Arti yang sudah hilang dalam kata ‘Tuhan’ di Indonesia

Penulis: Phil Fields

Beberapa bulan yang lalu, salah satu teman sekerja saya— seorang ahli bahasa yang sudah lama bekerja di Indonesia, memberitahukan kepada saya bahwa di Indonesia sudah terjadi penggeseran arti yang signifikan mengenai kata Tuhan. Dalam penggunaan sehari-hari sekarang, kata Tuhan langsung merujuk kepada Allah, dan arti dasar historis sudah hilang. Sebagai ilustrasi, dalam bahasa Indonesia sekarang, orang bisa mengatakan bahwa “Senayan sudah memutuskan tentang pajak…,” atau “Hari ini Istana memberitakan bahwa …” Semua orang Indoneisa sekarang mengerti bahwa arti dasar Senayan adalah wilaya Jakarta, tetapi arti khusus (kiasan jenis metonimia) adalah Dewan MPR/DPR. Dan semua juga mengerti bahwa arti dasar Istana adalah gedung tempat presiden, tetapi arti khusus adalah pemerintah yang sekarang berkuasa. Bayangkan kalau sekelompok orang Indonesia dikirim dengan roket ke planet Mars, untuk hidup selamanya di situ. Dan setelah beberapa generasi, mereka sudah lupa arti dasar dan masih menggunakan kata Senayan dan Istana dengan arti khusus. Seperti itulah yang terjadi dengan kata Tuhan dalam bahasa Indonsia! Penggeseran arti ini adalah sesuatu yang signifikan, karena Firman Tuhan sering menggunakan kata adonai atau kyrios dengan arti dasar ‘penguasa’, bukan sebagaimana arti yang dimengerti oleh kebanyakan pembaca— yaitu ‘Tuhan’ identik dengan ‘Allah’. Dalam PL, teks bahasa Ibrani menggunakan adonai/adon untuk manusia dalam ketiga contoh ini:

  • Kej. 43:20 AYT Mereka (ke-10 saudara Yusuf) berkata (kepada kepala staf rumahnya), “Tuan (adoni), izinkan kami menjelaskan sesuatu. Waktu pertama kali kami datang kemari, kami bertujuan untuk membeli makanan. …”
  • 1Raja 16:24 AYT Omri membeli bukit di Samaria dari Semer seharga 69 kilogram perak. Kemudian ia membangun sebuah kota di atas bukit itu, kota itu diberi nama Samaria. Nama Samaria diambil menurut nama pemilik (adone) bukit itu, yaitu Semer.
  • Kej. 24:9 AYT Jadi, pelayan itu meletakkan tangannya ke bawah kaki majikannya (adonaw) dan membuat perjanjian.

Kata yang sama— yaitu adonai, juga sering dipakai dalam PL untuk merujuk kepada Allah atau untuk menyapa atau memanggil Tuhan secara langsung. Sebagai contoh, pertama kali adonai dipakai untuk Tuhan di dalam PL terdapat di ayat ini:

  • Kej. 15:2 TB Abram menjawab: “Ya Tuhan ALLAH (adonai Yahweh)*, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu.”

Walaupun kata adonai digunakan untuk Tuhan, itu tidak berarti bahwa arti dasar ‘penguasa’ hilang. Bahkan Tuhan menggunakan kata adonai untuk merujuk kepada diri-Nya sendiri:

  • Mal. 1:6 AYT (Allah berkata,) Seorang anak menghormati bapanya, dan seorang hamba menghormati tuannya (adonaw). Jikalau Aku ini Bapa, di manakah hormatmu kepada-Ku? Jikalau Aku ini Tuan (adownim), di manakah rasa takutmu kepada-Ku?

Tetapi Allah memberi Kesepuluh Hukum, di mana yang ketiganya berkata:

  • Kel. 20:7 draf TSI Janganlah menyalahgunakan nama-Ku TUHAN, Allahmu (Yahweh Eloheka). Aku (secara harfiah: Yahweh) akan menghukum siapa pun yang menyebut nama-Ku dengan sembarangan.

Seperti kebiasaan orang Yahudi, mereka membuat kebiasaan yang menjadi seperti pagar supaya tidak pernah menyebut nama Yahweh dengan sembarangan— yaitu mereka memutuskan untuk menggunakan kata halus untuk mengganti nama-Nya. Kata halus tersebut adalah Adonai.** Walaupun kata Adonai selalu diucapkan mengganti Yahweh setiap kali teks PL dibacakan kepada orang-orang yang berkumpul di semua sinagoge orang Yahudi, tetapi kata itu masih juga digunakan dalam konteks lain untuk manusia. Tentu saja orang Yahudi ingat arti dasar dari kata itu (penguasa), dan kata itu tidak sekedar kata ganti Allah saja— seperti yang terjadi di Indonesia sekarang ini. Kebiasaan tersebut juga dibawa oleh orang Yahudi ke dalam bahasa Yunani pada zaman sesudah Alexander Agung. Negri mereka dikuasai oleh pemerintahan Yunani, dan bahasa Yunani masih dominan selama Roma*** berkuasa atas negri Yahudi— yang disebut Palestina atau Israel. Oleh karena itu kyrios dipakai dalam Septuaginta waktu menerjemahkan adonai. Sebagai contoh, ayat tersebut di atas:

  • Kej. 20:7 LXX ου λημψη το ονομα κυριου του θεου σου επι ματαιω ου γαρ μη καθαριση κυριος τον λαμβανοντα το ονομα αυτου επι ματαιω

Tetapi kata kyrios tetap digunakan untuk manusia juga. Sebagai contoh, saya menggunakan ayat di bawah ini, yang adalah sebuah kesalahan yang sudah terjadi dalam dua terjemahan Alkitab di Indonesia:

  • Yoh. 4:11 BYZ Λέγει αὐτῷ ἡ γυνή, Κύριε,**** οὔτε ἄντλημα ἔχεις, καὶ τὸ φρέαρ ἐστὶν βαθύ· πόθεν οὖν ἔχεις τὸ ὕδωρ τὸ ζῶν; Yoh. 4:11 TB Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?

Dalam permulaan percakapan Yesus dengan perempuan Samaria, perempuan itu belum menyadari bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Mesias yang dinantikan (Mzm. 2). Jadi seharusnya ayat ini diperbaiki begini, “Tuan, engkau***** tidak punya timba …” Yesus juga menggunakan kata kyrios mengenai diri-Nya di dalam Lukas 6:46:

  • Luk. 6:46 BYZ Τί δέ με καλεῖτε, Κύριε, κύριε, καὶ οὐ ποιεῖτε ἃ λέγω; Luk. 6:46 TB “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?

Tetapi perhatikan bahwa arti kyrios yang maksudkan bukan bahwa Dia adalah Anak Allah, tetapi seperti KIA menerjemahkan:

  • Luk. 6:46 KIA “Mengapa kalian berulang kali berkata kepada-Ku, ‘Engkau adalah Pemilik hidupku,’ padahal apa yang Ku-perintahkan tidak kalian lakukan!

Ayat ini menunjukkan bahwa kata kyrios di PB masih digunakan dengan arti dasar untuk Yesus— yaitu Penguasa, Pemilik, atau Raja. Dengan demikian, kita lihat bahwa perkataan Yesus tentang diri-Nya di Lukas 6:46 mempunyai arti yang sangat dekat dengan perkataan Allah tentang diri-Nya di Maleakhi 1:6, yang dikutip di atas. Kalau pembaca ingin melihat contoh di mana kyrios digunakan untuk manusia, bandingkanlah Lukas 6:46 dengan Matius 25:11. Juga melihat Yohanes 12:21. Kehilangan arti tersebut terjadi di dalam bahasa Indonesia, tetapi tidak terjadi dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris, zaman sekarang kata Lord lebih sering digunakan untuk merujuk kepada Allah atau Yesus, tetapi sesuai konteks bisa digunakan untuk manusia juga. Seorang landlord adalah pemilik rumah atau apartemen. Orang bisa disebut mempunyai lordly manner, yang berarti bahwa dia mempunyai sikap kewibawaan (atau kesombongan) seperti seorang raja. Sedangkan ada perbedaan kecil dengan bahasa Yunani: Dalam bahasa Yunani kyrios bisa digunakan untuk merujuk kepada majikan, tetapi dalam bahasa Inggris lord tidak digunakan untuk majikan. Waktu saya masih di SMA, saya sering mendengar siaran radio khotbah dari Billy Graham, dan hampir setiap kali dia berkhotbah, dia menganjurkan para pendengar untuk “receive Jesus as your Savior and Lord.” (menerima Yesus sebagai Juruselamat dan Pemilik hidupmu.) Kalau khotbah Billy Graham ditulis, selalu memakai huruf besar untuk Savior dan Lord. Secara implisit, keilahian Yesus ada dalam ucapan itu, tetapi keilahian Yesus tidak terfokus. Billy Graham tidak hanya memberi tantangan receive Jesus as your Savior, karena orang cenderung ingin tiket ke surga saja. Setelah maju ke depan dan mengikuti doa penerimaan, hidupnya tidak berubah. Itulah sebabnya Billy Graham selalu menyebut dua jabatan Yesus waktu memberi tantangan pada akhir kotbahnya. Setiap orang yang menerima Yesus sebagai ‘Lord/Pemilik hidup’, berarti dia sudah mengambil keputusan yang kokoh untuk melakukan apa saja yang Yesus perintahkan. (Luk. 9:23) Bayangkan kalau frasa tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan arti yang sudah terbiasa sebagai “menerima Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan,” arti yang diterima oleh para pendengar akan lain sekali dari frasa dalam bahasa Inggris! Kehilangan arti dasar dalam adonai/kyrios dan bahkan lord waktu Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sangat signifikan. Mari kita lihat persoalan yang terjadi dalam Roma 10:9:

  • Rom. 10:9 BYZ ὅτι ἐὰν ὁμολογήσῃς ἐν τῷ στόματί σου κύριον Ἰησοῦν, καὶ πιστεύσῃς ἐν τῇ καρδίᾳ σου ὅτι ὁ ϑεὸς αὐτὸν ἤγειρεν ἐκ νεκρῶν, σωθήσῃ· Rom. 10:9 TB Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.

Ini adalah ayat yang sangat diprotes oleh orang-orang Muslim, karena mereka mengerti bahwa Paulus menganjurkan para pembaca untuk mengakui Yesus sebagai Allah. Hal ini membuktikan bahwa di Indonesia, kata Tuhan tidak memiliki dua macam arti sebagaimana kyrios/adonai. Karena kalau kata Tuhan memiliki arti alternatif, pastilah orang Muslim akan menafsirkan bahwa Paulus menganjurkan para pembaca mengakui Yesus sebagai raja mereka. (Kata ‘raja’ sengaja tidak diberi huruf besar dalam kalimat tadi, karena mengenai kepercayaan orang Muslim.) Sedangkan kalau TSI menerjemahkan, “mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Rajamu” sebagian orang Kristen akan protes, karena mereka menggunakan ayat hafalan ini untuk mendukung keilahian Yesus. Inilah draf KIA untuk 10:9:

  • Rom. 10:9 draf KIA Jika dengan mulutmu kamu mengaku bahwa Yesus adalah Pemilik hidupmu, dan percaya di dalam hatimu bahwa Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati, kamu akan diselamatkan.

Mungkin ada pembaca yang akan bertanya, “Kenapa KIA tidak tetap menggunakan kata Tuhan untuk Yesus di Roma 10:9?— dengan catatan kaki yang menjelaskan bahwa kata Tuhan memiliki arti Pemilik hidup.” Jawaban untuk pertanyaan itu adalah bahwa terjemahan Alkitab tidak bisa mengubah arti suatu istilah yang sudah dibakukan dalam kebudayaan— biarpun memasukkan ribuan penjelasan. Sekarang Saudara sudah mengerti kenapa tugas seorang penerjemah Alkitab sangat rumit. Oleh karena itu saya mohon doa untuk seluruh Tim Penerjemah Albata. Berdasarkan semua yang sudah saya katakan di atas, terdapat kata lain yang artinya yang dasar berbahaya hilang— yaitu kata hamba. Sebenarnya, hamba dalam kebudayaan Alkitab jarang mempunyai status sebagai pegawai, tetapi hampir selalu adalah budak. Dalam Alkitab, kata hamba atau budak berarti orang yang dimiliki orang lain— baik kalau dijual kepada pemilik atas kemauannya sendiri atau secara terpaksa. Jadi kedua arti untuk ‘hamba’ adalah: Setiap hamba Tuhan yang dipuji dan dihormati manusia zaman ini harus ingat arti dasar kata hamba supaya tidak menjadi sombong. Itulah sebabnya Pemilik kita memberi ajaran ini:

“Kalau di antara kalian ada seseorang yang mempunyai seorang budak yang membajak di ladang atau menggembalakan domba-dombamu, ketika budak itu pulang dari ladang pastilah kamu tidak akan berkata kepadanya, ‘Mari masuk dan makan.’ Melainkan kamu akan berkata kepada budakmu itu, ‘Siapkan makanan untuk saya. Pakailah pakaian yang disediakan untuk tugas dalam rumah. Layanilah saya di meja makan sampai saya selesai makan. Sesudah itu kamu boleh makan.’ Dan kamu tidak perlu berterima kasih kepada budak itu ketika dia sudah selesai melakukan hal-hal yang diperintahkan olehmu. Hendaklah kamu masing-masing juga seperti itu. Ketika kamu sudah melakukan semua yang diperintahkan Allah kepadamu, hendaklah kamu berkata, ‘Saya hanyalah seorang budak yang biasa saja. Saya hanya melakukan apa yang sudah menjadi tugas saya.’”

Lukas 17:7-10

Catatan-catatan:

  1. *Perlu diingat bahwa bahasa Ibrani kuno dan bahasa Yunani Koine tidak ditulis dengan perbedaan huruf besar/kecil untuk menunjukkan keilahian. Jadi bentuk kata ‘adonai’ tetap sama kalau merujuk kepada manusia atau kepada Allah. Begitu juga dengan ‘kyrios’ di PB. Pada waktu PB ditulis, semua huruf satu ukuran saja, yang disebut ‘uncial’. Tetapi dalam PB Yunani yang dicetak zaman sekarang, huruf besar/kecil sudah ditambahkan.
  2. **Bahasa Ibrani zaman dahulu tidak menuliskan huruf vokal. Karena itu dan kebiasaan tersebut, maka tidak ada ahli bahasa Alkitab yang dapat mengatakan pengucapan persis yang terdengar oleh Musa saat Allah menyampaikan nama-Nya (Kej. 3). Tetapi sudah pasti bahwa pengucapan nama YHWH tidak sesuai tulisan bahasa Ibrani yang menggunakan ‘vowel points’, karena vowel points yang digunakan adalah sesuai kata ‘Adonai’, bukan Yahweh. Itu sebabnya terjadi pengucapan salah karena KJV menuliskan ‘Jehovah’.
  3. ***Bahasa ibukota Roma dan negri Italia adalah bahasa Latin.
  4. ****Huruf besar K terjadi untuk kata Kyrios karena permulaan dari kutipan, bukan sebagai tanda bahwa perempuan Samaria ini menganggap bahwa Yesus adalah Allah.
  5. *****TSI dan TB menggunakan cara yang berbeda dalam menentukan kalau kata seperti ‘engkau’ akan diberi huruf besar. Di contoh ini, saya menggunakan cara TSI. Dalam TSI, hanya menggunakan huruf besar untuk kata ganti orang yang merujuk kepada Yesus kalau orang yang berbicara percaya bahwa Yesus adalah ilahi. TB selalu menggunakan huruf besar, tanpa membedakan kalau orang yang mengatakan sesuatu percaya kepada Tuhan Yesus atau tidak. Cara itu menimbulkan kesalahpahaman di beberapa tempat di PB. Lihat keterangan mengenai hal ini juga di Prakata TSI.
  6. Teman sekerja yang tersebut pada permulaan naskah ini menambah informasi ini yang saya masukkan sebagai catatan:
    1. I noticed that you didn’t mention that ’adonay is actually a plural form “my lords” in contrast to ’adoni “my lord”—maybe because the idea of “majestic plural” is hard to explain to common folk?  Or maybe because that analysis isn’t certain?  I see that in the Theological Lexicon of the Old Testament the entry says:
      The form ʾadōnāy, reserved as a designation for Yahweh, is usually understood as a fixed vocative form of the majestic plural with a personal suffix in (affect-stressed) pause, “my lords = my lord = the lord” (extensive treatment in W. W. Baudissin, Kyrios [1929], 2:27ff.), although the grammatical analysis of the ending -āy is disputed.
      At any rate, whether it’s a plural form or not, when ’adonay has a singular sense, it refers exclusively to God, in contrast with ’adoni “my lord”.


Keluarga Pak Phil pada peresmian PB bahasa Orya pada tahun 2005.
Keluarga Pak Phil pada peresmian PB bahasa Orya pada tahun 2005.

Phil Fields datang ke Indonesia dengan istrinya (Gale) dan ketiga anak mereka (David, Rachel, dan Hannah) pada bulan Oktober tahun 1983. Proyek terjemahan mereka yang pertama adalah Perjanjian Baru dalam bahasa Orya. Suku Orya terdiri dari sekitar 2000 penduduk yang tinggal di daerah berbukit-bukit yang luas—  memulai dari dekat tempat transmigrasi Bonggo dan sampai Taja dan Wamho. 

Hobby Pak Phil adalah main musik dengan Irish flute, penny whistle, clarinet, dan saxophone. Situs lain yang dimilikinya termasuk clarinetpages.net dan dailybiblereading.info.

Alkitab Dipalsukan? — Naskah dari YesHeIs.com

Alkitab memiliki keunikan tersendiri yang tak tersaingi oleh kitab manapun yang pernah ada dan yang akan ada di dunia ini. Sekalipun Alkitab ditulis oleh lebih dari 40 orang, dengan latar belakang yang berbeda, tapi keselarasan dan kontinuitasnya terpelihara. Para penulis yang terpilih itu terdiri dari para raja, petani, filsuf, nelayan, dokter, negarawan, sarjana, penyair, dan pembajak sawah.

Alkitab ditulis dalam 2 bahasa yang berbeda, yakni Ibrani dan Yunani.

Para penulis hidup di negeri yang berbeda dan dengan pengalaman yang berbeda-beda pula. Mereka tidak dalam satu generasi sehingga tidak pernah mengadakan pertemuan, konsultasi, seminar, lokakarya, konferensi, atau semacamnya untuk suatu persetujuan atau kesepakatan mengenai pembagian tugas, materi, outline, tujuan dan alamat penulisan. Alkitab ditulis dalam satu periode sejarah yang cukup panjang, memakan waktu kurang lebih 1.600 tahun. Tak dapat disangkal bahwa kumpulan dari 66 kitab ini merupakan lembaran-lembaran yang paling banyak dibaca dan terus-menerus dibaca hingga kini. Kumpulan kitab ini memiliki paling banyak bahasa terjemahan, paling banyak jilid penerbitan, dan paling banyak pengaruh terhadap hidup manusia. Tak terhitung jumlah orang yang rela menjadi martir, dianiaya, dan bahkan mengorbankan apa saja atas keyakinannya terhadap Alkitab. Sementara yang lain meninggalkan kehidupan yang jahat; yang lain lagi dikuatkan dari keputusasaan atas keyakinan akan Alkitab sebagai firman Allah yang hidup.

Karena fenomena ini, Alkitab terus menerus diselidiki dan dipermasalahkan kelayakannya. Alkitab mendapat perhatian istimewa dibandingkan dengan kitab-kitab lain di dunia ini, terutama relevansinya terhadap kehidupan manusia dalam dunia yang terus berubah. Dalam studi teologi sistematika masalah ini dibahas khusus dalam sektor bibliologi. Salah satu pokok yang dipermasalahkan adalah keyakinan tradisional bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang tanpa kesalahan (Inerrancy) dalam naskah aslinya; bukan hanya doktrin melainkan juga fakta sejarah dan kehidupan.

Sebagai orang percaya, kita meyakini bahwa Kitab Suci (Alkitab) adalah Firman Allah, yang artinya bahwa setiap tulisan di dalamnya adalah perkataan Allah sendiri dan berfokus pada hubungan antara Allah dengan manusia.

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2 Timotius 3:16)

Maka, jika Alkitab berubah-ubah dan telah dipalsukan seharusnya:

  1. Inti (Esensi) tulisan antara penulis satu dengan yang lain berbeda
  2. Tidak ada salinan aslinya. Kalaupun ada, kembali kepada poin pertama seharusnya esensinya berbeda.

Namun, pada kenyataannya, tidak demikian yang terjadi dengan Alkitabsalinan asli masih terjaga hingga hari ini dan esensi keseluruhan isi Alkitab tidak berbeda, menyatakan hal yang sama dan selaras yaitu rancangan keselamatan (Kasih) dari Allah bagi manusia melalui Yesus Kristus.

Para ahli dapat mempelajari tulisan asli para rasul dari salinan yang disalin dengan hati-hati, untuk menentukan ke-otentisitas– an Alkitab sehingga tiba pada sebuah kesimpulan yang sangat dekat dengan dokumen aslinya.

Tes yang digunakan untuk menentukan keabsahan salinan yang selamat antara lain:

1. Tes bibliografis 
Tes ini membandingkan isi Alkitab dengan dokumen kuno lain dari periode yang sama. Yang dibandingkan: jumlah salinan yang eksis saat ini, jarak waktu antara tulisan asli dan salinan paling awal yang selamat, dan perbandingan sejarah dengan dokumen kuno yang lain. Lebih dari 5000 manuskrip salinan dalam bahasa Yunani telah ditemukan, dan jika dihitung dalam bahasa-bahasa lain, jumlah tersebut menjadi 24000, semuanya berasal dari abad kedua hingga abad keempat.

2. Tes bukti internal 
Tes ini mempertanyakan konsistensi saksi mata, detail nama orang, nama tempat, dan nama kejadian, surat kepada individu atau kelompok kecil, kejadian yang memalukan sang penulis, kehadiran materi yang tidak relevan atau kontra-produktif, dan tidak adanya materi yang relevan. Jika keempat Injil menulis hal yang sama persis, maka hal itu menjadi patut dicurigai. Para saksi mata yang menuliskan Injil menceritakan kisah Yesus dari perspektif yang berbeda-beda, namun catatan mereka tetap konsisten satu dengan yang lain, sehingga secara keseluruhan, keempat Injil memberikan gambaran yang jelas dan utuh tentang Yesus. Para sejarawan sangat menyukai detail karena hal tersebut mempermudah pelacakan kebenaran. Surat-surat Paulus dan keempat Injil penuh dengan detail nama orang, nama tempat, dan kejadian dan banyak di antaranya telah dibuktikan oleh sejarawan dan arkeologis. Nama-nama yang ditulis oleh penulis Injil akan dengan mudah ditemukan oleh orang-orang yang menentang mereka, para imam Yahudi dan tentara Romawi.
Ahli sejarah Louis Gottschalk berpendapat bahwa surat yang tidak dipublikasikan secara umum dan ditujukan pada seseorang atau sekelompok kecil orang memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk dapat dipercaya.
Selain tes-tes di atas, sejarawan juga mencari materi-materi kontraproduktif dan tidak relevan. Hasil yang tidak sesuai dengan yang diharapkan (Yesus mati disalib padahal dianggap akan menyelamatkan Israel, kubur Yesus yang kosong ditemukan oleh wanita padahal zaman itu kesaksian wanita tidak dianggap sama sekali) dan detail-detail yang tidak berhubungan dengan cerita utama dan hanya disinggung sekali saja dianggap sebagai tanda bahwa materi-materi tersebut memang benar-benar terjadi atau mereka tidak akan dituliskan. Demikian pula dengan isu-isu yang dihadapi oleh gereja abad pertama ─ pengabaran Injil kepada non-Yahudi, karunia Roh Kudus, sakramen baptis, kepemimpinan gereja ─ sedikit sekali disinggung oleh Yesus. Adalah masuk akal jika para rasul hanya ingin menyelesaikan masalah tersebut dengan menambahkan materi-materi ke dalam Injil yang ditulis. Dalam satu masalah, Paulus dengan terus terang berkata, “Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan”

3. Tes bukti eksternal
Tes ini mengukur reliabilitas suatu dokumen dengan membandingkan dengan catatan sejarah yang lain. Dalam hal ini yaitu catatan sejarah non-Kristen tentang Yesus. Paling tidak ada tujuh belas tulisan non-Kristen yang mencatat lebih dari lima puluh detail tentang kehidupan, pengajaran, kematian, dan kebangkitan Yesus, ditambah dengan detail gereja mula-mula. Lebih jauh lagi, reliabilitas Perjanjian Baru didukung oleh lebih dari 36.000 dokumen non-Alkitab (kutipan dari pemimpin gereja tiga abad pertama) sehingga jika seluruh salinan Perjanjian Baru hilang, maka para ahli dapat merekonstruksi ulang menggunakan dokumen-dokumen tersebut dengan perkecualian beberapa ayat saja.

Esensi seluruh kisah di Alkitab, dari Kitab Kejadian sampai dengan Wahyu, memiliki benang merah yaitu menyatakan rancangan keselamatan Allah bagi manusia melalui Yesus Kristus. Dan salinan asli Alkitab masih terjaga sampai sekarang. Tidak banyak orang di luar Kristen yang mengetahui, bahwa segala yang tertulis di Alkitab telah diberikan peringatan keras oleh Allah untuk tidak menambah atau mengurangi isi FirmanNya.

“Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.” (Wahyu 22:18–19)

Jika masih ada pihak yang mengatakan bahwa Alkitab itu palsu, bukankah seharusnya mereka bisa menunjukkan yang mana Alkitab versi asli dan palsu ? Bukan hanya sekedar menyatakan klaim berdasarkan tulisan seseorang yang tidak berdasar dan tidak dapat dipertanggungjawabkan?

[Naskah ini tidak ditulis oleh anggota Albata, tetapi hanya diposting di sini. Aslinya terdapat di situs YesHeIs.com.]

Apakah naskah Yunani kuno sudah dipalsukan?

Naskah Yunani kuno pasti tidak dipalsukan, dan pasti tidak ada orang yang sengaja mengubah pengajaran secara konsten dalam naskah kuno Perjanjian Baru.

Ada naskah kuno yang menjadi dasar untuk terjemahan Perjanjian Baru seperti:

 Textus Receptus (TR): Teks dikumpulkan oleh Erasmus dan diterbitkan pada tahun 1522. Teks ini menjadi dasar untuk KJV (1611) dan sangat mempengaruhi banyak terjemahan Alkitab yang lain— termasuk Terjemahan Lama (TL) di Indonesia.

Teks Bizantium (BYZ): Kumpulan teks ini sudah stabil berabad-abad, dan mempunyai banyak kesamaan dengan Textus Receptus. Teks-teks yang dikumpulkan berasal dari daerah yang sekarang disebut negara Turki. Daerah Bizantium adalah daerah di mana terdapat kota Efesus, dan Kolose, dan banyak jemaat mula-mula yang disebut dalam PB. Tetapi teks dalam kumpulan Bizantium ditulis atas bahan vellum (yang tahan lama karena dibuat dari kulit anak domba, anak kambing, atau anak sapi). Tetapi pasti naskah mula-mula dari penulis ditulis pada papirus.

Teks United Bible Society (UBS) yang juga sama dengan Teks Nestle-Aland (NA): Kumpulan teks ini lebih terfokus kepada teks yang paling kuno yang terdapat di Mesir. Dan di antara teks itu, ada yang ditulis pada papirus. Teks papirus itu bisa tahan sampai sekarang karena Mesir mempunyai cuaca yang kering.

Untuk Kitab Injil Allah, Albata menggunakan Teks Bizantium, karena sudah jelas bahwa teks itu stabil berabad-abad dan lebih mungkin sama dengan teks yang ditulis oleh penulis pertama. Untuk penjelasan selanjutnya, kami mengutip naskah berikut ini:

 

Scroll to top