Open post

Menutup hari dengan bersyukur

Bacaan Efesus 5:20
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

10. Jadi berusahalah mencari hal-hal yang membuat hati TUHAN senang.

Peristiwa yang kita alami dalam hidup ditambah dengan kesibukan harian yang padat kadang membuat kita sangat capek dan lelah dimalam hari sehingga kita tidak sempat lagi menutup hari dengan berdoa. Beberapa malah kadang tertidur di tengah pekerjaan yang belum selesai. Padahal menutup hari dalam doa dan bersyukur menolong kita untuk melihat pekerjaan dan campur tangan Tuhan sepanjang hari itu dalam menuntun dan memimpin kita. Ucapan syukur juga menolong kita untuk melihat cara Tuhan bekerja di tengah masalah dan pergumulan hidup.

Ucapan syukur dan sukacita nyaris tak terpisahkan. Orang yang bersyukur biasanya mudah bersukacita dan orang yang bersukacita juga mudah mensyukuri hidupnya. Menutup hari dengan ucapan syukur artinya kita menjaga level sukacita kita tetap pada Tuhan, bukan pada apa yang
sudah kita capai sepanjang hari. Menutup hari dengan mengucap syukur bisa kita mulai dengan membiasakan diri untuk mengeluarkan ucapan bibir dan perkataan yang memuliakan nama-Nya (Ibr. 13:15). Kurangi ngedumel, dan membantah Tuhan, tetapi perbanyaklah ucapan syukur seperti nasihat firman-Nya malam ini.

Apakah kita sudah membiasakan diri menutup hari dengan ucapan syukur atas penyertaan-Nya sepanjang hari? Jangan berkata tidak ada waktu, terlalu capek, terlalu sibuk, dan alasan lainnya untuk tidak mengucap syukur! Ketika kita menjadikan ucapan syukur sebagai prioritas dan gaya hidup, otomatis ini akan menjadi kebiasaan. Jadi, mari kita tutup hari dengan syukur supaya esok ketika kita memulai hari yang baru, hati kita dipenuhi keinginan untuk menyenangkan hati Tuhan.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Mei 2017

Open post

Pemberi Semangat

Bacaan Yesaya 50:1-11
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

1 TUHAN berkata kepada Israel, "Hai umat-Ku, sangkamu Aku mengusir engkau seperti seorang suami mengusir istrinya? Kalau begitu, di mana surat cerainya? Sangkamu Aku menjual engkau, seperti seorang bapak menjual anaknya kepada penagih hutang? Bukan ! Engkau ditawan dan dibuang, karena dosa dan kejahatanmu sendiri !
2 Mengapa dari umat-Ku tak seorang pun menjawab, waktu Aku datang memanggil mereka? Apakah mereka diam saja karena menyangka Aku tak mampu membebaskan dan menyelamatkan mereka? Sesungguhnya, atas perintah-Ku laut menjadi kering, sungai-sungai Kujadikan padang gurun, sehingga ikan-ikan mati dan berbau amis.
3 Langit Kujadikan hitam kelam, Aku menutupinya seperti dengan kain kabung. "
Ketaatan hamba TUHAN
4 TUHAN Yang Mahatinggi mengajar aku berbicara, supaya perkataanku menguatkan orang yang lesu. Setiap pagi Ia membangkitkan hasratku untuk mendengarkan ajaran-Nya bagiku.
5 TUHAN memberi aku pengertian; aku tidak berontak atau berbalik daripada-Nya.
6 Kuberi punggungku kepada orang yang memukul aku; dan pipiku kepada orang yang mencabut jenggotku. Aku tidak memalingkan mukaku waktu aku dihina dan diludahi.
7 Sebab TUHAN Allah menolong aku, maka aku tidak dipermalukan. Aku menguatkan hatiku supaya tabah; aku tahu aku tak akan dipermalukan.
8 Sebab Allah dekat, Ia menyatakan aku tidak bersalah. Siapa mau berbantah dengan aku? Mari kita tampil bersama-sama. Siapakah yang melawan aku? Suruhlah ia mendekat padaku.
9 Sungguh, TUHAN Yang Mahatinggi membela aku, siapa berani menyatakan aku bersalah? Semua yang menuduh aku akan lenyap seperti kain usang dimakan ngengat.
10 Hai kamu yang menghormati TUHAN, dan mendengarkan perkataan hamba-Nya, jalan yang kamu tempuh mungkin gelap, dan tak ada cahaya yang bersinar bagimu; tetapi percayalah pada TUHAN; bertopanglah pada Allahmu.
11 Hai kamu yang mau mencelakakan orang lain, kamu akan dibinasakan oleh rencanamu sendiri. TUHANlah yang membuat itu terjadi, kamu akan disiksa dengan hebat.

Tentu kita tahu pekerjaan motivator. Biasanya motivator adalah orang yang penuh semangat, berpikiran positif, dan selalu optimis. Senyum selalu menghiasi wajahnya dan cara bicaranya bisa membuat orang yang mendengarnya menjadi bersemangat menjalani hidup. Apakah motivator tidak pernah menghadapi masalah berat? Tentu saja pernah, tetapi karena mereka tahu cara menghadapi dan memenangkan masalahnya, mereka tetap bersemangat. Sebenarnya, tidak sedikit motivator yang dulunya juga mempunyai mentor, dan sebelum mereka berdiri di depan untuk memotivasi orang lain, mereka harus terlebih dulu mendengarkan nasihat-nasihat dari sang mentor.

Demikian juga kita sebagai hamba Allah. Kita ditugasi sebagai motivator yang senantiasa memberi semangat bagi sesama, terutama orang-orang yang letih lesu menghadapi persoalan. Kita diajar senantiasa membicarakan hal-hal yang mem­buat orang bersemangat, mendatangkan sukacita, dan berani menghadapi masalah. Untuk dapat me­lakukan semua itu ada syaratnya, yaitu senang mendengarkan perkataan Tuhan, tidak menolak, dan memberontak saat Dia berbicara pada kita. Kita harus terlebih dulu setia membaca firman Tuhan, mendengarkan suara-Nya, dan melakukannya secara terus-menerus, barulah kita dapat menyemangati orang-orang.

Setia mendengarkan suara-Nya terkadang masih sulit bagi kita karena kadang kita bertindak sesuai kemauan diri sendiri. Jika seperti ini, jangankan menjadi pemberi semangat, kita pun tidak pantas disebut murid Kristus. Sebab, murid harus senantiasa bertumbuh semakin se­rupa dengan gurunya. Untuk itu, mari kita setia membaca firman-Nya, mendengarkan suara-Nya, dan melakukan kehendak-Nya, baru kemudian memberi semangat kepada sesama.

*Dikutip dari renungan Andi Offset April 2017

Open post

Selalu Berserah

Bacaan Mazmur 37:5
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

5 “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN, berharaplah kepada-Nya, Ia akan menolongmu”

Seorang yang berserah bukanlah perkara yang mudah. Banyak hal yang mebuat kita menjadi orang yang selalu menggunakan kekuatan sendiri demi tujuan dan kepentingan kita agar sukses dan tercapai. Biasanya kita melakukan berbagai cara agar
kita tidak gagal, meskipun kita tahu cara itu tidak baik. Misal, ketika kita mengalami kesulitan saat ujian karena kita kurang maksimal dalam belajar, kita melakukan berbagai cara agar hasilnya tidak jelek seperti menyontek atau bertanya kepada
teman, tidak jarang juga menggunakan HP agar bisa melihat materi pelajaran yang diujikan se­cara langsung. Saat kita mengalami kesulitan dan frustasi dalam menghadapi masalah, kita sering memforsir diri baik dalam pikiran maupun energi
agar masalah kita cepat selesai.

Sering kita lupa bahwa semua yang kita lakukan itu Tuhan pasti lihat. Kita juga lupa bahwa semua yang terjadi dalam hidup kita itu kehendakdan campur tangan-Nya baik itu berhasil maupun tidak. Kita sering tidak menyadari saat kita gagal, itu karena kita kurang berserah pada Tuhan dan terlalu fokus menggunakan akal dan semua, yang ada di dalam diri kita, kita gunakan untuk menyelesaikan segala hal dalam hidup kita baik persoalan maupun kesulitan. Akibatnya, kita mengesampingkan ­­bah­
kan lupa pada kuasa-Nya.

Nah oleh karena itu, sebelum kita benar-benar lupa akan segala kuasa Tuhan yang sungguh besar itu, yuk jangan lupa berserah selalu pada Tuhan dalam segala hal. Kita harus selalu ingat bahwa jika kita sudah berserah dan juga percaya pada Tuhan, Dia pasti akan bertindak dan bekerja dalam hidup kita. Dia juga pasti akan memberikan selalu yang terbaik untuk kita karena Tuhan sungguh-sungguh mengasihi kita anak-anak-Nya.

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Open post

Komitmen Semut

Bacaan Amsal 6:6-11
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

6 Orang yang malas harus memperhatikan cara hidup semut dan belajar daripadanya.
7 Semut tidak punya pemimpin, tidak punya penguasa atau pengawas,
8 tetapi selama musim menuai mereka mengumpulkan bekal untuk musim paceklik.
9 Sampai kapan si pemalas itu mau tidur? Kapankah ia mau bangun?
10 Ia duduk berpangku tangan untuk beristirahat, dan ia berkata, “Ah, aku tidur sejenak, aku mengantuk. “
11 Tetapi sementara ia tidur, ia ditimpa kekurangan dan kemiskinan yang datang seperti perampok bersenjata.

Selama 7 tahun perkenalannya dengan yang namanya karet, Charles Goodyear menghadapi jatuh bangun. Awalnya, ia mengolah bahan karet dengan mencampurnya bersama magnesium oksida, ke­mudian mencampurnya lagi dengan tepung pe­runggu atau asam nitrat tetapi hasilnya nihil. Charles terus bertekun mengolahnya. Suatu hari, Charles membersihkan kedua telapak tangannya dari lumuran bubuk belerang. Bubuk itu tak sengaja rupanya berhamburan masuk ke dalam tungku panas di atas api yang berada di depannya. Charles menyaksikan ketika karet itu meleleh, ternyata karet itu bereaksi dengan bahan belerangnya. Dari situ Charles untuk pertama kalinya menemukan karet vulkanisir ban!

Terkadang kita menjadi pemalas karena segala usaha yang kita lakukan selalu gagal. Kita mencoba dan berkali-kali kita terjatuh. Firman Tuhan mengajari kita hari ini untuk belajar dari semut. Kerajinan mereka memungkinkan untuk menembus kegagalan. Mencari makan dan terhalang dengan kubangan air? Semut terus berupaya maju dan tak menyerah. Dibinasakan oleh tangan-tangan yang membenci para semut? Para semut itu pun tidak kapok untuk terus rajin dan mencari makan. Tidak ada pemimpin untuk memburu bahan makanan tetapi mereka tidak lupa untuk bangun pagi dan bekerja. Mereka telah berhasil mengalahkan segala bentuk kegagalan dengan antusias mereka dan kerajinan mereka yang tak pernah kendor. Tuhan menginginkan kita terus berusaha bak para semut.

Apakah saudara dirundung kemalasan? Lawan­­lah dengan komitmen seperti para semut! Ber­jalan, berjalan, berjalan, dan percaya bahwa ada “makanan” atau berkat jika kita tekun mencarinya. Tuhan ingin kita berusaha dan lihatlah tangan-Nya
akan memberkati hidup kita! (STF)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

 

Open post

Dalam Kelemahan, Yesus Nyata

Bahan Bacaan 2 Korintus 12 : 1-10
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Berkat khusus dalam hidup Paulus
1 Saya merasa terpaksa membanggakan diri, walaupun itu tidak ada gunanya. Jadi saya lanjutkan memberitahukan tentang banyak penglihatan dan pengetahuan tentang hal-hal rohani yang Tuhan nyatakan kepada saya.
2 Ada pengikut Kristus* yang saya kenal yang empat belas tahun yang lalu diangkat ke tingkat yang paling tinggi di surga. Saya tidak tahu kalau orang itu benar-benar tubuhnya yang dibawa atau hanya rohnya saja. Hanya Allah yang tahu hal itu.
3-4 Dan saya tahu dia dibawa sampai ke Firdaus. Hanya Allah yang tahu kalau tubuhnya yang dibawa atau hanya rohnya saja. Tetapi di sana dia mendengar hal-hal mulia! Dan manusia tidak boleh menceritakannya— bahkan tidak bisa dijelaskan dengan bahasa manusia.
5 Saya bangga atas apa yang terjadi sama orang itu, tetapi saya tidak mau membanggakan diri saya sendiri dalam hal seperti itu. Lebih baik saya bangga dengan kelemahan-kelemahan saya!
6 Kalau saya ingin membanggakan diri karena hal-hal luar biasa seperti itu, saya tidak akan membanggakan diri seperti guru-guru yang kurang bijaksana itu, karena saya hanya mengatakan yang benar. Tetapi tentang hal-hal itu tidak perlu saya ceritakan secara berlebihan, karena saya tidak mau kalian menilai saya dengan hal-hal seperti itu! Tetapi nilailah saya lewat perbuatan yang nyata dan ajaran yang langsung kalian dengar dari saya.
7 Tetapi supaya saya tidak terlalu bangga dengan hal-hal luar biasa yang Dia nyatakan kepada saya, saya diberikan suatu penyakit yang menyiksa tubuh saya.** Melalui penyakit itu, Allah mengijinkan iblis memukul saya supaya saya tidak terlalu membanggakan diri saya.
8 Sudah tiga kali saya memohon kepada Tuhan supaya Dia menyembuhkan saya dari penyakit itu.
9 Tetapi Tuhan menjawab, “Kebaikan hati-Ku sudah cukup bagimu! Karena kuasa-Ku menjadi sangat nyata ketika kamu lemah.” Jadi, jauh lebih baik saya membanggakan kelemahan-kelemahan saya, supaya saya merasakan kuasa Kristus melindungi saya.
10 Oleh karena itu, sebagai utusan Kristus saya sudah belajar merasa senang ketika saya mengalami kelemahan, hinaan, kesusahan, penganiayaan atau kesengsaraan. Karena justru waktu saya lemah, saat itulah saya benar-benar mendapat kekuatan!

Suatu kali di acara seminar dan pelatihan tamborin yang saya ikuti di Jakarta, Saya mendengar sesuatu lagu baru yang dibawakan oleh Worship Leader. Lagu tersebut berkata, “Tak usah kutakut s’bab Kau sertaku. Tak usah kubimbang Kau di dalamku. Tak usah kucemas Kau Penghiburku. Saat kulemah Kau kuatku. Kunyanyi haleluya… Kunyanyi haleluya…”. Ketika mendengarnya, saya sangat diberkati sekaligus dikuatkan.

Tidak dipungkiri kalau persoalan-persoalan yang dialami kadang membuat iman seseorang menjadi goyah. “Sudah berdoa, membaca Alkitab, bahkan rajin melayani di gereja pun sepertinya Tuhan tidak lekas menolong.Apakah Tuhan betul-betul peduli dengan keadaan saya?” Jika kita berpikir bahwa diri sendiri adalah orang yang paling menderita, bagaimana dengan Paulus? Paulus di dalam pergumulannya menghadapi penyakit yang dideritanya pun tidak mudah. Tiga kali ia memohon kepada Tuhan
agar diangkat “duri dalam daging”nya tetapi kehendak Tuhan ingin kelemahan itu tetap dialaminya. Tujuannya, tentu bukan untuk menyiksa Paulus melainkan “duri” itu Tuhan izinkan ada di dalam diri Paulus, supaya: (1) Paulus tidak memegahkan diri, sekalipun banyak alasan untuk Paulus memegahkan diri. (2) Paulus bergantung penuh kepada Tuhan.

Tidak heran kalau pada akhir perikop Paulus bisa berkata, “Sebab jika aku lemah, aku kuat”. Karena dalam kelemahannya, Paulus melihat kuasa Tuhan bekerja dalam dirinya. Fisik memang lemah tetapi batinnya dipuaskan dan iman semakin diteguhkan. Dalam diri kita pun, tentu ada kelemahan-kelemahan yang Tuhan izinkan ada di situ. Tujuannya, agar kita semakin
bersandar pada anugerah-Nya. Dengan demikian, nama Tuhan saja yang dipuji dan dimuliakan.

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Catatan Kaki
*12:2
pengikut Kristus Paulus sangat tidak mau membanggakan diri sendiri. Oleh karena itu dalam 12:2-5 dia menceritakan tentang pengalamannya sendiri, tetapi dia menulis itu seperti pengalaman orang lain.
*12:7 suatu penyakit yang menyiksa tubuh saya Secara harfiah, “duri dalam daging.”

Open post

Es Krim Pertama

Bacaan Matius 7:7-11
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia

Nasihat Yesus untuk bertekun dalam doa
(Luk. 11:9-13)
7 “Mintalah terus kepada Allah, maka kamu akan menerimanya. Carilah terus, maka kamu akan menemukannya. Ketuklah terus, maka pintu akan dibukakan bagimu.

8 Karena setiap orang yang meminta dengan tekun akan menerima apa yang dia minta. Setiap orang yang mencari dengan tekun akan mendapatkan apa yang dia cari. Dan setiap orang yang terus mengetuk pintu, maka pintu itu akan dibukakan baginya.
9 “Kalau anakmu minta makanan* pastilah kamu tidak akan memberi dia batu— bukan?!
10 Atau kalau anakmu minta ikan, kamu pasti tidak akan memberinya ular yang berbisa— bukan?!
11 Kalau kamu yang jahat tahu memberikan yang baik kepada anak-anakmu, terlebih lagi Bapamu yang di surga! Dia pasti akan memberikan yang baik kepada setiap kita yang meminta kepada-Nya.”

Saya masih ingat es krim pertama saya. Saat itu saya masih kecil dan keluarga kami kemana-mana hanya naik sepeda.
Ibu di belakang menggendong adik. Saya duduk di depan. Ayah mengayuh. Sekarang saya sudah bekerja. Saya bisa membeli es krim enak tetapi tidak pernah saya menemukan es krim seenak dulu. Apakah yang membuat es krim pertama itu nikmatnya tak tertandingi?

Firman Tuhan pada nats membantu saya mene­mukan jawabannya. Ayat tersebut dikenal sebagai ja­minan jawaban doa. Namun, melihat perikop-perikop sebelumnya, kita tahu Tuhan memberikannya setelah Dia memberi petunjuk tentang standar menjadi murid-Nya. Tidak main-main, standarnya “Hendaklah kamu mengasihi semua orang! Dengan demikian kamu akan menjadi sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.”” (Mat. 5:48).

Untuk memenuhinya, Dia memberi beberapa pe­tunjuk hidup murid—dari berbahagia sebagai orang yang miskin di hadapan Allah, menjadi garam dan terang dunia, mengasihi sesama, sampai tidak menghakimi orang lain dengan ukuran sendiri. Harus diakui, standar tersebut tidak sesuai dengan natur manusia yang mendambakan kenikmatan. Justru kita bisa mengecap kenikmatan jawaban doa ketika kita sudah melakukan standar- Nya. Syukurnya, kita tidak akan pernah bisa memenuhi standar tersebut dengan kekuatan sendiri sehingga Dia memberikan Roh-Nya menolong kita.

Sungguh, es krim pertama itu sangat nikmat karena saya tidak bisa membelinya sendiri dan diberikan setelah saya menjalani keterbatasan serta kesederhanaan. Mari bersyukur kepada Tuhan bila saat ini kita ada dalam kesulitan atau keterbatasan, karena dengan hal tersebut justru kita akan bisa mengecap kenikmatan jawaban doa
dari Tuhan dengan sepenuhnya. (AST)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Catatan Kaki
*7:9 makanan Secara harfiah, “roti.” Di Israel pada waktu Yesus mengajar, makanan pokok mereka adalah roti. Tim penerjemah menerjemahkan sebagai ‘makanan’ karena untuk kebanyakan orang Indonesia, roti adalah makanan istimewa dan bukan makanan pokok.

Open post

Tak Selamanya Diam Itu Emas

Bacaan Mazmur 39:1-10
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Pengakuan orang yang sedang menderita
1 Untuk pemimpin kor. Mazmur Daud. Untuk Yedutun. ( 39 – 2 ) Pikirku, “Aku mau menjaga diri supaya tidak berdosa dengan lidahku. Aku tak mau berbicara selama orang jahat masih dekat. “
2 ( 39 – 3 ) Aku diam seribu bahasa, sehingga merugikan diriku sendiri. Dan penderitaanku terasa semakin berat;
3 ( 39 – 4 ) aku dicekam kecemasan yang hebat. Makin dipikirkan, makin susah hatiku; akhirnya berkatalah aku,
4 ( 39 – 5 ) “TUHAN, beritahukanlah kapan ajalku supaya aku tahu betapa pendek hidupku. “
5 ( 39 – 6 ) Betapa singkat Kautentukan umurku ! Bagi-Mu jangka hidupku tidak berarti. Sungguh, manusia seperti hembusan napas saja,
6 ( 39 – 7 ) hidupnya berlalu seperti bayangan. Semua kesibukannya sia-sia belaka; ia menimbun harta, tapi tak tahu siapa akan memakainya.
7 ( 39 – 8 ) Sekarang apa yang kunantikan, ya TUHAN? Pada-Mulah harapanku.
8 ( 39 – 9 ) Lepaskanlah aku dari semua dosaku, jangan biarkan aku menjadi ejekan orang dungu.
9 ( 39 – 10 ) Aku diam dan tidak membuka mulutku, sebab Engkaulah yang menghajar aku.
10 ( 39 – 11 ) Ambillah hukuman-Mu daripadaku, sebab aku hampir mati karena pukulan-Mu.

Pepatah mengatakan, “Diam itu emas”. Memang harus diakui terkadang persoalan hidup yang berat membuat orang malas bicara dan ingin menyendiri. Bahkan, saat seperti itu berdiam diri, merenung dan introspeksi diri itu lebih baik. Meski demikian, tak semua masalah bisa terpecahkan dengan ‘diam’. Ada kalanya harus bicara dan kebenaran yang sesungguhnya diungkapkan.
Sesungguhnya, diam bukanlah satu-satunya solusi untuk keluar dari setiap masalah. Sering orang, yang terlihat
diam, ternyata hatinya bergejolak, bergemuruh seperti ombak laut yang diterpa angin.

Demikian juga pemazmur berkata, “Aku diam seribu bahasa….aku dicekam kecemasan yang hebat.”. Namun syukur, ternyata ia menemukan solusi tepat di tengah-tengah bergejolaknya hati. Ia berkomunikasi dengan Tuhan dan berkata-kata kepada-Nya. Ketika ia berkomunikasi dengan Tuhan, mata hatinya dibukakan. Ia disadarkan Tuhan akan beberapa hal: Pertama, hidup itu singkat atau pendek seperti beberapa telempap (ukuran sebesar telapak tangan) dan cepat berlalu seperti bayangan yang
berlalu. Kedua, sumber pengharapan satu-satunya yang bisa diandalkan adalah Dia. Ketiga, kekudusan menjadi sangat penting sehingga menjadi prioritas utama bagi Daud. Hal ini terlihat dari ungkapan doanya, “Lepaskanlah aku dari semua dosaku,”. Ia tidak berdoa “Lepaskan aku dari segala penderitaanku!”

Akhirnya, Daud bukan sekadar diam tetapi hatinya penuh dengan gejolak. Namun, setelah berkomunikasi dengan Tuhan, ia diam dan disertai percaya dan kete­ nangan yang sesungguhnya sehingga dapat berkata, “Aku kelu, tidak kubuka mulutku, sebab Engkau sendirilah yang bertindak”. Bagaimanakah dengan Anda saat ini? Apakah sudah seperti yang dicontohkan Daud? (TIT)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Open post

Pembawa Pesan

Bacaan Yunus 3:1-10
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Yunus Mentaati TUHAN

1 Untuk kedua kalinya TUHAN berbicara kepada Yunus.
2 Kata-Nya, “Pergilah ke Niniwe, kota besar itu, dan sampaikanlah kepada rakyatnya, pesan yang Kuberikan kepadamu. “
3 Maka Yunus mentaati TUHAN dan pergi ke Niniwe, sebuah kota yang besar sekali; sehingga diperlukan tiga hari untuk melintasinya.
4 Yunus memasuki kota itu dan sesudah berjalan sepanjang hari, ia mulai berkhotbah, katanya, “Empat puluh hari lagi, Niniwe akan hancur ! “
5 Penduduk Niniwe percaya kepada pesan Allah itu. Seluruh rakyat memutuskan untuk berpuasa, dan semua orang, baik besar maupun kecil, memakai kain karung untuk menunjukkan bahwa mereka menyesali dosa-dosa mereka.
6 Waktu raja Niniwe mendengar kabar itu, ia segera turun dari takhtanya. Dilepaskannya jubah kerajaannya dan dipakainya kain karung, lalu duduklah ia di atas abu.
7 Ia juga menyiarkan maklumat ini, “Perintah ini dikeluarkan di Niniwe atas keputusan raja dan para menteri: Semua orang, sapi, domba dan ternak lainnya dilarang makan dan minum.
8 Manusia dan binatang harus memakai kain karung. Sebagai tanda penyesalan semua orang harus berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah. Mereka harus memperbaiki kelakuannya yang jahat dan perbuatannya yang penuh dosa.
9 Barangkali Allah akan mengubah niat-Nya dan tidak marah lagi sehingga kita tidak jadi binasa ! “
10 Allah melihat perbuatan mereka; Ia melihat bahwa mereka telah meninggalkan kelakuan mereka yang jahat. Maka Ia mengubah keputusan-Nya, dan tidak jadi menghukum mereka. 

Warga Kota Bandung dan sejumlah kota lainnya di Jawa Barat, Mengeluhkan pelayanan PT Pos Indonesia terkait pelayanan pengiriman barang dan surat yang terlambat, bahkan tidak sampai ke tangan penerima. Salah satu keluhan, mencuat dari seorang
pejabat perbankan di Kota Kembang tersebut setelah banyaknya kiriman dari mitra kerja di luar kota yang tidak sampai. Ia menjelaskan, keluhan lainnya adalah ketidakmampuan PT Pos Indonesia untuk mengantar kiriman tepat waktu, sehingga baik penerima maupun pengirim harus bolak-balik ke kantor pos untuk mengecek.

Tak berbeda dengan Yunus, karena keegoisannya, hampir saja seluruh penduduk di Niniwe tewas akibat kemarahan Allah. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya, seandainya kala itu Yunus tetap berpegang pada keegoisan dirinya sendiri! Belajar dari pengalaman Yunus dan orang-orang di Niniwe, hendaknya kita bersikap sebagai berikut. (1) Sebagai pembawa pesan, hendaknya jangan pernah kita menunda-nunda untuk menyampaikan pesan kepada si penerima pesan (orang yang dituju), mengingat pesan adalah amanat yang biasanya bersifat penting. (2) Oleh karena pesan bersifat amanat, maka jangan mengurangi
atau menambah isi pesan tersebut. (3) Sebagai si penerima pesan, responi dengan benar pesan yang kita dapat terutama pesan firman Tuhan.

Tak jarang, sebagai pembawa pesan Allah bagi dunia yang gelap ini kita justru memilih bersikap seperti Yunus yang menunda menyampaikan pesan Allah. Kita lebih menuruti egoisme diri sementara kita tahu di luar sana banyak orang sedang berjalan menuju kebinasaan kekal. Sampaikanlah pesan Allah supaya mereka pun beroleh hidup yang kekal seperti kita!. (LSK)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Open post

Aku Ada Untukmu

Bacaan Kejadian 44:18-34
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

18 Yehuda maju mendekati Yusuf dan berkata, “Maaf, Tuanku, izinkanlah hamba berbicara lagi dengan Tuanku. Jangan marah kepada hamba; Tuanku seperti raja Mesir sendiri.
19 Tuanku telah bertanya kepada kami ini,’Apakah kamu masih mempunyai ayah atau saudara yang lain?’
20 Kami menjawab,’Ayah kami sudah tua dan adik kami lahir ketika ayah sudah lanjut usia. Abang seibu dari adik kami itu sudah meninggal, jadi sekarang hanya dia sendirilah yang masih hidup dari mereka berdua, dan ayah sangat sayang kepadanya.’
21 Tuanku menyuruh kami membawa dia kemari, supaya Tuanku dapat melihatnya,
22 lalu kami menjawab bahwa anak itu tidak dapat berpisah dari ayahnya; jika ia berpisah dari ayahnya, ayah akan meninggal.
23 Kemudian Tuanku berkata,’Kamu tidak boleh menghadap aku lagi jika tidak membawa adikmu itu.’
24 Ketika kami kembali kepada ayah kami, kami sampaikan kepadanya perkataan Tuanku itu.
25 Kemudian ayah kami menyuruh kami datang lagi kemari untuk membeli makanan.
26 Kami menjawab,’Kami tidak dapat pergi ke sana, sebab kami tak boleh menghadap gubernur jika adik kami yang bungsu tidak ikut. Kami hanya dapat pergi ke sana kalau dia pergi juga.’
27 Kemudian ayah kami berkata,’Kalian tahu bahwa Rahel, istriku hanya punya dua anak.
28 Yang pertama telah meninggalkan aku. Dia pasti sudah diterkam binatang buas, karena sampai sekarang aku tidak melihatnya lagi.
29 Jika kalian mengambil anak yang bungsu ini daripadaku, dan terjadi apa-apa dengan dia, kesedihan yang kalian datangkan kepadaku itu akan mengakibatkan kematianku, karena aku ini sudah tua.’”
30 “Karena itu, Tuanku, ” kata Yehuda kepada Yusuf, “jika hamba kembali kepada ayah kami tanpa adik kami itu, pasti ayah kami akan meninggal. Nyawanya bergantung kepada anak itu, dan ia sudah begitu tua sehingga kesedihan yang kami datangkan kepadanya itu akan mengakibatkan kematiannya.
31 ( 44: 30 )
32 Lagipula, hamba telah berjanji kepada ayah hamba bahwa hamba menjadi jaminan anak itu. Hamba berkata kepadanya, bahwa jika hamba tidak membawa anak itu kembali kepadanya, hambalah yang akan menanggung hukuman seumur hidup.
33 Jadi, hamba mohon, Tuanku, izinkanlah hamba tinggal di sini menjadi hamba Tuanku menggantikan adik kami ini; biarlah ia pulang bersama-sama dengan abang-abangnya.
34 Bagaimana hamba dapat kembali kepada ayah kami jika anak itu tidak ikut? Hamba tidak tahan nanti melihat musibah yang akan menimpa ayah kami itu. “

Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Pilihan baginya untuk dimasa yang akan datang adalah belajar dari kesalahan di masa lalu dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik, atau tetap menjadi pribadi yang tidak berubah bahkan kualitas dirinya menurun.

Demikian pula saudara-saudara Yusuf. Dulu, memang mereka pernah melakukan kesalahan dengan menjadi pelaku kejahatan atas hidup Yusuf, hingga berdampak pada rasa duka mendalam pada ayahnya, karena kehilangan anak kesayangannya. Namun, seiring waktu berjalan, kehidupan saudara-saudara Yusuf ber­ubah, terkhusus pada diri Yehuda. Ini terbukti dari peris­tiwa hilangnya piala Yusuf, yang memang sengaja di taruh Yusuf di dalam karung si bungsu, Benyamin.
Taktik yang sengaja dibuat oleh Yusuf untuk menahan adik kandungnya tersebut agar memiliki ruang-waktu berlama-lama dengannya, justru memperlihatkan sesuatu yang baru yang mungkin belum pernah dilihat Yusuf dalam diri saudaranya. Taktik tersebut menggerakkan kasih sayang Yehuda

Taktik tersebut menggerakkan kasih sayang Yehuda sebagai keluarga kepada Benyamin. Yehuda rela memberi diri demi ayah dan adiknya. Yehuda rela menggantikan Benyamin sebagai hamba di kediaman Yusuf. Yehuda rela memasang badan demi menjaga keluarganya. Dari sini kita belajar bahwa: (1) Setiap orang bisa berbuat salah dan bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik. (2) Dalam hubungan dengan saudara kandung, harus saling menjaga.

Hubungan dalam keluarga tak selalu mulus. Ada hal- hal yang bisa menyebabkan persoalan hingga perpecahan. Untuk itu, bangunlah hubungan persaudaraan yang didasarkan pada kasih Allah agar masing-masing anggota saling menegur, saling menguatkan, saling melindungi, dan saling memberi. (ALX)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Open post

Dua Sisi

Bacaan Matius 23:28
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

28 Begitu juga dengan kamu, karena waktu orang lain melihat kamu dari luar, kamu kelihatan seperti orang yang benar. Tetapi sebenarnya hati kamu penuh dengan keinginan untuk melanggar perintah-perintah Allah dan hanya berpura-pura saja sebagai orang benar

Beberapa waktu lalu, saya kehilangan teman. Dimata saya teman tersebut seorang yang ramah, ringan tangan menolong sesama, rajin, semangat bekerja, dan baik hati. Namun, betapa terkejutnya ketika saya mendengar kesan mengenai dirinya dari rekan kerjanya. Menurutnya, teman saya tersebut adalah sosok yang tak baik, senang mengeluh, iri hati, jahat pada rekan kerjanya, pikun, dst. Mendengar hal tersebut, saya tidak mau percaya begitu saja. Karena saya tidak melihat beliau seperti yang diceritakan rekan kerjanya.

Kehidupan dipercaya memiliki dua sisi, yaitu sisi hitam dan putih. Demikian juga orang-orang Farisi. Satu sisi, kelompok religius di dalam Yudaisme ini perjuangkan pengetahuan yang mendasar tentang Taurat dan tradisi pada nenek moyang (Misna; Talmud). Mereka menuntut penafsiran yang paling keras, terutama hal-hal yang berhubungan dengan Sabat, kebersihan ritual (tahir), dan yang berkaitan dengan persepuluhan. Namun, di sisi lain siapa sangka kehidupan mereka begitu jauh dari apa yang mereka kerjakan. Orang-orang Farisi tega mengambil rumah janda-janda bahkan menipu mereka. Tidak ada kasih Allah. Para pengikutnya dituntut banyak sekali hal yang sulit untuk dilakukan dan peraturan agama yang berat, tetapi mereka sendiri cuek. Mereka tidak peduli dengan orang-orang Yahudi agar bisa menjalani Taurat.

Perilaku orang-orang Farisi itu juga tak jarang ada dalam orang-orang percaya masa kini, termasuk mereka yang pekerjaannya melayani di gereja. Jika kita mengetahui ada orang-orang yang demikian, jangan hakimi! Lebih baik, koreksi diri sendiri kemudian berubahlah kalau diri sendiri kedapatan memiliki dua sisi semacam itu, supaya hidup kita dikenan oleh Tuhan. (RES)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Posts navigation

1 2 3 11 12 13 14 15 16
Scroll to top