Derita Membawa Sukacita

Bacaan Habakuk 3:17-19
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Doa habakuk

17 Meskipun pohon ara tak ada buahnya
dan pohon anggur tak ada anggurnya,
biarpun panen zaitun menemui kegagalan
dan hasil gandum di ladang mengecewakan,
walaupun domba-domba mati semua
dan kandang ternak tiada isinya,
18 aku akan gembira selalu,
sebab Engkau Tuhan Allah penyelamatku.
19 Engkau memberi aku kekuatan
seperti kaki rusa, kakiku Kaukokohkan.
Engkau membimbing aku supaya aman
waktu berjalan di pegunungan.

Dalam salah satu bukunya, Gust Anderson menceritakan soal kunjungan kesebuah gereja di suatu daerah pertanian yang terletak di Kanada. Daerah itu sedang dilanda kekeringan selama delapan tahun, sehingga penduduknya menjadi sangat miskin. Namun, di tengah keadaan sulit tersebut, banyak diantara mereka tetap berkumpul untuk memuji dan menyembah Allah. Anderson sangat terkesan dengan kesaksian seorang petani yang berdiri dan mengutip Habakuk 3:17–18. Ia pun berpikir, “Orang itu telah menemukan rahasia sukacita sejati.”

Biasanya, manusia akan bahagia ketika impiannya terwujud atau berhasil memiliki sesuatu, sehingga bersukacita di tengah kesulitan dan kemiskinan adalah sesuatu yang langka. Hal inilah yang hendak dikatakan oleh Habakuk, bahwa umat Tuhan tetap dapat bersukacita di dalam Tuhan, sekalipun hidupnya seolah tanpa harapan! Sukacita tetap dimungkinkan sekalipun semua tumpuan hidupnya tak menghasilkan apa-apa, juga semua miliknya lenyap. Tuhanlah yang menjadi sumber kekuatan dan sukacitanya. Sikap Habakuk ini menunjukkan, sekalipun keadaan kita yang mungkin sudah rapuh, selama kita mampu untuk tetap bersyukur dalam keadaan tersebut, maka sukacita dari Tuhan akan melingkupi hati dan pikiran kita.

Belajar dari nasihat Habakuk, mari kita tidak me­nyandarkan kebahagiaan pada kemewahan atau sesuatu yang bersifat materi. Apabila kepuasan kita hanya ber­dasarkan pada kepemilikan materi, jiwa kita akan hancur ketika semua itu hilang dari hidup kita. Namun, jika sukacita kita di dasarkan pada Allah, tidak ada perkara apapun yang dapat merusakkannya, bahkan kesulitan ekonomi sekalipun! Orang-orang yang mengenal Tuhan akan mampu bersukacita dalam segala situasi.

 

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Oktober 2017

 

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu