Mengejar Kata Maaf

Bacaan Mazmur 51:9-15
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Doa mohon ampun

Sucikanlah aku, maka aku akan bersih;
cucilah aku, maka aku akan lebih putih dari kapas.
10 Biarlah aku mendengar kabar sukacita,
agar hati yang Kauremukkan ini bersorak lagi.
11 Palingkanlah wajah-Mu dari dosa-dosaku,
dan hapuskanlah segala kesalahanku.
12 Ciptakanlah hati yang murni bagiku, ya Allah,
perbaruilah batinku dengan semangat yang tabah.
13 Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu,
dan jangan mengambil roh-Mu yang suci daripadaku.
14 Buatlah aku gembira lagi karena keselamatan daripada-Mu,
berilah aku hati yang rela untuk taat kepada-Mu.
15 Maka aku akan mengajarkan perintah-Mu kepada orang berdosa,
supaya mereka kembali kepada-Mu.
Suatu ketika, belum 5 menit meninggalkan parkiran kantor, saya dikagetkan dengan sebuah motor yang melaju dengan kencang dan hampir menabrak saya. Secara refleks, tangan saya menekan tombol klakson dengan keras dan berulang sambil berteriak, “Hati-hati dong, Pak!” Rupanya orang tersebut tidak terima dan mengganggap bahwa sayalah yang salah. Ia bahkan sempat menantang saya untuk berkelahi. Perseteruan pun selesai ketika saya membesarkan hati untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf. Pengalaman ini merupakan pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga bagi diri saya.
 
Hari ini kita belajar dari kebesaran hati raja Daud. Ia tidak membenarkan dirinya atau mencari kambing hitam (menuduh orang lain sebagai penyebab kejatuhannya dalam dosa), tetapi ia mengaku dosanya secara terus terang (ay. 5-7). Tak lupa ia memohon agar Allah mengasihani dirinya dan menghapuskan pelanggaran yang diperbuatnya, menurut kasih karunia dan rahmat-Nya yang besar. Ada tiga langkah praktis yang dilakukan oleh raja Daud. Pertama, memohon agar Tuhan melepaskannya dari dosanya dan menahirkan dirinya (ay. 9). Kedua, memohon agar dapat mendengar lagi kegirangan dan sukacita. Ia menyadari bahwa dosa membuatnya seperti orang dalam kondisi tulang yang remuk (ay. 10). Ketiga, memohon agar Tuhan menyembunyikan wajah-Nya terhadap dosanya. Artinya Tuhan tidak memandang dosanya yang menjadi alasan untuk menghukumnya (ay. 11). 
 
Hari ini, mari lakukan evaluasi diri. Jika ada dosa yang belum kita bereskan, akuilah di hadapan-Nya seraya memohon pengampunan-Nya, supaya kita diampuni dan dipulihkan. Hanya orang yang mau mengakui dosanya yang akan menerima pengampunan dari-Nya.
 
Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Oktober 2017
Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu