Makanan Pokok

Bacaan Yohanes 4:31-36 
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

31 Tetapi sebelum mereka datang, kami mengajak Dia makan, dengan berkata, “Guru, mari kita makan!”
32 Tetapi Dia menjawab, “Aku mempunyai makanan yang kalian belum ketahui.”
33 Oleh karena itu kami saling bertanya, “Apakah mungkin seseorang datang membawa makanan untuk Dia?”
34 Lalu Yesus berkata kepada kami, “Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa yang mengutus Aku ke dunia ini— yaitu untuk menyelesaikan tugas yang Dia berikan kepada-Ku.
35 Pada umumnya orang tahu dan berkata, ‘Sesudah empat bulan tibalah waktu panen.’ Tetapi Aku berkata kepada kalian, bukalah mata hati kalian! Lihatlah kebun-kebun ini. Gandum ini sudah siap dipanen.
36 Aku sudah menyuruh orang-orang menanam gandum yang sekarang ini kita lihat. Gandum ini Aku gambarkan sebagai jiwa-jiwa orang yang sedang diselamatkan, dan orang yang sedang memanen adalah gambaran dari kita yang bekerja supaya orang lain bisa masuk ke dalam hidup yang selama-lamanya. Semua orang yang ikut untuk memanen gandum ini akan menerima upah yang tahan untuk selama-lamanya. Jadi akhirnya, mereka yang dulu menanam gandum ini akan bergembira bersama-sama dengan kita yang sekarang sedang melakukan panen.

Makanan pokok adalah makanan yang menjadi gizi dasar. Biasanya tidak menyediakan seluruh nutrisi yang dibutuhkan tubuh sehingga harus dilengkapi lauk-pauk untuk mencukupi kebutuhan nutrisi seseorang dan mencegah kekurangan gizi. Namun, makanan pokok berbeda-beda sesuai tempat dan budaya tetapi biasanya berasal dari tanaman, baik dari serealia seperti beras, gandum, jagung, umbi-umbian (kentang, ubi jalar, talas dan singkong). Roti, mi atau pasta, nasi, bubur, dan sagu dibuat dari sumber-sumber tersebut. Beras dikenal sebagai makanan pokok yang paling banyak di konsumsi rakyat Indonesia.

Seperti kita, Yesus juga mempunyai “makanan pokok” tersendiri. Sebenarnya, “makanan-Nya” adalah satu tetapi seperti 2 sisi mata uang, yang terkesan kronologis. Pertama, melakukan. Maksudnya, dari belum melakukan sesuatu apa pun hingga Dia melakukan tindakan awal dalam suatu aktivitas untuk melakukan kehendak Bapa-Nya. Kedua, menyelesaikan. Kemudian, setelah tindakan awal itu, Dia harus menuntaskan atau tidak berhenti di tengah jalan sehingga pekerjaan Bapa-Nya selesai dengan sempurna. Ketika Yesus menyampaikan hal itu, para murid-Nya, yang menyodorkan makanan itu kepada-Nya, mengira bahwa ada orang yang sudah memberi-Nya makanan jasmani sehingga Dia sudah kenyang dan tidak memerlukan makanan yang disodorkan itu.

Namun, perkiraan mereka keliru. Jika dikaitkan dengan dialog Yesus dengan perempuan Samaria, “ma­kanan” yang Dia maksudkan adalah “makanan ro­hani”. Maksudnya, menjangkau jiwa yang terhilang dan membawanya untuk datang kepada Bapa-Nya. Demikianlah, pengertian melakukan dan menyelesaikan. Dengan mengerti “makanan-Nya”, artinya kita harus segera bertindak untuk meneladani-Nya. Kita harus pergi
dan menjangkau mereka yang terhilang.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Mei 2017

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu