Mempersiapkan Kematian

 

Bacaan Matius 26:6-12
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI) 

Perempuan yang menuangkan minyak wangi ke atas kepala Yesus*

6 Waktu Yesus berada di Betania, di rumah Simon— yang juga disebut Si Penyakit Kulit,** 
7 datanglah seorang perempuan kepada-Nya dengan membawa sebotol*** minyak wangi yang sangat mahal. Lalu, ketika Yesus sedang makan, perempuan itu menuangkan minyak itu ke atas kepala Yesus.
8 Tetapi waktu kami murid-murid-Nya melihat hal itu, kami menjadi marah dan berkata, “Kenapa minyak wangi itu dibuang begitu saja?!
9 Karena kalau kita menjual minyak itu, pasti kita mendapat uang yang banyak sekali, lalu uang itu bisa kita bagi-bagikan kepada orang-orang miskin.”
10 Tetapi Yesus mengetahui apa yang kami katakan, lalu Dia berkata kepada kami, “Tidak usah kalian menegur perempuan ini! Karena dia sudah melakukan perbuatan yang baik bagi-Ku.
11 Karena kesempatan selalu ada bagi kalian untuk menolong orang-orang miskin.**** Tetapi Aku tidak akan selalu ada bersama kalian.
12 Sebenarnya dengan meminyaki tubuh-Ku, dia sudah menyiapkan tubuh-Ku untuk dikuburkan.***** 

Apakah judul Renungan ini terasa menakutkan bagi kita? renungan ini tidak asal dibuat. Saya menulisnya berdasarkan pengalaman pribadi ketika mengalami pedihnya kehilangan adik saya yang meninggal karena kecelakaan. Tak lama berselang, menyusul tante saya yang juga meninggal. Kedua peristiwa itu benar-benar mengubah hidup saya. Saya sungguh tak mengerti kapan Tuhan akan memanggil saya. Kematian mereka mengubah saya menjadi orang yang hidup, tetapi penuh kewaspadaan akan kematian. Sungguh menyedihkan keluarga yang ditinggalkan oleh mereka dan saya pun berpikir, “Kalau waktu saya tiba, apakah saya sudah siap?”

Sebenarnya jelas, hampir semua orang tak akan pernah siap saat kematian tiba. Namun setidaknya, kesa­ daran akan misteri kematian membuat kita tidak lagi hidup semau kita sendiri. Berbeda dengan Yesus yang mengetahui kapan saat kematian-Nya akan tiba. Yesus pun tahu persis dengan cara apa Dia meninggal, siapa yang mengkhianati- Nya, juga apa yang akan terjadi dengan para murid-Nya ketika Dia mati. Persiapan Nya pun sangat matang. Itulah sebabnya ketika ada wanita datang kepada Yesus, lalu mengurapi Yesus dengan minyak, Dia sama sekali tak merasa keberatan. Yesus juga tak takut membicarakan soal kematian-Nya, karena Dia tahu persis apa yang akan terjadi kepada-Nya setelah peristiwa salib.

Masalahnya, kita tak pernah tahu kapan kematian akan menjemput kita. Namun, kita dapat mempersiapkan diri sejak sekarang. Menyadari akan kematian yang bisa datang sewaktu-waktu juga dapat mengingatkan kita agar seimbang dalam memikirkan masa depan di bumi maupun kelak ketika kita menghadap Dia. Mari persiapkan diri sekalipun tak pernah tahu saatnya.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset September 2017

Catatan Kaki:
Perikop: Mrk. 14:10-11; Luk. 22:3-6
** Si Penyakit Kulit Banyak ahli tafsir berkata bahwa kemungkinan besar Simon ini sudah sembuh dari penyakitnya sebelumnya. Penyakit kulit kusta di zaman Alkitab tidak sama dengan yang disebut kusta pada zaman ini. Lihat catatan tentang penyakit kulit dalam Mat. 8:2.
*** sebotol Botol tersebut dibuat dari semacam batu putih yang disebut batu pualam.
**** Ayat 11a
Yesus hampir mengutip Ul. 15:11.
***** menyiapkan tubuh-Ku untuk dikuburkan
Orang Yahudi biasanya menaruh minyak wangi dan rempah-rempah pada mayat orang mati sebelum dikuburkan (seperti pada Mrk. 16:1). Tetapi perempuan itu (Maria) mungkin tidak tahu bahwa Yesus akan mati. Dia menuangkan minyak wangi ke tubuh Yesus karena dia mengasihi-Nya dan mungkin karena dia ingin menghormati-Nya dan berterima kasih kepada-Nya, khususnya karena Yesus sudah membangkitkan saudaranya Lazarus dari kematian (Yoh. 11:38-44; 12:1-8).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu