Kuasa Perkataan

 

Bacaan  Yakobus 3:5-12
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Jagalah kata-katamu

5 Begitu juga dengan lidah kita. Meskipun lidah hanya bagian kecil dari tubuh kita, tetapi kita bisa memakai lidah itu untuk menyombongkan diri dan menyakiti hati saudara-saudari kita! Biarpun kecil, tetapi bisa merusak banyak hal— sebagaimana hutan yang luas bisa terbakar hanya karena lidah api yang kecil. 
6 Memang pantas menggambarkan lidah sebagai api! Karena semua kejahatan dunia ini seperti tersimpan dalam lidah kita. Dan seperti racun, kejahatan itu menular dari situ untuk merusak seluruh tubuh kita. Lidah kita seperti lidah api neraka! Maksud saya, iblis bisa menyalakan api besar melalui lidah kita. Dan bagaikan satu lidah api bisa menjalar dan membakar hutan luas, begitu pula seluruh hidup kita bisa tercemar hanya karena lidah.
7 Ternyata manusia sudah bisa menjinakkan hampir setiap jenis binatang, burung, binatang merayap, dan binatang laut, 
8 tetapi tidak ada seorang pun yang bisa menjinakkan lidahnya sendiri. Lidah kita begitu liar dan jahat, bagaikan ular yang penuh dengan racun yang mematikan. 
9 Lidah kita terlalu cepat berbalik dari memuji Allah Bapa kepada mengutuk orang lain— padahal orang lain itu adalah manusia yang sudah diciptakan oleh TUHAN segambar dengan diri-Nya sendiri. 
10 Berarti dengan mulut yang sama kita memuji Allah dan mengutuk sesama kita. Saudara-saudariku, janganlah kita seperti itu! 
11 Air tawar dan air asin tidak bisa keluar dari mata air yang sama— bukan! 
12 Juga Saudara-saudariku, pohon ara tidak mungkin menghasilkan buah zaitun. Pohon anggur tidak bisa menghasilkan buah ara. Dan air tawar tidak mengalir dari sumber air asin.

Rasa tak puas terkadang membuat orangtua tak segan mengeluarkan kalimat yang bisa berdampak buruk pada anak mereka, misalnya: “Saat seumurmu aku dulu lebih bertanggung jawab”, “Kau selalu membuat keputusan yang salah”, “Kenapa kau tak bisa seperti saudarasaudaramu?”, “Tinggalkan aku sendiri!” “Kau harusnya malu pada dirimu sendiri”, “Kau persis ayahmu/ ibumu”, “Kau selalu bisa menemukan cara untuk menyakitiku”, “Lebih baik aku tak punya anak daripada punya anak sepertimu”, “Jauhi teman-teman berandalmu itu”.

Kalimat-kalimat di atas tidak hanya akan berdampak pada perkembangan karakter dan mental si anak tetapi juga berdampak bagi masa depannya. Ada suatu penelitian terhadap dua tanaman yang sedang bertumbuh. Sebut saja tanaman A dan B. Setiap hari kedua tanaman tersebut diberi pupuk yang sama dan air dengan jumlah yang sama. Namun tanaman A setiap hari dicaci maki dan dikutuki. Sebulan kemudian, tanaman A mati sementara tanaman B tetap hidup dan terus bertumbuh bahkan berbuah. Ibarat tanaman, anak-anak juga tidak akan berkembang sebagaimana mestinya kalau orangtua sering memperkatakan perkataan perkataan negatif terhadap mereka. Itu sebabnya, Alkitab memperingatkan kepada kita untuk hati-hati dalam berucap. Karena lidah itu ibarat api. Wujudnya memang kecil tetapi ia mampu membakar hutan yang besar dalam sekejap.

Malam ini, mari introspeksi diri! Adakah diri sendiri sering mengucapkan perkataan kutuk atau perkataan negatif, baik terhadap pasangan, anak, saudara kandung, atau sesama kita lainnya? Minta ampunlah kepada Tuhan dan ubahlah perkataan negatif kita menjadi perkataan positif yang memberkati

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juli 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu