Lalai Berakibat Fatal

Bacaan Matius 14:13-21
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Perumpamaan tentang sepuluh gadis

1 “Pada waktu Aku— Anak Manusia, datang kembali dan disambut sebagai Raja di dunia ini, kejadiannya bisa digambarkan seperti dalam cerita ini: Pada suatu hari ada pesta pernikahan dan diadakan pada malam hari. Ada sepuluh orang gadis yang bersiap-siap untuk menghadiri pesta pernikahan itu, dan masing-masing membawa pelitanya dan pergi menyambut pengantin laki-laki.
2 Dan ternyata dari antara mereka hanya lima gadis bijak dan yang lima lagi bodoh. 
3-4 Masing-masing gadis yang bijak membawa minyak cadangan dalam botol untuk pelita mereka. Tetapi gadis yang bodoh membawa pelita saja tanpa membawa minyak cadangan. 
5 Tetapi pengantin laki-laki itu lama sekali datang, jadi semua gadis itu mengantuk lalu tertidur.
6 “Pada tengah malam ada orang yang berteriak, ‘Pengantin laki-laki datang! Mari sambutlah dia!’
7 “Gadis-gadis itu pun segera bangun dan mengatur sumbu-sumbu pelita mereka supaya menyala lebih terang. 
8 Lalu masing-masing gadis bodoh itu memohon kepada gadis-gadis yang bijak, ‘Berilah saya sedikit minyakmu, karena pelita saya sudah mau padam.’
9 “Tetapi masing-masing gadis bijak itu menjawab, ‘Oh, jangan! Kalau saya beri pasti tidak akan cukup untuk saya lagi. Lebih baik kamu pergi membelinya ke penjual minyak.’
10 “Selagi mereka pergi membeli minyak, pengantin laki-laki pun tiba. Dan kelima gadis bijak yang sudah siap sedia itu ikut masuk bersama dia ke tempat pesta pernikahan. Lalu pintunya dikunci.
11 “Tidak lama kemudian gadis-gadis yang bodoh itu pun datang dan berkata, ‘Tuan, tuan, tolong bukakan pintu bagi kami!’
12 “Jawab pengantin laki-laki itu, ‘Yang ku-katakan ini benar: Saya tidak mengenal kalian.’
13 “Karena itu siap siagalah selalu, karena kalian tidak tahu hari atau jam kedatangan-Ku kembali!”

Mengapa seseorang bisa lalai? Menurut saya, seseorang lalai karena ia tidak menganggap sesuatu sebagai hal yang penting. Saya pernah mengalaminya. Suatu malam setelah bepergian, saya mengantar kekasih saya pulang. Sebelum berpisah, kekasih saya mengingatkan kalau bensin hampir habis. Ketika saya melihat indikator bensin, memang posisi jarum sudah di posisi E. Bukannya mengisi malam itu juga, saya malah pulang dan akan mengisinya besok. Keesokan harinya, sepeda motor saya mogok di tengah perjalanan karena kehabisan bensin. Saya harus mendorong motor itu cukup jauh dan dimarahi bos karena terlambat masuk kerja.
 
Apa pun alasannya, lima gadis bodoh dalam perumpamaan yang diceritakan Yesus tidak menganggap undangan mempelai sebagai sesuatu yang penting. Mereka membawa pelita yang berisi minyak, tapi mereka tidak membawa cadangan minyak dalam buli-buli. Apakah dosa kalau kita bersikap lalai? Bisa dosa, bisa juga tidak, tetapi akibatnya bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Karena tidak membawa minyak, kelima gadis bodoh harus pergi ke sana ke mari mencari minyak, yang tentu saja tidak gampang karena sudah larut malam. Setelah dapat minyak dan kembali, mereka tidak dapat masuk ke ruang perjamuan kawin karena pintus sudah ditutup. Meski memohon pintu dibukakan, mereka ditolak.
 
Hari ini, mari lakukan evaluasi diri di hadapan Tuhan. Kalau kita sering dirugikan dan merugikan orang lain karena kelalaian kita, marilah belajar untuk tidak meremehkan segala sesuatu, termasuk hubungan dengan Tuhan. Jangan sampai kita kita mengalami seperti lima gadis bodoh yang ditolak masuk ke dalam Kerajaan Surga karena kita lalai dalam melakukan firman Tuhan.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Oktober 2017

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu