Mendidik lewat Teguran

 

Bacaan  Amsal 1:20-23
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

SUARA HIKMAT

20 Dengarlah ! Hikmat memanggil di jalan-jalan dan berteriak di lapangan-lapangan !
21 Ia berseru di pintu-pintu gerbang dan di tempat-tempat yang ramai:
22 "Hai orang-orang bebal ! Sampai kapan kamu mau tetap demikian? Kapan tiba waktunya kamu berhenti meremehkan pengetahuan dan menolak pelajaran?
23 Dengarkanlah aku apabila aku menegurmu, maka kepadamu akan kunyatakan isi hatiku dan kuajarkan pengetahuanku.

Dahulu saya termasuk anak yang bandel. Saya lebih mengindahkan teguran ayah dibandingkan ibu, karena saya menganggap ibu hanya terlalu banyak bicara. Teguran dan nasihatnya saya anggap bukan karena isi nasihatnya, melainkan karena saya menilai ibu saya cerewet. Kebiasaan itu berlanjut hingga saya SMA. Namun, ketika hati dan pikiran saya mulai terbuka, saya semakin memahami bahwa ajaran ayah dan ibu adalah ajaran yang selalu diberikan karena kasih mereka kepada saya.

Mendidik anak adalah tugas dan tanggung jawab setiap orangtua. Namun, sebagai orangtua kita juga perlu belajar cara mendidik anak seturut perkembangan zaman. Jika dahulu para orangtua sering menggunakan kekerasan verbal maupun fisik sebagai cara mendidik anak, tentu saat ini cara tersebut tidak bisa sepenuhnya, apalagi kita gunakan. Didikan model demikian terkadang cukup berisiko, karena terkadang menjadikan mereka sebagai anak-anak yang menyukai kekerasan, bahkan menjadi pemberontak. Lalu, bagaimana cara mendidik anak yang tepat? Salah caranya adalah menegur buah hati ketika berbuat salah. Sebagai orangtua, jangan pernah kita melakukan pembiaran ketika kita mengetahui anak-anak berbuat salah. Sekali kita menoleransi kesalahan anak, bisa jadi ia akan memiliki anggapan bahwa kita setuju dengan perbuatannya tersebut.

Tegurlah buah hati dengan cara yang baik supaya mereka tidak merasa dihakimi. Berikan mereka pengertian agar mereka menyadari bahwa perbuatan mereka keliru. Teguran yang mendidik adalah jalan kehidupan. Oleh sebab itu, sebagai orangtua jangan pernah ragu, malas, atau bosan menegur buah hati kita ketika mereka melakukan kekeliruan, karena ujungnya pasti baik bagi mereka.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juni 2017

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu