Menabur dan Menuai

 

Bacaan  Bilangan 12:1-15
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Miryam dihukum

1 Musa telah mengambil seorang wanita Kus menjadi istrinya, dan hal itu dijadikan alasan oleh Miryam dan Harun untuk mencela Musa.
2 Kata mereka, "Apakah melalui Musa saja TUHAN berbicara? Bukankah melalui kita juga Ia berbicara? " TUHAN mendengar apa yang mereka katakan.
3 Musa adalah orang yang sangat rendah hati, melebihi semua orang yang hidup di bumi ini.
4 Tiba-tiba TUHAN berkata kepada Musa, Harun dan Miryam, "Kamu bertiga pergilah ke Kemah-Ku. " Lalu mereka pergi ke situ
5 dan TUHAN turun dalam tiang awan. TUHAN berdiri di pintu Kemah-Nya dan memanggil Harun serta Miryam. Kedua orang itu maju,
6 dan TUHAN berkata, "Dengarlah kata-kata-Ku ini ! Jika di antara kamu ada seorang nabi, Aku menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan-penglihatan, dan berbicara dengan dia dalam mimpi.
7 Tetapi tidak begitu dengan hamba-Ku Musa. Dialah orang yang setia di antara umat-Ku.
8 Dan Aku berbicara dengan dia berhadapan muka, secara jelas dan tidak dengan teka-teki. Bahkan rupa-Ku pun sudah dilihatnya ! Mengapa kamu berani melawan Musa, hamba-Ku itu? "
9 TUHAN marah sekali kepada mereka berdua, dan Ia pergi.
10 Ketika awan itu meninggalkan Kemah TUHAN, tampaklah Miryam kena penyakit kulit yang berbahaya; kulitnya putih seperti kapas. Ketika Harun berpaling kepada Miryam dan melihat bahwa ia sudah kena penyakit itu,
11 berkatalah ia kepada Musa, "Tolonglah, Tuanku, jangan biarkan kami disiksa karena dosa yang kami buat dalam kebodohan kami.
12 Jangan biarkan dia menjadi seperti bayi yang lahir sudah mati, dengan dagingnya setengah busuk. "
13 Maka berserulah Musa kepada TUHAN, "Ya Allah, saya mohon, sembuhkanlah dia ! "
14 TUHAN menjawab, "Andaikata mukanya diludahi ayahnya, bukankah selama tujuh hari ia harus menanggung malu?
Singkirkanlah dia dari perkemahan selama tujuh hari, dan sesudah itu ia boleh masuk kembali. "
15 Lalu Miryam dikeluarkan dari perkemahan selama tujuh hari, dan bangsa itu tidak pindah dari situ sampai Miryam diperbolehkan kembali ke perkemahan.
16 Kemudian mereka meninggalkan Hazerot dan berkemah di padang gurun Paran.

Seorang anggota komsel saya bercerita bahwa sejak muda ibunya selalu menanamkan kepadanya, “Kalau kamu ingin orang lain melakukan seperti yang kamu harapkan, maka lakukanlah hal tersebut lebih dahulu kepada orang lain. Jika kamu ingin orang lain baik padamu, berbaik hatilah lebih dahulu kepada orang lain”.

Prinsip tabur-tuai seperti yang diajarkan dalam Galatia 6:7, “Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” sebenarnya bukan hal baru, atau baru diajarkan pada Perjanjian Baru. Kalau kita melihat peristiwa yang dialami Miryam dan Harun dalam perikop hari ini, murka Allah yang diterima mereka berupa kusta, juga menggunakan prinsip tabur-tuai. Oleh karena Miryam dan Harun memberontak akan kepemimpinan Musa, maka Allah marah kepada Miryam dan Harun. Akibat kemarahan itulah, Allah kemudian menimpakan penyakit kusta kepada Miryam sehingga ia dikucilkan dari lingkungannya selama
tujuh hari lamanya.

Dari peristiwa Miryam dan Harun ini, ada dua poin yang dapat menjadi pelajaran penting bagi kita. Pertama, hormatilah keputusan orang lain dan jangan memandang sebelah mata keputusannya, terutama orang dekat kita. Pemberontakan Miryam dan Harun bermula ketidaksukaan mereka atas keputusan Musa mengambil perempuan Kush. Kedua, belajarlah untuk setuju dengan keputusan Allah, meski tidak sesuai dengan harapan diri sendiri.

Setiap orang akan membuat banyak keputusan dalam hidupnya. Tentunya, kita pun ingin agar keputusan tersebut dihargai, bahkan didukung oleh orang-orang terdekat, bukan? Jika ya, maka lakukan hal ini terlebih dulu kepada orang lain. Ingatlah bahwa apa yang kita tabur, cepat atau lambat akan kita tuai.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juni 2017

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu