Open post

Mengingat Karya Allah

 

Bacaan  Yosua 4:1-24
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Dua belas batu peringatan didirikan

Sesudah seluruh bangsa itu berada di seberang, Tuhan berkata kepada Yosua,
2“Pilihlah dua belas orang, seorang dari setiap suku.
Perintahkan mereka untuk mengambil dua belas buah batu dari tengah-tengah Sungai Yordan, tepat di tempat para imam berdiri. Suruh mereka memikul batu-batu itu sampai ke tempat kamu berkemah pada waktu malam nanti.”
Maka Yosua memanggil kedua belas orang yang terpilih itu,
lalu berkata, “Pergilah ke tengah Sungai Yordan, ke depan Peti Perjanjian Tuhan Allahmu. Masing-masing harus mengangkat sebuah batu dari situ -- jumlahnya dua belas batu sesuai dengan jumlah suku-suku dalam bangsa Israel.
Batu-batu itu akan mengingatkan bangsa ini kepada apa yang sudah dilakukan oleh Tuhan. Di kemudian hari kalau anak-anakmu bertanya apa artinya batu-batu ini bagimu,
hendaklah kalian memberitahukan kepada mereka bahwa air Sungai Yordan terputus ketika Peti Perjanjian Tuhan dibawa menyeberangi sungai itu. Batu-batu itu akan selalu mengingatkan bangsa Israel kepada apa yang terjadi di sini.”
Kedua belas orang itu pun melaksanakan perintah Yosua. Sesuai dengan petunjuk Tuhan kepada Yosua, mereka mengambil dua belas batu dari tengah-tengah Yordan -- jumlahnya sesuai dengan jumlah suku-suku dalam bangsa Israel -- lalu membawanya ke tempat perkemahan mereka.
Di tengah-tengah Yordan itu juga, Yosua menyusun dua belas buah batu tepat di tempat berdirinya para imam yang memikul Peti Perjanjian itu. (Batu-batu itu masih ada di situ sampai sekarang.)
10 Para imam tetap berdiri di tengah-tengah Yordan sampai orang-orang itu selesai melakukan segala yang diperintahkan Tuhan kepada mereka melalui Yosua. Itu sesuai dengan petunjuk-petunjuk dari Musa kepada Yosua.
Dengan cepat umat Israel menyeberangi Sungai Yordan.
11 Setelah semua sampai di seberang, para imam yang memikul Peti Perjanjian itu berjalan di depan mereka.
12 Sesuai dengan yang diperintahkan oleh Musa, pejuang-pejuang dari suku Ruben, Gad dan separuh suku Manasye, telah lebih dahulu menyeberangi sungai.
13 Semuanya 40.000 orang laki-laki yang bersenjata dan siap untuk bertempur di hadapan Tuhan, mereka menyeberang menuju ke dataran rendah di dekat Yerikho.
14 Hari itu Tuhan melakukan hal-hal yang membuat bangsa Israel menghormati Yosua sebagai orang besar. Seumur hidupnya mereka menghormati dia seperti mereka menghormati Musa.
15 Kemudian Tuhan menyuruh Yosua
16 memerintahkan para imam yang memikul Peti Perjanjian itu supaya keluar dari Yordan.
17 Yosua melakukan apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya.
18 Begitu para imam itu sampai di tepi sungai, air sungai itu mulai mengalir kembali dan meluap seperti semula.
19 Umat Israel tiba di seberang Yordan dan pada tanggal sepuluh bulan pertama, dan mereka berkemah di Gilgal sebelah timur Yerikho.
20 Di situ Yosua menyusun kedua belas batu yang diambil dari dalam Yordan.
21 Lalu Yosua berkata kepada umat Israel, “Di kemudian hari apabila anak-anakmu menanyakan tentang arti dari batu-batu ini,
22 beritahukanlah kepada mereka bahwa umat Israel menyeberangi Sungai Yordan ini di atas tanah yang kering.
23 Ceritakan kepada mereka bahwa Tuhan Allahmu mengeringkan air Sungai Yordan itu untuk kalian sampai kalian semuanya tiba di seberang, sama seperti Ia mengeringkan Laut Gelagah untuk kami,
24 supaya semua orang di dunia mengetahui betapa besarnya kuasa Tuhan. Dan dengan demikian kalian akan menghormati Tuhan Allahmu untuk selama-lamanya.”

Apakah Anda pernah berkunjung ke Monumen Nasional (Monas)? Monumen setinggi 132 meter ini sengaja didirikan untuk mengingat perjuangan bangsa Indonesia saat melawan Belanda. Jika diperhatikan dengan cermat, Monas memiliki bongkahan emas yang terlihat menyala, melambangkan semangat bangsa Indonesia dalam melawan penjajah. Dengan adanya tugu Monas ini, penduduk Indonesia diajak mengetahui bagaimana perjuangan dan pengurbanan para pejuang di masa lalu demi kemerdekaan Indonesia.

Jikalau bangsa Indonesia memiliki monumen pengingat, salah satunya Monas, bangsa Israel pun pernah mendirikan “batu peringatan” setelah mereka selesai menyeberangi sungai Yordan. Allah memerintahkan agar Yosua menugaskan dua belas orang mewakili setiap suku, untuk mengangkat batu dari tengah-tengah sungai Yordan, dan meletakkannya di tempat mereka bermalam. Batu itu akan menjadi tanda peringatan sekaligus pengingat bahwa Allahlah yang menolong dan memimpin mereka dalam penyeberangan itu. Allah yang membuat air sungai Yordan terputus sehingga mereka aman bisa berjalan di bagian tanah yang kering. Sementara, tempat bermalam adalah gambaran rumah—ini hendak mengajar agar senantiasa mengingat Allah di manapun mereka berdiam.

Dalam kehidupan ini, ada banyak hal yang dapat menjadi pengingat akan karya Allah, mulai dari foto, pernak-pernik, hingga surat pernikahan dari gereja yang dijadikan pengingat bahwa Allah hadir dalam kehidupan dan keluarga mereka. Namun, jangan hanya berhenti pada “monumen” tersebut, karena kita harus menceritakan karya Allah yang pernah kita alami kepada orang lain, supaya mereka juga dapat mengenal-Nya.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Agustus 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Robin Hood

 

Bacaan  Matius 25:35-45
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Anak Manusia akan mengadili orang-orang benar dan orang-orang jahat

35 Karena ketika Aku lapar, kalianlah yang memberi Aku makan. Dan ketika Aku haus, kalianlah yang memberi Aku minum. Ketika Aku baru datang sebagai orang pendatang di negerimu, kalianlah yang memberi Aku tumpangan.
36 Atau ketika Aku membutuhkan pakaian, kalianlah yang memberi Aku pakaian. Ketika Aku sakit, kalianlah yang merawat Aku. Dan ketika Aku dipenjarakan, kalianlah yang mengunjungi Aku.’
37 “Kemudian orang-orang benar itu akan bertanya kepada-Ku, ‘Tuhan, kapankah kami melihat Engkau lapar dan memberi-Mu makan, atau haus dan memberi-Mu minum?
38 Kapankah kami melihat Engkau sebagai pendatang dan memberi tumpangan bagi-Mu, atau kapan Engkau membutuhkan pakaian dan kami memberi-Mu pakaian?
39 Dan kapan kami melihat Engkau sakit lalu kami merawat-Mu, atau kapan Engkau dipenjarakan dan kami mengunjungi-Mu?’
40 “Dan Aku akan menjawab mereka, ‘Yang Ku-katakan ini benar: Setiap kali kalian mengambil kesempatan untuk melakukan hal-hal seperti itu kepada salah seorang dari saudara-saudari-Ku ini— bahkan kepada orang yang paling hina, kalian sudah melakukannya bagi-Ku.’
41 “Kemudian Aku akan berkata kepada orang-orang yang di sebelah kiri-Ku, ‘Hai kalian yang terkutuk! Pergilah dari hadapan-Ku dan masuk ke dalam api yang tidak akan pernah padam untuk selama-lamanya— yaitu tempat yang sudah disiapkan bagi iblis dan semua malaikat yang berpihak kepadanya.
42 Karena ketika Aku lapar, kalian tidak memberikan Aku makan. Dan ketika Aku haus, kalian tidak memberikan Aku minum.
43 Atau ketika Aku sebagai pendatang, kalian tidak memberi tumpangan bagi-Ku. Ketika Aku membutuhkan pakaian, kalian tidak memberi pakaian pada-Ku. Dan ketika Aku sakit atau dipenjarakan, kalian tidak mengunjungi Aku.’
44 “Lalu mereka pun akan bertanya, ‘Tuhan, kapankah kami melihat Engkau lapar, haus, pendatang, membutuhkan pakaian, sakit, atau dipenjarakan dan kami tidak memperhatikan kebutuhan-Mu?’
45 “Dan Aku akan menjawab mereka, ‘Yang Ku-katakan ini benar: Setiap kali kalian tidak mengambil kesempatan untuk melakukan hal-hal itu kepada salah seorang dari saudara-saudari-Ku yang paling hina ini, kalian juga tidak melakukannya bagi-Ku.’

Kita tentu tidak asing dengan kisah Robin Hood. Tokoh legenda asal Inggris yang begitu tenar karena kebaikannya kepada orang miskin. Sosok Robin Hood dan kelompoknya dikisahkan tinggal di hutan Sherwood untuk membangun perlawanan terhadap pemerintah yang tiran. Dalam perlawanannya, Robin Hood sering melakukan aksi perampokan terhadap orang-orang kaya, yang sering kali menindas rakyat kecil, lalu membagi-bagikan hasilnya kepada rakyat miskin. Alhasil, ada dua pendapat yang muncul terhadap sosok “pencuri yang baik hati” ini. Menurut pemerintah, Robin adalah penjahat, tetapi menurut rakyat kecil, ia dianggap sebagai pahlawan.

Tanggapan masyarakat umum mengenai sosok kontroversial tersebut masih menjadi pro dan kontra. Namun, tindakan Robin terhadap orang miskin menarik untuk kita renungkan. Tuhan Yesus yang menyebut orang-orang yang paling hina sebagai “Saudara-Ku”, juga mendorong agar para murid-Nya menunjukkan kepedulian kepada orang-orang yang sakit, yang haus dan lapar, yang memerlukan pakaian, dan yang sedang terkurung di dalam penjara. Jelas kita tidak mungkin bertindak ekstrem seperti Robin Hood, tetapi kita masih dapat melakukannya dengan cara lain dan tak bertentangan dengan firman- Nya. Kita dapat membesuk orang sakit, membuka dapur umum, berkeliling membagikan makanan dan minuman, mengunjungi para narapidana, dan lain sebagainya.

Kalau Robin Hood bisa menunjukkan kepedulian terhadap orang yang terabaikan, terlebih lagi kita! Mari tunjukkan kepedulian kepada orang-orang yang terhina, terbuang, atau yang tersisihkan. Sesederhana apa pun tindakan kita akan bermanfaat, bahkan menyentuh hati mereka. Bersediakah kita dipakai oleh-Nya?

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Agustus 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Beban yang Berat menjadi Ringan

 

Bacaan  Matius 11:25-30
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Kesusahan-kesusahan yang berat menjadi ringan*

25 Pada waktu yang sama Yesus berkata lagi, “Aku memuji Engkau, ya Bapa, TUHAN langit dan bumi, karena Engkau sudah merahasiakan ajaran-ajaran tentang kerajaan-Mu itu dari orang-orang yang bijak dan yang punya banyak pengetahuan, tetapi Engkau menyatakan hal-hal itu kepada siapa saja yang bersedia menerima ajaran benar dengan hati yang polos seperti anak-anak kecil.
26 Karena benar, ya Bapa, itulah yang menyenangkan hati-Mu.
27 “Segala sesuatu sudah diserahkan Bapa kepada-Ku. Tidak seorang pun mengenal Aku— yaitu Anak-Nya, kecuali Bapa. Dan tidak seorang pun mengenal Bapa-Ku kecuali Aku dan orang-orang yang hendak Aku perkenalkan kepada-Nya.
28 “Datanglah kepada-Ku, setiap kalian yang sudah lelah menanggung kesusahan-kesusahan yang berat, karena Aku akan menolongmu mengatasi setiap kesusahanmu itu dan kamu akan merasa lega.
29 Tunduk dan bergantunglah pada-Ku.** Belajarlah dari-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati, maka kamu pun akan merasa lega.

30 Karena kalau tunduk dan bergantung pada-Ku, bebanmu yang berat menjadi ringan, dan beban yang Ku-berikan pun ringan.”

Aku lelah dan capek memikirkan apa kata orang-orang tentang aku. Pasti mereka ... ,” keluh seorang teman dengan bersedih. Saya pun menimpali, “Pikiran orang lain tentang bagaimana kamu, itu sama sekali bukan tanggung jawabmu. Pikiran orang lain, ya urusan mereka sendiri.” Ya, dalam menjalani hidup ini, bukankah kita seringkali menjadi begitu tertekan dengan perkataan negatif orang lain, yang sering kali tak sepenuhnya benar?

Tuhan, Sang Pencipta dan pemilik hidup kita tahu persis bahwa umat-Nya akan mengalami keletihan dalam menjalani kehidupan ini, baik secara rohani, jiwani, maupun jasmani. Ia pun tahu persis akan ada waktunya dimana kita menanggung beban yang berat (ay. 28). Yesus bukan hanya tahu keberadaan kita, melainkan juga memberi jalan keluar. Begitu pula saat kita merasa kurang mengerti akan banyak hal yang kita alami, kita dapat belajar dari Yesus, Pribadi yang lemah lembut dan rendah hati (ay. 29). Sungguh merupakan perpaduan karakter yang sempurna dari Yesus! Nah, pribadi yang lemah lembut dan rendah hati tersebut sedang mengundang kita yang tak berdaya karena beratnya beban kehidupan. Ia sendiri yang berjanji akan memberi kelegaan, sekaligus mendorong kita agar bersedia memikul kuk yang Dia pasang (ay. 30).

Malam ini, mari kita ingat kembali bahwa Allah adalah sumber ketenangan bagi kita, sekaligus adalah Pribadi yang lemah lembut. Kita pun dapat belajar untuk terus mengandalkan-Nya, terutama saat kelelahan dan keletihan hidup mendera kita. Namun, pastikan bahwa keletihan yang melanda kita bukan karena sibuk memikirkan pikiran dan perkataan orang lain. Mari tanggapi undangan-Nya untuk datang kepada-Nya. Terimalah kelegaan dari-Nya, juga kekuatan untuk terus menapaki kehidupan.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Agustus 2017

Catatan Kaki:
*Perikop: Luk. 10:21-22
**11:29 Tunduk dan bergantunglah pada-Ku Secara harfiah, “Terimalah kuk-Ku.” Sebuah kuk dibuat dari kayu dan digunakan untuk menghubungkan dua sapi atau kerbau, supaya mereka kerjasama menarik beban yang berat. Tenaga dua sapi lebih kuat untuk membajak tanah atau memindahkan barang berat. Gambaran Yesus itu bisa ditafsirkan bahwa Dia akan turut menanggung beban-beban kita masing-masing. Atau, bagi orang Yahudi, kuk juga bisa menggambarkan beban yang berat yang mereka alami karena berusaha melakukan seluruh peraturan dalam Hukum Taurat. (Lihat Kis. 15:10; Gal. 5:1.) 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Dua Jiwa yang Berbeda

 

Bacaan  Matius 18:21-35
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Perumpamaan tentang pegawai yang tidak memaafkan sesamanya

21 Lalu Petrus mendekati Yesus dan bertanya, “Tuhan, kalau saudara seiman saya terus melakukan kesalahan kepada saya, sampai berapa kali saya harus memaafkan dia? Apakah cukup tujuh kali?”
22 Jawab Yesus, “Bukan tujuh kali! Bukan juga tujuh puluh tujuh kali! Melainkan kamu harus selalu memaafkan tanpa menghitung-hitungnya.*
23 “Biarlah Aku menjelaskan kenapa Aku menjawab seperti itu: Keadaan di antara saudara-saudara seiman dalam kerajaan Allah adalah seperti cerita ini: Pada suatu hari ada seorang raja yang mau membereskan perhitungan uang yang dia pinjamkan kepada pegawai-pegawainya.**
24Waktu perhitungan itu dimulai, ada seorang pegawai yang mempunyai utang ratusan ribu kilogram emas.*** Dan pegawai itu dibawa menghadap raja.
25 Tetapi pegawai tersebut tidak mampu membayar utangnya. Jadi raja memerintahkan para tentaranya supaya pegawai itu, istrinya dan anak-anaknya serta semua hartanya dijual. Lalu uang hasil penjualan itu dipakai untuk membayar utangnya itu.
26 “Jadi pegawai itu sujud di hadapannya dan memohon, ‘Ya, Tuan, sabarlah dulu! Saya akan membayar semua utang saya!’
27 Hati raja pun tersentuh dan merasa kasihan kepadanya, sehingga dia dan keluarganya dibebaskan dan semua utangnya pun dihapuskan.
28 “Lalu apa yang terjadi dengan pegawai yang utangnya itu sudah dihapuskan? Dia pergi keluar dan bertemu dengan salah satu temannya sesama pegawai kerajaan yang berutang hanya seratus keping uang perak kepadanya. Dia menangkapnya, mencekiknya sambil berkata, ‘Bayar utangmu!’
29 “Temannya itu sujud dan memohon, ‘Ya, Tuan, sabarlah dulu! Saya akan membayar semua utang saya!’
30 “Tetapi dia tidak mau bersabar. Melainkan dia melaporkan temannya itu kepada hakim supaya dipenjarakan sampai teman itu melunasi semua utangnya.
31 “Waktu pegawai-pegawai yang lain melihat kejadian itu, mereka sangat sedih. Lalu mereka melaporkan kejadian itu kepada raja.
32 Kemudian raja memanggil pegawai yang jahat itu dan berkata, ‘Hei— pegawai yang jahat! Saya sudah menghapuskan semua utangmu hanya oleh karena kamu meminta kesabaran dari saya!
33 Jadi seharusnya kamu juga berbelas kasihan kepada temanmu itu seperti saya berbelas kasihan kepadamu!’
34 Maka raja itu begitu marah sehingga dia menyuruh pegawai yang jahat itu dipenjarakan, dan penjaga penjara juga disuruh untuk memukul dia setiap hari sampai semua utangnya dibayar lunas.
35 “Begitu juga yang akan dilakukan oleh Bapa-Ku yang di surga kepada kalian masing-masing, kalau kamu tidak sungguh-sungguh memaafkan setiap orang yang bersalah kepadamu.”

Roger Ebert, kritikus film ternama, pernah menyatakan bahwa Hannibal Lecter adalah tokoh yang ditakuti, tetapi juga disayangi. Hannibal Lecter adalah tokoh dalam film Silence of the Lambs, Hannibal, Red Dragon, dan Hannibal Rising. Tokoh ini memang sangat menakutkan karena memakan manusia, tetapi disayangi karena sangat flamboyan dan romantis. Hannibal menjadi keji karena waktu kecil ia pernah menyaksikan beberapa tentara kelaparan memakan adiknya, Mischa. Peristiwa itu terus membayangi Hannibal dan hadir dalam mimpi-mimpinya. Kebengisan mereka para tentara itupun akhirnya “menular” kepadanya akibat dendam.

Dendam tampaknya manusiawi. Kita bahkan mungkin turut bersorak-sorai ketika seorang tokoh protagonis di film berhasil membalas dendam kepada tokoh yang jahat. Namun, sadarkah kita bahwa menyimpan dendam akan membuat kita tak waras? Seperti Hannibal, ia dapat tampil romantis, tetapi sekaligus kanibal. Dalam ayat bacaan kita malam ini, ada seseorang yang diampuni dan dibebaskan utangnya oleh raja, tetapi ia menuntut keadilan ketika temannya belum mampu membayar utang kepadanya. Tentu kita paham bahwa raja dalam perumpamaan itu menggambarkan pribadi Tuhan, sedangkan kedua orang tersebut adalah gambaran kita sebagai manusia.

Seorang bijak pernah berkata, “Masa depan yang cerah lahir dari masa lalu yang telah dilupakan.” Ya, kita tidak dapat menjalani kehidupan ini dengan baik, sampai kita dapat melupakan masa lalu yang pahit, termasuk mengampuni kesalahan orang lain kepada kita. Jikalau kita menolak mengampuni, berhati-hatilah karena kita berpotensi menjadi orang yang keji—seolah-olah kita memiliki dua kepribadian berbeda seperti Hannibal.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Agustus 2017

Catatan Kaki:
*18:22 tanpa menghitung-hitungnya Secara harfiah, “tujuh puluh kali tujuh kali”— yaitu 490 kali.
**18:23 para pegawainya Secara harfiah, “para budaknya.” Pada waktu Yesus menceritakan perumpamaan ini, banyak pejabat tinggi pemerintah sebagai budak raja. Supaya perumpamaan ini tidak menjadi aneh bagi pembaca zaman sekarang, kata ‘pegawai’ yang digunakan.
***18:24 ratusan ribu kilogram emas Secara harfiah, “10.000 talenta.” Satu talenta sama dengan 26-36 kilogram koin emas, perak atau tembaga. Jadi jumlahnya sekitar 300.000 kilogram.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Hemat atau Kikir

 

Bacaan  Amsal 11:24-26
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

24 Ada orang suka memberi, tapi bertambah kaya,
ada yang suka menghemat, tapi bertambah miskin papa.
25 Orang yang banyak memberi akan berkelimpahan,
orang yang suka menolong akan ditolong juga.
26 Siapa menimbun akan dikutuk orang,
tetapi orang yang menjualnya mendapat pujian.

Sonny menyambar botol air berisi air mineral dari dalam lemari es, lalu berjalan ke luar rumah, menyalakan sepeda motor, dan melesat ke lapangan basket. Sesampainya di sana, ia berniat meneguk sedikit air sekadar membasahi tenggorokan. Namun, alangkah terkejutnya Sonny ketika mendapati bahwa rasa air di dalam botol tersebut cukup aneh. Ia pun tak jadi meminumnya, bahkan segera membuangnya. Ia lalu teringat bahwa air dalam botol tersebut telah tersimpan di sana cukup lama sehingga menjadi basi dan tak layak minum.

Ibarat air basi pada ilustrasi di atas, begitu pula dengan timbunan materi yang tak pernah “dikeluarkan” oleh pemiliknya. Firman Tuhan berkata bahwa orang yang menghemat secara luar biasa, justru selalu berkekurangan. Bagaimana mungkin itu terjadi? Bukankah hemat itu pangkal kaya? Perhatikan lagi ayat tersebut. Tindakan berhemat tidak sama dengan menghemat secara luar biasa. Orang yang gemar menghemat secara luar biasa dapat disamakan dengan orang pelit atau kikir. Tuhan tidak senang jika kita sebagai “bendahara-Nya” memboroskan berkat materi yang Dia berikan. Apalagi untuk berfoyafoya atau melakukan hal-hal yang tidak berguna. Orang kikir tidak dapat menyukakan hati Tuhan, karena Ia hanya ingin menimbun kekayaan tanpa ada sedikitpun keinginan untuk berbagi kepada orang lain. Akhirnya, berkat yang Tuhan berikan justru menjeratnya pada dosa ketamakan.

Malam ini, ingatlah bahwa Tuhan memberkati kita dengan suatu tujuan. Selain untuk mencukupi kebutuhan hidup, Tuhan ingin agar kita juga dapat berbagi dengan orang lain. Mulai malam ini, mari berdoa supaya kita diberi hikmat untuk mengelola berkat, juga mengerti kapan harus berhemat dan berbagi dengan sesama.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Agustus 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Penyesuaian Diri

 

Bacaan  I Korintus 9:19-23
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Hak sebagai rasul yang tidak digunakan oleh Paulus

19 Jadi pekerjaan pelayanan saya bebas dari segala macam pikiran tentang upah jasmani dan tidak berkewajiban kepada siapa pun. Biarpun begitu, saya menjadikan diri saya sebagai hamba yang melayani semua orang, supaya saya bisa memenangkan sebanyak mungkin orang bagi Kristus.
20 Jadi, waktu saya bersama orang Yahudi, saya hidup seperti orang Yahudi. Saya melakukan itu untuk memenangkan mereka. Dan walaupun saya sendiri sudah dibebaskan dari ikatan Hukum Taurat, tetapi waktu bersama dengan orang-orang yang masih terikat dengan Hukum Taurat, saya juga hidup seperti mereka. Saya melakukan hal itu supaya saya bisa memenangkan mereka yang hidupnya terikat dengan Hukum Taurat.
21 Tetapi waktu saya bersama orang-orang yang hidup tanpa memikirkan Hukum Taurat— yaitu orang yang bukan Yahudi, saya juga hidup seperti orang yang tidak memikirkan Hukum Taurat. (Sebenarnya saya tidak melupakan Hukum Allah, tetapi saya diatur oleh Hukum Kristus.) Saya juga hidup seperti itu supaya saya bisa memenangkan mereka yang hidup tanpa Hukum Taurat.
22 Begitu juga waktu saya bersama orang-orang yang lemah, saya menjadi seperti orang yang lemah, supaya saya bisa memenangkan mereka. Jadi saya berusaha menyesuaikan diri dengan bermacam-macam orang, dengan harapan supaya sebanyak mungkin orang diselamatkan melalui cara hidup saya. 23 Dan saya melakukan semua itu supaya Kabar Baik semakin tersebar, sehingga pada suatu hari nanti saya turut diberkati bersama kalian semua lewat berita keselamatan itu.

Sebagai makhluk sosial, dalam menjalani hidup ini kita pasti membutuhkan dan dibutuhkan oleh orang lain. Manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa orang lain. Oleh karena itu, mau tak mau kita pun perlu beradaptasi dengan orang lain. Menurut KBBI, kata “adaptasi” berarti penyesuaian diri terhadap lingkungan, pekerjaan, atau pelajaran. Tujuannya, agar memudahkan penerimaan.

Sebagai anak-anak Tuhan kita pun perlu terus belajar menyesuaikan diri di mana pun kita berada atau ditempatkan. Menolak untuk menyesuaikan diri hanya akan menyulitkan kita untuk bisa diterima di lingkungan atau komunitas dimana kita berada. Namun, ada satu hal yang perlu kita ingat. Sewaktu menyesuaikan diri, jangan sampai kita kehilangan identitas sebagai orang Kristen. Tetaplah menjaga identitas bahwa kita adalah anak-anak yang telah menjadi warga kerajaan Allah yang telah memperoleh keselamatan dari Tuhan Yesus. Nah, dengan demikian diharapkan dalam penyesuaian diri tersebut, kita tidak akan “terhanyut” oleh perilaku yang tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Dalam pelayanannya, Rasul Paulus tidak menyembunyikan identitasnya sebagai orang yang telah ditebus oleh darah Kristus. Namun, ia rela menyesuaikan diri untuk orang-orang yang dilayaninya, supaya dapat memberitakan Injil tentang keselamatan dan ketuhanan Yesus.

Jika penyesuaian diri yang kita lakukan cukup efektif untuk menyampaikan kesaksian tentang iman kita, seberapa ingin kita melakukannya? Maukah kita terus melakukannya, demi kepentingan Kristus? Sebelum beranjak tidur, mari kita memohon agar Allah memampukan kita untuk beradaptasi tanpa harus mengurbankan atau kehilangan identitas sebagai orang percaya.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Agustus 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Allah yang Menumbuhkan

 

Bacaan  I Korintus 3:1-23
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Hikmat Allah tidak memimpin kepada perpecahan dalam jemaat

1 Dan Saudara-saudari, dulu saya tidak bisa berbicara kepada kalian seperti berbicara kepada orang yang sudah bersatu dengan Roh Allah. Saya terpaksa berbicara kepada kalian sebagai orang yang masih dikuasai oleh keinginan-keinginan diri sendiri— yaitu seperti bayi rohani dalam hal mengikut Kristus.
2 Ajaran yang saya sampaikan seperti susu— bukan seperti makanan keras. Saya melakukan hal itu karena kalian belum bisa menerima makanan orang dewasa. Bahkan sekarang pun kalian belum siap untuk makan makanan rohani yang seperti itu.
Karena kalian masih dikuasai oleh keinginan-keinginan badani. Dengan keadaan kalian yang masih saling iri hati dan bertengkar, hal itu membuktikan bahwa kalian belum lepas dari keinginan-keinginan itu. Berarti kalian masih hidup sama seperti orang duniawi.
4 Hal ini terbukti karena di antara kalian ada yang berkata, “Saya pengikut Paulus,” dan yang lain berkata, “Saya pengikut Apolos.” Ketika kalian berkata seperti itu, kalian masih seperti orang duniawi.
5 Apakah Apolos orang penting? Tidak. Apakah saya— Paulus, orang penting? Tidak. Kami hanyalah pelayan Tuhan Yesus yang menjalankan tugas dari-Nya dan yang menolong kalian untuk percaya penuh kepada-Nya.
6 Jadi saya yang menanam bibit, Apolos yang menyiramnya. Tetapi yang bisa membuat bibit itu tumbuh hanya Allah saja!
7 Karena itu pelayan yang menanam atau pun yang menyiram tidak penting. Hanya Allah yang penting karena Dialah yang membuat supaya bibit itu bisa tumbuh.
8 Jadi sebenarnya pelayan yang menanam dan pelayan yang menyiram mempunyai tujuan dan kedudukan yang sama. Dan setiap pelayan akan mendapat upah sesuai dengan pekerjaan pelayanannya.
9 Karena kami sama-sama pelayan Allah, dan kalian seperti ladang milik kepunyaan Allah. Dan kalian juga merupakan Rumah Allah yang baru.
10 Sesuai dengan kebaikan hati Allah yang diberikan kepada saya, saya ditugaskan untuk meletakkan fondasi Rumah Allah itu— yaitu saya yang mengajarkan kalian tentang Kristus Yesus. Jadi saya ditugaskan seperti seorang ahli bangunan. Tetapi sekarang orang-orang lain sedang membangun di atas fondasi yang sudah saya kerjakan itu. Karena itu, hendaklah tiap-tiap orang berhati-hati tentang bagaimana caranya dia membangun di atas fondasi itu.
11 Jangan sampai ada orang yang membangun di atas dasar yang lain! Fondasi yang satu-satunya hanya Kristus Yesus! 12-13 Pada Hari Pengadilan,* Allah akan menguji mutu pekerjaan setiap orang yang membangun di atas dasar itu. Saat itu akan terlihat kalau bahan yang dipakai untuk membangun tahan uji atau tidak. Akan kelihatan kalau orang membangun ruangan dengan bahan yang tahan uji, seperti emas, perak, atau batu permata. Dan juga akan tampak kalau orang membangun ruangan dengan bahan yang bersifat sementara saja, seperti kayu, rumput, atau jerami. Karena pada Hari Pengadilan pekerjaan setiap orang akan diuji dengan api.
14 Kalau ruangan yang dibangun itu masih tetap berdiri sesudah diuji, orang yang membangun itu akan menerima upah.
15 Kalau ruangannya itu terbakar, dia akan mengalami kerugian. Biarpun begitu, dia akan diselamatkan, tetapi dia akan seperti orang yang melarikan diri waktu rumahnya terbakar.
16 Jadi kalian harus mengerti bahwa kita semua merupakan Rumah Allah dan Roh Allah hidup di dalam kita.
17 Kalau ada orang yang menghancurkan Rumah Allah, maka Allah juga akan menghancurkan dia. Karena Rumah Allah adalah suci, dan secara rohani kita umat Allah adalah Rumah-Nya.
18 Janganlah kalian masing-masing menipu dirimu sendiri. Siapa di antara kamu yang merasa bahwa dia bijak menurut ukuran dunia ini, biarlah dia menjadi bodoh menurut ukuran dunia ini supaya dia benar-benar bijak menurut ukuran TUHAN.
19 Karena hikmat dunia ini merupakan kebodohan bagi Allah. Seperti yang tertulis dalam Kitab Suci, “Allah menggunakan kecerdikan orang berhikmat seperti jerat untuk menangkapnya.”** 
20 Dan juga tertulis, “TUHAN tahu bahwa pikiran orang-orang yang berhikmat adalah sia-sia.”*** 
21 Oleh karena itu, jangan lagi membanggakan diri sebagai pengikut saya, Apolos, atau guru lain. Karena bagi kita yang bersatu dengan Kristus, semuanya menjadi milik kita:
22 Paulus, Apolos, Petrus,**** dunia ini, kehidupan ataupun kematian, baik hal-hal yang sekarang maupun hal-hal yang akan datang— semuanya milik kita.
23 Hal itu benar karena kita adalah milik Kristus, dan Kristus adalah milik Allah.

Kehidupan berkelompok dapat dikatakan sebagai naluri alamiah dari manusia sebagai makhluk sosial. Namun, kehidupan berkelompok ternyata dapat menimbulkan dampak positif maupun negatif. Dampak negatif dari kehidupan berkelompok ini dapat dipahami jika ada kelompok lain, dengan identitas yang berbeda, tetapi mengerjakan sesuatu yang serupa, sehingga tidak menutup kemungkinan akan terjadi perpecahan.

Perpecahan inilah yang terjadi di Korintus pada waktu itu. Terbentuknya golongan sebenarnya terjadi karena mereka melekatkan diri pada pelayan Injil (hamba Tuhan), bukan pada Injil itu sendiri. Akibatnya, muncul pernyataan seperti, “Aku dari golongan Apolos” atau “Aku dari golongan Paulus”. Menurut NETBible, Paulus “menanam” artinya “Paul founded the church at Corinth” (Paulus mendirikan jemaat di Korintus). Apolos “menyiram” artinya “Apollos had a significant ministry there” (pelayanan Apollos berdampak di sana). Namun, usaha mereka tidak akan berdampak apa pun jika Allah tidak menumbuhkannya. Jika mereka berhasil menerima Injil yang disampaikan Paulus maupun ajaran dari Apolos, itu semua karena campur tangan Allah. Seharusnya umat Tuhan di sana bertumbuh secara luar biasa karena pelayanan Paulus dan Apolos saling melengkapi, bukannya malah terjadi perpecahan!

Setiap hamba Tuhan dapat dipakai oleh Tuhan untuk menumbuhkan kerohanian, juga pengenalan kita akan Allah dan firman-Nya. Berfokuslah kepada Allah dan bukalah diri kita terhadap pelayanan dari para hamba Tuhan lainnya, bukan hanya dari hamba Tuhan tertentu. Jika hal itu kita lakukan, niscaya kita akan semakin diperlengkapi dan berwawasan rohani dengan lebih luas

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Agustus 2017

Catatan Kaki:
*3:12-13 Hari Pengadilan
Secara harfiah, “hari itu.”
**3:19
Ayb. 5:13
***3:20
Mzm. 94:11
****3:22 Petrus
Secara harfiah, Paulus menulis namanya dalam bahasa Ibrani— yaitu “Kefas.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Kesalahan dalam Memberi

 

Bacaan  Matius 6:1-4
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Ajaran Yesus tentang cara melakukan perbuatan baik

1 “Hati-hatilah! Janganlah kamu memamerkan perbuatan baikmu di depan umum supaya orang-orang memperhatikan dan memujimu. Kalau kamu melakukan hal seperti itu, kamu tidak akan menerima upah atas perbuatan baikmu itu dari Bapamu yang di surga.
2 “Kapan saja kamu memberi sedekah, janganlah pamerkan hal itu seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang hanya berpura-pura sebagai orang baik. Mereka suka memberi sedekah di depan umum— di dalam rumah-rumah pertemuan atau di simpang-simpang jalan, dan diiringi dengan bunyi terompet. Mereka melakukan seperti itu supaya dilihat dan dipuji banyak orang. Sungguh benar yang Aku katakan ini: Hanya itu sajalah upah mereka.
3 Sebaliknya kalau kamu memberi sedekah, berikanlah secara tersembunyi. Tangan kirimu tidak perlu mengetahui apa yang dilakukan oleh tangan kananmu.
4 Maksud-Ku, orang lain tidak perlu tahu tentang pemberian sedekahmu itu. Dan Bapamu— yang melihat apa saja yang kamu lakukan secara tersembunyi, akan memberikan upah kepadamu.”

Saya pernah yang mencermati print-out pada laporan persembahan bulanan yang dipasang pada papan pengumuman gereja. Ada puluhan nama tercatat di lembar tersebut, lengkap dengan nominal persembahan yang diberikan. Hal yang menarik bagi saya ada cukup banyak kode “NN” pada kolom nama pemberi persembahan, tanda bahwa orang-orang yang memberi persembahan tidak mencantumkan namanya. Apakah nominalnya sedikit? Oh, tidak! Cukup banyak pemberi anonymous tersebut yang memberi dalam jumlah cukup besar, melebihi mereka yang namanya tercantum pada laporan persembahan itu.

Dalam hal memberi, Yesus sendiri pernah mengajarkan prinsip pemberian secara rahasia bagi mereka yang ingin memberi sedekah sebagai bagian dari kewajiban agama. Dalam konteks masa kini, pemberian itu juga bisa berwujud persembahan pada acara ibadah atau bantuan keuangan yang diberikan kepada sesama. Ketika kita hendak memberi hanya supaya dilihat dan dipuji orang lain dapat dianggap sebagai kesalahan dalam memberi, setidaknya karena dua alasan berikut: Pertama, pemberian kita tidak berkenan di hadapan Allah, bahkan kita bisa disamakan dengan orang yang munafik. Kedua, kita hanya akan memperoleh upah atau balasan dari manusia, bisa berupa pujian, berita di surat kabar, atau dermawan. Ketiga,pemberian penghargaan sebagai kita akan kehilangan upah dari Bapa Surgawi karena sudah mendapatkan upah dari manusia yang kita cari (ay. 4).

Kerahasiaan dalam memberi sangat dihargai oleh Allah, tetapi kemunafikan tidak disukai oleh Allah. Mari kita belajar untuk memberi dengan motivasi yang benar. Lakukanlah untuk menyukakan hati Tuhan, bukan mencari pujian semu dari manusia.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Agustus 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Kembali pada Citra Kristus

 

Bacaan  Roma 8:26-30
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Kita akan ikut menikmati kemuliaan bersama Kristus

26 Roh Allah juga menolong kita dalam kelemahan kita. Karena kita tidak tahu sebenarnya apa yang pantas kita doakan. Tetapi Roh-Nya sendiri berdoa untuk kita, dan menyampaikan permohonan kita kepada Allah dengan penuh perasaan dan dengan cara yang tidak bisa dijelaskan dengan bahasa manusia.
27 Memang Allah tahu apa yang ada di dalam hati manusia. Dan Allah juga tahu sedalam-dalamnya tentang permohonan yang disampaikan oleh Roh-Nya sendiri. Dan memang Roh-Nya memohon kepada Allah untuk umat-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.
28 Sekarang kita boleh yakin bahwa bagi kita semua yang mengasihi Dia, Allah selalu mengatur semua hal yang kita alami dan hadapi, supaya hal-hal itu menghasilkan kebaikan. Karena kita adalah orang-orang yang sudah dipilih-Nya sesuai dengan rencana-Nya.
29 Karena sejak semula Allah sudah mengenal dan mengasihi kita, dan Dia berencana supaya kita menjadi serupa dengan Anak-Nya. Dan rencana-Nya juga supaya Yesus menjadi Anak sulung di antara banyak saudara-saudari.
30 Kita sudah masuk di dalam rencana Allah dari sejak awal, lalu kita dipanggil menjadi anggota keluarga-Nya, dan melalui pekerjaan Kristus kita dibenarkan dalam pandangan-Nya, dan akhirnya kita akan menikmati kemuliaan-Nya.

Oswald Chambers adalah dengan seorang pendeta dan guru yang sangat terkenal dengan renungan hariannya berjudul “My Utmost for His Highest”. Ketenarannya justru terjadi setelah kematiannya. Dalam pelayanan Oswald, istrinya memiliki andil yang besar karena Oswald merangkum bahan khotbah dan ceramahnya dari catatan singkat yang ditulis oleh istrinya dengan cepat. Salah satu quote yang pernah ditulisnya berkata, “Bukti yang jelas dari kehadiran Roh Kudus dalam hidup seseorang adalah keserupaan yang jelas dengan Yesus Kristus. Dan kelepasan dari segala sesuatu yang tidak menyerupai Dia.”

Salah satu keberuntungan bagi setiap orang percaya sejak dirinya “lahir baru”—mengaku percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat—adalah tidak seorangpun dibiarkan berjuang sendirian untuk menjalani hidup dalam kebenaran Kristus. Bapa memberikan Roh Kudus sebagai penolong sekaligus penuntun bagi orang percaya, supaya setiap orang yang telah selamat hidupnya semakin serupa akan Putra Nya, Yesus Kristus. Ciri yang menunjukkan bahwa seseorang itu hidup dipimpin oleh Roh atau kedagingannya dapat dilihat dari buahnya (Gal. 5:19-23). Tentunya untuk menghasilkan buah Roh, hal itu tidak terjadi secara instan. Semuanya memerlukan proses: proses mau dituntun oleh Roh Kudus, proses mau melepaskan satu demi satu tabiat yang lama, dan proses untuk melakukan kebenaran Kristus.

Sejak awal, kita adalah ciptaan Allah yang dibuat secitra dengan-Nya tetapi karena dosa citra tersebut menjadi rusak. Itu sebabnya Yesus datang dan memulihkan kita agar secara moral kita menjadi sama dengan-Nya, kembali pada citra Allah yang sejati. Oleh karena itu, mari kembali pada rancangan Allah semula!

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Agustus 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Tekun Mencarinya

 

Bacaan  Ibrani 11:1-6
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Pahlawan-pahlawan iman

1 Dengan ‘percaya penuh’ artinya yakin kepada Allah bahwa apa yang kita harapkan pasti akan kita terima— biarpun kita belum melihatnya.
2 Karena dengan percaya penuh, nenek moyang kita menjadi berkenan di mata Allah.
3 Dengan percaya penuh kita mengerti bahwa dengan perkataan-Nya saja, Allah menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit. Jadi segala sesuatu yang bisa kita lihat diciptakan dari hal-hal yang tidak bisa kita lihat.
4 Oleh karena Habel percaya penuh kepada Allah, dia mempersembahkan kurban yang lebih baik dari kurban yang dipersembahkan oleh Kain. Karena itu Allah berkenan kepada Habel dan menerima dia sebagai orang benar. Jadi biarpun Habel sudah lama mati, tetapi karena kepercayaannya itu, dia masih menjadi teladan bagi kita.
5 Begitu juga dengan Henok: Karena dengan percaya penuh, dia terangkat ke surga tanpa mengalami kematian. Seperti yang tertulis di dalam Kitab Suci, “Tiba-tiba dia menghilang, karena dia diangkat oleh Allah.”* Karena sebelum dia terangkat, dia terkenal sebagai orang yang hidupnya selalu menyenangkan hati Allah.
6 Jelaslah bahwa tanpa percaya penuh, kita tidak mungkin menyenangkan hati-Nya. Karena setiap orang yang mau datang kepada-Nya harus percaya bahwa Allah itu benar-benar ada dan bahwa Dia memberkati setiap orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

Akihiko Otsuka adalah pemilik perusahaan dari minuman Pocari Sweat. Dahulu, sebelum beredar di manamana, minuman ini harus mengalami uji coba berkalikali. Setelah jadi, rasanya dianggap aneh sehingga dinilai gagal. Otsuka lalu memutar otak, memperbarui rasa, dan membagikannya secara gratis. Keputusan yang membuat perusahaannya merugi, tetapi Otsuka tidak mundur. Akhirnya, akhirnya perjuangan Otsuka pun berbuah manis. Orang-orang yang telah merasakan manfaat dari minuman itu, akhirnya mulai menjadi pembeli setia. Sejak itulah, perlahan tapi pasti produksi Pocari Sweat bertambah, hingga sekarang tersebar ke berbagai penjuru dunia.

Kapan kesuksesan Otsuka dimulai? Menurut saya, ketika Otsuka menemukan strategi baru. Kita pun bisa belajar dari Otsuka bahwa terkadang penolakan atau kegagalan dapat kita alami secara terus-menerus. Itulah saat yang terbaik untuk introspeksi diri, bahkan datang kepada Tuhan. Firman-Nya berjanji bahwa orang yang mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh akan menerima upah. Upah bisa berupa hikmat untuk mengetahui letak kesalahan, solusi, dan semangat untuk kembali berjuang. Namun sayang, saat mengalami kegagalan, ada banyak orang bukannya melakukan introspeksi dan datang kepada Tuhan, melainkan terus berjalan dan tetap gagal.

Setiap kegagalan pasti ada penyebabnya. Itulah yang perlu kita cari tahu dan temukan solusinya. Namun, terkadang kita tidak bisa langsung mengetahui penyebab dari kegagalan itu, begitu pula dengan solusinya. Saat itulah diperlukan ketekunan untuk menanti-nantikan tuntunan- Nya. Jika tuntunan-Nya sudah kita peroleh, segeralah bertindak karena tindakan kita akan menentukan apa yang akan terjadi selanjutnya

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Agustus 2017

Catatan Kaki:
*11:5 Kej. 5:2411:5 Kej. 5:24

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posts navigation

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 14 15 16
Scroll to top