Hikmat Bagi Orang Percaya

 

Bacaan Amsal 8:11
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK) 

Seruan Hikmat

11. Akulah hikmat, lebih berharga dari berlian; tak dapat dibandingkan dengan apa pun yang kauidamkan.

Seseorang membedakan hikmat dan harta demikian: “Harta dapat dicari, asal giat bekerja; harta dapat dicuri, apalagi kalau disimpan di sembarangan tempat; harta dapat dibeli asalkan punya uang; harta juga bisa lenyap karena kebakaran. Namun, hikmat tidak dapat dibeli, tidak dapat dicuri atau pun lenyap”. Harta maupun hikmat merupakan dua hal yang penting. Untuk mendapatkan harta, kita memerlukan hikmat; untuk mengatur harta juga hikmat tidak boleh diabaikan.

Hikmat dalam bahasa Ibrani “hokhma” yang diartikan pengertian, kebijakan. Tempat kedudukan hikmat adalah pada hati, pusat keputusan moral dan intelektual (1 Raj. 3:9,12). Salomo mengatakan bahwa hikmat adalah karunia Allah, dan sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi Salomo sebagai raja, tentunya diperhadapkan pada masalah-masalah yang melibatkan ia mengambil keputusan untuk menyelesaikannya. Tidak heran ketika Tuhan bertanya kepadanya, “Apa yang kau minta supaya Aku berikan?”, Salomo menjawab, “Hikmat kebijaksanaan.” Ia tidak meminta kekayaan, dll. Hikmat Tuhan itulah yang membuatnya masyur. Apalah artinya kaya tetapi tidak berhikmat. Dengan Salomo berkata bahwa hikmat lebih berharga daripada permata, ia menegaskan mengenai kualitas hikmat. Hikmat memang dimiliki Salomo tetapi orang-orang yang ia pimpin bisa merasakan hikmatnya.

Hikmat sangat diperlukan oleh kita. Apa artinya kita kaya raya tetapi tidak memiliki hikmat, sebentar lagi kekayaan kita akan habis; dicuri atau kita dimanfaatkan orang lain. Apakah gunanya punya wajah cantik atau tampan tetapi tidak berhikmat? Saya tidak mengatakan tidak boleh kaya atau berwajah rupawan, tetapi hikmat lebih penting. Hikmat Tuhanlah yang membuat kita dapat mengambil keputusan dengan tepat dan bijaksana.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset September 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu