Cemburu Ilahi

 

Bacaan  2 Korintus 11:1-4
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Paulus tidak bekerja seperti rasul-rasul palsu

1 Saya mohon kalian sabar terhadap saya, karena saya mau menulis sesuatu yang dapat dianggap kurang bijaksana. Memang kalian sudah sangat sabar untuk membaca surat ini sampai bagian ini!
2 Sebelum saya menyampaikan hal itu,* perlu saya beritahukan bahwa Allah menghendaki saya untuk terus menjaga kalian dengan ketat supaya kalian tetap setia kepada Kristus. Karena Kristus menganggap seluruh kesatuan jemaat seperti calon istri-Nya. Jadi saya yang sudah mempertunangkan kalian dengan Kristus seperti seorang perawan yang ditunangkan dengan calon suaminya. Jadi saya seperti bapak yang menjaga anak gadisnya supaya tetap setia kepada calon suaminya sampai pada hari pernikahannya.
3 Tetapi saya takut jangan-jangan kalian tertipu dan pikiran kalian disesatkan, lalu meninggalkan kesetiaan kalian yang sungguh-sungguh dan murni terhadap Kristus— seperti Hawa tertipu oleh kelicikan iblis di Taman Eden.**
4 Karena ternyata kalian sangat sabar untuk mendengarkan setiap guru baru yang datang dengan membawa ajaran tentang Yesus yang berbeda dengan yang kami sudah ajarkan kepada kalian! Dan kalian bersedia menerima ajaran tentang Roh Kudus dan Kabar Baik yang berbeda dengan yang kami sudah sampaikan!

Benih-benih kecemburuan mulai tumbuh dalam diri anak sulung kami yang berusia lima tahun. Setelah kehadiran dan pertumbuhan adiknya yang lumayan cepat.  ada “semangat persaingan” yang muncul dalam diri kakaknya akibat kecemburuan itu. Misalnya, ucapan selamat pagi atau kecupan sebelum bekerja, perlu disampaikan dan diberikan kepada keduanya. Jika hanya sang adik yang diperhatikan, kakaknya akan jengkel dan ngambek. Melalui peristiwa itu, saya belajar bahwa dampak dari kecemburuan begitu besar. Jika tidak ditangani dengan baik, banyak masalah bisa muncul karenanya.

Pada renungan malam ini, terdapat jenis cemburu lain yang disampaikan dalam firman Tuhan. Saat Paulus menulis kepada jemaat yang ada di Kolose, dikatakan bahwa dirinya cemburu dengan cemburu ilahi. Apakah cemburu ilahi itu? Dalam ayat 3 kita mendapatkan pernyataan bahwa Paulus “Takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus.” Jenis cemburu ini setara dengan hati Allah, seperti yang kita kenal dalam hukum Allah yang diberikan kepada Musa “... sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu” (Kel. 20:5). Sikap cemburu Allah ini bukan seperti rasa haus untuk dikasihi yang dirasakan manusia. Hati Allah mengekspresikan perlindungan sejati terhadap ciptaan-Nya dan keselamatan yang dihadirkan-Nya.

Allah telah menyelamatkan kita sehingga kita di­ sadar­kan bahwa selama-lamanya kita bisa mengenal dan bersekutu dengan diri-Nya. Allah mengasihi kita, seolah- olah tak ada orang lain yang mendapatkan kasih itu. Jika makna cemburu ilahi seperti ini, siapa yang tidak mau sosok Allah pencemburu yang membela mati-matian untuk kesejahteraan kita?

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset September 2017

Catatan Kaki:
*11:2 hal itu Paulus kembali kepada pokok pembicaraan itu pada ayat 16.
**11:3 iblis di Taman Eden Secara harfiah, “(si) ular.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu