Kelebihan Muatan

 

Bacaan Bilangan 11:31-35
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Tuhan mendatangkan burung puyuh

31 Tiba-tiba Tuhan mendatangkan angin dari laut; angin itu membawa burung-burung puyuh yang terbang rendah sekali, sampai satu meter di atas permukaan tanah. Mereka beterbangan di atas perkemahan itu sampai sejauh beberapa kilometer di sekitarnya.
32 Sepanjang hari itu, sepanjang malam dan sepanjang hari berikutnya, orang-orang asyik menangkap burung puyuh. Setiap orang menangkap paling sedikit seribu kilogram. Burung-burung itu mereka serakkan di sekeliling perkemahan supaya menjadi kering.
33 Selagi masih ada banyak daging untuk dimakan, Tuhan menjadi marah kepada bangsa itu dan mendatangkan suatu wabah di antara mereka.
34 Maka tempat itu dinamakan “Kuburan Kerakusan”, karena di situ dikuburkan orang-orang yang mati karena rakus.
35 Dari situ bangsa itu pindah ke daerah Hazerot, lalu berkemah di tempat itu.

Suatu ketika, setelah bekerja, saya tiba di rumah lebih lama dari biasanya. Saya tidak sedang lembur, tetapi terjebak macet selama lebih dari satu jam dalam perjalanan pulang. Penyebabnya, ada sebuah truk kelebihan muatan yang mogok tepat di persimpangan jalan. Agar truk bisa dipindahkan ke tepi jalan, muatannya lebih dahulu harus dipindahkan ke kendaraan lain. Kemacetan pun tak terhindarkan bagi siapapun yang melewati daerah itu.

Kalau kendaraan yang didesain hanya mampu me­ ngangkut sekian ton akhirnya mogok karena kelebihan muatan, kondisi yang sama dapat dialami oleh manusia. Tindakan memaksakan diri untuk mendapatkan segala sesuatu melebihi kapasitas diri dapat membuat hidup terasa berat, bahkan bisa mendatangkan murka Tuhan. Karena bosan makan manna, bangsa Israel meminta daging kepada Musa. Allah menuruti permintaan mereka dengan mem­berikan burung puyuh. Namun, saat melihat perilaku sebagian dari bangsa itu ketika memakan daging, Allah murka dan memukul bangsa itu dengan suatu tulah yang besar. Penyebabnya, ada orang-orang yang bernafsu rakus. Karena rakus, mereka makan berlebihan, yang membuat hati Allah tidak berkenan (ay. 33).

Orang rakus cenderung memaksakan diri dalam menikmati makanan sehingga justru berdampak buruk. Jauh lebih bermanfaat menikmati makanan secukupnya, sehingga dengan kekuatan yang kita peroleh, kita dapat melakukan berbagai aktivitas dengan tubuh yang sehat. Apa yang dialami oleh bangsa Israel dapat menjadi pengingat yang baik bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Hidup terasa lebih enak dan ringan dijalani ketika kita melakukan segala sesuatu sesuai kapasitas diri dan tidak “mengangkut” beban-beban yang tidak perlu.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Oktober 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu