Di balik Kemalangan

 

Bacaan  Kejadian 50:15-21 
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK) 

Yusuf menetramkan hati abang-abangnya

15 Setelah ayah mereka meninggal, abang-abang Yusuf berkata, "Bagaimana seandainya Yusuf dendam dan mau membalas kejahatan kita dahulu? "
16 Sebab itu mereka mengirim pesan ini kepada Yusuf, "Sebelum ayah kita meninggal,
17 ia menyuruh kami mengatakan kepadamu begini,’Ampunilah kesalahan yang dahulu dilakukan abang-abangmu terhadapmu.’ Jadi, sebagai hamba-hamba Allah yang dipuja ayah kita, kami mohon, ampunilah kesalahan yang telah kami lakukan. " Yusuf menangis pada waktu menerima pesan itu.
18 Lalu saudara-saudaranya itu sendiri datang dan sujud di hadapannya serta berkata, "Kami ini hambamu. "
19 Tetapi Yusuf berkata kepada mereka, "Jangan takut; sebab saya tidak bisa bertindak sebagai Allah.
20 Kalian telah bermupakat untuk berbuat jahat kepada saya, tetapi Allah mengubah kejahatan itu menjadi kebaikan, supaya dengan yang terjadi dahulu itu banyak orang yang hidup sekarang dapat diselamatkan.
21 Jangan khawatir. Saya akan mencukupi kebutuhan kalian dan anak-anak kalian. " Demikianlah ia menentramkan hati mereka dengan kata-kata yang ramah, sehingga mereka terharu. 

Horatio Spafford merupakan pengacara sukses di Chicago. Ia memiliki istri dan lima orang anak. Ia dikenal sebagai orang Kristen yang taat dan setia mengikuti kelas pendalaman Alkitab. Di puncak kariernya, putranya meninggal karena demam berdarah. Setahun kemudian kebakaran menghanguskan seluruh investasi real estate miliknya. Tak ingin larut dalam kesedihan, ia mengajak
keluarganya berlibur sekaligus mengikuti misi penginjilan di Inggris. Saat akan berangkat, tiba-tiba ada urusan bisnis yang harus diselesaikannya. Sementara keluarganya berangkat lebih dulu dengan menumpang kapal. Naas, kapal tersebut mengalami kecelakaan. Keempat anaknya tewas karena tenggelam, hanya istrinya yang selamat.

Hidup yang pahit dan menyedikan juga terjadi pada Yusuf, putra Yakub. Yusuf pernah merasakan sakitnya dibenci, dijual sebagai budak, difitnah, dipenjara, hingga dilupakan oleh orang yang pernah ditolongnya. Namun di balik kemalangan yang bertubi-tubi menimpanya, ia mengecap manisnya kebaikan Allah. Yusuf tak pernah dibiarkan melewati proses tersebut sendirian. Allah bahkan
memakai Yusuf menjadi bagian dari rencana penyelamatan bangsa di seluruh bumi. Ketika berada di dalam sumur yang gelap dan di balik dinginnya jeruji penjara, Yusuf mungkin tak pernah membayangkan maksud Allah yang besar itu. Yusuf hanya belajar untuk setia, walaupun harus menunggu dalam waktu yang lama.

Ada kalanya Tuhan izinkan kita mengalami beban hidup yang sangat berat. Namun saat kemalangan mendera, sadarilah bahwa kita bukanlah satu-satunya orang yang pernah mengalaminya. Di balik kemalangan, percayalah bahwa ada rancangan Tuhan bagi kita, bahkan kelak hidup kita akan menjadi berkat bagi sesama.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juni 2017

 

 

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu