Open post

Penilaian tentang Pemberian

Bacaan Markus 12:41-44
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Janda miskin yang memberikan semua uangnya kepada Allah*

41 Waktu Yesus masih berada di teras Rumah Allah, Dia duduk menghadap peti persembahan sambil memperhatikan orang-orang yang memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memasukkan sejumlah uang yang besar.
42 Lalu seorang janda miskin datang dan memasukkan dua uang logam yang nilainya paling kecil.
43 Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, “Apa yang Aku katakan ini benar: Persembahan janda miskin ini nilainya lebih besar dari persembahan semua orang lain di sini— sekalipun orang-orang kaya itu.
44 Karena mereka memberi sedikit dari kelebihan harta mereka, sedangkan janda yang sangat miskin ini memberi semua miliknya— yaitu seluruh biaya hidupnya.” 

Ibu, ini buat kenang-kenangan kata seorang kakek sambil menyodorkan majalah BAHANA edisi lama agar saya terima. Peristiwa itu terjadi sebelum mengumumkan selesainya masa praktek di gereja lokal di mana kakek tersebut juga bergereja. Kakek tinggal seorang diri dan hidupnya sederhana. Saya pun terharu atas pemberian kakek kepada saya. Bukan hanya itu saja, hampir setiap bulan, kakektersebut membeli majalah gereja seharga Rp 5.000 tetapi menyerahkan Rp 6.000 untuk pembayaran supaya kelebihannya dapat dipakai untuk jajan.

Dalam bacaan Alkitab hari ini, kita membaca saat Yesus sedang duduk di depan persembahan, sambil memperhatikan orang-orang yang memasukkan persembahan ke dalam kotak itu. Ketika orang-orang memberi dalam jumlah besar, Yesus bersikap biasa saja. Namun, Yesus langsung merespons ketika ada seorang janda miskin yang memasukkan uang sebesar dua peser (sekitar Rp 500 untuk zaman sekarang). Ia memanggil murid-murid- Nya dan memuji pemberian janda miskin tersebut, yang menurut Yesus lebih banyak daripada pemberian semua orang yang ada di sana! Pemberian janda itu dipuji Yesus karena ia memberi dari kekurangannya, sementara orang lain memberi dari kelebihan yang mereka miliki

Ucapan Yesus ini mengajarkan bahwa ukuran banyak- sedikitnya pemberian bukan didasarkan atas jumlah, melainkan pengurbanan dari sang pemberi. Melalui kisah ini, mari kita belajar menilai setiap pemberian dari sesama bukan berdasarkan nilai materinya, melainkan nilai pengurbanan yang terkandung di dalamnya. Bersyukurlah atas setiap pemberian dari sesama kepada kita, karena mereka dipakai Allah untuk memberkati kita.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Oktober 2017

Catatan kaki: * Perikop: Luk. 21:1-4

Open post

Lalai Berakibat Fatal

Bacaan Matius 14:13-21
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Perumpamaan tentang sepuluh gadis

1 “Pada waktu Aku— Anak Manusia, datang kembali dan disambut sebagai Raja di dunia ini, kejadiannya bisa digambarkan seperti dalam cerita ini: Pada suatu hari ada pesta pernikahan dan diadakan pada malam hari. Ada sepuluh orang gadis yang bersiap-siap untuk menghadiri pesta pernikahan itu, dan masing-masing membawa pelitanya dan pergi menyambut pengantin laki-laki.
2 Dan ternyata dari antara mereka hanya lima gadis bijak dan yang lima lagi bodoh. 
3-4 Masing-masing gadis yang bijak membawa minyak cadangan dalam botol untuk pelita mereka. Tetapi gadis yang bodoh membawa pelita saja tanpa membawa minyak cadangan. 
5 Tetapi pengantin laki-laki itu lama sekali datang, jadi semua gadis itu mengantuk lalu tertidur.
6 “Pada tengah malam ada orang yang berteriak, ‘Pengantin laki-laki datang! Mari sambutlah dia!’
7 “Gadis-gadis itu pun segera bangun dan mengatur sumbu-sumbu pelita mereka supaya menyala lebih terang. 
8 Lalu masing-masing gadis bodoh itu memohon kepada gadis-gadis yang bijak, ‘Berilah saya sedikit minyakmu, karena pelita saya sudah mau padam.’
9 “Tetapi masing-masing gadis bijak itu menjawab, ‘Oh, jangan! Kalau saya beri pasti tidak akan cukup untuk saya lagi. Lebih baik kamu pergi membelinya ke penjual minyak.’
10 “Selagi mereka pergi membeli minyak, pengantin laki-laki pun tiba. Dan kelima gadis bijak yang sudah siap sedia itu ikut masuk bersama dia ke tempat pesta pernikahan. Lalu pintunya dikunci.
11 “Tidak lama kemudian gadis-gadis yang bodoh itu pun datang dan berkata, ‘Tuan, tuan, tolong bukakan pintu bagi kami!’
12 “Jawab pengantin laki-laki itu, ‘Yang ku-katakan ini benar: Saya tidak mengenal kalian.’
13 “Karena itu siap siagalah selalu, karena kalian tidak tahu hari atau jam kedatangan-Ku kembali!”

Mengapa seseorang bisa lalai? Menurut saya, seseorang lalai karena ia tidak menganggap sesuatu sebagai hal yang penting. Saya pernah mengalaminya. Suatu malam setelah bepergian, saya mengantar kekasih saya pulang. Sebelum berpisah, kekasih saya mengingatkan kalau bensin hampir habis. Ketika saya melihat indikator bensin, memang posisi jarum sudah di posisi E. Bukannya mengisi malam itu juga, saya malah pulang dan akan mengisinya besok. Keesokan harinya, sepeda motor saya mogok di tengah perjalanan karena kehabisan bensin. Saya harus mendorong motor itu cukup jauh dan dimarahi bos karena terlambat masuk kerja.
 
Apa pun alasannya, lima gadis bodoh dalam perumpamaan yang diceritakan Yesus tidak menganggap undangan mempelai sebagai sesuatu yang penting. Mereka membawa pelita yang berisi minyak, tapi mereka tidak membawa cadangan minyak dalam buli-buli. Apakah dosa kalau kita bersikap lalai? Bisa dosa, bisa juga tidak, tetapi akibatnya bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Karena tidak membawa minyak, kelima gadis bodoh harus pergi ke sana ke mari mencari minyak, yang tentu saja tidak gampang karena sudah larut malam. Setelah dapat minyak dan kembali, mereka tidak dapat masuk ke ruang perjamuan kawin karena pintus sudah ditutup. Meski memohon pintu dibukakan, mereka ditolak.
 
Hari ini, mari lakukan evaluasi diri di hadapan Tuhan. Kalau kita sering dirugikan dan merugikan orang lain karena kelalaian kita, marilah belajar untuk tidak meremehkan segala sesuatu, termasuk hubungan dengan Tuhan. Jangan sampai kita kita mengalami seperti lima gadis bodoh yang ditolak masuk ke dalam Kerajaan Surga karena kita lalai dalam melakukan firman Tuhan.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Oktober 2017

Open post

Mengejar Kata Maaf

Bacaan Mazmur 51:9-15
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Doa mohon ampun

Sucikanlah aku, maka aku akan bersih;
cucilah aku, maka aku akan lebih putih dari kapas.
10 Biarlah aku mendengar kabar sukacita,
agar hati yang Kauremukkan ini bersorak lagi.
11 Palingkanlah wajah-Mu dari dosa-dosaku,
dan hapuskanlah segala kesalahanku.
12 Ciptakanlah hati yang murni bagiku, ya Allah,
perbaruilah batinku dengan semangat yang tabah.
13 Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu,
dan jangan mengambil roh-Mu yang suci daripadaku.
14 Buatlah aku gembira lagi karena keselamatan daripada-Mu,
berilah aku hati yang rela untuk taat kepada-Mu.
15 Maka aku akan mengajarkan perintah-Mu kepada orang berdosa,
supaya mereka kembali kepada-Mu.
Suatu ketika, belum 5 menit meninggalkan parkiran kantor, saya dikagetkan dengan sebuah motor yang melaju dengan kencang dan hampir menabrak saya. Secara refleks, tangan saya menekan tombol klakson dengan keras dan berulang sambil berteriak, “Hati-hati dong, Pak!” Rupanya orang tersebut tidak terima dan mengganggap bahwa sayalah yang salah. Ia bahkan sempat menantang saya untuk berkelahi. Perseteruan pun selesai ketika saya membesarkan hati untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf. Pengalaman ini merupakan pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga bagi diri saya.
 
Hari ini kita belajar dari kebesaran hati raja Daud. Ia tidak membenarkan dirinya atau mencari kambing hitam (menuduh orang lain sebagai penyebab kejatuhannya dalam dosa), tetapi ia mengaku dosanya secara terus terang (ay. 5-7). Tak lupa ia memohon agar Allah mengasihani dirinya dan menghapuskan pelanggaran yang diperbuatnya, menurut kasih karunia dan rahmat-Nya yang besar. Ada tiga langkah praktis yang dilakukan oleh raja Daud. Pertama, memohon agar Tuhan melepaskannya dari dosanya dan menahirkan dirinya (ay. 9). Kedua, memohon agar dapat mendengar lagi kegirangan dan sukacita. Ia menyadari bahwa dosa membuatnya seperti orang dalam kondisi tulang yang remuk (ay. 10). Ketiga, memohon agar Tuhan menyembunyikan wajah-Nya terhadap dosanya. Artinya Tuhan tidak memandang dosanya yang menjadi alasan untuk menghukumnya (ay. 11). 
 
Hari ini, mari lakukan evaluasi diri. Jika ada dosa yang belum kita bereskan, akuilah di hadapan-Nya seraya memohon pengampunan-Nya, supaya kita diampuni dan dipulihkan. Hanya orang yang mau mengakui dosanya yang akan menerima pengampunan dari-Nya.
 
Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Oktober 2017
Open post

Berkurban dan Berbagi

Bacaan Matius 14:13-21
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Yesus memberi makan lima ribu orang lebih

13 Sesudah Yesus mendengar berita kematian Yohanes, Dia bersama kami murid-murid-Nya pergi naik perahu ke tempat yang sepi. Tetapi orang-orang mendengar bahwa Dia sudah pergi. Kemudian mereka meninggalkan kota-kota mereka untuk menyusul kami melalui jalan darat.
14 Waktu Yesus turun dari perahu, Dia melihat banyak sekali orang yang sudah berkumpul di situ. Dan Dia merasa kasihan kepada mereka, lalu Dia menyembuhkan orang-orang sakit di antara mereka.
15 Sore harinya, kami datang dan berkata kepada-Nya, “Sekarang hari sudah sore dan di sini daerah terpencil. Jadi lebih baik kita menyuruh mereka pergi ke kampung-kampung yang terdekat untuk membeli makanan.”
16 Kata Yesus kepada kami, “Mereka tidak usah pergi. Kalian saja yang memberi makanan kepada mereka.”
17 Jawab kami, “Kami hanya mempunyai lima roti dan dua ikan.”
18 Dia berkata, “Bawalah roti dan ikan itu kepada-Ku.”
19 Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu duduk di atas rumput. Dia mengambil lima roti dan dua ikan itu, kemudian memandang ke langit dan mengucap syukur kepada Allah atas makanan itu. Sesudah itu Dia menyobek-nyobek roti itu dan menyuwir-nyuwir ikan itu, lalu memberikannya kepada kami para murid-Nya. Selanjutnya, kami membagi-bagikannya kepada orang banyak.
20 Semua orang makan sampai kenyang. Sesudah itu kami mengumpulkan sisa makanan itu sebanyak dua belas keranjang.
21 Jumlah orang yang ikut makan kira-kira lima ribu orang laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak.

Pernahkan terlintas dibenak saudara, ketika Yesus memberi makan ribuan orang, kenapa Yesus tidak memepermudah proses distribusi roti kepada ribuan orang yang ada disekelilingnya itu? Misalnya, begitu selesai berdoa, tiba-tiba roti dan ikan ada muncul di tangan setiap orang yang ada di situ? Bukankah Yesus sangat mampu melakukannya? Ketika saya merenungkan hal tersebut, saya menemukan jawabannya. Yesus menghendaki agar murid-murid-Nya dan semua orang yang menerima roti itu mau berkorban. Ya, mereka “diharuskan” membagikan roti yang ada di tangan mereka kepada orang lain.

Pada peristiwa yang sangat terkenal itu, kita tidak tahu persis apakah pelipatgandaan akan berhenti ketika para murid dan orang banyak itu menolak membagikan roti dan ikan itu kepada orang-orang yang ada di dekat mereka. Namun yang jelas, berawal dari tangan Yesus, roti dan ikan diterima oleh murid-murid-Nya, lalu disalurkan kepada orang banyak hingga semuanya kebagian dan bisa makan sampai kenyang. Kita pun ingat bahwa mukjizat itu terjadi berawal dari pengurbanan seorang anak yang menyerahkan bekalnya kepada Yesus untuk dibagi-bagikan kepada orang banyak (ay. 17; band. Yoh. 6:5-9). Jika anak itu menolak menyerahkan bekalnya, mungkin kisah yang tertulis dalam keempat Injil akan lain.

Pengurbanan merupakan tindakan yang lahir dari proses latihan dan pengajaran. Seseorang tidak bisa spontan berkurban ketika melihat suatu kebutuhan, tanpa proses latihan yang telah ia lewati. Mulai hari ini, setiap kali kita memberi atau berkurban, ingatlah bahwa tindakan kita tidak akan sia-sia. Tuhan pun tak pernah menutup mata saat kita berkurban dengan apa yang kita miliki. Sudahkah kita memiliki kerelaan berkurban terhadap sesama?

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Oktober 2017

Open post

Biarkan Hidup Ini Mengalir

Bacaan Yosua 10:1-15
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini

Orang-orang Amori ditaklukkan

1 Adoni-Zedek, raja Yerusalem, mendengar bahwa Yosua sudah merebut dan menghancurkan sama sekali kota Ai, serta membunuh rajanya seperti yang telah dilakukannya terhadap Yerikho dan rajanya. Ia mendengar juga bahwa orang Gibeon sudah mengadakan perjanjian persahabatan dengan orang-orang Israel dan tinggal di tengah-tengah mereka.
2 Penduduk Yerusalem takut sekali, sebab Gibeon adalah kota yang besar; sama besarnya dengan kota-kota yang mempunyai raja, bahkan lebih besar dari Ai. Orang-orangnya pun pejuang-pejuang yang pandai bertempur.
3 Sebab itu Adoni-Zedek mengutus orang kepada Raja Hoham di Hebron, Raja Piream di Yarmut, Raja Yafia di Lakhis, dan Raja Debir di Eglon, dengan membawa pesan ini,
4 “Marilah membantu saya menyerang Gibeon, sebab orang-orangnya sudah mengadakan perjanjian persahabatan dengan Yosua dan orang Israel.”
5 Maka kelima raja Amori itu, yaitu raja Yerusalem, Hebron, Yarmut, Lakhis dan Eglon bergabung, lalu dengan seluruh tentara mereka, mereka mengepung dan menyerang Gibeon.
6 Orang-orang Gibeon mengirim berita ini kepada Yosua di perkemahan di Gilgal, “Jangan biarkan kami sendirian, Tuan! Datanglah segera membantu kami, sebab tentara dari semua raja Amori di daerah pegunungan sudah bergabung melawan kami!”
Lalu Yosua dan seluruh tentaranya, termasuk pasukan-pasukannya yang terbaik, berangkat dari Gilgal untuk berperang. 
8 Tuhan berkata kepada Yosua, “Jangan takut kepada mereka. Kemenangan sudah Kuberikan kepadamu, oleh sebab itu tidak seorang pun dari mereka dapat bertahan melawanmu.”
9 Semalam-malaman Yosua dengan pasukannya bergerak dari Gilgal ke Gibeon, lalu menyerang orang-orang Amori secara mendadak.
10 Tuhan membuat orang-orang Amori menjadi panik ketika melihat tentara Israel. Banyak orang Amori dibunuh di Gibeon, dan yang masih hidup dikejar menuruni lereng gunung di Bet-Horon sampai sejauh Azeka dan Makeda di sebelah selatan. 11 Pada waktu orang-orang Amori sedang menuruni lereng gunung itu karena melarikan diri dari tentara Israel, Tuhan menjatuhkan hujan es yang besar-besar dari langit ke atas mereka sepanjang jalan sampai di Azeka. Yang mati ditimpa hujan es itu jauh lebih banyak dari yang dibunuh oleh orang Israel.
12 Pada hari itu ketika Tuhan memberikan kemenangan kepada orang Israel terhadap orang Amori, Yosua berbicara kepada Tuhan. Dan di hadapan orang Israel, Yosua berkata, “Hai matahari! Berhentilah di atas Gibeon. Dan kau bulan! Janganlah berpindah dari atas Lembah Ayalon.”
13 Maka matahari berhenti dan bulan tidak berpindah sampai orang Israel selesai mengalahkan musuh-musuhnya. Peristiwa ini tertulis dalam Buku Yasar. Sehari penuh matahari berhenti di tengah-tengah langit, dan lama sekali baru terbenam.
14 Tidak pernah terjadi dan juga tidak akan terjadi suatu hari seperti hari itu, bahwa Tuhan mengikuti keinginan manusia. Tuhan berperang di pihak Israel!
15 Sesudah pertempuran itu, Yosua bersama-sama dengan tentaranya kembali ke perkemahan di Gilgal.

Pernahkah memberi makan terlintas ribuan di orang, benak mengapa Anda, ketika Yesus Yesus tidak mempermudah proses distribusi roti kepada ribuan orang yang ada di sekelilingnya itu? Misalnya, begitu selesai berdoa, tiba-tiba roti dan ikan ada muncul di tangan setiap orang yang ada di situ? Bukankah Yesus sangat mampu melakukannya? Ketika saya merenungkan hal tersebut, saya menemukan jawabannya. Yesus menghendaki agar murid-murid-Nya dan semua orang yang menerima roti itu mau berkorban. Ya, mereka “diharuskan” membagikan roti yang ada di tangan mereka kepada orang lain. Pada peristiwa yang sangat terkenal itu, kita tidak tahu persis apakah pelipatgandaan akan berhenti ketika para murid dan orang banyak itu menolak membagikan roti dan ikan itu kepada orang-orang yang ada di dekat mereka.

Namun yang jelas, berawal dari tangan Yesus, roti dan ikan diterima oleh murid-murid-Nya, lalu disalurkan kepada orang banyak hingga semuanya kebagian dan bisa makan sampai kenyang. Kita pun ingat bahwa mukjizat itu terjadi berawal dari pengurbanan seorang anak yang menyerahkan bekalnya kepada Yesus untuk dibagi-bagikan kepada orang banyak (ay. 17; band. Yoh. 6:5-9). Jika anak itu menolak menyerahkan bekalnya, mungkin kisah yang tertulis dalam keempat Injil akan lain.

Pengurbanan merupakan tindakan yang lahir dari proses latihan dan pengajaran. Seseorang tidak bisa spontan berkurban ketika melihat suatu kebutuhan, tanpa proses latihan yang telah ia lewati. Mulai malam ini, setiap kali kita memberi atau berkurban, ingatlah bahwa tindakan kita tidak akan sia-sia. Tuhan pun tak pernah menutup mata saat kita berkurban dengan apa yang kita miliki. Sudahkah kita memiliki kerelaan berkurban terhadap sesama?

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Oktober 2017
Open post

Melangkah dalam Tanggung Jawab

Bacaan Mazmur 12:1-8 Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini

Doa mohon pertolongan 

Untuk pemimpin kor. Menurut lagu yang kedelapan. Mazmur Daud.
Tolonglah kami, ya Tuhan,
sebab tidak ada lagi orang yang baik,
orang yang setia kepada-Mu sudah lenyap.
Mereka semua saling membohongi,
saling menipu dengan kata-kata yang manis.
Hentikanlah kata-kata yang merayu itu, Tuhan,
bungkamkan orang-orang bermulut besar,
yang berkata,
“Kami berkuasa dengan lidah kami!
Apa saja dapat kami katakan,
dan tak ada yang bisa menghalangi!”
Kata Tuhan, “Orang miskin ditindas
dan orang sengsara mengaduh.
Maka sekarang juga Aku datang
memberi ketentraman yang mereka rindukan.”
Janji Tuhan teguh dan dapat diandalkan,
seperti perak murni yang diuji di dalam api.
8-9 Orang jahat berkeliaran di mana-mana,
kejahatan disanjung oleh setiap orang.
Tetapi Engkau melindungi kami, ya Tuhan,
jagalah kami terhadap orang-orang jahat itu.

Ketika mengajari anak-anak SD tentang pernyataan, saya menemukan istilah menarik di sebuah buku acuan, yakni SOS (Statement, Opinion, Support). Statement adalah pernyataan yang muncul dari pendapat (opini), dan opini harus didukung oleh bukti yang teruji. Melalui metode itu, siswa belajar untuk berargumen, berpikir kritis, dan bersikap objektif. Mereka juga dilatih untuk menemukan kebenaran. Dalam pergaulan sehari-hari, saya berharap mereka dapat menghindari sikap membenci tanpa alasan atau prasangka tanpa bukti yang jelas.

Bagi pengguna internet (sering disebut netizen), tersebarnya berita yang seolah-olah benar tetapi sebenarnya palsu atau bohong semakin merebak. Oleh karena itu, sikap kritis dalam mempertanyakan dan mencari bukti atas sebuah berita atau peristiwa menjadi sangat penting. Dalam mazmur yang kita baca kali ini, kita menemukan kejengkelan Daud terhadap orang-orang yang suka membicarakan hal-hal buruk, tetapi dibungkus dengan manis. Malangnya, Daud menghadapi orang-orang seperti itu banyak jumlahnya, sehingga ia sendiri kesulitan mencari apakah masih ada orang saleh, setia, dan yang berkata benar pada masa itu (ay. 2). Ungkapan “sebab orang saleh telah habis” menunjukkan betapa Daud nyaris putus asa karena melihat bahwa sekelilingnya lebih suka mengucapkan dusta daripada berkata benar.

Menyebarkan berita bohong sulit dilakukan orang yang ingin hidup “lurus” di hadapan Tuhan. Kiranya Tuhan mendapati hati kita berbeda seperti yang dilihat oleh Daud ketika menulis mazmur yang malam ini kita baca. Mintalah agar Allah memampukan kita untuk menyelaraskan isi hati dan ucapan. Orang yang gemar berkata dan bertindak benar akan diperkenan oleh Tuhan.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Oktober 2017

Open post

Bersabar dalam Penderitaan

 

Bacaan Yakobus 5:1-10
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indoensia (PB-TSI)

Celakalah orang kaya

1 Hei orang-orang kaya, celakalah kamu!* Menangislah dan merataplah, karena Allah sudah siap menghukummu dengan kesusahan yang berat!
2 Waktu Allah mendatangkan hukuman itu atas kamu, sepertinya semua kekayaanmu itu sudah menjadi sampah dan pakaianmu yang indah itu sudah dimakan ngengat.
Hartamu yang terbuat dari emas dan perak sudah tidak berharga lagi! Bahkan hartamu itu menjadi bukti di mata Allah bahwa kamu tidak jujur! Kamu menimbun harta hanya untuk dirimu sendiri saja tanpa peduli kepada sesamamu yang kekurangan. Jadi hartamu itu akan menjadi seperti penyakit yang akan menghancurkan dan membakar tubuhmu sendiri seperti api.
4 Bukti ketidak-jujuranmu nyata di mata TUHAN, karena upah orang-orang yang sudah beberapa bulan lalu bekerja di ladangmu masih ada di dalam dompetmu. Dan sekarang keluhan-keluhan mereka yang sudah menuai hasil ladangmu sudah didengarkan oleh TUHAN Yang Mahakuasa.
5 Selama hidupmu di dunia ini, kamu sudah terbiasa dengan gaya hidupmu yang mewah dan apa saja yang kamu inginkan harus tercapai. Jadi akhirnya kamu sudah menjadi gemuk seperti hewan peliharaan yang siap dipotong untuk pesta makan. Hari besar untuk kamu dipotong sudah tiba!
6 Allah melihat waktu kamu menggunakan kuasamu untuk menginjak-injak hak orang-orang yang tidak sanggup melawanmu. Lewat ketidak-jujuranmu, kamu seperti sudah membunuh mereka! Celakalah kamu!

Bersabarlah dan bertahan dalam keyakinan

7 Jadi Saudara-saudari, karena Allah mengetahui segala kesusahan kita, bersabarlah sampai Tuhan Yesus datang kembali. Sebagai contoh, pikirkanlah para petani yang dengan begitu sabar menantikan turunnya hujan sesudah musim tanam dan sebelum musim panen.
8 Demikian jugalah kalian masing-masing: Sabarlah dan kuatkanlah hatimu, karena Tuhan segera datang.
9 Saudara-saudari, janganlah kita saling mencari dan saling membicarakan kesalahan dan kelemahan saudara-saudari kita. Lihat! Kedatangan Hakim yang adil Kristus sudah dekat, dan Dia akan menjatuhkan hukuman yang lebih berat kepada mereka yang suka melakukan hal yang seperti itu.**
10 Saudara-saudari, marilah kita meneladani para nabi yang diutus Tuhan untuk menyampaikan berita-Nya kepada nenek moyang orang Yahudi. Mereka tetap bersabar, biarpun mereka sering dianiaya dan banyak menderita.

Banyak orang berharap agar dirinya jangan sampai mengalami penderitaan. Namun, penderitaan atau tragedi ternyata menjadi bagian dari kehidupan manusia, tanpa terkecuali. Seseorang bisa saja mengalami kecelakaan yang tak pernah diduga sebelumnya, tetapi mendatangkan penderitaan yang harus ditanggung. Se­bagian orang mengalami penderitaan akibat bencana alam yang mau tak mau harus dijalani dengan ikhlas.

Malam ini firman Tuhan mengingatkan kita untuk bersabar sampai pada hari kedatangan Tuhan. Kita diminta untuk meneladani para petani yang sabar menantikan hasil dari benih yang telah ditanamnya. Kita pun diminta untuk meneladani kesabaran para nabi yang bertekun dalam iman dan penderitaan yang Allah izinkan. Ketekunan yang akhirnya mendatangkan kebahagiaan bagi mereka ketika Allah menyatakan diri-Nya. Allah akan memberi upah atas kesabaran dan ketekunan iman mereka yang lulus ujian penderitaan dalam berbagai bentuk (ay. 10-11). Sering kali hal ini tidak berjalan dengan mudah karena masalah dan tragedi kehidupan terkadang datang tanpa permisi.

Hal yang sama Tuhan harapkan dari kita yang saat ini sedang mengalami masalah atau penderitaan. Mungkin kita sedang mengalami masalah ekonomi, bergumul dengan penyakit kronis, jodoh yang tak kunjung tiba, atau masalah lainnya. Tetaplah bersabar dan bertekun dalam iman, sembari menantikan pertolongan-Nya. Anugerah-Nya akan memampukan kita sehingga kita dapat me­nanggung semua itu. Berhentilah membandingkan diri kita dengan orang lain. Percayalah ketika Allah mengizinkan kita mengalami suatu perkara, ada tujuan mulia di dalamnya.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Oktober 2017

Catatan Kaki:
*5:1 Ayat 1-6 Banyak penafsir berkata bahwa dalam bagian ini Yakobus menulis tentang orang kaya dengan cara yang mirip dengan yang dikatakan para nabi dalam Perjanjian Lama— yaitu dia menulis teguran keras dan menyampaikan hukuman Allah atas orang-orang yang belum menjadi pengikut Kristus dan yang tidak menerima surat ini. Yakobus menulis dengan cara itu untuk menghibur orang-orang miskin yang menerima surat ini dan sebagai peringatan kepada para pengikut Kristen supaya menggunakan kekayaannya untuk menolong sesama. Bandingkan dengan Yes. 13:1-22 dan Amos 1:3–2:3.
**5:9 Mat. 7:1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Kelebihan Muatan

 

Bacaan Bilangan 11:31-35
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Tuhan mendatangkan burung puyuh

31 Tiba-tiba Tuhan mendatangkan angin dari laut; angin itu membawa burung-burung puyuh yang terbang rendah sekali, sampai satu meter di atas permukaan tanah. Mereka beterbangan di atas perkemahan itu sampai sejauh beberapa kilometer di sekitarnya.
32 Sepanjang hari itu, sepanjang malam dan sepanjang hari berikutnya, orang-orang asyik menangkap burung puyuh. Setiap orang menangkap paling sedikit seribu kilogram. Burung-burung itu mereka serakkan di sekeliling perkemahan supaya menjadi kering.
33 Selagi masih ada banyak daging untuk dimakan, Tuhan menjadi marah kepada bangsa itu dan mendatangkan suatu wabah di antara mereka.
34 Maka tempat itu dinamakan “Kuburan Kerakusan”, karena di situ dikuburkan orang-orang yang mati karena rakus.
35 Dari situ bangsa itu pindah ke daerah Hazerot, lalu berkemah di tempat itu.

Suatu ketika, setelah bekerja, saya tiba di rumah lebih lama dari biasanya. Saya tidak sedang lembur, tetapi terjebak macet selama lebih dari satu jam dalam perjalanan pulang. Penyebabnya, ada sebuah truk kelebihan muatan yang mogok tepat di persimpangan jalan. Agar truk bisa dipindahkan ke tepi jalan, muatannya lebih dahulu harus dipindahkan ke kendaraan lain. Kemacetan pun tak terhindarkan bagi siapapun yang melewati daerah itu.

Kalau kendaraan yang didesain hanya mampu me­ ngangkut sekian ton akhirnya mogok karena kelebihan muatan, kondisi yang sama dapat dialami oleh manusia. Tindakan memaksakan diri untuk mendapatkan segala sesuatu melebihi kapasitas diri dapat membuat hidup terasa berat, bahkan bisa mendatangkan murka Tuhan. Karena bosan makan manna, bangsa Israel meminta daging kepada Musa. Allah menuruti permintaan mereka dengan mem­berikan burung puyuh. Namun, saat melihat perilaku sebagian dari bangsa itu ketika memakan daging, Allah murka dan memukul bangsa itu dengan suatu tulah yang besar. Penyebabnya, ada orang-orang yang bernafsu rakus. Karena rakus, mereka makan berlebihan, yang membuat hati Allah tidak berkenan (ay. 33).

Orang rakus cenderung memaksakan diri dalam menikmati makanan sehingga justru berdampak buruk. Jauh lebih bermanfaat menikmati makanan secukupnya, sehingga dengan kekuatan yang kita peroleh, kita dapat melakukan berbagai aktivitas dengan tubuh yang sehat. Apa yang dialami oleh bangsa Israel dapat menjadi pengingat yang baik bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Hidup terasa lebih enak dan ringan dijalani ketika kita melakukan segala sesuatu sesuai kapasitas diri dan tidak “mengangkut” beban-beban yang tidak perlu.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Oktober 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Berpegang Teguh pada Keyakinan

 

Bacaan Daniel 3:13-18
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Ketiga teman Daniel dituduh melanggar perintah raja

13 Mendengar itu raja menjadi marah sekali, lalu memberi perintah supaya ketiga orang itu dibawa menghadap kepadanya.
14 Raja bertanya kepada mereka, “Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Betulkah kamu tidak mau menyembah ilah-ilahku dan tidak mau pula sujud kepada patung emas yang telah kudirikan itu?
15 Nah, sekarang, bersediakah kamu untuk sujud dan menyembah patung itu pada waktu musik berbunyi? Jika kamu tidak mau, kamu akan langsung dilemparkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang akan sanggup menyelamatkan kamu dari kuasaku?”
16 Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab, “Baginda yang mulia, kami tidak akan mencoba membela diri.
17 Jika Allah yang kami sembah sanggup menyelamatkan kami dari perapian yang menyala-nyala itu dan dari kuasa Tuanku, pasti Ia melakukannya.
18 Tetapi seandainya Ia tidak melakukannya juga, hendaknya Tuanku maklum bahwa kami tidak akan memuja dewa Tuanku dan tidak pula menyembah patung emas yang Tuanku dirikan itu.”

Desmond Doss adalah kopral Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) yang berdinas sebagai dokter perang pada perang dunia ke II, ketika AS melawan Jepang. Doss adalah seorang Kristen Advent yang taat. Ia meyakini bahwa membunuh adalah dosa, sehingga ketika Doss berada di
Camp pelatihan, ia menolak memegang senjata. Ia juga tidak mau berperang pada hari Sabat. Keyakinannya yang teguh membuat Doss diolok-olok oleh rekan-rekan­ nya dan dicap pemberontak, tetapi ia memilih tetap bertahan pada keyakinannya. Tanpa senjata, Doss masuk dalam peperangan dan menyelamatkan 75 orang. Ia pun mendapat penghargaan atas jasa dan kepahlawanannya.

Alkitab pun mencatat kisah tiga orang bernama Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang berpegang teguh pada keyakinan iman mereka. Ya, mereka hanya mau menyembah kepada Allah Israel dan menolak menyembah ilah lain, termasuk patung emas yang didirikan oleh raja Nebukadnezar. Keyakinan mereka tidak tergoyahkan sekalipun nyawa mereka menjadi taruhannya. Keputusan yang akhirnya membuat mereka dimasukkan ke dalam perapian yang menyala-nyala, tetapi Allah menyelamatkan mereka secara ajaib. Keteguhan iman mereka pun menjadi saksi dan pelajaran hidup hingga hari ini.

Berpegang teguh pada keyakinan iman yang kita miliki memang tidak mudah. Kita mungkin akan dianggap aneh atau ditertawakan karena tidak berperilaku seperti orang pada umumnya. Kita bahkan mungkin akan menghadapi tantangan yang berat demi mempertahankan keyakinan iman kita. Namun, yakinlah bahwa upah dari keteguhan iman kita akan sepadan (band. Dan 3:29-30). Mari kita akhiri malam ini dengan memohon agar kita senantiasa diberi keteguhan hati dan kesetiaan kepada Allah.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Oktober 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Hal Yang Berharga

 

Bacaan Lukas 15:1-7
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Perumpamaan tentang domba yang hilang*

1 Pada suatu hari para penagih pajak dan banyak orang lain yang juga dikenal sebagai orang berdosa berdatangan kepada Yesus untuk mendengarkan ajaran-ajaran-Nya.
2 Melihat kejadian itu, para ahli Taurat dan orang Farisi bersungut-sungut. Mereka berkata, “Iih, dia menerima orang-orang berdosa— bahkan makan bersama mereka!”
3 Karena itu Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka:
4 “Kalau di antara kalian ada orang yang mempunyai seratus ekor domba lalu dari antara domba-domba itu hilang satu ekor, tentu orang itu akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang rumput lalu pergi mencari domba yang hilang itu sampai ketemu.
5 Sesudah dia menemukan domba yang hilang itu, dengan senang hati dia mengangkat domba itu, meletakkannya di atas kedua bahunya dan membawanya pulang.
6 Sesudah tiba di rumah, dia memanggil teman-teman dan para tetangganya. Katanya kepada mereka, ‘Bersukacitalah bersama saya, karena domba saya yang hilang itu sudah saya temukan!’
7 Aku berkata kepadamu, begitu juga Allah dan seluruh penduduk surga akan lebih bersukacita ketika melihat seorang berdosa yang bertobat, daripada atas sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak perlu bertobat.”

Sewaktu kakak saya pulang berbelanja dan berkata, "sekantong jepit rambut yang baru kubeli untuk hilang" saya langsung menjawab, "tidak apa-apa nanti bisa beli lagi" Namun, ketika mendengar Ibu saya berseru, “Astaga, dompet Ibu tidak ada!” kami sekeluarga langsung membantu mencarinya. Melalui peristiwa sederhana itu saya belajar, ternyata tidak semua barang hilang akan dicari. Rupanya, penentu apakah barang tersebut bakal dicari atau tidak adalah nilainya. Barang tersebut akan dicari jika nilainya cukup berharga bagi pemiliknya.

Sesuatu yang dianggap berharga oleh seseorang belum tentu berharga pula di mata orang lain. Setiap orang memiliki pandangan tersendiri mengenai sesuatu yang dianggapnya berharga, entah itu keluarga, harta benda, persahabatan, kesehatan, atau hal-hal lainnya. Yesus pun mempunyai sesuatu yang dianggap-Nya berharga, yakni jiwa manusia yang telah percaya kepada-Nya—yang disebut dengan domba-domba-Nya. Kehidupan orang percaya ibarat domba, sedangkan Yesus sendiri bertindak sebagai Gembalanya. Ketika kita hilang atau tersesat—bisa juga berarti sengaja menjauhkan diri dari-Nya—Yesus akan segera mencari kita karena Ia tidak ingin ada domba- Nya yang tersesat atau hilang. Perhatikan, Yesus tidak mengirim utusan-Nya untuk mencari, tetapi Dia sendiri pergi untuk mencari. Betapa bersukacita hati-Nya ketika Ia menemukan kita dan membawanya bersama dengan Dia!

Mengingat betapa berharganya hidup kita, mulai malam ini jangan lagi berpikir, “Aku ini tidak berharga!” Sekalipun dunia memandang kita hina dan tidak berguna, bagi Yesus kita sangat berharga. Melalui kebenaran malam ini, kita juga diingatkan agar tidak merendahkan orang lain karena mereka pun berharga bagi Yesus.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Oktober 2017

Catatan Kaki:
Perikop: Mat. 18:12-14

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posts navigation

1 2 3 4 5 6 14 15 16
Scroll to top