajib memuliakan Allah melalui cara hidup yang memberi dampak dan bermanfaat bagi sesamanya. Bagaimana dengan cara hidup kita hari-hari ini? Seumpama garam, apakah kita masih cukup asin untuk “memberi rasa” bagi orang lain? Seumpama pelita, apakah kehidupan kita cukup menerangi kegelapan yang
ada di sekitar kita?

*Dikutip dari renungan Andi Offset Mei 2017

Catatan Kaki:
*5:13 Ayat 13 Secara harfiah (dengan informasi tersirat) bisa diterjemahkan seperti ini: “Kalian masing-masing seperti garam (menggambarkan pengaruh baik kalian) bagi orang-orang di dalam dunia ini. Tetapi kalau rasa asin garam hilang, tidak mungkin membuatnya menjadi asin lagi. Garam itu (menjadi seperti pasir saja) akan dibuang ke luar dan diinjak-injak orang.”

Open post

Term and Condition Apply

Bacaan Lukas 9:22-27 
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Yesus mulai mengajar bahwa Dia akan menderita dan dibunuh
(Mat. 16:21-28; Mrk. 8:30–9:1)

22 Kemudian kata Yesus, “Aku— yaitu Anak Manusia,* sudah ditentukan Allah untuk banyak menderita dan ditolak oleh para pemimpin Yahudi, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat. Kemudian Aku akan mati dibunuh, tetapi pada hari ketiga Aku akan dihidupkan kembali.”
23 Kemudian Dia berkata lagi kepada semua murid-Nya, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, dia harus meninggalkan kepentingannya sendiri* dan mengikut Aku setiap hari dengan pikiran seperti ini, ‘Sampai mati pun— bahkan sampai mati disalibkan,*** saya tidak akan mundur!’
24 Karena setiap orang yang berjuang untuk mempertahankan nyawanya masih akan tetap meninggal dunia. Tetapi orang yang mati dibunuh karena mengikut Aku, dia akan hidup selama-lamanya.
25 Coba pikir: Apa gunanya kamu menjadi kaya?— bahkan sampai memiliki semua harta di dunia, kalau kamu tidak memiliki hidup selama-lamanya dan dirimu menjadi binasa.
26 Setiap orang yang malu mengakui seperti ini, ‘Saya mengikut Yesus dan ajaran-Nya,’ Aku juga tidak akan mengakui dia sebagai pengikut-Ku ketika Aku datang nanti dalam kemuliaan-Ku, dan kemuliaan Bapa-Ku, dan kemuliaan para malaikat surgawi.
27 Yang Ku-katakan ini benar: Di antara kalian yang berada di sini, beberapa orang tidak akan mati sebelum melihat saat Allah mulai mendirikan kerajaan-Nya di dunia ini.”****

Tentu kita pernah melihat tulisan seperti judul di atas. Biasanya tulisan seperti itu ditandai dengan tanda asteriks (*)  yang terdapat setelah kata-kata promosi. Diskon 50% all item*, lalu dibagian bawah iklan ada tulisan:*) syarat dan ketentuan berlaku, atau *) term and condition
apply. Misal, diskon 50% didapatin setelah pengunjung berbelanja sekian rupiah atau pembelian barang kedua.

Untuk mengikut Yesus juga ada syarat dan ketentuan yang berlaku: (1) Menyangkal diri, istilah sederhananya adalah melawan ego diri sendiri atau tidak lagi memikirkan kepentingannya sendiri. Boleh dikatakan seperti kita berani berkata TIDAK untuk “perbuatan tertentu” yang dulunya kita tidak bisa menolaknya, padahal situasi itu kita sangat sukai. Dengan kata lain, hidup dalam penyangkalan diri berarti hidup yang di dalamnya ada perubahan yang nyata. (2) Memikul salib. Salib di sini adalah seluruh penderitaan kita, baik yang kita derita sebagai manusia maupun sebagai orang Kristen, meliputi segala kemalangan karena ketentuan Ilahi, penganiayaan oleh karena kebenaran, setiap masalah yang menimpa kita, baik karena berbuat baik ataupun karena ngga melakukan sesuatu yang jahat. (3) Mengikut Yesus berarti menjadi murid, pergi bersama- Nya, atau menjadi pengikut-Nya. Kata “mengikut Aku” ini dalam bahasa Yunaninya dipakai kata opiso yang artinya di belakang (Mat. 10:38). Jadi, mengikut Yesus adalah melakukan semua hal seperti yang Yesus lakukan.

Pertanyaannya, beranikah saudara mengambil konse­kuensi ini? Meninggalkan apa yang diri sendiri sukai dan senangi, kemudian mengarahkan kehidupan kita pada perintah Tuhan.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Mei 2017

Catatan Kaki:
*9:22 Anak Manusia Lihat catatan di Luk. 5:24.
**9:23 meninggalkan kepentingannya sendiri Secara harfiah, “menyangkal dirinya.” Maksud perkataan Yesus ini dijelaskan di Mat. 10:37-39 dan Luk. 25-33.
***9:23 sampai mati disalibkan Secara harfiah, “dia harus memikul salib untuk dirinya sendiri.”
****9:27 tidak akan mati sampai … kerajaan … Waktu Yesus menyembuhkan orang-orang sakit, hal itu menunjukkan bahwa kerajaan Allah sudah mengalahkan penyakit, setan-setan, maupun kematian. Kerajaan Allah juga dinyatakan pada waktu murid-murid-Nya melihat Yesus di gunung dengan kemuliaan dari surga (Luk. 9:28-36). Bahkan saat Yesus mati, komandan kompi Romawi mengenal Dia sebagai Anak Allah, dan itu berarti Yesus layak memerintah (Mrk. 15:39). Dan kebangkitan Yesus (Luk. 24) sangat jelas menunjukkan bahwa kerajaan Allah sudah berkuasa di dunia ini. Hal-hal seperti itu menunjukkan bahwa suatu pemerintahan yang baru sudah mulai dan nyata di dunia ini.

Open post

Orientasi Hidup

Bacaan Ibrani 13:1-16 
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Cara hidup yang menyenangkan hati Allah

1 Hendaklah kalian selalu saling mengasihi sebagai saudara-saudari seiman.
2 Ingatlah ini: Hendaklah tiap-tiap pintu rumah kalian sering terbuka bagi siapa saja yang memerlukan tumpangan. Karena dengan berbuat begitu— tanpa mereka sadari, pernah ada beberapa orang menerima malaikat-malaikat sebagai tamu di rumah mereka!
3 Dan janganlah lupa berdoa dan menolong saudara-saudari kita seiman yang sekarang dipenjarakan. Lakukanlah itu seperti kamu sendiri juga sedang menderita bersama mereka di dalam penjara itu. Dan turutlah merasakan kesusahan saudara-saudari kita seiman yang sedang dibuat menderita— seolah-olah kamu sendiri juga menderita sama seperti mereka.
4 Hendaklah kita semua menghargai hubungan pernikahan kita masing-masing sebagai sesuatu yang kudus, dan hendaklah hubungan suami-istri dijaga supaya tetap murni. Karena Allah akan menghukum setiap orang yang berbuat cabul atau zina.
5 Janganlah hidup kita dikuasai oleh uang. Sebaliknya, hendaklah kita puas dengan apa yang kita punya, karena Allah berkata,
“Aku tidak akan pernah membiarkan kamu, Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu sendirian.”*
6 Jadi, seperti penulis Mazmur, dengan yakin kita bisa berkata, “TUHAN adalah Penolong saya! Saya tidak akan takut. Orang yang memusuhi saya tidak bisa melakukan apa-apa terhadap saya.”**
7 Ingatlah para pemimpin kita yang menyampaikan Firman Allah kepada kita dan yang sudah mendahului kita ke surga. Renungkanlah cara hidup mereka yang baik dan tirulah keyakinan mereka. 8 Kristus Yesus tidak pernah berubah— dari dulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya.
9 Janganlah kita disesatkan oleh orang-orang yang membawa segala macam ajaran lain. Lebih baik hatimu dikuatkan karena kamu bergantung kepada kebaikan hati Allah saja daripada mengikuti mereka yang sibuk dengan banyak peraturan tentang makanan. Karena dengan mengikuti aturan-aturan semacam itu tidak ada orang yang pernah berhasil menjadi sempurna di mata Allah.
10 Dalam cara persembahan kurban yang lama, para imam bisa memakan dua bagian daging dari setiap kurban hewan. Sedangkan dalam cara baru kita diberkati melalui mezbah surgawi, dan para imam yang melayani di Rumah Allah yang di dunia ini tidak berhak makan apapun dari mezbah itu.
11 Tetapi boleh dikatakan bahwa cara yang baru mirip dengan cara yang lama. Karena dengan kurban pengampunan dosa, daging kurban itu tidak ada yang dimakan oleh imam. Sesudah imam agung membawa darah hewan tersebut ke dalam Ruang yang Mahakudus— yaitu darah untuk pengampunan dosa, lalu semua bagian tubuh hewan itu dibakar sampai menjadi debu di tempat lain di luar perkemahan umat Israel— bukan di atas mezbah di dalam Rumah TUHAN.
12 Demikian juga Yesus sudah menderita di luar kota Yerusalem, supaya kita disucikan dengan darah-Nya sendiri dan menjadi umat-Nya.
13 Karena itu, secara rohani marilah kita pergi kepada Yesus di luar pagar kota.*** Maksud saya, janganlah kita malu untuk meninggalkan aturan-aturan Yahudi yang lama, dan marilah kita menganggap sebagai suatu kehormatan kalau kita dihina karena mengikut Yesus saja.
14 Karena di bumi ini, kita tidak mempunyai kota yang tetap ada untuk selama-lamanya, tetapi kita menantikan Yerusalem yang baru.
15 Jadi, melalui Yesus, marilah kita selalu memberikan persembahan rohani kepada Allah— yaitu melalui semua perkataan kita hendaklah kita memuji Allah, dan dengan berani memberitakan bahwa Yesus adalah Penguasa kita.
16 Dan janganlah kita lupa melakukan hal-hal yang baik terhadap orang-orang lain dan saling menolong, karena itu juga merupakan persembahan yang menyenangkan hati Allah.

Beberapa tahun terakhir, maraknya iklan tentang kesuksesan dipasan di tinag-tiang listrik atau tembok-tembok yang ada dipinggir jalan.
eberapa dipasang tahun di tiang-tiang terakhir, marak listrik iklan atau tentang tembok-tembok yang ada dipinggir jalan, khususnya di simpangan
yang ada traffic light-nya. Isi iklannya antara lain: “Meraup keuntungan dengan berjualan barang-barang impor”, “sukses
berjualan online”, “sukses dengan berinvestasi”, dsb. Itulah kata-kata yang pernah saya baca dari iklan-iklan tersebut.

Iklan-iklan tersebut semakin menegaskan bahwa pada zaman akhir hal yang paling disukai manusia adalah uang/materi. Uang memang mempermudah kehidupan manusia tetapi uang bisa menjadi penghalang terbesar manusia untuk mendekat kepada Tuhan. Itu sebabnya penulis Ibrani yang kemungkinan adalah Paulus, menasihati orang percaya agar jangan menjadi hamba uang. Karena, ketika uang sudah menjadi tuan atas kehidupan seseorang, maka seluruh hidup orang tersebut akan berorientasi pada uang/materi. Tuhan Yesus sendiri pernah mengingatkan, Demikian juga, kamu tidak bisa menjadi hamba Allah dan sekaligus menjadi hamba uang.” (Mat. 6:24c TSI).

Untuk itu, nasihat selanjutnya penulis Ibrani adalah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri sendiri. Artinya, kita harus belajar bersyukur atas berkat yang Tuhan berikan kepada kita saat ini. Kalau Tuhan memberikan kita gaji Rp 2.000.000 per bulan, maka gaya hidup harus menyesuaikan dengan gaji. Bukan sebaliknya, pendapatan menyesuaikan dengan gaya hidup.

Zaman ini akan semakin sulit. Hidup berorientasi pada materi berarti kita sedang berjalan menuju kehancuran. Namun, hidup berorientasi pada Sang sumber berkat sama dengan kita sedang berjalan menuju kehidupan yang indah. Pertanyaannya, bagaimana ke­hi­dupan yang Anda harapkan? Pilihan Anda hari ini menentukan hari esok, maka pilihlah dengan bijaksana!

 

*Dikutip dari renungan Andi Offset Mei 2017

Catatan Kaki:
*13:5 Ul. 31:6
**13:6 Mzm. 118:7
***13:13 pagar kota Secara harfiah, “perkemahan.” Penulis Surat Ibrani menggunakan kata ini sebagai gaya bahasa yang mengingatkan para pembaca tentang sejarah umat Israel sebelum Rumah Allah berada di Yerusalem.

Posts navigation

1 2 3 10 11 12 13 14 15 16
Scroll to top