Mengejar Status Aman

 

Bacaan  2 Korintus 6:1-10
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI) 

1 Jadi sebagai utusan-utusan Allah, kami mengajak setiap kalian: Janganlah sia-siakan kabar tentang kebaikan hati Allah yang sudah diberitakan kepada kalian.
2 Karena Allah berkata,
“Aku sudah mendengarkan permohonan kalian tepat pada waktunya,
dan Aku sudah memberikan pertolongan kepada kalian pada hari keselamatan.”*
Jadi kami memberitakan kepada setiap kalian: Sekarang inilah ‘waktu yang tepat’ itu, dan hari inilah ‘hari keselamatan’ yang tepat bagimu!
3 Jadi kami utusan-utusan TUHAN berusaha supaya cara hidup kami tidak menjadi penghalang bagi orang lain untuk menerima berita keselamatan. Karena kami tidak mau pelayanan kami tercela.
4 Karena itu dalam segala keadaan kami berusaha untuk menunjukkan kepada setiap orang bahwa kami hidup dengan cara yang sepantasnya sebagai pelayan Allah— yaitu kami bertahan dalam penganiayaan, kemiskinan, atau kesusahan.
5 Kami sering dipukuli dan dipenjarakan. Orang-orang menjadi kacau dan menyerang kami. Kami terpaksa bekerja keras untuk mencari nafkah. Sering kali hidup kami terancam sehingga kami tidak bisa tidur pada malam hari dan tidak mempunyai makanan.
6 Biarpun begitu, kami terus berusaha untuk hidup dengan hati yang bersih, bijaksana, sabar, dan murah hati. Kami bersandar kepada Roh Kudus, dan berusaha mengasihi semua orang dengan hati yang tulus.
7 Kami selalu mengajar yang benar, dan mengandalkan kuasa Allah. Kami memakai semua perlengkapan perang rohani yang diberikan kepada orang-orang yang hidupnya benar— baik untuk membela diri dan untuk menyerang penguasa gelap.
8 Karena dalam pelayanan kami ada orang yang menghargai kami, tetapi ada juga yang menghina kami. Ada yang memuji kami, tetapi ada juga yang menjatuhkan nama baik kami. Biarpun begitu kami terus mengajarkan yang benar, namun masih tetap ada yang mengata-ngatai kami sebagai pembohong.
9 Walaupun kami sudah dikenal, kami diperlakukan seperti orang yang belum pernah dikenal. Sepertinya kami sudah mati, tetapi lihatlah, kami masih tetap hidup. Kami sering dihukum dengan cara dipukuli, tetapi tidak mati.
10 Biarpun kami sering mengalami kesedihan, tetapi kami tetap bersukacita. Kami sangat miskin, tetapi sebenarnya pelayanan kami membuat banyak orang menjadi kaya secara rohani. Kami tidak mempunyai apa-apa, tetapi sebenarnya kami mempunyai segala sesuatu.

Saat renungan ini ditulis, kabar tentang pengumuman penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) sedang ramai diperbincangkan. Saya pun sering mendengar obrolan tentang penerimaan CPNS di warung kopi langganan saya. Rasanya sudah menjadi rahasia umum mengapa banyak orang berbondong-bondong melamar menjadi CPNS, karena kemungkinan dipecat kecil, pendapatan lumayan, dan yang terutama, ada uang pensiun bulanan. Kesimpulan yang saya bisa ambil dari obrolan-obrolan di warung kopi adalah: menjadi PNS membuat banyak orang merasa hidupnya lebih aman.

Rasa aman dan damai adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Namun, sering kali manusia menaruh rasa amannya pada hal hal yang cenderung tak bertahan lama—bahkan pada hal-hal yang semu. Orang percaya seharusnya meletakkan rasa amannya pada Allah, bukan pada posisi atau jabatan, jenis pekerjaan, harta yang berlimpah, atau pada hal-hal lainnya yang dunia tawarkan. Rasul Paulus dalam pelayanannya memahami bahwa ia akan menghadapi banyak ujian berupa kesulitan, tantangan, bahkan penderitaan. Namun, Paulus meyakini bahwa rasa amannya yang sejati ada di dalam Allah. Dalam banyak situasi, Paulus mengalami betapa Allah adalah Pribadi yang mendengar, menolong, dan menyelamatkan hidupnya dalam perjalanan hidup dan pelayanannya.

Hingga malam ini, apakah kita telah menjadikan Allah sebagai Sumber rasa aman yang sejati, bukan pada pekerjaan, harta benda, atau penampilan kita? Mari kita terus belajar menjalani hidup yang berkenan kepada-Nya. Percayalah, ketika Ia berkenan dengan kehidupan kita, tak ada yang dapat menghalangi Dia untuk mendengar, menolong, dan menyelamatkan kita.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Agustus 2017

Catatan Kaki:
*6:2 Yes. 49:8

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu