Hidup Tanpa Kekerasan

 

Bacaan Matius 22:34-40
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Yesus memberitahukan tentang perintah Allah yang paling penting*

34 Lalu para anggota kelompok Farisi mendengar bahwa Yesus sudah mengalahkan orang-orang dari kelompok Saduki ketika mereka mengajukan pertanyaan menguji Yesus, maka berkumpullah mereka untuk mencari jalan untuk mengalahkan Yesus.
35 Lalu salah seorang anggota mereka— yang juga adalah ahli Taurat, mencari suatu cara untuk menyalahkan Yesus ketika dia bertanya,
36 “Guru, menurut pendapatmu, dari semua Hukum Taurat, perintah mana yang paling penting?”
37 Yesus menjawab, “‘Kasihilah TUHAN Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap napas hidupmu, dan dengan segenap akal pikiranmu.’** 
38 Perintah itulah yang paling penting dan yang terutama.
39 Dan perintah kedua yang hampir sama pentingnya dengan itu— yaitu ‘Kasihilah sesamamu sama seperti kamu mengasihi dirimu sendiri.’*** 
40 Karena kedua perintah itu adalah dasar dari semua Hukum Taurat dan semua perintah yang terdapat dalam tulisan para nabi.”

Hari ini dunia internasional memeperingati sebagai hari tanta kekerasan. Tanggal 2 Oktober dipilih majelis umum PBB untuk menghormati jasa Mhatma Gandhi, sosok yang inspiratif dengan perjuangan tanpa kekerasan di India. Gandhi yang dilahirkan pada 2 Oktober 1869 juga dikenal sebagai tokoh spiritual dan politikus. Konon kabarnya perjuangan rakyat dengan aksi damai yang dipimpin oleh Gandhi terinspirasi oleh pengajaran Yesus tentang kasih kepada sesama.

Pengajaran Yesus tentang kasih memang fenomenal. Ajaran-Nya berdampak hingga kini, sekalipun kehadiran- Nya secara nyata di dunia sudah lebih dari dua ribu tahun silam. Ketika itu, Ia mengajarkan tentang hukum yang terutama dalam kehidupan manusia. Salah satunya berbicara tentang mengasihi sesama manusia, seperti mengasihi diri sendiri. Pada kesempatan lain, Yesus juga mengajak para pendengar-Nya untuk memperlakukan orang lain sebagaimana mereka ingin diperlakukan (Mat. 7:12). Ajaran yang disampaikan langsung oleh Tuhan Yesus ini masih efektif dan relevan untuk diterapkan pada zaman modern ini. Kasih ibarat benteng terakhir yang dapat menyelamatkan kehidupan manusia dari kehidupan yang berpusat pada diri sendiri, juga dari segala macam kekerasan dan tindak kejahatan.

Kasih tak pernah gagal menyentuh dan mengubah kehidupan manusia menjadi lebih baik. Sebaliknya, ke­kerasan akan selalu berdampak negatif karena berlawanan dengan hati-Nya yang penuh kasih. Malam ini, mari kita memohon agar Allah melimpahi kita dengan kelembutan kasih-Nya, sehingga kekerasan tidak akan pernah menjadi bagian yang kita pilih dalam menjalani hidup ini, termasuk dalam mengatasi persoalan kehidupan kita.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Oktober 2017

Catatan Kaki:
Perikop: Mrk. 12:28-34; Luk. 10:25-28
** 22:37 Ul. 6:5
*** 22:39 Im. 19:18

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu