Open post

Dipuaskan oleh Kebenaran

 

Bacaan  Matius 5:1-12
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Yesus mengajar orang banyak*

1 Waktu Yesus melihat orang banyak yang mengikuti-Nya itu, Dia naik ke atas bukit dan duduk di situ.** Murid-murid-Nya berkumpul di sekeliling-Nya,
2 dan Dia mulai mengajar mereka,
3 “Sungguh diberkati Allah orang-orang yang tahu bahwa mereka mempunyai kebutuhan rohani,
karena merekalah yang akan menjadi warga kerajaan Allah.***
4 Sungguh diberkati Allah orang-orang yang sekarang berdukacita,
karena merekalah yang akan dihiburkan-Nya.
5 Sungguh diberkati Allah orang-orang yang rendah hati,
karena merekalah yang akan mewarisi bumi yang dijanjikan Allah.****
6 Sungguh diberkati Allah orang-orang yang giat melakukan yang benar lebih daripada makan dan minum,*****
karena merekalah yang akan dipuaskan oleh Allah.
7 Sungguh diberkati Allah orang-orang yang mengasihani orang lain,
karena merekalah yang akan dikasihani oleh Allah.
8 Sungguh diberkati Allah orang-orang yang tulus hati,
karena merekalah yang akan selalu memandang Allah.
9 Sungguh diberkati Allah orang-orang yang bekerja untuk mendatangkan damai,
karena merekalah yang akan disebut anak-anak-Nya.
10 Sungguh diberkati Allah orang-orang yang dianiaya karena hidup benar,
karena mereka sudah menjadi warga kerajaan Allah.
11 “Kamu juga sungguh diberkati Allah kalau kamu disakiti, dihina, dan difitnah karena mengikut Aku.
12 Bersukacita dan bergembiralah, karena berkat yang besar sudah tersedia bagimu di surga. Ingatlah: Nabi-nabi yang hidup di masa lalu juga dianiaya seperti itu.”

Sejak mengalami pertobatan dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juslamat, Joe merasakan ada dorongan yang kuat dalam dirinya untuk membaca Alkitab. Ia mengalami rasa lapar dan haus untuk membaca Alkitab, seperti rasa lapar dan haus akan makanan dan minuman. Ia mulai membawa Alkitab di dalam tas kecilnya, supaya setiap kali ada kesempatan, ia bisa membuka dan membacanya. Kebenaran yang tertulis di dalam Alkitab telah memikat hatinya dan Joe merasa dipuaskan setiap kali selesai membacanya.

Tuhan menghendaki agar umat-Nya tak hanya hidup di bawah pimpinan Roh-Nya, tetapi juga hidup di dalam kebenaran firman-Nya. Kondisi yang dapat terjadi ketika kehidupan seseorang “dipenuhi” oleh kebenaran firman Tuhan. Caranya? Melalui pembacaan Alkitab secara rutin. Bagi mereka yang melakukannya, ada janji firman-Nya bahwa mereka akan dipuaskan. Kuasa firman Tuhan pun akan mengubah kehidupan orang tersebut menjadi lebih baik, seperti ada tertulis, “Seluruh Kitab Suci ditulis sesuai dengan perkataan Allah sendiri. Dan semuanya berguna untuk mengajar, menegur, menunjukkan kesalahan, dan mendidik kita bagaimana hidup benar di mata Allah.” (2 Tim. 3:16 TSI).

Jika dibandingkan saat pertama kali kita mengenal Kristus, bagaimana kondisi rasa lapar dan haus dalam diri kita akan kebenaran firman-Nya? Masihkah firman Allah memikat hati kita dan kita membacanya setiap kali ada kesempatan? Malam ini sebelum kita beristirahat, mari kita memohon agar Tuhan terus mengobarkan dalam diri kita rasa haus dan lapar akan firman-Nya, supaya kita mengalami kepuasan sejati di dalam Dia. Hanya firman Allah, yang dapat menuntun dan memuaskan hati kita akan kebenaran yang sejati.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Agustus 2017

Catatan Kaki:
*Perikop: Luk. 6:20-23
**5:1 duduk di situ Dalam kebudayaan Yahudi, para ahli Taurat duduk untuk menyampaikan ajaran mereka. Jadi kemungkinan besar Yesus duduk karena mau menyampaikan ajaran yang penting— bukan karena capek sesudah naik bukit.
***5:3 kerajaan Allah Lihat catatan di Mat. 3:2.
****5:5 bumi yang dijanjikan Allah Lihat Mzm. 37:10-11; 2Ptr. 3:10-13; Why. 21-22.
***** 5:6 melakukan … makan atau minum Secara harfiah, “lapar dan haus akan kehidupan benar.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Modal Iman

 

Bacaan  Habakuk 3:16-18
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Doa Habakuk

16 Mendengar itu, hatiku gentar dan bibirku bergetar. Aku menjadi lemah tanpa kekuatan, kakiku tersandung, di mana pun aku berjalan. Aku akan menunggu dengan tenang hukuman Allah atas para penyerang.
17 Meskipun pohon ara tak ada buahnya dan pohon anggur tak ada anggurnya, biarpun panen zaitun menemui kegagalan dan hasil gandum di ladang mengecewakan, walaupun domba-domba mati semua dan kandang ternak tiada isinya,
18 aku akan gembira selalu, sebab Engkau TUHAN Allah penyelamatku.

Jika kita cermati, fenomena berita yang kini tersaji di surat kabar, televisi, media sosial, maupun media online tampaknya semakin mengerikan. Ada orang yang tega membunuh keluarganya karena stres, masalah ekonomi semakin sulit, fitnah terjadi di mana-mana, bahkan tak sedikit orang seperti menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya. Sepertinya semakin lama situasi kehidupan ini tidak semakin mudah, tetapi semakin sulit.

Situasi yang sulit, bahkan buruk, juga terjadi pada masa nabi Habakuk hidup, dimana ketika itu bangsa Israel mengalami penindasan. Dalam situasi seperti itu, tak ada lagi yang dapat dilakukan selain berdoa dan beriman kepada Allah. Dalam tiga ayat yang terdapat pada nats malam ini, Habakuk dengan kata lain sedang berkata, “Sekalipun tidak ada makanan, sekalipun pertanian hasilnya tidak bisa diharapkan lagi, kebun-kebun tidak menghasilkan bahan makanan, peternakan tidak menghasilkan, harga barang tidak terjangkau, pekerjaan hilang, biaya pendidikan semakin mahal, hidup semakin susah, tetapi kita bersyukur karena kita memilik Allah sebagai Juruselamat.” Habakuk ingin mengajar kita bahwa situasi hanya bisa dihadapi ketika kita fokus kepada Tuhan, bukan pada masalah, dan ketika kita mengandalkan Dia.

Oleh karena itu itu, jika malam ini kita sedang mengalami keadan yang buruk atau mengecewakan, jangan sampai kita menjadi putus asa. Masih ada Tuhan yang dapat menolong kita. Memang tidak mudah bertindak seperti Habakuk, tetapi kalau kita tidak bertekad dan beriman kepada Tuhan, kita takkan mampu menghadapi masa-masa yang sulit. Bersyukurlah kepada Tuhan, berharaplah, nantikanlah pertolongan-Nya, dan tetaplah beriman kepada-Nya karena Dia pasti buka jalan.

*Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Agustus 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Manusia Berkualitas Tinggi

 

Bacaan  Mazmur 38:1-23
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Doa dalam Kesusahan

38:1) Mazmur Daud waktu mempersembahkan kurban peringatan.
(38-2) TUHAN, jangan menghukum aku dalam kemarahan-Mu, jangan menyiksa aku dalam kemurkaan-Mu.
(38-3) Panah-Mu menembus melukai tubuhku, tangan-Mu terasa berat menekan aku.
(38-4) Aku sakit parah karena kemarahan-Mu; tak ada yang sehat pada tubuhku karena dosaku.
(38-5) Aku tenggelam dalam banjir kesalahanku, beban dosaku terlalu berat bagiku.
(38-6) Luka-lukaku bernanah dan berbau busuk, karena aku telah berlaku bodoh.
(38-7) Aku tertunduk dan terbungkuk, sepanjang hari aku murung dan sedih.
(38-8) Demam membakar tubuhku, tak ada yang sehat pada badanku.

(38-9) Aku remuk-redam dan kehabisan tenaga, aku merintih karena hatiku resah.
(38-10) TUHAN, Engkau tahu segala keinginanku, keluh kesahku tidak tersembunyi bagi-Mu.
(38-11) Jantungku berdebar-debar, tenagaku hilang, mataku sudah menjadi pudar.
(38-12) Handai-taulanku menghindar karena penyakitku, bahkan kaum kerabatku menjauhi aku.
(38-13) Orang yang ingin membunuh aku memasang jerat bagiku; yang ingin mencelakakan aku mengancam hendak menumpas aku.
(38-14) Tetapi aku seperti orang tuli yang tidak mendengar, seperti orang bisu yang tidak bicara.
(38-15) Sungguh, aku seperti orang yang tidak mendengar, dan karena itu tidak membantah.
(38-16) Tetapi aku berharap kepada-Mu, ya TUHAN, dan Engkau, TUHAN Allahku, menjawab aku.
(38-17) Jangan biarkan musuhku senang melihat kesusahanku, jangan biarkan mereka membual bila aku goyah.
(38-18) Aku hampir saja jatuh, terus menerus aku kesakitan.
(38-19) Aku mengakui dosa-dosaku; hatiku cemas memikirkan kesalahanku.
(38-20) Orang-orang yang memusuhi aku banyak dan kuat, mereka membenci cara hidupku.
(38-21) Orang yang membalas kebaikan dengan kejahatan memusuhi aku karena aku melakukan yang baik.
(38-22) Ya TUHAN, jangan meninggalkan aku, jangan jauh daripadaku, ya Allahku.
(38-23) Datanglah segera menolong aku, ya TUHAN penyelamatku.

Apa kriteria kaos berkualitas tinggi? Menurut saya, kaos yang bentuknya tidak berubah setelah dipakai, dicuci, dijemur, dan disetrika berkali-kali. Berbeda dengan kaos dengan kualitas rendah, yang bentuknya bisa melebar, menyerong, dan lagi simetris. Lantas, bagaimana dengan kriteria manusia berkualitas tinggi? Malam ini kita akan belajar dari kehidupan Daud, raja Israel yang terbesar.

Anak Isai ini menjalani hidup yang sangat dinamis. Bermula dari seorang remaja penggembala, lalu masuk ke lingkungan istana setelah mengalahkan Goliat. Sejak itulah Daud mengalami beraneka ragam peristiwa, antara lain menjadi sahabat karib pangeran, memenangkan banyak peperangan, dibenci raja Saul, dikejar musuh, harus berpura-pura gila, nyaris dibunuh, dan masih banyak lagi. Sama sekali bukan kehidupan yang mudah, karena ada banyak orang justru berharap ia segera mati. Kondisi ini digambarkan langsung oleh Daud saat bermazmur: “Aku terbungkuk-bungkuk, sangat tertunduk; sepanjang hari aku berjalan dengan dukacita. Sebab pinggangku penuh radang, tidak ada yang sehat pada dagingku” (ay. 7-8). Namun, seberat apa pun penderitaan yang dialaminya, Daud tidak berubah menjadi tawar hati. Ia tetap menjadi sosok yang lembut dan penuh sukacita di dalam Tuhan.

Tak ada satu pun manusia yang hidupnya tanpa masalah, tragedi, maupun prahara yang hebat. Namun, kita bisa memilih untuk tidak menjadi tawar hati. Mengapa? Karena ketawaran hati hanya akan mengecilkan kekuatan kita (Ams. 24:10). Kondisi yang akan membuat semuanya menjadi lebih buruk. Jadi, kesimpulannya, kriteria manusia berkualitas tinggi adalah seseorang yang sanggup untuk tetap tampil sebagai pribadi yang positif sekalipun dihantam berbagai prahara dalam hidupnya.

*Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Agustus 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Murid yang Materialis

 

Bacaan  Matius 26:14-16
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Yudas mengkhianati Yesus*

14 Lalu Yudas dari desa Kariot, salah satu dari kami kedua belas murid-Nya, pergi menemui imam-imam kepala 
15 dan bertanya, “Apa yang akan kalian berikan kepada saya kalau saya menyerahkan Yesus kepada kalian?” Lalu mereka memberikan tiga puluh keping uang perak kepadanya. 
16 Dan mulai saat itu, Yudas mencari kesempatan untuk menyerahkan Yesus kepada mereka.

Materialisme adalah pandangan hidup yang semata mata hanya mencari kesenangan dan kekayaan/kebendaan merupakan satu-satunya tujuan atau nilai tertinggi. Materialisme juga mengesampingkan nilai-nilai rohani, bahkan materialisme tidak mengakui adanya budaya immaterial atau campur tangan Tuhan. Misalnya, seseorang dengan pekerjaan atau jabatan yang bagus, lalu ia percaya hanya dengan itulah yang bisa menghidupinya. Dalam contoh ini orang tersebut hanya semata mata mencari dan mementingkan materi tanpa mengingat Tuhan, ia lupa bahwa pekerjaan, jabatan, rezeki Tuhanlah yang memberi. Orang-orang yang menganut paham ini (materialistis) hidupnya berorientasi kepada materi.

Paham ini bisa dianut oleh siapa saja termasuk orang yang nampaknya dekat dengan Tuhan. Contoh saja Yudas Iskariot. Kebersamaannya dengan Yesus setiap hari selama kurang lebih tiga tahun, nyatanya tidak menjamin bahwa hati Yudas benar-benar terpaut pada Sang Guru. Ajaran yang didengarnya dari Yesus, Sang Guru, tiap-tiap hari pun nampaknya tidak merasuk ke dalam batinnya sehingga setiap kali ada kesempatan untuk memperoleh keuntungan materi bagi dirinya sendiri, Yudas pasti tidak menyia-nyiakannya, sekalipun harus “menjual” Gurunya sendiri kepada imam-imam kepala. Dari kehidupan Yudas, kita belajar bahwa hati yang melekat pada mamon dapat menjauhkan kita dari Tuhan, dan sebaliknya, semakin mendekatkan kita pada dosa.

Itu sebabnya, mari koreksi hati kita kembali! Apakah hati ini sudah melekat kepada Tuhan Yesus atau masih melekat pada hal-hal yang fana seperti materi? Pandanglah Yesus dalam hidup ini sebagai Sumber segalanya, supaya jangan kita jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan dan dosa karena mamon.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juli 2017

Catatan Kaki:
*Perikop: Mrk. 14:10-11; Luk. 22:3-6

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Berhenti Mencari Kambing Hitam

 

Bacaan  Lukas 16:1-4
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur

1 Yesus berkata lagi kepada murid-murid-Nya, “Adalah seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara yang mengurus hartanya. Orang kaya itu mendengar berita bahwa bendaharanya itu menghambur-hamburkan kekayaannya.
2 Lalu orang kaya tersebut memanggil bendaharanya itu dan berkata, ‘Saya sudah mendapat laporan yang jelek tentang pekerjaanmu. Karena itu saya akan memecat kamu sebagai bendahara saya. Tetapi sebelumnya berikanlah dulu laporan tentang semua harta saya yang sudah kamu urus itu.’
3 “Lalu bendahara itu berkata dalam hatinya, ‘Apakah yang harus saya lakukan sekarang? Karena tuan saya pasti akan memecat saya! Saya tidak bisa menjadi tukang kebun, karena saya tidak kuat. Kalau saya menjadi pengemis saya malu!
4 Baiklah, sekarang saya tahu apa yang akan saya lakukan! Saya harus bertindak dengan cerdik kepada beberapa orang supaya mereka bersedia menerima saya di rumahnya ketika saya dipecat sebagai bendahara.’

Jangan suka mencari kambing hitam setelah kegagalan atau kekalahan dalam pertandingan! demikian pernyataan penjaga gawang liverpool, Simon Mignolet. Memin­jam bahasa lugasnya, “Kalah ya... kalah!” Pernyataan itu mengemuka ketika Liverpool kalah 1-3 dari Leicester City dalam laga pekan ke-26 Premier League yang digelar di King Power Stadium, kandang Leicester City. Kekalahan itu hendaknya menjadi semangat skuad Liverpool untuk lebih bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam menerapkan taktik manakala menghadapi lawan. Mignolet berkata kepada Liverpool FC, “Kami tahu bahwa Januari ini bukan bulan yang sarat keberuntungan bagi kami, hanya kami tidak boleh menoleh ke masa lalu”.

Mengambinghitamkan orang lain memang paling mudah ketimbang mengakui kesalahan, kelemahan, atau kekurangan diri sendiri dan menerima konsekuensinya. Inilah karakter yang ada dalam diri bendahara yang tidak jujur, pada perumpamaan yang Tuhan Yesus sampaikan. Ketika bendahara tersebut ditegur hingga dipecat oleh tuannya, bukannya ia introspeksi diri lalu berubah, bendahara itu justru menyalahkan orang lain. Belajar dari bendahara tersebut, ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita petik. (1) Jangan merusak kepercayaan yang orang lain berikan kepada kita, tetapi kerjakan tanggung jawab itu sebaik-baiknya. (2) Ketidakjujuran mendatangkan kerugian bagi diri sendiri. (3) Jangan cepat menyalahkan orang lain, melainkan lakukan introspeksi diri. Kemudian berubahlah jika sekiranya ada hal yang perlu diubah.

Setiap orang pernah melakukan kesalahan, maka ketika kita bersalah, jangan malu untuk mengakuinya! Sebab, jauh lebih terhormat orang yang berani mengakui kesalahannya lalu berubah ketimbang mereka yang mencari-cari kambing hitam.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juli 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Buah yang Manis

 

Bacaan  Yohanes 15:1-8
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Yesuslah pohon Anggur

1 Lalu Yesus berkata kepada kami murid-murid-Nya, “Aku seperti pohon anggur yang benar-benar menghasilkan buah sesuai dengan kehendak Allah, dan Bapa-Ku seperti petani yang merawat pohon anggur itu. 
2 Dia memangkas setiap cabang-Ku yang tidak menghasilkan buah. Dan Dia mengurangi daun pada setiap cabang yang sedang berbuah, supaya buahnya* bertambah banyak lagi. 
3 Kalian masing-masing memang sudah siap untuk berbuah karena ajaran yang Ku-berikan kepadamu. 
Hendaklah kamu hidup bersatu dengan Aku, dan Aku pun akan tetap hidup bersatu denganmu. Sama seperti cabang tidak bisa berbuah kalau hidup terpisah dari pohonnya, begitu juga dengan kamu. Kalau kamu tidak hidup bersatu dengan Aku, kamu tidak akan bisa berbuah.
5 “Aku memang seperti pohon anggur, dan kamu seperti cabang-cabang-Ku. Kalau kamu tetap hidup bersatu dengan Aku, dan Aku tetap hidup bersatu dengan kamu, maka kamu akan menghasilkan banyak buah. Tetapi kalau kamu terpisah dari-Ku, kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa. 
6 Setiap orang yang hidupnya terpisah dari-Ku seperti cabang-cabang pohon yang dibuang ke luar dan menjadi kering. Cabang-cabang itu akan dikumpulkan, lalu dilemparkan dan dibakar ke dalam api. 
7 Kalau kamu tetap hidup bersatu dengan Aku, dan ajaran-Ku hidup di dalam hatimu, kamu boleh minta apa saja yang kamu perlukan, maka hal itu akan diberikan kepadamu. 
Bapa-Ku akan dimuliakan apabila kamu menghasilkan banyak buah. Hal itu juga menunjukkan bahwa kamu benar-benar murid-Ku.

Sebuah toples nampak tertutup rapi. Dari kaca bening tersebut tampak coklat warna-warni yang begitu menggugah selera. Entah sudah berapa pasang mata yang sudah melihatnya seraya berdecak kagum, “Cantik banget coklat-coklat di dalam toples tersebut.” Seandainya tutup toples itu dibuka, aroma menggoda segera tercium, seolah memanggil semua orang untuk mencicipinya. Sayangnya toples tersebut tak pernah dibuka sehingga tak seorang pun dapat mengecap kemanisan coklat di dalamnya.

Setiap orang percaya dipanggil untuk “menampilkan” Kristus melalui hidupnya, baik dari tutur kata, sikap, maupun perbuatan. Namun terkadang Kristus yang ada di dalam diri orang percaya justru hanya tersimpan, ibarat coklat yang tersimpan dalam toples. Kesibukan berbagai aktivitas rohani tidak otomatis membuat kehidupan orang Kristen berbuah manis. Padahal, Tuhan berharap agar setiap orang percaya dapat berbuah banyak supaya Bapa dapat dipermuliakan. Buah dalam kehidupan orang percaya juga menunjukkan bahwa kita adalah murid-murid Kristus yang sejati. Alkitab menggambarkan kehidupan orang percaya ibarat ranting dan Yesus sebagai pokok anggurnya (Yoh. 15:5). Sebagai pokok anggur, kehidupan Yesus semasa di dunia jelas telah menghasilkan buah- buah yang manis. Siapa pun yang melekat pada-Nya, niscaya ia juga akan menghasilkan buah yang manis pula.

Sampai malam ini, apakah kita sudah memiliki fokus hidup untuk menunjukkan Kristus kepada sesama? Apakah sudah kehidupan kita menghasilkan buah yang manis untuk dikecap oleh orang lain? Hidup ini bukanlah tentang kita, tetapi Kristus. Sudah saatnya kita memperlihatkan Yesus kepada dunia dan biarlah “buah manis” dalam hidup kita semakin dirasakan sesama.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juli 2017

Catatan Kaki:
*15:2 menghasilkan buah Karena arti sebenarnya adalah orang dan bukan pohon yang berbuah, artinya hidup dengan cara menunjukkan bahwa mereka adalah milik Yesus. Termasuk dalam cara hidup itu adalah 1) “Hasil dan bukti Roh Kudus terlibat dalam hidup kita”— yang disebut di Gal. 5:22-23. (Lihat juga Ef. 5:9; Ibr. 12:11; Yak. 3:18.) 2) ‘Panen gandum’ rohani— yaitu memenangkan jiwa-jiwa supaya hidup mereka juga diubahkan dan mereka memperoleh keselamatan yang selama-lamanya, seperti yang Yesus jelaskan dalam Yoh. 4:34-38 dan Yoh. 15:16. Yesus menyerahkan diri-Nya untuk hal itu, seperti yang dinyatakan dalam Yoh. 12:24.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Kasih-Nya Luar Biasa

 

Bacaan  Roma 8:31-39
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Semua yang memusuhi kita tidak bisa menghentikan Allah untuk mengasihi kita

31 Jadi, apa tanggapan kita tentang semuanya itu? Kalau Allah berpihak kepada kita, semua yang memusuhi kita tidak akan bisa mengalahkan kita! 
32 Yang menjadi bukti akan hal itu adalah bahwa Allah tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri supaya tidak mengalami penderitaan, tetapi Allah sendiri menyerahkan-Nya untuk dikurbankan demi menyelamatkan kita. Kalau begitu, tentulah Dia akan tetap berbaik hati kepada kita dan memberikan semua hal yang lain yang sudah dijanjikan-Nya kepada kita. 
33 Jadi, siapa lagi yang berani menuduh kita?! Karena kita sudah dipilih Allah dan Dialah yang sudah melakukan hal-hal yang luar biasa itu sehingga kita dibenarkan di hadapan-Nya. 
34 Dan hal apakah yang masih bisa mengancam kita?! Tidak ada! Karena Kristus sudah mati bagi kita— bahkan Dia juga hidup kembali dari kematian dan sekarang duduk di tempat yang paling terhormat di dekat Allah, yaitu di sebelah kanan-Nya. Dari situlah Dia membela kita dan berdoa untuk kita. 
35 Jadi kalau begitu, apakah ada lagi oknum yang bisa menghentikan Kristus mengasihi kita? Tidak ada! Kalau kita ditindas, atau menghadapi kesengsaraan atau penganiayaan, apakah itu berarti Kristus tidak lagi mengasihi kita? Tidak! Atau kalau yang memusuhi Kristus membuat kita sebagai pengikut-Nya tidak bisa membeli makanan, atau pakaian, atau pun membunuh kita, apakah itu berarti Kristus tidak lagi mengasihi kita? Tidak!
36 Karena memang hal-hal itu masih tetap terjadi kepada kita, seperti tertulis dalam Kitab Suci, “Demi Engkau, Allah, kami berada dalam bahaya maut tiap-tiap hari. Dan kami diperlakukan seperti domba yang mau dipotong.”*
37 Tetapi dalam semua hal, kita mendapat kemenangan yang sempurna melalui Kristus yang sudah menyatakan kasih-Nya yang luar biasa kepada kita. 
38-39 Karena saya yakin bahwa semua yang memusuhi kita tidak bisa menghentikan kasih-Nya kepada kita— baik yang menyakiti kita selama masih hidup, maupun yang membunuh kita. Baik para malaikat— maupun semua roh jahat, tidak mampu mencegah Allah supaya tidak mengasihi kita lagi. Dan kita tidak perlu takut lagi terhadap tuduhan atau ancaman— baik tuduhan atau ancaman pada zaman sekarang, maupun yang akan datang, atau dari semua penguasa gelap. Karena semua ciptaan Allah— baik kuasa yang ada di langit yang paling tinggi maupun di bagian bumi yang paling rendah, tidak ada yang bisa menghentikan kasih Allah kepada kita— yaitu kasih yang kita dapat karena kita sudah bersatu dengan Tuhan kita Kristus Yesus.

Sejak mengenal Kristus, salah satu hal yang sangat disyukuri oleh Oky adalah adanya kasih yang luar biasa dari Tuhan yang dirasakan olehnya. Oky menyadari bahwa tak selamanya ia dapat menampilkan kehidupan yang baik dan berkenan kepada Allah, karena ia justru lebih sering gagal. Dulu ia berpikir Allah akan membencinya setiap kali ia gagal atau jatuh dalam dosa. Namun, semakin ia bertumbuh dalam iman, Oky menyadari bahwa tak ada yang dapat memisahkan dirinya dari kasih Kristus.

Kebenarannya adalah Allah mengasihi kita. Kebenaran yang tidak memerlukan “penambahan” apa-apa lagi, supaya Allah semakin mengasihi kita. Dia tidak bisa lebih mengasihi, kurang mengasihi, atau malah berhenti mengasihi karena kegagalan atau keterbatasan kita dapat menjalani kehidupan ini. Bahkan firman Tuhan menegaskan bahwa tak ada seorangpun yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya, termasuk penindasan, kesesakan hidup, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya apa pun, atau pedang yang dapat mengancam jiwa kita. Tentu, kebenaran ini bukan berarti adanya “izin” sehingga kita boleh hidup sekehendak hati kita. Justru dengan adanya jaminan kasih ini, hendaknya kita semakin bersungguh-sungguh dalam menjalani hidup ini. Sedapat mungkin, kita balas kasih-Nya dengan mengasihi Dia dan sesama, bahkan kita dapat memberi diri untuk melayani Dia.

Apabila kegagalan dalam hidup atau kejatuhan dalam dosa tertentu membuat kita merasa terbuang dari hadapan Allah, atau kita merasa bahwa Dia tidak lagi mengasihi kita, tolaklah pemikiran dan perasaan negatif tersebut! Mari bersyukur atas kasih-Nya yang luar biasa dengan menjalin relasi kembali dengan-Nya.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juli 2017

Catatan Kaki:
*8:36 Mzm. 44:23

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Memiliki Tujuan

 

Bacaan  Filipi 1:12-26
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Penderitaan Paulus membuat Kabar Baik semakin tersebar

12 Saudara-saudari, saya mau kalian tahu bahwa melalui semua masalah dan penderitaan yang sedang saya alami, Kabar Baik tentang Kristus semakin tersebar, 
13 sehingga semua orang di sini— khususnya para pengawal istana Roma, sudah mengetahui dengan jelas bahwa saya dipenjarakan karena saya pengikut Kristus. 
14 Dan karena saya dipenjarakan, sebagian besar saudara-saudari kita yang percaya kepada Tuhan Yesus semakin berani memberitakan Kabar Baik tentang Dia. 
15 Memang ada beberapa orang yang memberitakan tentang Kristus karena iri hati kepada saya, atau karena mereka mau menjadi lebih terkenal dari saya. Tetapi kebanyakan saudara-saudari seiman memberitakan Kabar itu karena mereka sungguh-sungguh ingin menyenangkan hati Tuhan Yesus. 
16 Mereka melakukan itu karena mereka juga mengasihi saya dan menyadari bahwa saya dipenjarakan karena kehendak Allah— yaitu berjuang demi membela dan mempertahankan Kabar Baik dari Allah. 
17 Tetapi beberapa orang lain masih memberitakan tentang Kristus demi kepentingan diri mereka sendiri dan bukan dengan hati yang tulus ikhlas. Setiap mereka berpikir, “Biar Paulus lebih susah lagi ketika dia mendengar bahwa di sini saya mempunyai lebih banyak pengikut dari dia.” 
18 Tetapi kalau mereka menyombongkan diri seperti itu, hal itu tidak mengganggu saya! Karena yang penting bagi saya adalah berita tentang Kristus tersebar luas— biarpun itu dilakukan dengan alasan yang murni atau tidak. Jadi saya tetap bersukacita. Ya, saya akan terus bersukacita! 
19 Karena melalui doa-doa kalian dan pertolongan dari Roh Kristus Yesus, saya yakin bahwa pada akhirnya saya akan dibebaskan.

Tujuan hidup Paulus hanya untuk memuliakan Kristus

20 Karena saya sungguh-sungguh merindukan dan mengharapkan supaya saya tidak gagal dalam melaksanakan tugas saya dan tidak menjadi malu di hadapan Tuhan. Yang saya mau adalah supaya saya terus bersaksi dengan penuh keberanian— sebagaimana saya sudah pernah bersaksi sebelumnya. Dengan begitu, saya berharap bahwa Kristus selalu dimuliakan melalui apa yang terjadi atas diri saya— baik hidup maupun mati. 
21 Karena bagi saya, hidup ini hanyalah untuk memuliakan Kristus! Dan kalau saya mati, hal itu hanya akan membawa keuntungan bagi saya— yaitu hidup bersama Kristus. 
22 Tetapi kalau saya masih hidup di dunia ini, saya akan terus berusaha untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak lagi dalam pelayanan saya kepada Tuhan Yesus. Jadi, kalau saya diberi ijin untuk memilih, saya tidak tahu apakah saya lebih senang hidup atau segera mati. 
23 Memang sangat sulit bagi saya untuk memilih di antara keduanya! Secara pribadi lebih baik kalau saya meninggalkan tubuh ini dan tinggal bersama Kristus. Ya, karena hal itu jauh lebih baik bagi saya! 
24 Tetapi mengingat kalian masih membutuhkan saya, maka saya yakin bahwa saya masih perlu hidup lebih lama di dunia ini. 
25 Oleh karena saya yakin akan hal itu, maka saya berpikir Tuhan akan mengijinkan saya hidup dan tinggal bersama kalian. Dengan begitu saya akan menolong kalian untuk semakin bertumbuh dan bersukacita karena keyakinan kita kepada Kristus— 
26 sehingga pada waktu saya datang kembali kepada kalian, tentu kalian akan sangat senang dan bersyukur kepada Kristus Yesus!

Rick Warren adalah Penulis buku berjudul The Purpose Driven Life (Kehidupan yang digerakkan oleh tujuan). Buku ini sukses masuk jajaran buku terlaris New York Times. Dalam bukunya, Rick Warren berusaha menuntun para pembaca agar memahami tujuan Allah dalam kehidupan mereka. Memiliki tujuan hidup itu penting karena kehidupan tanpa tujuan ibarat berkendara tanpa mengetahui tempat yang hendak dituju. Tentu saja hal itu hanya membuang waktu dan menghabiskan bensin. Karena itulah, kehidupan yang tidak disertai tujuan tampak membosankan dan melelahkan.

Rasul Paulus mengerti benar tujuan hidupnya di dunia. Bagi Paulus, hidupnya adalah Kristus. Artinya, jika ia diberi kesempatan untuk hidup, maka ia akan mempergunakannya untuk menghasilkan buah bagi Kerajaan Allah. Itulah sebabnya, dipenjara karena pemberitaan Injil bukanlah suatu kehinaan untuknya. Melalui teladan hidupnya, Paulus ingin agar setiap jemaat Tuhan
mengerti betul arah dan tujuan kehidupan mereka. Tujuan hidup sejati yang dimaksudkan Paulus bukanlah mengejar harta kekayaan, posisi, kedudukan dan kehormatan, melainkan kehidupan yang ditujukan untuk menghasilkan buah dan memuliakan Tuhan. Jika hal ini terpatri dalam diri setiap orang percaya, maka kehidupan orang percaya akan sangat fokus dan berdampak besar.

Dalam hidup ini, kita boleh saja menetapkan sasaran, target, atau cita-cita. Namun, pastikan semua itu tidak menggeser Tuhan sebagai tujuan utama dalam kehidupan kita. Tuhan mau kehidupan kita senantiasa menghasilkan buah untuk kemuliaan nama Nya. Apabila malam ini kita belum atau keliru mengarahkan tujuan, belum terlambat untuk menetapkannya sekarang.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juli 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Memberi dengan Rela

 

Bacaan  2 Korintus 9:6-15
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Dorongan untuk membantu saudara-saudari seiman yang berkekurangan

6 Perhatikanlah ini: Orang yang menanam sedikit akan menuai sedikit, dan orang yang menanam banyak akan menuai banyak!
7 Hendaklah setiap kalian memberi dengan hati yang rela. Jangan memberi dengan hati yang sedih atau paksaan, karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan hati yang senang. 
8 Ingatlah bahwa Allah sanggup menunjukkan kebaikan hati-Nya kepadamu dalam segala hal, sehingga keperluanmu selalu tercukupi— bahkan lebih dari cukup! Dengan begitu kamu lebih sanggup lagi melakukan hal-hal yang baik. 
9 Seperti yang dikatakan Kitab Suci, “Orang-orang yang hidupnya benar seperti petani yang menaburkan benih. Mereka sering memberi dengan murah hati kepada orang-orang miskin. Perbuatan-perbuatan baik mereka itu tidak akan pernah dilupakan oleh TUHAN.”* 
10 Jadi sebagaimana Allah menyediakan bibit bagi penabur dan hari demi hari memberikan makanan untuk kita makan, demikian juga Dia akan memberkati kamu dengan berlimpah-limpah. Maksud saya, kamu akan dimampukan untuk memberi dengan murah hati kepada orang-orang lain, lalu perbuatan-perbuatan baikmu itu akan menghasilkan banyak kebaikan di hadapan TUHAN. 
11 Jadi kamu akan diperkaya dalam segala hal, sehingga kamu selalu sanggup memberi dengan murah hati. Dan pemberianmu melalui dana yang kami kumpulkan akan membuat semakin banyak orang yang bersyukur kepada Allah.
12 Pelayanan kita ini tidak hanya mencukupi kebutuhan umat Allah di Yerusalem, tetapi akan membuat semakin banyak orang yang bersyukur kepada Allah. 
13 Karena pelayananmu ini, saudara-saudari kita akan memuji Allah. Karena kemurahan hati kalian kepada mereka dan kepada semua orang yang membuktikan bahwa kalian sungguh-sungguh hidup sesuai dengan Kabar Baik tentang Kristus. 
14 Dan ketika mereka berdoa, mereka akan mendoakan kalian dengan penuh kasih, karena ternyata Allah sangat luar biasa menunjukkan kebaikan hati-Nya kepada kalian. 
15 Syukur kepada Allah atas hadiah terbesar yang diberikan-Nya kepada kita— yaitu Kristus sendiri! Nilai hadiah terbesar itu tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata apa pun!

Seorang gembala dari suatu gereja lokal pernah ditanya oleh ketua sinodenya, “Berhubung gereja Anda adalah pemberi persembahan terbesar untuk kas sinode, apakah ada sesuatu yang ingin Anda usulkan terkait penggunaan uang untuk program sinode?” Menariknya, gembala tersebut menolak untuk memberi usulan. Baginya, pengelolaan uang persembahan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengurus sinode. Ia sama sekali tidak ingin ikut campur dalam pengelolaan dan penggunaannya.

Saat menuliskan tentang pemberian persembahan, Rasul Paulus menekankan pentingnya kerelaan. Kerelaan dalam memberi biasanya akan memunculkan sukacita dari si pemberi. Sebaliknya, pemberian yang dilakukan dengan sedih hati atau karena terpaksa, dapat membuat si pemberi kehilangan sukacita. Kerelaan dalam memberi tergantung pada kesediaan setiap orang untuk diproses dalam hal memberi. Jika ujian kerelaan ini dapat dilalui, apalagi dengan kuantitas pemberian yang semakin bertambah,
akan ada satu titik dimana seseorang akan rela memberi dalam jumlah besar. Hal ini pun dilakukan bukan karena ingin mencari pujian manusia, melainkan sebagai wujud kasihnya kepada Allah, sesama, dan untuk mendukung pekerjaan Tuhan dan pelayanan.

Malam ini mari koreksi diri sendiri! Jika dibandingkan dengan lima sampai sepuluh tahun silam, bagaimana perkembangan kerelaan hati kita dalam memberi persembahan maupun bentuk pemberian lainnya? Apakah kita semakin mudah memberi dengan kerelaan atau sebaliknya, uang semakin sulit keluar dari dompet dan rekening kita? Malam ini, dengan mengingat nasihat Paulus, marilah kita terus belajar untuk menjadi pribadi yang berkenan kepada Allah lewat pemberian kita.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juli 2017

Catatan Kaki:
*9:9 Mzm. 112:9

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Saat Yang Tepat

 

Bacaan  Keluaran 19:1-6
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Orang Israel di Gunung Sinai

1 Sesudah itu bangsa Israel meninggalkan Rafidim, dan pada tanggal satu bulan ketiga setelah mereka meninggalkan Mesir, tibalah mereka di padang gurun Sinai. Mereka berkemah di kaki Gunung Sinai,
2 (19:1)
3 dan Musa mendaki gunung itu untuk bertemu dengan Allah. TUHAN berbicara kepada Musa dari gunung itu dan menyuruh dia mengumumkan kepada orang Israel, keturunan Yakub,
4 “Kamu sudah melihat apa yang Kulakukan terhadap orang Mesir, dan bagaimana Aku membawa kamu kepada-Ku di tempat ini dengan kuasa besar, seperti burung rajawali membawa anaknya di atas sayapnya.
5 Sekarang kalau kamu taat kepada-Ku dan setia kepada perjanjian-Ku, kamu akan Kujadikan umat-Ku sendiri. Seluruh bumi adalah milik-Ku, tetapi kamu akan menjadi milik kesayangan-Ku,
6 khusus untuk diri-Ku sendiri, dan kamu akan melayani Aku sebagai imam-imam.”

Kehidupan yang nyaman dan selalu aman tak jarang membuat seseorang merasa tak perlu belajar lebih dalam hidupnya. Misalnya, ketika keadaan orangtua dalam kondisi keuangan yang sangat baik sehingga semua kebutuhan anak-anaknya selalu mencukupi. Berapa banyak dari anak-anak itu yang tetap belajar akan perjuangan hidup? Beberapa orang mungkin belajar, tetapi banyak juga yang kemungkinan tidak tahu apa itu berjuang demi meraih sesuatu. Parahnya, kenyamanan seringkali membuat seseorang tidak bergantung kepada Tuhan tetapi lebih pada kemampuan diri sendiri.

Nyaman adalah kondisi yang menyenangkan bagi daging kita, tetapi keadaan ini justru membahayakan manusia roh kita. Kenyamanan tidak hanya berbicara saat keadaan serba berkelimpahan tetapi juga di mana kita sudah mulai menikmati kondisi yang tidak baik. Kita harus waspada dengan kenyamanan! Itu sebabnya dalam perjalanan hidup kita, Allah mengizinkan kita mengalami persoalan demi persoalan. Tujuannya, supaya kita tetap berada pada zona berharap dan bergantung kepada-Nya.

Bayangkan, seandainya induk rajawali tidak mengguncang- guncangkan sarangnya yang berisi anak-anak rajawali yang belum bisa terbang! Sudah pasti anakanak rajawali itu tak akan pernah bisa terbang apalagi mengarungi lautan yang luas. Seperti itulah cara Allah dalam mendidik umat-Nya. Terkadang Ia memberikan kondisi yang tidak nyaman dengan Allah tetap menyertai seperti induk rajawali yang mendukung anak-anaknya di sayapnya, supaya kita bertumbuh. Ini yang Allah harapkan dari orangtua terhadap anakanaknya. Jangan bentuk generasi muda yang menyukai hal-hal instan. Namun, didiklah generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan mengerti apa itu proses dan perjuangan

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juli 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posts navigation

1 2 3 5 6 7 8 9 10 11 14 15 16
Scroll to top