Open post

Pertolongan dan Penghargaan

Bacaan Mazmur 146:1-10
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Pujian Bagi Allah Penyelamat
1 Pujilah TUHAN ! Hai jiwaku, pujilah TUHAN !

2 Aku mau memuji TUHAN selama hidupku dan menyanyi bagi Allahku selama aku ada.
3 Janganlah berharap kepada penguasa, kepada manusia yang tak dapat menyelamatkan.
4 Kalau mereka mati, mereka kembali ke tanah; hari itu juga semua rencana mereka lenyap.
5 Berbahagialah orang yang mengandalkan TUHAN Allahnya, dan mempunyai Allah Yakub sebagai penolongnya.
6 Dialah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; Ia tetap setia selama-lamanya.
7 Ia membela hak orang-orang yang tertindas, dan memberi makan kepada orang yang lapar. TUHAN membebaskan para tahanan,
8 dan membuat orang buta dapat melihat. Ia menegakkan orang yang jatuh, dan mengasihi orang yang jujur.
9 Ia melindungi orang-orang asing; Ia menolong para janda dan yatim piatu, tetapi menggagalkan rencana orang jahat.
10 TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya. Hai Sion, Allahmu berkuasa selama segala abad. Pujilah TUHAN !

Desember 2016 adalah bulan dimana saya memperingati hari kelahiran saya. Dua minggu sebelumnya,
saya berdoa kepada Tuhan supaya Dia memberikan saya uang untuk mentraktir keluarga pendeta dan keluarga saya sendiri. Memang waktu itu saya juga sedang bingung, uang apa yang akan saya gunakan untuk mentraktir mereka. Ternyata, seminggu sebelumnya saya diminta untuk khotbah di salah satu gereja. Setelah selesai khotbah, saya menerima amplop berisi uang dan cukup untuk mentraktir mereka makan.

Allah yang dimaksud oleh pemazmur adalah Allah Yakub. Mengapa dikatakan Allah Yakub? Karena pada waktu itu Yakub sangat membutuhkan pertolongan. Setelah ia menipu kakak dan ayahnya, Yakub harus meninggalkan rumah. Yakub seorang diri dalam situasi yang tidak ramah. Walaupun demikian, Allah melindungi, memimpin dan menyediakan kebutuhannya. Bila ada yang mencoba melukai Yakub, Allah bertindak. Dia mengerjakan semua maksud-Nya untuk Yakub dan menjadikannya bapak dari suku-suku Israel. Walaupun Yakub sekali waktu tidak taat, tetapi Allah tetap menolong dan memimpinnya ke luar dari
segala kesukaran hidup. Itulah yang membuat pemazmur berkata bahwa hanya Allah Yakub yang telah menolong itulah yang pantas dijadikan tumpuan harapan.

Allah yang menolong Yakub adalah Allah yang sama yang menolong kita. Tentunya kita tiap-tiap hari merasakan pertolongan Tuhan dalam hidup ini. Bagi orang percaya, berharap kepada Tuhan bukan khayalan atau optimisme yang buta. Harapan dalam Kristus adalah pasti. Jadi, mari cek kembali, apakah kita masih tetap berharap kepada Tuhan atau yang lain? (THF)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Open post

Kebangkitan-Nya Memberi Pengharapan

Bacaan 1 Korintus 15:14-22
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

 

Sesudah mati, kita akan hidup kembali

12 Jadi, kalau kami para rasul selalu memberitakan bahwa Kristus sudah dihidupkan kembali dari kematian, kenapa ada beberapa orang di antara kalian yang berkata bahwa kita orang-orang percaya tidak akan dihidupkan dari kematian?
13 Karena kalau kita tidak dihidupkan kembali dari kematian, itu berarti Kristus juga tidak pernah hidup kembali dari kematian.
14 Dan sekiranya Kristus tidak pernah dihidupkan kembali, maka sia-sialah berita yang kami sampaikan. Dan keyakinan kalian juga sia-sia saja.
15 Kalau begitu kami juga keliru, karena ternyata kami sudah mengajarkan yang salah tentang Allah. Karena kami sudah memberitakan bahwa Allah sudah menghidupkan Kristus kembali. Padahal— kalau benar bahwa orang-orang mati tidak pernah dihidupkan kembali, maka Allah pun tidak pernah menghidupkan Kristus!
16 Karena kalau benar orang-orang mati tidak akan pernah dihidupkan kembali, berarti Kristus juga tidak pernah dihidupkan kembali.
17 Dan kalau Kristus tidak dihidupkan kembali dari kematian, percuma saja keyakinan kita, dan kita masih hidup di dalam dosa!
18 Demikian juga saudara-saudari kita yang sudah bersatu dengan Kristus dan yang sudah mati. Mereka tidak diselamatkan melainkan sudah binasa!
19 Dan kalau pengharapan kita kepada Kristus hanya untuk kehidupan di dalam dunia ini saja, kitalah yang paling malang di antara semua manusia!
20 Tetapi sebenarnya Kristus sudah dihidupkan kembali dari antara orang-orang mati! Hal itulah yang menjadi jaminan bahwa orang-orang lain yang sudah mati pasti akan dihidupkan kembali.*
21 Jadi perhatikanlah hal ini: Kuasa kematian menular kepada manusia karena perbuatan satu orang— yaitu Adam. Jadi sekarang oleh karena Satu Orang jugalah— yaitu Yesus, manusia dihidupkan kembali dari kematian.
22 Karena sebagai keturunan Adam, semua manusia mengalami kematian. Tetapi setiap kita yang bersatu dengan Kristus dihidupkan kembali dari kematian.

Dunia postmodern sedang mulai “menggoyahkan” kekristenan dengan menyodorkan mulai beribu “fakta”tentang Kristus yang tidak bangkit. Sejak diterbitkannya buku The Da Vinci Code sampai buku-buku seperti “Injil” Thomas, The Lost Tomb of Jesus, dll, Kristus dihujat dan dinyatakan tidak bangkit dengan argumen ditemukannya mayat yang diduga berasal dari keturunan Yesus. Lebih parahnya lagi, seorang pemimpin gereja dari gereja arus utama dan dosen di sekolah teologi arus utama berani membuat suatu artikel di suatu surat kabar bahwa Yesus tidak bangkit, lalu orang ini ditegur oleh gereja di tempat ia melayani.

Jangan biarkan diri sendiri ditipu oleh tipuan Iblis di zaman postmodern ini! Sekalipun kita tidak mengalami pengalaman seperti Tomas (Yoh. 20:28) dan Paulus ketika sedang dalam perjalanan ke Damsyik (Kis. 9:5), tetaplah percaya akan kebangkitan Kristus. Sebab kebangkitan- Nya memberikan harapan bagi barangsiapa yang percaya. Pertama, kebangkitan Kristus memberi pengharapan perubahan hidup (ay. 9-11). Ada dua hal perubahan yang dialami Paulus, yakni perubahan status (ay. 9-10a) dan
perubahan arah hidup (ay. 10b-11). Kedua, kebangkitan Kristus memberi pengharapan akan kepastian iman (ay. 14, 17), yaitu kepastian iman yang berkaitan dengan keselamatan (ay. 19) dan kepastian yang berkaitan dengan kebangkitan tubuh di kekekalan kelak (ay. 16, 35-58).

Tidak ada pengharapan yang paling agung dan mulia yang dapat kita jumpai dan alami selain pengharapan di dalam Kristus dan kebangkitan-Nya. Mari sadari kembali bahwa jika Kristus tidak bangkit, kita akan terus hidup dalam dosa dan kebinasaan kekal menanti kita. (YS)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Catatan Kaki
*15:20 menjadi jaminanSecara harfiah, “hasil (panen) pertama dari yang tertidur (dalam kematian).” Yesus digambarkan seperti hasil panen pertama. Dalam Perjanjian Lama, hasil panen yang pertama diberikan kepada Allah. (Im. 23:9-14) Dalam ayat ini hasil panen pertama merupakan jaminan bahwa pasti masih ada banyak lagi hasil yang akan dipanen.

Open post

Kasih Tertinggi

Bacaan Yohanes 15:1-13
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Yesuslah pohon anggur

1 Lalu Yesus berkata kepada kami murid-murid-Nya, “Aku seperti pohon anggur yang benar-benar menghasilkan buah sesuai dengan kehendak Allah, dan Bapa-Ku seperti petani yang merawat pohon anggur itu.
2 Dia memangkas setiap cabang-Ku yang tidak menghasilkan buah. Dan Dia mengurangi daun pada setiap cabang yang sedang berbuah, supaya buahnya* bertambah banyak lagi.
3 Kalian masing-masing memang sudah siap untuk berbuah karena ajaran yang Ku-berikan kepadamu.
4 Hendaklah kamu hidup bersatu dengan Aku, dan Aku pun akan tetap hidup bersatu denganmu. Sama seperti cabang tidak bisa berbuah kalau hidup terpisah dari pohonnya, begitu juga dengan kamu. Kalau kamu tidak hidup bersatu dengan Aku, kamu tidak akan bisa berbuah.
5 “Aku memang seperti pohon anggur, dan kamu seperti cabang-cabang-Ku. Kalau kamu tetap hidup bersatu dengan Aku, dan Aku tetap hidup bersatu dengan kamu, maka kamu akan menghasilkan banyak buah. Tetapi kalau kamu terpisah dari-Ku, kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa.
6 Setiap orang yang hidupnya terpisah dari-Ku seperti cabang-cabang pohon yang dibuang ke luar dan menjadi kering. Cabang-cabang itu akan dikumpulkan, lalu dilemparkan dan dibakar ke dalam api.
7 Kalau kamu tetap hidup bersatu dengan Aku, dan ajaran-Ku hidup di dalam hatimu, kamu boleh minta apa saja yang kamu perlukan, maka hal itu akan diberikan kepadamu.
8 Bapa-Ku akan dimuliakan apabila kamu menghasilkan banyak buah. Hal itu juga menunjukkan bahwa kamu benar-benar murid-Ku.
9 “Seperti Bapa selalu mengasihi Aku, begitu juga Aku selalu mengasihi kamu. Hendaklah kamu terus hidup sebagai orang yang Aku kasihi.
10 Tetaplah taat kepada perintah-perintah-Ku, Aku juga akan tetap mengasihi kamu. Begitu juga Bapa-Ku tetap mengasihi-Ku, karena Aku selalu taat kepada perintah-Nya.
11 Aku sudah memberitahukan semua ini kepadamu, supaya kamu ikut merasakan sukacita-Ku, dan supaya tidak ada sesuatu pun yang kurang dari sukacitamu.
12 Inilah perintah yang Ku-berikan kepadamu: Hendaklah kamu saling mengasihi satu sama lain, sama seperti Aku mengasihi kamu.
13 Bukti seseorang mempunyai kasih yang paling luar biasa adalah ketika dia rela mengurbankan dirinya sendiri demi menyelamatkan sahabat-sahabatnya. 

Pada Perang Dunia II, pengepungan pasukan Hitler terhadap Leningrad mengakibatkan jutaan orang dalam
kota mati kelaparan. Dari sekian banyak korban, 12 orang mati kelaparan di tengah-tengah bahan makanan yang dapat mempertahankan hidup mereka di penyimpanan bibit tanaman unggul di Pavlovsk. Ahli tanaman kacang, Alexander Stchukin mati di meja kantornya, melindungi ribuan ton sumber makanan yang bisa menyelamatkan hidup semua orang. Mereka memilih mati karena ingin memastikan generasi penerus bangsa Rusia dapat mengon­sumsi makanan yang telah mereka jaga dengan nyawa.

Kembali kita diingatkan bahwa tidak ada kasih yang lebih besar daripada seseorang yang menyerahkan
nyawanya untuk orang lain. Dasar dari pengurbanan ini adalah kasih dan kasih ini berada pada tingkat yang tak
dapat ditandingi oleh jenis yang lain. Bapa mengirim anak-Nya yang tunggal untuk mati bagi dosa-dosa manusia,
yang seharusnya tak perlu dilakukan-Nya. Jika keadilan Allah semata yang ditegakkan, manusia sendiri yang harus
menanggung dosa. Namun, Allah juga merupakan pribadi yang Maha pengasih dan bukti terbesar akan kasih-Nya
adalah ketika Dia mati di kayu salib untuk menyelamatkan manusia.

Menjelang peringatan kematian Kristus, mari kita melihat diri sebagai pribadi-pribadi yang telah ditebus oleh
Yesus Kristus. Saat kehidupan mulai membawa pengaruh yang mengatakan manusia adalah pusat dari segalanya,
memahami tingkat kasih yang tertinggi dapat menyadarkan posisi Allah dan posisi kita yang sebenarnya. Sepatutnya
kita bersyukur setiap hari bahwa ada seseorang yang rela menyerahkan nyawa-Nya supaya kita tidak binasa tetapi
memperoleh kehidupan yang bermakna. (NSG)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017
Catatan Kaki
*Menghasilkan buah Karena arti sebenarnya adalah orang dan bukan pohon yang berbuah, artinya hidup dengan cara menunjukkan bahwa mereka adalah milik Yesus. Termasuk dalam cara hidup itu adalah 1) “Hasil dan bukti Roh Kudus terlibat dalam hidup kita”— yang disebut di Gal. 5:22-23. (Lihat juga Ef. 5:9; Ibr. 12:11; Yak. 3:18.) 2) ‘Panen gandum’ rohani— yaitu memenangkan jiwa-jiwa supaya hidup mereka juga diubahkan dan mereka memperoleh keselamatan yang selama-lamanya, seperti yang Yesus jelaskan dalam Yoh. 4:34-38 dan Yoh. 15:16. Yesus menyerahkan diri-Nya untuk hal itu, seperti yang dinyatakan dalam Yoh. 12:24.

Open post

Menunda-nunda

Bacaan Amsal 6:1-11
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Nasihat-nasihat lain
1 Anakku, barangkali kau pernah berjanji kepada seseorang untuk menanggung utangnya.
2
Dan boleh jadi kau telah terjerat oleh kata-katamu dan terjebak oleh janjimu sendiri.

3 Kalau benar begitu, anakku, engkau sudah berada dalam kekuasaan orang itu. Tetapi inilah caranya kau dapat
lolos: cepatlah pergi kepada orang itu; mintalah dengan sangat supaya ia mau membebaskan engkau.
4 Janganlah pergi tidur dahulu, dan jangan beristirahat.
5 Lepaskanlah dirimu dari perangkap itu seperti burung atau kijang melepaskan diri dari pemburu.
6 Orang yang malas harus memperhatikan cara hidup semut dan belajar daripadanya.
7 Semut tidak punya pemimpin, tidak punya penguasa atau pengawas,
8 tetapi selama musim menuai mereka mengumpulkan bekal untuk musim paceklik.
9 Sampai kapan si pemalas itu mau tidur? Kapankah ia mau bangun?
10 Ia duduk berpangku tangan untuk beristirahat, dan ia berkata, “Ah, aku tidur sejenak, aku mengantuk. “
11 Tetapi sementara ia tidur, ia ditimpa kekurangan dan kemiskinan yang datang seperti perampok bersenjata.

Sepuluh tahun terakhir, dunia dihebohkan dengan berita-berita yang menyatakan bahwa tanggal sekian bulan sekian dan tahun sekian akan terjadi kiamat. Pernyataan-pernyataan tersebut bukan hanya berasal dari peramal, tetapi juga dari beberapa hamba Tuhan yang mengatakan mendapat pesan Tuhan dalam berbagai bentuk. Ada yang mendapat penglihatan, suara Tuhan secara audible, hingga mimpi. Namun tiba tanggal yang disebutkan, bumi ini baik-baik saja. Tak ada tanda-tanda sedikit pun yang menunjukkan akan terjadi kiamat atau semacamnya.

Faktanya, ketika semua itu meleset, satu hal yang saya syukuri adalah saya masih mempunyai kesempatan
sekali lagi untuk serius mengikut Tuhan dan hidup sesuai perintah-Nya. Sayangnya, respons ini tidak ditunjukkan
oleh orang-orang di sekitar saya. Mungkin juga di ling­kungan Anda. Nyatanya, saya masih melihat banyak orang
mengaku Kristen tetapi hidupnya bermalas-malasan. Bukan malas bekerja atau menempuh pendidikan, tetapi
menunda untuk melakukan perintah Tuhan. Menunda berdoa, menunda membaca firman Tuhan, menunda ke
gereja, dan hidup semaunya sendiri. Padahal firman Tuhan memberitahukan kepada kita akan ruginya diri sendiri
ketika memelihara kebiasaan menunda. Menunda adalah bentuk dari kemalasan.

Jika kita malas bekerja atau belajar, maka kemiskinan dan kekurangan adalah buah yang akan kita nikmati di
waktu yang akan datang. Sementara, kalau kita tidak serius mengikut Tuhan maka kemalangan hidup akan menimpa
kita. Bahkan, kebinasaan kekal sudah menanti kita. Tentu Anda tidak mau, bukan? Selagi masih memiliki
waktu untuk serius dengan Tuhan, maka jangan lagi menunda-nunda untuk melakukan perintah-Nya. Jangan
sampai kita menyesal dikemudian hari. (MUD)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Open post

Apa Cita-Citamu?

Bacaan Filipi 3:1-11
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia

Mengenal Kristus jauh lebih berarti dari segala apa pun

1 Akhirnya Saudara-saudari yang saya kasihi, bersukacitalah karena bersatu dengan Tuhan! Saya tidak bosan-bosan mengulangi apa yang sudah saya tuliskan sebelumnya. Bahkan saya menegaskan hal bersukacita itu supaya secara rohani kalian aman.
2 Hati-hatilah terhadap guru-guru palsu! Mereka seperti anjing! Menurut mereka adat sunat Yahudi wajib untuk setiap laki-laki. Tetapi sebenarnya mereka adalah penjahat yang hanya mau memotong kulit alat kelaminmu saja!
3 Tetapi kita sudah menerima sunat yang sejati— yaitu sunat hati!* Buktinya kita menyembah Allah melalui Roh-Nya dan kita hanya bangga dengan apa yang Kristus Yesus kerjakan untuk menyelamatkan kita. Dan kita tidak bergantung pada upacara yang dilakukan dengan tangan manusia pada tubuh laki-laki atau peraturan-peraturan jasmani yang lain.
4 Kalau guru-guru palsu itu merasa bahwa mereka bisa bergantung kepada hal-hal jasmani seperti itu, atau status mereka dalam agama Yahudi, maka saya lebih pantas lagi berbangga atas hal seperti itu!
5 Saya disunat waktu berumur satu minggu.** Saya adalah keturunan Israel dari suku Benyamin. Saya orang Ibrani dan orang tua saya juga orang Ibrani. Saya juga anggota kelompok Farisi, jadi jelaslah bahwa saya sangat menaati semua Hukum Taurat.
Dan saya begitu semangat berjuang mempertahankan agama Yahudi sehingga saya menganiaya orang-orang yang percaya kepada Yesus. Pada waktu itu semua orang Yahudi bersaksi bahwa saya hidup benar dan tanpa noda sesuai dengan Hukum Taurat.
7 Memang dulu saya bangga dan merasa beruntung karena semuanya itu. Tetapi sekarang saya menganggap semua hal itu tidak berguna, karena sekarang saya hanya berbangga atas apa yang sudah Kristus kerjakan!
8 Bukan hanya itu saja! Bahkan saya menganggap segala sesuatu tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan apa yang saya miliki sekarang— yaitu mengenal Tuhan saya Kristus Yesus! Karena Kristus, semua yang dulu saya banggakan sekarang saya anggap tidak ada artinya dan sama saja dengan sampah. Mengenal Kristus jauh lebih berarti!
9 Jadi saya hanya ingin terus bersatu dengan Dia. Saya dibenarkan di hadapan Allah bukan karena hasil usaha saya dalam menaati Hukum Taurat, melainkan hanya karena Kristus! Ya, saya percaya penuh atas apa yang Kristus kerjakan, dan lewat percaya itu saja saya dibenarkan di hadapan Allah.
10 Maka sekarang saya hanya rindukan mengenal Kristus dan kuasa yang menghidupkan Dia dari kematian. Dan saya rindu ikut menderita dalam rangka melayani Kristus sama seperti Dia sendiri menderita— sampai saya rela mati seperti Dia!
11 Dengan begitu saya sangat berharap supaya saya sendiri pantas ikut dihidupkan kembali dari kematian.

Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit!” Kata-kata mutiara ini sering kita temukkan pada tempelan-tempelan di ruang kelas untuk memicu semangat belajar meraih cita-cita. Bagaimana dengan cita-cita saudara? Saya yakin, saudara tidak pernah bercita-cita menjadi orang yang susah, tetapi mungkin cita-cita saudara ada di deretan profesi terhormat di dunia ini.

Kali ini, mari belajar dari cita-cita Paulus. Dari penjelasannya, mungkin saja cita-cita awal Paulus sudah ia capai, yaitu menjadi ahli Taurat yang sangat unggul. Kehormatan dan kebanggaan dari manusia sudah pasti ia dapat. Namun, terjadi titik balik yang membuat Paulus berkesimpulan bahwa semuanya itu sampah dan rugi karena pengenalan akan Kristus sebagai Tuhannya lebih mulia dari­ pada semuanya itu. Karenanya, ia memutuskan untuk melepaskan semua kebanggaannya dan meng­anggapnya sampah. Sekarang ia memiliki pengejaran atau cita-cita baru. Di situ, kita lihat bahwa salah satu cita-citanya adalah persekutuan dalam penderitaan Kristus supaya ia menjadi serupa dengan Kristus dalam penderitaan-Nya. Baginya, itulah yang menjadi dambaannya. Pada saatnya, ia akan bangkit dari antara orang mati. Penderitaan bagi Kristus bukanlah sesuatu yang membuatnya malu atau bersedih tetapi menjadi sukacitanya, seperti tema tulisan suratnya kepada jemaat Filipi. Sekalipun ia menderita dalam penjara ketika menuliskannya.

Firman Tuhan ini mengajak kita untuk menge­jar cita-cita yang jauh lebih mulia, yaitu mengenal Kristus dalam penderitaan bagi-Nya. Dengan cara apa kita bisa secara sengaja menjadikan penderitaan bagi Kristus sebagai cita-cita kita hari ini? kiranya Roh Kudus menolong kita menemukan dan melakukannya.

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Catatan Kaki
* Sunat hati Lihat Kol. 2:11.
** 3:5 satu minggu Secara harfiah, “delapan hari.” Kalau bayi laki-laki lahir pada hari Senin, maka dia disunat pada hari Senin berikutnya. Menurut cara hitung orang Yahudi, hari pertama dan hari terakhir dihitung. Dalam contoh di atas, hari Senin yang pertama dihitung sebagai hari kesatu, dan hari Senin berikutnya dihitung sebagai hari kedelapan.

Open post

Kasih adalah Tindakan

Bacaan Yohanes 15:13
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

13 Bukti seseorang mempunyai kasih yang paling luar biasa adalah ketika dia rela mengurbankan dirinya sendiri demi menyelamatkan sahabat-sahabatnya. 

Persahabatan tidak hanya sekadar kata-kata, tetapi juga dibuktikan dengan tindakan. Hal inilah yang
dilakukan Qin Jiao. Kisah ini berawal ketika Qin yang saat itu masih 9 tahun mengetahui sahabatnya, Ying Hui tidak
bisa berangkat sekolah akibat sakit polio yang dideritanya. Karena keluarga Ying tak mampu membopongnya, Qin
memutuskan untuk menolong sang sahabat. Bocah perempuan 13 tahun ini pun membiarkan Ying bersandar
di punggungnya setiap pergi dan pulang sekolah. Meng­gendongnya. Qin telah membopong sahabatnya di
punggung dan melewati perjalanan 4 mil atau 6,4 km untuk sampai ke sekolah selama 3 tahun berturut-turut. Ia
pun tak pernah mengeluh lelah.

Betapa beruntungnya Ying memiliki sahabat yang mengasihi dirinya dengan tulus, mengingat “Penyakit”
yang sebenarnya paling dihindari setiap orang adalah ketika ia tidak dikasihi. Manusia yang tidak dikasihi tidak akan
pernah mampu mengasihi apalagi berbuat hal-hal yang didasari oleh kasih. Syukur, kasih yang kekal dari Allah Bapa
dan Putra-Nya telah terlebih dulu tercurah atas manusia, sehingga bukan hanya hubungan kita dengan Bapa di surga
dipulihkan atau karakter kita dibentuk tetapi kita juga dimampukan untuk mengasihi sesama termasuk mereka
yang menganiaya kita. Bukankah ini suatu perubahan yang menjadikan hidup lebih indah? Selanjutnya, apakah yang
harus kita lakukan sebagai wujud kasih?

Pancarkanlah kasih Bapa kepada orangtua, saudara, teman, bahkan orang-orang yang menyakiti kita, supaya
mereka pun mengalami kasih Bapa. Bila disakiti, jangan membalas tetapi ampunilah orang tersebut dan tetaplah
bersikap baik meski sulit. Ingat, kasih bukanlah kata-kata
melainkan tindakan! (Yustinus)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Open post

Tiket ke Surga

Bacaan Matius 19:16-26
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Orang kaya sangat sulit masuk surga
(Mrk. 10:17-31; Luk. 18:18-30)

16 Ada seorang laki-laki muda yang datang kepada Yesus dan bertanya, “Guru, perbuatan baik apa yang harus saya lakukan supaya saya mendapatkan hidup selama-lamanya?”
17
Dia menjawab, “Kenapa kamu bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Allah satu-satunya yang baik. Kalau kamu mau mendapat hidup selama-lamanya, taatilah perintah-perintah di dalam Hukum Taurat.”

18 Orang itu bertanya lagi, “Perintah-perintah yang mana yang harus saya taati?”Jawab Yesus, “Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberikan kesaksian palsu,
19 hormatilah ibu-bapakmu dan kasihilah sesamamu sama seperti kamu mengasihi dirimu sendiri.”*
20 Orang muda itu berkata, “Semuanya itu sudah saya taati. Apa lagi yang perlu saya lakukan?”

21 Yesus berkata lagi kepada orang itu, “Kalau kamu mau kehendak Allah lengkap dalam dirimu, pergilah dan juallah seluruh hartamu. Lalu bagi-bagikanlah uangnya kepada orang-orang miskin. Dengan begitu kamu akan memperoleh harta di surga. Kemudian datanglah dan ikutlah Aku.”
22 Waktu orang muda itu mendengar apa yang Yesus katakan, dia pergi dengan hati yang sedih, karena dia sangat kaya dan tidak mau menjual hartanya.
23 Kemudian Yesus berkata kepada kami murid-murid-Nya, “Yang Ku-katakan ini benar: Sulit sekali bagi orang kaya untuk menjadi warga kerajaan Allah! 24 Aku sungguh-sungguh katakan ini lagi: Lebih gampang seekor unta masuk melewati lubang jarum** daripada orang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah.”
25 Ketika kami mendengar hal itu, kami sangat heran dan bertanya, “Kalau begitu, siapa yang bisa selamat dan masuk surga?”
26 Tetapi Yesus memandangi kami dan berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi Allah sanggup melakukan segala sesuatu.”

Ketika saudara ingin menonton di bioskop tentunya langkah awal yang harus saudara lakukan adalah membeli tiket. Jika film yang ingin saudara tonton merupakan film yang ditunggu-tunggu oleh khalayak, berarti saudara bersiap mengantri panjang.

Ibarat menonton film di bioskop, untuk masuk ke dalam kerajaan surga kita juga membutuhkan tiket masuk. Kekayaan, jabatan, dan perbuatan baik manusia tidak berlaku untuk di sini. Hanya ada satu cara untuk memperoleh tiket tersebut, yaitu percaya kepada Yesus Kristus. Sayangnya, banyak orang tidak merasa perlu percaya kepada-Nya karena merasa sudah banyak berbuat baik dan “tidak pernah” melakukan dosa dan kejahatan. Mereka menganggap perbuatan baik itu akan menyelamatkan mereka dari hukuman dan membawa mereka masuk ke surga. Hal ini juga diterima dan dipahami oleh seorang muda yang kaya, dikisahkan dalam perikop hari ini.

Parahnya, ketika Yesus berusaha memperbaiki pan­dangannya yang salah, pemuda itu justru mempergunakan
Taurat sebagai pembenaran, bukan otoritas Allah untuk ditaati dengan hati bersyukur. Tak heran, ketika Yesus
mengajaknya untuk menjual hartanya dan memberikan semuanya kepada orang miskin agar dapat mengikut Dia,
pemuda ini berubah sedih lalu pergi meninggalkan Yesus.

Kisah orang muda itu memberikan pelajaran bahwa janganlah kita dikuasai oleh harta. Sebab, fokus hidup orang
yang dikuasai oleh harta bukanlah Allah dan kehendak-Nya, tetapi harta itu sendiri sebagai penjamin hidup mereka (Mat. 6:24). Tanpa mengakui berdosa diperbudak harta serta bertobat, mustahil seseorang dapat masuk ke
dalam Kerajaan surga. (M.Utami Dwi)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Catatan kaki
19:19 Kel. 20:12-16; Ul. 5:16-20; Im. 19:18
** 19:24 lubang jarum Ajaran yang tidak benar sudah banyak diajarkan di mana-mana bahwa pada waktu Yesus ada pintu ukuran biasa di samping pintu gerbang besar di Yerusalem. Diajarkan bahwa pintu yang lebih kecil itu bernama Lubang Jarum, dan bahwa seekor unta bisa masuk— tetapi hanya kalau semua bebannya dilepaskan. Tetapi pintu di samping gerbang seperti itu hanya terdapat di negara-negara Eropa, dan dibangun beberapa abad sesudah zaman Yesus. Ajaran Yesus di sini adalah bahwa sama sekali mustahil untuk orang kaya menjadi warga kerajaan Allah! Tetapi menurut ayat 26, hal yang mustahil bagi manusia itu bisa terjadi dengan pertolongan Allah.

Open post

Mengatasi Penghalang

Bacaan Lukas 18:35-43
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

 

35 Ketika Yesus dan para murid-Nya hampir tiba di kota Yeriko, ada seorang buta sedang duduk mengemis di pinggir jalan.
36 Karena dia mendengar suara orang banyak melewati jalan itu, lalu dia bertanya kepada orang-orang di situ, “Apa yang sedang terjadi?”
37 Mereka memberitahu dia, “Yesus orang Nazaret sedang lewat.”
38 Karena itu dia berseru, “Yesus, Keturunan Daud,* kasihanilah saya!”
39 Tetapi orang-orang yang berjalan di depan Yesus menyuruh dia diam. Tetapi dia semakin keras berteriak, “Yesus, Keturunan Daud, kasihanilah saya!”
40 Kemudian Yesus berhenti dan menyuruh orang buta itu dituntun kepada-Nya. Ketika orang buta itu mendekat, Yesus bertanya,
41 “Apa yang kamu mau Aku perbuat bagimu?” Kata orang itu, “Tuhan, tolonglah supaya saya bisa melihat kembali.”
42 Yesus berkata kepadanya, “Kalau begitu melihatlah! Karena kamu percaya kepada-Ku, maka sekarang kamu bisa melihat.”
43 Saat itu juga orang itu bisa melihat lagi, lalu mengikut Yesus sambil memuji-muji Allah. Dan orang banyak yang melihat kejadian itu juga memuji-muji Allah.

Selalu ada harga yang harus dibayar untuk sukses. konsistensi sangat diperlukan dalam meraih kesuksesan  tersebut, karena selalu ada hambatan, rintangan, dan penghalang kesuksesan yang akan terus menghadang dihadapan kita. Penghalang-penghalang kesuksesan antara lain: tidak tahu prioritas, menunda-nunda pekerjaan, tetap berada di zona nyaman, menyerah terlalu cepat, tidak ada tindakan, tidak memiliki mimpi, perfeksionis, tidak fokus, budaya instan, dan manajemen waktu yang buruk. Secara singkat, penghalang terbesar kita untuk sukses itu datang dari dalam diri sendiri.

Lain halnya orang yang ingin sukses, lain pula halangan terbesar yang diperhadapkan pada orang buta dalam perikop hari ini. Penghalang terbesarnya untuk memperoleh kesembuhan justru berasal dari luar dirinya, yaitu orang banyak yang mengerumuni Yesus karena ingin melihat-Nya, ditambah teguran dari orang-orang itu karena ia berseru-seru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”. Dua penghalang yang cukup untuk menciutkan kerinduannya untuk berjumpa Yesus dan bisa melihat. Syukur, kerinduannya jauh lebih besar sehingga seruan yang berkali-kali diserukannya berhasil didengar oleh Yesus. Alhasil, mujizat pun terjadi. Matanya yang buta menjadi bisa melihat bahkan melihat secara langsung Sang Juruselamat dunia.

Belajar dari orang buta itu, kunci untuk mengalami kemenangan dalam hidup ini adalah datang kepada Yesus, percaya kepada-Nya, dan jangan pernah menyerah pada rintangan yang ada di depan kita. Saat ini, renungkanlah pertanyaan berikut! Apakah penghalang terbesar dalam hidup sehingga Anda sulit mengalami kemenangan di dalam Yesus Kristus? Apakah hambatan terbesar dalam hidup sehingga Anda sulit untuk memiliki keseriusan dengan Yesus? (Rumintar Silitonga)

*Dikutip dari renungan Andi offset Maret 2017

Catatan Kaki
*18:38 Keturunan Daud Secara harfiah, “Anak Daud.” Waktu orang buta itu memanggil Yesus ‘Keturunan Daud’, artinya bukan saja bahwa Yesus dari keluarga Daud. Karena sebelum Yesus datang, nabi-nabi sudah bernubuat bahwa Raja Penyelamat akan datang dari keturunan Raja Daud. Jadi semua orang Yahudi menyebutkan Raja Penyelamat sebagai ‘Keturunan Daud’. Karena nubuat nabi-nabi itu, mereka juga berpikir, “Dia juga akan menyembuhkan orang sakit dan buta.” Jadi orang buta ini sudah tahu bahwa Yesus bukan orang biasa. Lihat Yes. 29:18-19; 35:4-6; 42:6-7.

Open post

Bahaya Balas Dendam

Bacaan: Matius 14:1-12
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

 

Herodes mendengar tentang Yesus
(Mrk. 6:14-16; Luk. 9:7-9)

1 Waktu itu Herodes*— raja di daerah Galilea, mendengar berita tentang Yesus. Sebelumnya dia sudah membunuh Yohanes Pembaptis.**
2 Lalu Herodes berkata kepada para hambanya, “Saya pikir orang itu yang menyebut dirinya Yesus*** sebenarnya Yohanes Pembaptis. Ternyata Yohanes sudah hidup kembali dari antara orang mati, dan karena itulah dia bisa melakukan keajaiban-keajaiban itu.”

Kisah tentang pembunuhan Yohanes Pembaptis
(Mrk. 6:17-29)

3-4 Jauh sebelum peristiwa itu, Herodes sudah merampas Herodiana****— istri dari adiknya sendiri, yaitu Filipus. Lalu Yohanes Pembaptis menegur dia berulang-ulang, “Menurut Hukum Taurat kamu tidak boleh kawin dengan istri adikmu itu.”***** Karena itu Herodes menyuruh tentaranya untuk menangkap Yohanes dan memasukkan dia ke dalam penjara dengan keadaan terikat rantai besi.
5 Herodes mau membunuh Yohanes, tetapi dia takut kepada orang banyak yang sudah percaya bahwa Yohanes adalah seorang nabi.
6 Sesudah beberapa waktu dan pada pesta ulang tahun Herodes, putri Herodiana menari di hadapan Herodes dan para tamunya. Dan hal itu sangat menyenangkan hati Herodes,
7 sehingga dengan bersumpah Herodes berjanji untuk memberikan apa saja yang diinginkannya.
8 Karena sudah dipengaruhi oleh ibunya, putri itu berkata kepada Herodes, “Aku minta supaya kepala Yohanes Pembaptis dipotong, ditaruh di atas piring besar dan dibawa kemari!”
9 Waktu Herodes mendengar permintaannya itu dia sangat menyesal, tetapi karena dia sudah bersumpah di depan semua tamunya, dia memberi perintah supaya permintaan putri itu dipenuhi.
10 Dia menyuruh tentara-tentaranya untuk memotong kepala Yohanes di penjara.
11 Lalu kepala Yohanes dibawa di atas piring besar dan diberikan kepada putri itu. Kemudian diberikannya kepada ibunya.
12 Waktu pengikut-pengikut Yohanes Pembaptis mendengar berita itu, mereka pergi ke penjara dan mengambil mayat Yohanes, lalu menguburkannya. Kemudian mereka pergi kepada Yesus dan memberitahukan apa yang sudah terjadi.

Anda penyuka drama Korea atau film India? jika perhatikan drama atau film tersebut mengisahkan perjalanan tokoh­nya yang karena mengalami kondisi tidak mudah, bahkan penindasan, ia berusaha sekuat tenaga membalas
dendam. Namun, tidak semua puas. Beberapa diantaranya menyesalinya untuk balas dendam.

Dalam perikop ini kita bisa melihat balas dendam Herodias terhadap Yohanes Pembaptis. Peristiwa itu diawali dengan teguran Yohanes Pem­baptis atas perselingkuhannya dengan Herodes. Padahal, ia masih berstatus istri Filipus saudara
Herodes (TSI = Terjemahan Sederhana Indonesia) Tampaknya, ia sangat marah dengan teguran tersebut dan memendam
rencana untuk membalas dendam. Tahun demi tahun ia dipenuhi rencana tersebut. Akhirnya tiba kesempatan itu saat Herodes Antipas ber­ulang tahun. Karena dikuasai dendamnya, ia tidak peduli jika harus memanfaatkan putrinya untuk
melaksanakan balas dendamnya. Setelah menari dan membuat Herodes beserta tamu-tamunya sangat puas, putri Herodias meminta kepala Yohanes Pembaptis sebagai imbalan. Bagaimana bisa gadis muda itu sudah berpikiran mengerikan seperti itu? Bagaimana pula per­gulatan Herodes sendiri yang tidak mudah harus memenggal Yohanes Pembaptis
yang ia segani. Sungguh kemarahan yang tidak terbereskan membuahkan dosa yang mengerikan
sehingga mengabaikan, bahkan memanipulasi mereka yang seharusnya dikasihinya.

Adakah kemarahan yang masih kita pendam? Mari kita mengakuinya di hadapan Tuhan dan meminta ampun. Kemarahan yang tidak segera terselesaikan, bahkan dipendam justru melelahkan hidup kita dan bisa memanfaatkan orang yang
sebenarnya kita kasihi. (AST)

*Dikutip dari renungan Andi offset Maret 2017

Catatan kaki:

*14:1 Herodes Herodes ini yang juga disebut Antipas, adalah anak dari Raja Herodes Agung yang memerintah pada waktu Yesus dilahirkan.
**14:1 Sebelumnya … Informasi ini, yang Matius menceritakan dalam ayat 3-12, sudah diketahui oleh pembaca pertama. Ini diungkapkan di sini untuk membantu pembaca sekarang mengerti ayat 2.
***14:2 menyebut dirinya Yesus Menjelang waktu Yohanes dibunuh, tiba-tiba nama Yesus menjadi terkenal sebagai orang yang membuat banyak keajaiban. Jadi beberapa orang yang belum pernah melihat atau mengenal Yesus mengira bahwa mungkin Yohanes sudah kembali langsung dari surga dan menyebut dirinya dengan nama baru. Pada zaman Yesus ada banyak orang lain yang juga bernama Yesus. Nama Yesus dalam bahasa Yunani adalah sama dengan nama Yosua dalam bahasa Ibrani. Kedua nama itu berarti “Yahweh Penyelamatku.”
****14:3 Herodiana Nama ini sering ditulis dalam penerjemahan bahasa Indonesia sebagai “Herodias.” Pengejaan Herodiana dipilih supaya nyata bahwa ini nama perempuan.
*****4:4 Hukum Taurat … istri adikmu itu Allah melarang seorang laki-laki menikah atau berhubungan seks dengan istri saudaranya (Im. 18:16; 20:21), kecuali saudaranya itu mati dan tidak punya anak. Kemudian dia boleh menikahi janda saudaranya itu supaya mendapat anak yang dianggap anak dari saudara yang sudah meninggal itu (Ul. 25:5-6; Mrk. 12:18-27).

Open post

Pembaharuan

Bacaan: Yesaya 11:1
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Keturunan Raja Daud seperti pohon yang sudah ditebang. Tetapi sebagaimana dari tunggul tumbuh tunas baru, demikian pula dari keturunan Daud akan muncul seorang raja.

Memperbaiki sesuatu yang sudah rusak bukanlah hal yang mudah. Hal itu mem­butuhkan suatu proses, waktu, tenaga, dan menyita per­hatian. Dalam kehidupan sehari-hari, bahkan ada kalanya sesuatu yang salah atau keliru dianggap sebagai kebenaran.
Karena itu, perlu penyadaran dan pembaruan oleh pribadi yang khusus atau istimewa.

Seperti dalam Kitab Yesaya, ibarat pedang bermata dua, di satu sisi berupa ancaman di sisi lain adalah janji pemulihan dan penghiburan yang akan diberikan Tuhan khususnya kepada Yehuda. Yehuda
seharusnya dihukum tetapi Tuhan memakai Yesaya untuk mengingatkan Yehuda. Demikian juga Yesaya bertindak menyiapkan proses pemilihan raja Israel yaitu, Daud, tunas tunggul Isai.

Tuhan menghendaki pola kepemimpinan yang tidak mementingkan diri sendiri tetapi pemimpin yang tanpa pamrih. Nabi Yesaya menggambarkan kepemimpinan yang demikian dalam kehidupan yang serba rukun dan damai. Dalam hal ini pun digambarkan lebih lanjut oleh Nabi Yesaya sebagai kehidupan yang tanpa kebusukan dan kejahatan. Sesungguhnya tunas tunggul Isai juga mengacu kepada keturunan Daud yaitu menunjuk pada pemerintahan Yesus Kristus. Dia yang memimpin dalam pola pemerintahan yang penuh keadilan dan perdamaian. Hal inilah yang ingin diajarkan Nabi Yesaya kepada kita semua agar kehidupan kita setelah menerima pola pemerintahan yang dari Yesus Kristus ini benar-benar mengalami
pembaruan, yang membawa damai.

Mari kita membenahi dan memperbarui semua aspek hidup kita. Kita dipanggil untuk menjadi duta-duta damai. Mari kita perbarui damai kita dengan diri sendiri, sesama, dan dengan semua ciptaan-Nya. Pembaruan hidup kita akan menjadi
pendamai bagi sesama. (Dewani)

*Dikutip dari renungan Andi offset Maret 2017

 

Posts navigation

1 2 3 12 13 14 15 16
Scroll to top