Keluarga Kornelius

 

Bacaan  Kisah Para Rasul 10:1-2 
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Petrus dan Kornelius

1 Di kota Kaisarea ada seorang komandan kompi Roma yang bernama Kornelius. Dia memimpin seratus anggota tentara yang disebut Batalion Italia.
2 Kornelius dan keluarganya sangat hormat dan taat kepada Allah, dan dia sering memberikan bantuan kepada orang-orang miskin, dan dia juga selalu berdoa kepada Allah.

Menikah dan memiliki keluarga yang bahagia adalah harapan semua orang. Namun, tidak sedikit yang justru gagal memperolehnya. Ada pasangan yang baru menikah 2 tahun, tetapi memutuskan untuk bercerai karena suatu alasan. Ada juga orangtua yang tidak berfungsi secara benar dan tidak menjadi teladan bagi anak-anaknya. Akibatnya, angka kenakalan remaja menjadi meningkat di masyarakat. Problematika keluarga juga banyak menghampiri keluarga-keluarga Kristen. Akibatnya, tanpa disadari kondisi ini membuat banyak keluarga Kristen menjadi batu sandungan bagi orang lain.

Problematika keluarga sudah ada sejak zaman Perjanjian Lama. Alkitab secara jujur memuat berbagai macam problematika keluarga itu supaya siapapun yang membacanya dapat belajar sesuatu. Harapannya, sesuatu yang buruk tidak akan ditiru atau diulangi lagi, tetapi sesuatu yang baik dapat diteladani. Malam ini kita membaca mengenai Kornelius, pria yang disebut saleh oleh Alkitab. Artinya, ia adalah orang yang taat beribadah dan melakukan firman Tuhan. Kornelius beserta seisi rumahnya juga disebut sebagai keluarga yang takut akan Allah. Kornelius juga tercatat sebagai orang yang suka berdoa dan banyak memberi sedekah.

Keluarga Kornelius patut dijadikan “acuan” untuk kriteria keluarga yang patut dijadikan teladan. Ada empat prinsip Ilahi yang dapat kita pelajari dari keluarga Kornelius, yakni kesalehan, takut akan Allah, suka memberi, dan suka berdoa. Empat hal yang masih menarik perhatian Allah hingga saat ini, sekalipun mulai jarang diminati sebagai gaya hidup untuk dijalankan. Padahal, jika Allah menyukai gaya hidup demikian, berkat-Nya pun tak akan jauh dari hidup kita. Bagaimana dengan keluarga kita

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juli 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu