Jangan Berhenti Bersinar

Bacaan Mazmur 84:12
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

11 ( 84 - 12 ) Sebab TUHAN Allah pelindung kita dan raja yang agung, yang menganugerahi kita kasih dan kehormatan. Ia tak pernah menolak apa pun yang baik terhadap orang yang hidupnya tidak bercela.

Hampir setiap orang menyukai pemandangan ketika bulan purnama menghiasi langit pada malam hari. Bulan sebenarnya tidak memancarkan cahaya dari dirinya sendiri. Ia hanya memantulkan sinar yang dipancarkan oleh matahari, lalu meneruskannya untuk menerangi kegelapan malam. Seandainya bulan bisa mendengar dan memiliki hati, ia mungkin akan bangga dan tersenyum senang karena kehadirannya bisa memberi manfaat bagi kehidupan manusia. Namun, ia mungkin juga bisa menjadi lupa diri, terutama ketika ia mulai melupakan bahwa “tugasnya” hanya memantulkan sinar matahari ke bumi.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita akan keberadaan Tuhan Allah sebagai Matahari dan Perisai. Jika Allah adalah “Sang matahari”, maka kita diibaratkan sebagai bulan yang memantulkan sinar kemuliaan Allah di bumi ini. Ia memberikan kasih-Nya, mengizinkan kita menerima kemuliaan-Nya, dan tidak menahan ke­ baikan yang memang ingin diberikan kepada umat-Nya. Namun, ingatlah bahwa semua itu diberikan supaya kita memancarkan kasih dan kemuliaan-Nya di bumi serta menjadi saksi bagi-Nya. Sebagai “pemantul” dari kemuliaan Allah, kita juga perlu melewati proses demi proses yang Dia izinkan untuk kita alami. Seperti bulan yang melewati fase demi fase sebelum menerima cahaya penuh yang dikenal sebagai bulan purnama, demikianlah hidup kita akan memancarkan kemuliaan Allah secara penuh setelah proses dari-Nya kita lewati.

Sebagaimana bulan sampai malam ini belum berhenti memantulkan sinar yang diterimanya dari matahari, kita pun jangan pernah berhenti untuk memancarkan terang bagi sekeliling kita. Teruslah “bersinar” karena dunia ini sedang membutuhkan kelembutan cahaya purnama di
tengah kegelapan malam.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Mei 2017

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu