Dua Sisi Kehidupan

 

Bacaan  Yakobus 5:16-20
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

16 Karena itu saya mendorong supaya setiap kita saling mengakui dosa dan kelemahan kita supaya bisa saling mendoakan. Dengan demikian kita akan diampuni dan disembuhkan. Karena doa orang benar sangat berkuasa dan besar pengaruhnya.
17 Sebagai contohnya, Elia adalah orang biasa yang sama seperti kita. Tetapi dia berdoa dengan sungguh-sungguh supaya hujan tidak turun, dan ternyata hujan tidak turun di negeri itu selama tiga tahun enam bulan!
18 Lalu ketika Elia berdoa lagi meminta hujan, lalu hujan pun turun, dan tanaman di ladang tumbuh kembali.
19-20 Saudara-saudari yang saya kasihi, ingatlah hal ini: Kalau ternyata salah satu dari antara kita sudah mengikuti jalan sesat, tetapi saudara atau saudari yang lain memimpin dia kembali kepada ajaran dan cara hidup yang benar, berarti saudara atau saudari itu yang mengasihani dan yang memimpin dia kembali sudah menyelamatkan dia dari neraka dan membuka jalan baginya sehingga dosa dan kesalahannya yang banyak itu diampuni.*

Novel klasik The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde merupakan literatur Victorian (1884) yang memaparkan dualitas sifat manusia. Pemeran utama novel ini adalah dokter yang memiliki dua kepribadian. Bahkan para psikolog masa kini sering menggunakan kisah ini untuk menggambarkan gangguan kepribadian ganda—Dr. Jekyll adalah pribadi yang baik dan terpandang, sementara Mr. Hyde adalah pribadi yang menyeramkan dan jahat.

Terdapat dualisme serupa yang terkadang menjangkiti kita. Sebagai ciptaan Tuhan, kita dikenal oleh Tuhan dan akhirnya dikenal sesama. Satu sisi kehidupan meminta kita untuk eksis dan dikenal atas hal-hal baik yang kita lakukan. Namun di sisi lain, karena sifat alami yang fana, kita memiliki dosa dan kelemahan yang tak ingin kita ungkapkan atau diketahui orang lain. Sering kali kita menyebutnya sebagai sisi gelap hidup kita. Satu alasan kita tak bersedia untuk dikenal adalah ketakutan bakal ditolak dan dihina. Namun, ketika kita menyadari bahwa Allah mengenal, mengasihi, dan bersedia mengampuni kita, rasa takut untuk membuka diri terhadap Tuhan niscaya akan lenyap (band. Mzm 32:5). Kita pun akan merasa aman untuk mengakui dosa-dosa kita dalam kumpulan orang percaya yang memahami dinamika hubungan antara pengampunan dan pengakuan (Yak. 5:16).

Kehidupan iman yang baik dan benar tak sekadar mewajibkan kita untuk menampilkan sisi baik dari kehidupan kita. Kehidupan yang benar juga melibatkan proses menyingkapkan sisi gelap dalam kehidupan kita kepada terang Kristus, melalui pengakuan terhadap Allah dan sesama orang percaya. Dengan cara ini, kita pun dapat memperoleh pemulihan dan hidup merdeka untuk mengampuni seorang akan yang lain.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juni 2017

Catatan Kaki:
*5:19-20 Mat. 18:15; Gal. 6:1-2; 1Ptr. 4:8

 

 

 

 

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu