Doa kepada Allah

 

Bacaan  Mazmur 139:1-4
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Allah Mahatahu dan memelihara segala-galanya

Untuk pemimpin kor. Mazmur Daud.
Ya Tuhan, Engkau menyelami aku
dan mengenal aku.
Engkau tahu segala perbuatanku;
dari jauh Engkau mengerti pikiranku.
Engkau melihat aku,
baik aku bekerja atau beristirahat,
Engkau tahu segala yang kuperbuat.
Bahkan sebelum aku berbicara,
Engkau tahu apa yang hendak kukatakan.

Ketika tanggul sungai Bengawan Solo jebol, daerah Sukoharjo terkena dampaknya. Seorang ibu yang rumahnya tepat di pinggir sungai cepat-cepat menyuruh keluarganya berkemas dan mengungsi. Namun sebelumnya, sang ibu menyuruh menantunya untuk berdoa, karena menantunya adalah mahasiswa seminari teologi. Ketika menantunya berkata, “Amin”, air sudah sampai di leher. Syukurnya mereka masih selamat.

Mengetahui peristiwa tersebut, saya tidak menyalahkan doa yang dipanjatkan oleh sang menantu, tetapi situasinya kurang pas. Dalam situasi tertentu ada kalanya kita tidak perlu berdoa secara formal atau dalam waktu yang lama. Ketika berjalan sambil mengungsi pun pun bisa tetap berdoa. Dalam mazmur yang kita baca, penulis menyadari bahwa Allah adalah Pribadi yang Mahatahu dan Mahakuasa. Ia mengenal setiap orang tanpa terkecuali, bahkan apa yang ada dalam hati. Allah mengetahui isi pikiran, bahkan apa yang terkandung dalam hati manusia. Allah mengetahui detil kehidupan kita. Rancangan-rancangan baik yang jahat atau baik, semuanya juga tidak luput dari Tuhan. Kalau Allah begitu memperhatikan kita, bukankah kita bangga dan bersyukur karena hidup kita begitu bermakna di hadapan Tuhan?

Malam ini, firman Tuhan mengajarkan pada kita bahwa doa yang kita panjatkan dengan kesungguhan hati akan berkenan kepada Tuhan—walaupun tempatnya berbeda, panjang atau pendek isinya, situasi yang berbeda, dan dalam kondisi duduk atau berdiri. Jadilah “fleksibel” dalam berkomunikasi dengan Allah, tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada-Nya, terutama pada situasi tertentu atau kondisi genting. Selamat beristirahat dan mari pasrahkan hidup kita kepada-Nya.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Agustus 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu