Mengecap Air Hidup

 

Bacaan Yohanes 4:1-15
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Yesus bercakap-cakap dengan perempuan Samaria

1 Orang Farisi sudah mendengar bahwa Yesus menjadikan dan membaptis lebih banyak pengikut daripada Yohanes.
2 Tetapi sebenarnya bukan Yesus yang membaptis, melainkan kami murid-murid-Nya. Yesus tahu bahwa orang Farisi sudah mendengar tentang diri-Nya.
3 Jadi Dia bersama kami meninggalkan propinsi Yudea dan kembali lagi ke propinsi Galilea.
4 Dalam perjalanan ke sana Dia harus melewati daerah Samaria.
5 Waktu di Samaria, Yesus dan kami sampai di sebuah kampung yang bernama Sikar— yang dekat dengan tanah yang dulu diberikan Yakub kepada Yusuf, anaknya.
6 Dan sumur Yakub ada di situ. Karena perjalanan jauh, Yesus merasa sangat lelah, jadi Dia duduk di pinggir sumur itu. Waktu itu kira-kira tengah hari.
7 Kemudian seorang perempuan Samaria datang ke sumur itu untuk menimba air. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Tolong berikan air kepada-Ku, supaya Aku minum.”
8 Waktu kejadian itu, kami sudah pergi ke desa Sikar untuk membeli makanan.
9 Lalu perempuan itu berkata kepada-Nya, “Saya heran! Bagaimana mungkin Bapak— seorang Yahudi, minta air minum kepada saya— seorang Samaria!” Dia berkata begitu karena orang Yahudi menganggap orang Samaria najis.*
10 Lalu Yesus menjawab, “Ibu tidak tahu hadiah apa yang Allah mau berikan kepadamu dan tidak mengenal Aku yang minta air darimu. Kalau Ibu sudah mengenal Aku, pastilah Ibu akan lebih dulu minta air hidup dari Aku. Dan Aku siap memberikannya kepadamu.”
11 Lalu perempuan itu berkata, “Bapak tidak punya timba, dan juga sumur ini sangat dalam. Bagaimana mungkin Bapak bisa memberikan air hidup itu kepada saya?
12 Yakub, nenek moyang kita yang memberikan sumur ini kepada kami. Dulu dia dan anak-anaknya dan juga semua ternaknya minum dari air sumur ini. Pasti Bapak tidak merasa diri lebih besar dari dia— bukan?!”
13 Lalu Yesus menjawab, “Setiap orang yang minum air dari sumur ini akan haus lagi.
14 Tetapi siapa saja yang minum air yang akan Ku-berikan tidak akan haus lagi untuk selama-lamanya. Karena air itu akan menjadi seperti mata air di dalam dirinya, yang akan terus mengalir dan memberinya hidup yang selama-lamanya.”
15 Kata perempuan itu, “Bapak, berikanlah air itu kepada saya, supaya saya tidak haus lagi dan tidak usah kembali menimba air ke sini.”

Dunia ini sedang berusaha untuk menawarkan kepuasan semu dalam berbagai bentuk. Tak sedikit manusia akhirnya terpikat dan terjebak, lalu menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk kepuasaan duniawi. Tak jarang umat Allah pun juga terpikat, lalu mengalami hal yang sama seperti orang-orang yang belum mengenal Kristus. Padahal, bagi orang percaya, ada kepuasan sejati yang Yesus tawarkan. Kepuasan yang bernilai kekal dan tak dapat diberikan oleh dunia ini.

Ketika Yesus bercakap-cakap dengan perempuan Samaria, ada dua hal kontras mengenai topik pembicaraan itu. Sementara Yesus berbicara mengenai kebutuhan rohani manusia (ay. 10), perempuan Samaria ini justru menanggapi sesuai kebutuhan jasmaninya (ay. 11–12). Dalam pikirannya, air diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap hari. Tanpanya ia akan mati. Itu sebabnya ia segera menerima tawaran Yesus untuk mendapatkan air yang bersifat abadi. Perempuan itu berpikir, “Kalau saya meminum air itu, maka seumur hidup saya tidak akan kehausan lagi. Saya juga tak perlu ke sumur setiap hari untuk menimba air ketika kondisi  panas terik.” Kondisi serupa sering kali dialami oleh umat Tuhan. Ketika Yesus ingin memberikan kepuasan sejati, saat orang percaya tinggal di dalam Dia, fokus kita justru pada kepuasaan duniawi yang semu. Padahal, kepuasan hidup yang Yesus tawarkan melebihi kepuasan duniawi dalam bentuk apa pun dan bersifat kekal.

Bagi kita yang malam ini sudah mengecap “air hidup” yang Yesus berikan, sudah sepatutnya kita pun berlaku seperti wanita Samaria yang mengajak orang lain untuk berjumpa dengan Yesus (Yoh 4:29-30). Masihkah kerinduan itu berkobar dalam diri kita

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juni 2017

Catatan Kaki:
*4:9 menganggap orang Samaria najis Contohnya, pada waktu itu para pemimpin agama Yahudi melarang orang Yahudi memakai barang-barang yang sudah dipakai oleh orang Samaria. Jadi menurut peraturan itu, Yesus juga tidak boleh minum dengan memakai peralatan minum yang sudah dipakai oleh perempuan itu. Pada zaman Yesus, orang Yahudi tidak boleh bergaul dengan orang-orang Samaria karena penduduk Samaria bukan orang Yahudi asli, tetapi keturunan perkawinan campur antara orang Yahudi dengan suku-suku lain. Dalam Hukum Taurat, Allah melarang orang Yahudi kawin campur dengan suku-suku lain. Tetapi suku-suku itu berpindah ke daerah Palestina pada waktu kebanyakan orang Yahudi sudah dibawa ke negeri Babel. Orang-orang Yahudi juga tidak senang kepada penduduk Samaria karena agama mereka bukan agama Yahudi murni. Mereka mencampur agama mereka dengan adat-istiadat suku-suku lain yang masuk ke daerah itu pada waktu pembuangan bangsa Yahudi ke Babel.

 

 

 

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu