Open post

Didikan Turun-Temurun

 

Bacaan  Titus 2:1-10
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Menaati ajaran yang benar

1 Namun, kamu Titus, harus selalu mengajarkan cara hidup yang sesuai dengan ajaran yang benar. 
2 Ajarlah laki-laki yang sudah tua untuk menguasai diri, untuk hidup bijaksana, dan sebagai orang yang bisa dihormati. Mereka harus tetap percaya ajaran yang benar, sungguh-sungguh mengasihi orang lain, dan selalu bertahan waktu menghadapi kesusahan. 
3 Juga, nasihatilah perempuan-perempuan yang sudah tua supaya hidup hanya untuk menyenangkan Allah. Mereka tidak boleh bercerita bohong tentang orang lain, dan jangan sampai mereka tidak bisa lepas dari minuman keras. Mereka juga harus mengajarkan hal-hal yang baik saja. 
Dengan demikian, mereka bisa mengajar perempuan-perempuan yang muda untuk mengasihi suami dan anak-anak mereka. 
5 Mereka juga bisa mengajar perempuan-perempuan muda untuk hidup bijaksana dan dengan hati yang bersih. Sebaiknya yang muda juga belajar bagaimana mengurus rumah tangga dengan baik, dan cara melayani suami. Dengan begitu, tidak ada orang yang bisa menjelekkan ajaran yang sudah diberikan Allah kepada kita.
6 Demikian juga, ajarlah laki-laki yang muda untuk hidup bijaksana. 
7 Titus, dalam segala hal kamu harus menjadi contoh yang baik kepada mereka. Ajarlah mereka dengan hati yang jujur, dengan memakai cara yang patut dihormati. 
8 Dan semua ajaranmu haruslah yang benar, supaya tidak memberi kesempatan kepada mereka yang menentang kita. Dengan begitu, mereka akan malu karena mereka tidak menemukan kesalahan yang bisa dipakai untuk mencela kita.
9 Dan sampaikanlah hal-hal ini kepada orang-orang yang bekerja sebagai budak milik orang lain: Mereka harus selalu bersedia melayani tuan mereka masing-masing, harus berusaha menyenangkan mereka, dan tidak boleh membantah tuannya. 
10 Mereka tidak boleh mencuri harta dari tuannya. Tetapi mereka harus membuktikan bahwa mereka benar-benar bisa dipercaya dalam segala hal. Dengan begitu, semua orang akan senang pada ajaran kita tentang cara Allah menyelamatkan manusia.

Jika diperhatikan ada begitu banyak karakter manusia. Ada orang yang sukanya hanya menuntut orang lain supaya sesuai kehendaknya, tanpa memperhatikan kualitas hidupnya sendiri. Ada juga yang terlalu cuek dengan dirinya sendiri sehingga cenderung tidak menghargai diri sendiri. Ada banyak faktor yang membentuk seseorang memiliki karakter-karakter seperti itu. Entah dikarenakan lingkungan atau dikarenakan miskin teladan dalam hidupnya. Jika demikian, bagaimana generasi berikutnya
bisa bertumbuh lebih baik dari generasi saat ini?

Di bawah dididikan Paulus, Titus diarahkan bukan hanya harus memperhatikan, menjaga dan bertumbuh baik pada dirinya sendiri sebagai pemimpin. Namun, sekaligus ia harus memerhatikan ajaran sehat kepada jemaatnya agar laki-laki tua, perempuan perempuan tua berperilaku baik, bijaksana, dan menjaga iman mereka. Semua itu secara langsung hasil dari estafet didikan, dari
generasi tua kepada generasi muda.

Dari perikop hari ini kita belajar dua hal. Pertama, sebagai orangtua, kita harus menjaga ajaran dan perilaku kita terlebih dulu, agar apa yang kita katakan dan ajarkan pada generasi muda ada kuasanya. Sudah terbukti buahnya maka arahan kita tidak kosong. Jangan menjadi orangtua yang menerapkan standar ganda: menuntut anak baik, tetapi diri sendiri santai, bebas karena menang umur! Kedua, didikan melalui teladan terbukti lebih efektif. Dengan demikian anak-anak kita tidak miskin teladan, mereka yakin dan mengiyakan didikan kita. Mereka tidak bisa lagi mengatakan kita “omdo” alias omong doang. Mari kita sadar untuk mendidik generasi muda yang lebih baik, terutama sebagai wanita, yang bertugas mengasihi dan merawat keluarga secara lebih.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juli 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Menghajar karena Mengasihi

 

Bacaan  Ibrani 12:1-17
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Caranya bertahan dalam pertandingan iman

1 Oleh karena semua itu, Saudara-saudari, marilah kita ingat dan mengikuti cara hidup para pahlawan iman kita yang sudah mendahului kita dan yang sedang menanti-nantikan kita sekarang! Jadi, marilah kita lepaskan dan tinggalkan semua beban dan dosa yang menghalangi kita dalam pertandingan yang sudah ditetapkan Allah untuk kita jalani, dan marilah kita terus berjuang mencapai tujuan kita.
2
 Dalam pertandingan ini, biarlah mata kita terus memandang ke depan— yaitu kepada Yesus. Dialah Raja dan Pahlawan Iman yang terutama bagi kita, dan yang telah menyelesaikan pertandingan yang diberikan kepada-Nya dengan sempurna. Dia rela menahan penderitaan yang sangat memalukan di kayu salib karena Dia memandang terus ke depan kepada sukacita yang disediakan untuk Dia di kemudian hari. Sekarang Dia sudah duduk menantikan kita di tempat yang paling terhormat di samping takhta Allah. 

3 Karena itu, biarlah kita selalu merenungkan teladan Yesus— yang berdiri teguh ketika orang-orang berdosa menghina dan menganiaya Dia dengan sangat kejam. Kalau kita meneladani Yesus, kita tidak akan gampang lemah dan putus asa. 
4 Karena memang, dalam perjuangan kita melawan dosa, kita belum sampai terbunuh.
5 Janganlah kita melupakan nasihat yang diberikan TUHAN— di mana setiap kita Dia sebut “anak-Ku.” Kata-Nya,“Anak-Ku, janganlah pandang enteng didikan-Ku. Dan janganlah putus asa ketika Aku menegurmu.
6 Karena Aku memberikan didikan kepada setiap anak yang Ku-kasihi, dan Aku mencambuki setiap orang yang Ku-terima sebagai anak.”*
7 Jadi, waktu kita menderita karena cambukan dari Bapa surgawi kita, kita harus ingat bahwa Allah sedang memperlakukan kita sebagai anak-Nya. Karena, kalau bapak memberikan didikan kepada anaknya sendiri, itu bukan hal yang aneh! 
Kalau kamu tidak pernah dikoreksi oleh TUHAN, berarti kamu bukan anak-Nya yang sah. Karena TUHAN mengoreksi semua anak-Nya. 
9 Memang, bapak kita yang ada di dunia ini pernah mengoreksi kita. Sesudah itu, kita menghormati mereka. Jadi terlebih lagi marilah kita tunduk kepada Allah sebagai Bapa rohani kita, karena kalau kita bertahan dalam ujian, kita akan masuk ke dalam hidup yang selama-lamanya. 
10 Dan bapak-bapak kita yang di dunia ini mengoreksi kita masing-masing hanya untuk sementara saja— sesuai dengan apa yang mereka anggap baik. Tetapi waktu Bapa surgawi mengoreksi kita selalu tepat dan berguna, supaya kita disucikan sebagaimana Dia suci. 
11 Memang, setiap kali kita dikoreksi, pengalaman itu tidak membuat kita senang, tetapi membuat kita sedih. Tetapi sesudah kita dididik oleh pengalaman itu, hasilnya adalah kita hidup lebih benar dan merasa tenang di mata Allah.
12 Jadi, oleh karena kita dipanggil untuk berlari dalam pertandingan ini, kuatkanlah tangan kita yang lemah, dan jangan biarkan lutut kita gemetar. 
13 Dan biarlah kaki kita tetap berlari lurus ke depan. Jangan belok ke kiri atau ke kanan. Dengan demikian, kalau orang yang lemah atau pincang mengikuti teladan kita, kaki mereka tidak terkilir karena tersandung, tetapi semakin disembuhkan dan dikuatkan.

Janganlah menolak kebaikan hati Allah

14 Berusahalah hidup damai dengan semua orang! Berusahalah juga untuk hidup kudus! Karena siapa yang tidak berusaha untuk hidup kudus tidak akan melihat TUHAN. 
15 Berjaga-jagalah supaya jangan seorang pun di antara kalian yang berhenti berpegang kepada kebaikan hati Allah. Karena kalau ada orang yang seperti itu, dia akan menjadi seperti tanaman beracun yang bisa meracuni orang-orang di antara kita, sehingga orang-orang tertular dengan kenajisannya. 
16 Dan kalian juga harus berjaga-jaga supaya tidak ada di antara kalian yang hidupnya cabul dan tidak menghormati Allah seperti yang dilakukan Esau. Sebenarnya sebagai anak pertama, dialah yang berhak mewarisi semua harta benda bapaknya ketika bapaknya meninggal. Tetapi dia menjual semua hartanya itu hanya untuk satu piring makanan saja. 
17 Ingatlah yang terjadi kemudian: Ketika dia berubah pikiran dan mau menerima berkat dari bapaknya sebagai anak pertama, tetapi bapaknya menolak untuk memberikan berkat itu kepadanya. Walaupun dia menangis, dia tidak bisa mengubah apa yang sudah dilakukannya.

Sebagai ibu, saya mengakui bahwa saya kurang tegas terhadap anak-anak saya. Saya mengasihi mereka tetapi terkadang didikan saya kurang disiplin. Saya terkadang tidak sejalan dengan kesepakatan aturan yang dibuat bersama suami. Saya lembek, sehingga akibatnya anak-anak manja dan tidak mengindahkan didikan saya. Memang mengasihi itu tidak serta merta mendidik dengan keras atau sebaliknya sangat lembek. Semua yang terlalu akan tidak baik dan justru menjadi racun.

Mungkin kita tidak akan menjadi orangtua yang terlalu keras atau terlalu lembek kalau kita memahami kasih. Kasih itu lemah lembut, tetapi juga tegas, bukan keras. Kasih itu lemah lembut tetapi kasih juga tidak kompromi. Inilah kasih yang ditunjukkan Tuhan kepada umat-Nya. Terhadap umat yang hidup taat dalam tuntunan dan kebenaran-Nya, Dia akan menunjukkan kelemahlembutan-Nya. Namun terhadap umat yang ngeyel, tidak mau tunduk di bawah otoritas-Nya, atau hidup semaunya sendiri dengan tinggal di dalam dosa maka tak segan Dia akan menghajarnya. Hajaran-Nya tentu bukan untuk membinasakan, melainkan supaya umat-Nya mau kembali kepada-Nya, yang dapat membawa dampak positif bagi kehidupan mereka.

Melalui orang percaya di Ibrani tersebut, kiranya kita menjadi semakin mengerti bahwa di dalam kasih juga ada ketegasan dan tidak kompromi, agar kita sebagai orangtua tidak terjebak dalam kasih yang keliru. Kasih yang tidak disertai ketegasan, konsistensi, dan disiplin ibarat racun, yang perlahan tapi pasti dapat “membunuh” anak-anak kita. Sebaliknya teguran, larangan, hajaran orangtua yang diberikan tepat pada waktunya akan membekali dan membentuk mental anak-anak. Memang tidak enak, tetapi buahnya manis. Mana yang kita pilih?

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juli 2017

Catatan Kaki
*12:6 
Ams. 3:11-12

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Jangan Sungkan Melayani

 

Bacaan  Filipi 2:6
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Mengikuti contoh Kristus yang tidak mementingkan diri-Nya sendiri

6 Biarpun Yesus mempunyai semua sifat Allah, tetapi Dia tidak pernah berpikir bahwa kedudukan-Nya sebagai Allah adalah sesuatu yang harus tetap dipertahankan-Nya.

Presiden Lincoln bersama dua stafnya sedang duduk di rumah Jenderal George B. McClellan. Mereka menunggu sang jenderal datang, lalu bersama-sama menghadiri pesta pernikahan. Satu jam kemudian jenderal tersebut tiba di rumah, tetapi langsung naik ke loteng dan pergi tidur, tanpa memerhatikan presiden. Mengetahui hal itu, seorang stafnya langsung marah, tetapi Lincoln berkata, “Ini bukan waktunya membicarakan soal etiket dan gengsi pribadi. Saya mau menjadi penuntun kuda McClellan jika ia berhasil membawa kemenangan.” Sikap rendah hati inilah yang akhirnya membawa Lincoln menjadi orang besar dan presiden yang hebat. Ia tidak memikirkan dirinya sendiri dan selalu ingin melayani sesamanya.

Dalam nats, Yesus dikatakan “dalam rupa Allah.” Dalam bahasa Yunaninya didahului dengan kata “berada” (berada dalam rupa Allah)—“Huparchon”: terus-menerus berada; bukan kata “On”: sedang berada. Maksudnya, Kristus tetap dalam rupa Allah ketika mengambil rupa manusia/inkarnasi. Namun dalam inkarnasinya ia kenosis (menghampakan diri, mengosongkan diri). Paulus menekankan bahwa Yesus mengambil rupa menjadi seorang hamba, bukan seperti aktor yang memerankan seorang hamba. Pelayanan Yesus juga ditujukan mulai dari golongan atas sampai bawah. Yesus melayani kaum nelayan, pelacur, pemungut cukai, orang-orang sakit, dan sebagainya. Yesus mengambil alih pekerjaan seorang hamba yang rendah. Jadi melayani adalah salah satu ciri kerendahhatian.

Kalau kita diperhadapkan dengan orang-orang yang dilayani oleh Yesus, apakah kita tetap mau melayani mereka? Kita mengunjungi orang sakit sambil membawa buah tangan, mengadakan persekutuan di penjara, atau bentuk pelayanan kasih lainnya. Hal ini sepertinya sepele, tetapi dapat memberi dampak luar biasa.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juli 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Keluarga Kornelius

 

Bacaan  Kisah Para Rasul 10:1-2 
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Petrus dan Kornelius

1 Di kota Kaisarea ada seorang komandan kompi Roma yang bernama Kornelius. Dia memimpin seratus anggota tentara yang disebut Batalion Italia.
2 Kornelius dan keluarganya sangat hormat dan taat kepada Allah, dan dia sering memberikan bantuan kepada orang-orang miskin, dan dia juga selalu berdoa kepada Allah.

Menikah dan memiliki keluarga yang bahagia adalah harapan semua orang. Namun, tidak sedikit yang justru gagal memperolehnya. Ada pasangan yang baru menikah 2 tahun, tetapi memutuskan untuk bercerai karena suatu alasan. Ada juga orangtua yang tidak berfungsi secara benar dan tidak menjadi teladan bagi anak-anaknya. Akibatnya, angka kenakalan remaja menjadi meningkat di masyarakat. Problematika keluarga juga banyak menghampiri keluarga-keluarga Kristen. Akibatnya, tanpa disadari kondisi ini membuat banyak keluarga Kristen menjadi batu sandungan bagi orang lain.

Problematika keluarga sudah ada sejak zaman Perjanjian Lama. Alkitab secara jujur memuat berbagai macam problematika keluarga itu supaya siapapun yang membacanya dapat belajar sesuatu. Harapannya, sesuatu yang buruk tidak akan ditiru atau diulangi lagi, tetapi sesuatu yang baik dapat diteladani. Malam ini kita membaca mengenai Kornelius, pria yang disebut saleh oleh Alkitab. Artinya, ia adalah orang yang taat beribadah dan melakukan firman Tuhan. Kornelius beserta seisi rumahnya juga disebut sebagai keluarga yang takut akan Allah. Kornelius juga tercatat sebagai orang yang suka berdoa dan banyak memberi sedekah.

Keluarga Kornelius patut dijadikan “acuan” untuk kriteria keluarga yang patut dijadikan teladan. Ada empat prinsip Ilahi yang dapat kita pelajari dari keluarga Kornelius, yakni kesalehan, takut akan Allah, suka memberi, dan suka berdoa. Empat hal yang masih menarik perhatian Allah hingga saat ini, sekalipun mulai jarang diminati sebagai gaya hidup untuk dijalankan. Padahal, jika Allah menyukai gaya hidup demikian, berkat-Nya pun tak akan jauh dari hidup kita. Bagaimana dengan keluarga kita

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juli 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Melatih untuk Mendengar

 

Bacaan  Amsal 19:20
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

20 Jika engkau suka belajar dan mendengar nasihat, kelak engkau menjadi orang yang berhikmat.

Memiliki anak tidak semudah memiliki boneka. Kita tidak hanya memenuhi kebutuhannya berupa pangan, sandang, dan papan tetapi kita juga harus mendidik, mengajarkan, dan menegurnya supaya ia menjadi anak yang tumbuh sesuai ajaran firman Tuhan. Setiap fase usia anak, orangtua pasti akan mengalami tantangan yang berbeda dalam mendidik buah hati. Fase tersulit adalah ketika anak berada dalam rentang usia dimana mereka mulai menolak dan tidak mudah menerima ajaran apalagi melakukan ajaran tersebut.

Namun demikian, bukan berarti orangtua tidak bisa mendidik anak sesuai firman Tuhan. Kuncinya adalah sikap hati yang benar dalam merespons didikan. Ini penting, karena sikap hati anak menentukan hasil. Maka, sejak dini orangtua harus membiasakan kepada buah hati untuk mendengarkan bukan hanya mendengar nasihat dan perkataan orangtua. Mendengarkan adalah aktivitas menangkap suara dengan sungguh-sungguh yang terencana atau ada unsur kesengajaan. Sementara mendengar adalah aktivitas menangkap suara dengan telinga tanpa ada unsur kesengajaan.

Jadi dari pengertian di atas, untuk menumbuhkan sikap hati yang benar pada anak terhadap didikan, orangtua harus terlebih dulu menunjukkan sikap yang benar ketika menasihati maupun mengajarkan sesuatu kepada anak. Misalnya, dengan mengajak anak berbicara dari hati ke hati ketika suasana hati tak diliputi amarah atau emosi negatif lainnya.

Mendidik anak memang bukan perkara mudah tetapi percayalah bahwa ketika orangtua menunjukkan sikap yang benar dalam menasihati, menegur, dan mengajar, anak juga akan menunjukkan rasa hormat dan mendengarkan perkataan orangtuanya. Jadi, teruslah bersemangat mendidik anak-anak kita

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juli 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Kuasa Perkataan

 

Bacaan  Yakobus 3:5-12
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Jagalah kata-katamu

5 Begitu juga dengan lidah kita. Meskipun lidah hanya bagian kecil dari tubuh kita, tetapi kita bisa memakai lidah itu untuk menyombongkan diri dan menyakiti hati saudara-saudari kita! Biarpun kecil, tetapi bisa merusak banyak hal— sebagaimana hutan yang luas bisa terbakar hanya karena lidah api yang kecil. 
6 Memang pantas menggambarkan lidah sebagai api! Karena semua kejahatan dunia ini seperti tersimpan dalam lidah kita. Dan seperti racun, kejahatan itu menular dari situ untuk merusak seluruh tubuh kita. Lidah kita seperti lidah api neraka! Maksud saya, iblis bisa menyalakan api besar melalui lidah kita. Dan bagaikan satu lidah api bisa menjalar dan membakar hutan luas, begitu pula seluruh hidup kita bisa tercemar hanya karena lidah.
7 Ternyata manusia sudah bisa menjinakkan hampir setiap jenis binatang, burung, binatang merayap, dan binatang laut, 
8 tetapi tidak ada seorang pun yang bisa menjinakkan lidahnya sendiri. Lidah kita begitu liar dan jahat, bagaikan ular yang penuh dengan racun yang mematikan. 
9 Lidah kita terlalu cepat berbalik dari memuji Allah Bapa kepada mengutuk orang lain— padahal orang lain itu adalah manusia yang sudah diciptakan oleh TUHAN segambar dengan diri-Nya sendiri. 
10 Berarti dengan mulut yang sama kita memuji Allah dan mengutuk sesama kita. Saudara-saudariku, janganlah kita seperti itu! 
11 Air tawar dan air asin tidak bisa keluar dari mata air yang sama— bukan! 
12 Juga Saudara-saudariku, pohon ara tidak mungkin menghasilkan buah zaitun. Pohon anggur tidak bisa menghasilkan buah ara. Dan air tawar tidak mengalir dari sumber air asin.

Rasa tak puas terkadang membuat orangtua tak segan mengeluarkan kalimat yang bisa berdampak buruk pada anak mereka, misalnya: “Saat seumurmu aku dulu lebih bertanggung jawab”, “Kau selalu membuat keputusan yang salah”, “Kenapa kau tak bisa seperti saudarasaudaramu?”, “Tinggalkan aku sendiri!” “Kau harusnya malu pada dirimu sendiri”, “Kau persis ayahmu/ ibumu”, “Kau selalu bisa menemukan cara untuk menyakitiku”, “Lebih baik aku tak punya anak daripada punya anak sepertimu”, “Jauhi teman-teman berandalmu itu”.

Kalimat-kalimat di atas tidak hanya akan berdampak pada perkembangan karakter dan mental si anak tetapi juga berdampak bagi masa depannya. Ada suatu penelitian terhadap dua tanaman yang sedang bertumbuh. Sebut saja tanaman A dan B. Setiap hari kedua tanaman tersebut diberi pupuk yang sama dan air dengan jumlah yang sama. Namun tanaman A setiap hari dicaci maki dan dikutuki. Sebulan kemudian, tanaman A mati sementara tanaman B tetap hidup dan terus bertumbuh bahkan berbuah. Ibarat tanaman, anak-anak juga tidak akan berkembang sebagaimana mestinya kalau orangtua sering memperkatakan perkataan perkataan negatif terhadap mereka. Itu sebabnya, Alkitab memperingatkan kepada kita untuk hati-hati dalam berucap. Karena lidah itu ibarat api. Wujudnya memang kecil tetapi ia mampu membakar hutan yang besar dalam sekejap.

Malam ini, mari introspeksi diri! Adakah diri sendiri sering mengucapkan perkataan kutuk atau perkataan negatif, baik terhadap pasangan, anak, saudara kandung, atau sesama kita lainnya? Minta ampunlah kepada Tuhan dan ubahlah perkataan negatif kita menjadi perkataan positif yang memberkati

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juli 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Anda Kuatir? Berdoalah

 

Bacaan  Filipi 4:6-7
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Nasihat Terakhir

6 Janganlah kuatir tentang apa pun, tetapi berdoalah untuk segala sesuatu. Sampaikanlah permohonanmu kepada Allah dalam doa dan jangan lupa bersyukur. 
7 Dengan demikian, ketenangan dalam perlindungan Allah yang kita terima karena bersatu dengan Kristus Yesus akan menjadi seperti pengawal, yang akan selalu menjaga hati dan pikiranmu. Ketenangan yang diberikan Allah itu melebihi segala pengertian manusia!

Ketakutan tentang masa depan, kekuatiran akan kehidupan yang sedang dijalani dan kegelisahan tentang hal-hal negatif yang ditakutkan akan dialami, ternyata dialami oleh setiap orang di dunia ini. Bedanya ada pada tingkat ketakutan, kekuatiran, atau kegelisahan dan bagaimana orang tersebut mengatasinya. Seperti dialami oleh Doni, lajang yang sudah bekerja ini sempat mengalami ketiga hal tersebut. Namun, ia sudah memiliki cara ampuh untuk mengatasinya, yakni dengan berdoa.

Ketakutan atau kekuatiran ketika mulai mendominasi hidup kita, berarti ada yang keliru dari cara kita menjalani hidup ini. Alkitab melarang kita untuk kuatir mengenai hal apa pun dan memberikan solusinya, yakni dengan berdoa. Alkitab terjemahan Sederhana Indonesia mengungkapkan, “Janganlah kuatir tentang apa pun, tetapi berdoalah untuk segala sesuatu. Sampaikanlah permohonanmu kepada Allah dalam doa dan jangan lupa bersyukur.”

Doa yang dipanjatkan ketika kuatir akan mengalihkan fokus kita dari problema kehidupan yang bersifat sementara, lalu berfokus pada Tuhan yang bersifat kekal; dari apa yang terbatas kepada yang tidak terbatas. Hasilnya, damai sejahtera dari Allah akan memenuhi hati dan pikiran kita (ay. 7). Menyerahkan kekuatiran kepada Allah juga memberi “jalan” bagi Allah untuk campur tangan lebih lagi dalam kehidupan kita dengan kuasa-Nya yang ajaib.

Apakah malam ini ada hal yang membuat kita takut, kuatir, atau gelisah? Sampaikanlah semuanya itu kepada Allah dan mintalah agar damai sejahtera Ilahi memenuhi hati dan pikiran kita.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juli 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Teladan Musa

 

Bacaan  Ulangan 34:1-12
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Kematian Musa

1 Lalu Musa meninggalkan dataran Moab dan mendaki Gunung Nebo, ke puncak Pisga di sebelah timur Yerikho. Di situ TUHAN menunjukkan kepadanya seluruh negeri itu, yakni: Wilayah Gilead ke utara sejauh kota Dan;
2 seluruh wilayah Naftali; wilayah Efraim dan Manasye, wilayah Yehuda ke barat sejauh Laut Tengah;
3 bagian selatan Yehuda dan dataran yang terbentang dari Zoar ke Yerikho, kota yang penuh dengan pohon kurma.
4 Lalu TUHAN berkata kepada Musa, "Itulah negeri yang Kujanjikan kepada Abraham, Ishak dan Yakub untuk diserahkan kepada keturunan mereka. Aku memperlihatkannya kepadamu, Musa, tetapi tidak mengizinkan engkau pergi ke sana."
5 Lalu meninggallah Musa hamba TUHAN di tanah Moab, seperti dikatakan TUHAN sebelumnya.
6 TUHAN menguburkan dia di sebuah lembah di Moab di seberang kota Bet-Peor, tetapi sampai hari ini tak seorang pun tahu dengan tepat di mana makamnya.
7 Musa meninggal pada usia seratus dua puluh tahun. Kekuatannya tidak berkurang dan penglihatannya masih terang.
8 Di dataran Moab bangsa Israel menangisi Musa dan berkabung selama tiga puluh hari.
9 TUHAN melimpahi Yosua anak Nun dengan kebijaksanaan karena ia telah ditunjuk Musa menjadi penggantinya. Bangsa Israel taat kepada Yosua dan menjalankan perintah-perintah yang diberikan TUHAN kepada mereka melalui Musa.
10 Di Israel tak ada lagi nabi seperti Musa yang berbicara berhadapan muka dengan TUHAN.
11 Tak ada yang melakukan mujizat-mujizat dan keajaiban-keajaiban seperti yang dilakukan Musa terhadap negeri Mesir, rajanya dan para pejabatnya sesuai dengan perintah TUHAN.
12 Tak ada yang melakukan perbuatan-perbuatan hebat dan dahsyat seperti yang dilakukan Musa di depan seluruh bangsa Israel.

Billy Graham, penginjil terkenal asal Amerika Serikat, kini sudah berusia 98 tahun. Kabar terbaru, seperti dilaporkan oleh CBN News pada awal Februari 2017 lalu, kondisi kesehatan Billy Graham semakin menurun. Ia tidak lagi dapat melihat dan mendengar dengan baik, tetapi kondisi pikirannya masih cukup bagus. Beberapa tahun terakhir, pesan mengenai surga dan kekekalan terus disampaikan olehnya, sekalipun dengan penuh keterbatasan akibat kondisi fisik yang tidak lagi prima. Semangatnya sungguh luar biasa untuk memberitakan kebenaran, seperti yang sudah dilakukan olehnya selama lebih dari 50 tahun.

Semangat luar biasa juga ditunjukkan oleh Musa, hamba Tuhan sekaligus pemimpin utama dari bangsa Israel. Alkitab mencatat bahwa ketika Allah memanggil Musa pulang dalam usia seratus dua puluh tahun, kondisi fisiknya masih prima. Matanya belum kabur dan kekuatannya juga belum hilang. Ia juga masih berkomitmen untuk terus memimpin, mengajar, dan mengucapkan berkat kepada suku-suku Israel, yang dapat kita baca pada dua pasal sebelumnya. Musa adalah salah satu teladan yang sangat baik mengenai kehidupan yang terus produktif, bermanfaat, dan berdampak selama Allah masih mengaruniakan kehidupan.

Dalam kehidupan yang Allah anugerahkan kepada kita, di dalamnya ada panggilan untuk memberitakan kebenaran, menjadi saksi Kristus, melakukan kehendak- Nya, dan bermanfaat bagi sesama. Panggilan yang berlaku hingga akhir hayat, sesuai dengan kapasitas masing-masing untuk mengerjakannya. Bagaimana dengan kehidupan kita saat ini? Apakah kita sudah mempergunakan waktu yang Tuhan berikan sebagaimana mestinya, seperti yang Dia kehendaki atas umat-Nya?

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juli 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Tidak Sekedar Tahu

 

Bacaan  Markus 7:24-30
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia  (PB-TSI)

Yesus menguji hati seorang ibu yang bukan orang Yahudi*

24 Lalu Yesus meninggalkan tempat itu dan pergi ke daerah Tirus. Di situ Yesus masuk ke satu rumah dan Dia tidak ingin orang lain tahu bahwa Dia berada di situ. Tetapi karena Dia sudah dikenal di mana-mana, Dia tidak bisa menyembunyikan diri. 
25 Di situ ada seorang ibu yang anak perempuannya sedang kerasukan roh jahat. Waktu ibu itu mendengar berita bahwa Yesus sudah datang, dia langsung datang dan berlutut di kaki Yesus. 
26 Ibu itu bukan orang Yahudi. Dia berasal dari daerah Fenisia di propinsi Siria, dan dia berbahasa Yunani. Dia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya.
27 Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Kamu bukan orang Yahudi. Jadi kalau Aku menolongmu, itu sama seperti orang yang membuang makanan anak-anaknya kepada anjing. Biarlah mereka duluan diberikan makanan dan makan sampai puas.”
28 Tetapi ibu itu menjawab, “Benar, Pak. Biar anak-anak Yahudi makan sampai puas. Dan biasanya anjing-anjing boleh makan sisa-sisa makanan yang tidak dimakan oleh anak-anak.”
29 Lalu Yesus berkata, “Karena jawabanmu seperti itu, Ibu boleh pulang. Sekarang setan itu sudah keluar dari anakmu.” 
30 Lalu ibu itu pulang dan melihat anaknya berbaring dengan tenang di tempat tidurnya, karena roh jahat itu sudah keluar dari dia.

Saya suka membaca buku dan mengoleksi banyak buku, salah satunya buku masakan. Saya pernah beberapa kali diajarkan memasak tumis kangkung atau sayur lodeh oleh ibu saya, tetapi saya merasa kurang jago memasak dibandingkan seorang kawan yang membuka usaha warung tenda. Mengapa? Karena memasak adalah praktik. Teori yang saya tahu tentang memasak boleh banyak, tetapi tidak ada hasilnya karena tidak pernah dipraktikkan. Sedangkan kawan saya yang hanya tahu resep beberapa masakan, ada hasilnya karena setiap hari praktik.

Contoh sederhana di atas menunjukkan bahwa teori tanpa praktik tidak menghasilkan apa pun. Hal ini berlaku juga untuk kerohanian. Kita boleh tahu banyak hal tentang firman Tuhan, tetapi tidak ada gunanya kalau tidak pernah dipraktikkan. Ukurannya bukan seberapa banyak kita mendengar dan mempelajari firman Tuhan, tetapi seberapa banyak firman Tuhan yang kita lakukan, termasuk firman Tuhan yang tidak enak bagi daging kita. Perempuan Siro Fenisia yang notabene wanita kafir, percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Ia percaya bahwa ketika Yesus ada di hadapannya, ia sedang memohon kepada Pribadi yang penuh kuasa. Pengetahuannya tentang hukum Taurat jelas minim, tetapi ia mempraktikkan imannya dengan terus memohon kepada-Nya. Akibatnya, Yesus mengabulkan permintaannya, yakni keluarnya setan dari tubuh anaknya.

Mari kita menjadi orang Kristen yang rindu untuk senantiasa melakukan firman Tuhan, bukan hanya pintar berteori. Ingat, mengikut Yesus berarti mengerjakan segala sesuatu yang Yesus ajarkan dan lakukan! Jadikan firman-Nya bukan hanya sebagai pengetahuan, melainkan sebagai gaya hidup.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juli 2017

Catatan Kaki:
*
Perikop: Mat. 15:1-9

 

 

 

 

 

 

 

Open post

Go Tell Christ!

 

Bacaan  Kisah Para Rasul 1:6-8
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia  (PB-TSI)

Yesus terangkat ke surga

6 Pada waktu rasul-rasul berkumpul, mereka bertanya kepada Yesus, “Tuhan, apakah sekarang waktunya Engkau mendirikan kembali kerajaan Israel, supaya negeri kita ini berdiri sendiri dan tidak lagi di bawah kekuasaan kerajaan Roma?”
7 Lalu Dia berkata kepada mereka, “Kalian tidak perlu mengetahui hari atau waktu yang sudah ditetapkan oleh Bapa menurut otoritas-Nya sendiri.
8 Akan tetapi kalian masing-masing akan menerima kuasa, ketika Roh Kudus diutus dan tinggal di dalammu. Dengan kuasa-Nya itu, kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, di seluruh Yudea, di Samaria, dan sampai ke semua daerah terpencil di dunia.”

Igo adalah pemenang Indonesian Idol 2010. Bagi kita yang mungkin masih ingat, pria asal Ambon ini sempat menyinggung arti namanya sewaktu menyampaikan pidato kemenangannya. Igo memiliki nama lengkap Elicohen Christellgo Pentury. Kata “Christellgo” jika dibaca dari belakang menjadi “go tell Christ” (pergi menceritakan tentang Kristus). Suatu kesaksian yang cukup berani dari Igo yang saat itu masih berumur 17 tahun.

Sebelum Yesus naik ke surga, ada Amanat Agung yang Dia sampaikan, yakni untuk menjadikan semua bangsa murid Kristus, membaptis dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, dan mengajar mereka untuk melakukan perintah Yesus (Mat. 28:19-20). Pesan yang diperkuat ketika Yesus menjanjikan Roh Kudus, agar para murid menjadi saksi mulai dari Yerusalem sampai ke ujung bumi. Inilah yang menjadi misi setiap anak Tuhan di dunia. Kita hidup bukan tanpa suatu tujuan. Allah ingin kita “pergi” dan menjadi saksi.

Mandat yang menjadi tanggung jawab setiap orang percaya, bukan hanya pendeta atau hamba Tuhan. Setiap orang yang sudah ditebus oleh darah-Nya, sudah selayaknya untuk kita memberitakan Kabar Sukacita (Injil) kepada orang-orang di sekelilingnya. Siapakah yang akan memampukan kita melakukannya? Roh Kudus!

Apakah selama ini kita malu untuk menceritakan tentang Kristus? Mungkin kita bukan Igo yang memiliki kesempatan berdiri di hadapan ribuan orang, disaksikan oleh banyak penggemar dan orang-orang penting, tetapi kita dapat melakukannya dalam aktivitas sehari-hari. Mintalah agar Tuhan memberikan kerinduan untuk kita menceritakan tentang-Nya. Kiranya melalui hidup kita, banyak orang mendengar tentang karya keselamatan Kristus!

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juli 2017

 

 

 

 

 

 

 

Posts navigation

1 2 3 6 7 8 9 10 11 12 14 15 16
Scroll to top