Ciri orang yang Mengenal Tuhan

 

Bacaan  I Yohanes 4:8
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Kasih berasal dari Allah

8 Kalau seseorang tidak mengasihi saudaranya seiman, berarti dia tidak mengenal Allah, karena Allah mengasihi semua orang.

Apakah kita memahami perbedaan antara “mengenal” dan “tahu”? Jika kita ditanya siapakah penyanyi dunia yang terkenal dengan suara emasnya? Kita pasti tahu jawabannya Whitney Houston. Mungkin kita tahu dari media massa. Namun kalau ditanya lebih jauh apakah kita mengenalnya, mungkin banyak orang akan menggelengkan kepala karena merasa tidak mengenal Whitney Houston secara pribadi. Mengenal berarti lebih dari sekadar tahu.

Demikian pula dalam kehidupan kita sebagai orang percaya. Identitas kita sebagai orang Kristen tidak cukup untuk menunjukkan bahwa kita benar-benar mengenal Allah, jika kita tidak memiliki kasih Allah dalam dirinya. Seseorang dapat berbuat baik kepada orang lain sebatas respons balik dari orang tersebut sesuai dengan harapannya. Berbeda halnya dengan seseorang yang melakukannya karena kasih, apa pun respons objek kasihnya, tidak akan mengubah kasihnya. Ia dapat mengasihi karena ia telah hidup dalam sumber kasih, yang tidak akan pernah berhenti mengalir. Demikianlah kasihnya akan terus mengalir menjadi berkat bagi orang lain, karena kasihnya tidak bergantung kepada dirinya sendiri yang terbatas, tetapi kepada Allah yang tidak terbatas.

Menghadirkan kasih Allah dalam hidup sehari-hari memang membutuhkan proses yang panjang. Dalam proses ini kita seringkali mengalami kekecewaan karena mendapatkan respons yang tidak seimbang. Namun bila kasih Allah ada dalam kita, kekecewaan itu tidak mampu membendung kita kembali belajar mengasihi. Kasih itu pula yang membentuk karakter dan kepribadian kita, sehingga kita tidak lagi memikirkan diri sendiri tetapi bagaimana menyatakan kasih Allah agar semakin banyak orang mengenal Dia melalui kita.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juni 2017

 

 

 

 

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu