Renungan Natal 2020 (Imanuel)

… dan Dia akan dinamai Imanuel. (Mat. 1:23 TSI)

Pada perayaan Natal kali ini PGI dan KWI sepakat memberikan tema besar Natal 2020: … dan mereka akan menamakan Dia Imanuel. Tema ini diangkat mengingat pandemi Covid-19 dinilai sudah merusak segala lini kehidupan manusia, seperti: Kehilangan sanak saudara, kehilangan pekerjaan, meningkatnya kegelisahan, kekerasan, perceraian, dll. Harapan besarnya adalah melalui perayaan Natal kali ini, khususnya umat Kristiani sadar bahwa “Allah beserta kita” dan bekerja untuk pemulihan kita. Kita bisa saja menderita sebagaimana yang dialami oleh orang lain, namun kita bisa menjalaninya dengan damai karena yakin bahwa Allah berjalan bersama kita untuk menghadapinya. 

Refleksi dari arti Imanuel 

Kata “Imanuel” hanya muncul 3 kali dalam Alkitab yakni di Yesaya 7:14, 8:8, dan Mat. 1:23.

  • Dalam Yes. 7:14

Konteks ayat ini adalah tentang raja Yehuda yang bernama Ahas, putra Yotam, cucu Uzia, yang sangat ketakutan melihat Rezin raja Siria dan Pekah raja Israel sudah berkomplot untuk menyerang Yehuda. Pada saat itu terjadi Tuhan menyuruh nabi Yesaya untuk menemui Ahas dan menyampaikan kepadanya supaya jangan takut dan bingung, akan tetapi harus siap siaga namun tetap tenang.

Di ayat 14 kata “Imanuel” kemudian muncul sebagai nama bagi seorang bayi yang akan lahir. Secara harfiah kata ini berarti “Tuhan bersama kita”, atau  “Tuhan beserta kita”. Pesan dari nama itu sederhana, bahwa Tuhan hadir bersama umat-Nya. Pesan kuat lainnya ketika nama itu dihubungkan dengan bayi yang baru lahir adalah karena anak yang akan lahir melambangkan kehidupan yang baru. Kehidupan baru itulah yang akan menjadi tanda bagi Raja Ahas bahwa  mereka semua akan hidup karena Tuhan hadir menyertai bangsa itu dan melindunginya.

  • Dalam Yes. 8:8

Konteks ayat ini merupakan lanjutan dari Yes. 7:14 di atas. Sekarang raja Asyur dengan seluruh tentaranya sengaja diizinkan Tuhan datang menyerang Yehuda. Kedatangan mereka digambarkan seperti luapan air banjir yang naik sampai ke leher orang-orang. Mereka akan menembus masuk ke negeri Yehuda, dan dengan cepat menyebar ke seluruh negeri itu hingga ke sudut-sudut kota. Tetapi semua itu gagal sebab “Tuhan beserta dengan Yehuda”. (Bandingkan dengan ayat 10).

Dari kedua konteks ayat di atas kita mengetahui satu hal yaitu betapa dahsyatnya perlindungan Tuhan itu. Ketika Tuhan menyatakan kehadiran-Nya, maka semua hal yang menakutkan, bahkan yang menggetarkan, tidak ada apa-apanya. Jika Tuhan hadir maka ambang kehancuran dan bayang-bayang maut pun tidak dapat berkuasa. 

  • Dalam Mat. 1:2

Konteks ayat ini adalah tentang ketakutan dan kegelisahan Yusuf terhadap kejadian aneh yang menimpa tunangannya, Maria. Aneh karena belum kawin tetapi hamil. Yusuf frustasi dan bingung, bahkan berencana untuk meninggalkan Maria secara diam-diam.

Di tengah kegelisahan itu, malaikat Tuhan berbicara kepadanya dalam mimpi. Pesan pertama yang disampaikan sama dengan pesan kepada raja Ahas,yaitu “Jangan takut”. Kalimat itu disusul dengan dua kalimat menarik berikut yaitu “Engkau akan menamakan Dia Yesus” dan “mereka akan menamakan Dia Imanuel.” 

Nama “Yesus” adalah terjemahan dalam bentuk Latin dari kata “Iesous” dalam bahasa Yunani. Kata “Iesous” sendiri berasal dari dari nama salah seorang pengintai negeri Kanaan di bawah pimpinan Musa, yaitu Hosea bin Nun dari suku Efraim (Bil. 13:16). Hosea berarti “Keselamatan” tetapi Musa menambahkan nama ilahi pada nama tersebut menjadi “Yehosyua” (diterjemahkan menjadi Yosua) yang artinya “Tuhan menyelamatkan”. 

Dengan demikian kelahiran Yesus adalah klimaks dari karya Tuhan bekerja menyelamatkan manusia dari dosa. Sebagaimana bayi Yesus lahir (hidup, ada sebagai manusia) demikianlah Tuhan hendak memberikan hidup yang baru kepada manusia — yang selama ini dibelenggu oleh dosa — yaitu hidup kekal di surga.

Di saat yang sama pula Tuhan menyatakan kehadiran-Nya bagi umat manusia, Dia bersama umat manusia (Imanuel), Dia berdaulat, Dia berkuasa atas seluruh hidup manusia, Dia hadir memberi perlindungan, memberi pengampunan dan damai sejahtera. Oleh karenanya manusia tidak boleh lagi hidup dalam ketakutan dan kecemasan oleh dahsyatnya musuh yang mencekam, yang menghancurkan, dan yang membawa kematian. Sebab Tuhan sudah datang, Imanuel, Dia menyelamatkan dan membebaskan, dan memberikan damai sejahtera.

Semoga Natal kali ini mendorong kita untuk percaya penuh kepada Tuhan, atas karya keselamatan yang sudah dikerjakan-Nya, serta atas janji-janji pasti yang akan menjadi bagian kita sebagai pengikut-Nya. Pandemi memang belum selesai, tetapi Tuhan tetap bersama dengan kita. Jangan takut! Tuhan pasti menolong dan memampukan kita melewati masa-masa sulit ini dengan penuh suka cita. Natal adalah lambang kasih dan damai. Maka perbanyaklah berbuat kasih kepada sesama, dan teruslah hadirkan damai di lingkungan sekitar kita berada. 

Selamat Natal.

BG

SUKACITA MENJARING JIWA-JIWA (MAT. 4:19 TSI)

Kata-Nya kepada mereka, “Mari ikut Aku. Pekerjaan kalian bukan lagi penjala ikan, tetapi Aku akan mengajar kalian untuk menjaring orang-orang supaya mereka menjadi pengikut-Ku.”

Matius 4:19 (TSI)

Seorang anak laki-laki pertama kali diajak memancing oleh ayahnya. Dengan bersemangat dia menyiapkan semua peralatan pancing dan umpan terbaik. Dia juga tidak lupa membawa topi dan bekal makan siang. Di lokasi pemancingan, dia mengikuti arahan ayahnya  dan duduk manis menanti ikan mendekati umpannya. Setelah beberapa lama, anak laki-laki ini merasa ada yang menyentuh kailnya, seketika itu dia berteriak memanggil ayahnya. Dengan bantuan sang ayah, dia berhasil menarik ikan yang sudah tertangkap itu. Tangkapan yang cukup besar. Pengalaman pertama yang menyenangkan membuat anak laki-laki ini selalu ikut ayahnya pergi memancing.

Ketika Yesus memanggil murid-murid yang pertama, perkataan yang Yesus ucapkan adalah “Mari ikut Aku. Pekerjaan kalian bukan lagi penjala ikan, tetapi Aku akan mengajar kalian untuk menjaring orang-orang supaya mereka menjadi pengikut-Ku”. Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes sangat paham bagaimana perasaan seorang nelayan yang berhasil menangkap ikan dengan jumlah besar. Atas dasar itulah, tanpa berpikir panjang mereka pun mengambil keputusan mengikut Yesus. Mereka tahu perasaan apa yang akan terjadi ketika banyak  orang terjaring menjadi pengikut Kristus.

Sebagai orang yang sudah terjaring oleh jala Kristus, tentu kita merasakan perubahan hidup. Ada sukacita yang melimpah ketika menjalani hidup bersama-Nya. Sukacita yang sama pula yang akan kita rasakan ketika kita melipat gandakan isi surga melalui usaha menjaring jiwa-jiwa untuk menjadi pengikut Kristus. Mari! Kita ambil bagian dalam menjaring orang-orang supaya sukacita kita tetap melimpah.

Sukacita adalah jaring kasih yang dengannya Anda dapat menjaring jiwa-jiwa.

Anonym