Hemat atau Kikir

 

Bacaan  Amsal 11:24-26
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

24 Ada orang suka memberi, tapi bertambah kaya,
ada yang suka menghemat, tapi bertambah miskin papa.
25 Orang yang banyak memberi akan berkelimpahan,
orang yang suka menolong akan ditolong juga.
26 Siapa menimbun akan dikutuk orang,
tetapi orang yang menjualnya mendapat pujian.

Sonny menyambar botol air berisi air mineral dari dalam lemari es, lalu berjalan ke luar rumah, menyalakan sepeda motor, dan melesat ke lapangan basket. Sesampainya di sana, ia berniat meneguk sedikit air sekadar membasahi tenggorokan. Namun, alangkah terkejutnya Sonny ketika mendapati bahwa rasa air di dalam botol tersebut cukup aneh. Ia pun tak jadi meminumnya, bahkan segera membuangnya. Ia lalu teringat bahwa air dalam botol tersebut telah tersimpan di sana cukup lama sehingga menjadi basi dan tak layak minum.

Ibarat air basi pada ilustrasi di atas, begitu pula dengan timbunan materi yang tak pernah “dikeluarkan” oleh pemiliknya. Firman Tuhan berkata bahwa orang yang menghemat secara luar biasa, justru selalu berkekurangan. Bagaimana mungkin itu terjadi? Bukankah hemat itu pangkal kaya? Perhatikan lagi ayat tersebut. Tindakan berhemat tidak sama dengan menghemat secara luar biasa. Orang yang gemar menghemat secara luar biasa dapat disamakan dengan orang pelit atau kikir. Tuhan tidak senang jika kita sebagai “bendahara-Nya” memboroskan berkat materi yang Dia berikan. Apalagi untuk berfoyafoya atau melakukan hal-hal yang tidak berguna. Orang kikir tidak dapat menyukakan hati Tuhan, karena Ia hanya ingin menimbun kekayaan tanpa ada sedikitpun keinginan untuk berbagi kepada orang lain. Akhirnya, berkat yang Tuhan berikan justru menjeratnya pada dosa ketamakan.

Malam ini, ingatlah bahwa Tuhan memberkati kita dengan suatu tujuan. Selain untuk mencukupi kebutuhan hidup, Tuhan ingin agar kita juga dapat berbagi dengan orang lain. Mulai malam ini, mari berdoa supaya kita diberi hikmat untuk mengelola berkat, juga mengerti kapan harus berhemat dan berbagi dengan sesama.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Agustus 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu