Menghajar karena Mengasihi

 

Bacaan  Ibrani 12:1-17
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Caranya bertahan dalam pertandingan iman

1 Oleh karena semua itu, Saudara-saudari, marilah kita ingat dan mengikuti cara hidup para pahlawan iman kita yang sudah mendahului kita dan yang sedang menanti-nantikan kita sekarang! Jadi, marilah kita lepaskan dan tinggalkan semua beban dan dosa yang menghalangi kita dalam pertandingan yang sudah ditetapkan Allah untuk kita jalani, dan marilah kita terus berjuang mencapai tujuan kita.
2
 Dalam pertandingan ini, biarlah mata kita terus memandang ke depan— yaitu kepada Yesus. Dialah Raja dan Pahlawan Iman yang terutama bagi kita, dan yang telah menyelesaikan pertandingan yang diberikan kepada-Nya dengan sempurna. Dia rela menahan penderitaan yang sangat memalukan di kayu salib karena Dia memandang terus ke depan kepada sukacita yang disediakan untuk Dia di kemudian hari. Sekarang Dia sudah duduk menantikan kita di tempat yang paling terhormat di samping takhta Allah. 

3 Karena itu, biarlah kita selalu merenungkan teladan Yesus— yang berdiri teguh ketika orang-orang berdosa menghina dan menganiaya Dia dengan sangat kejam. Kalau kita meneladani Yesus, kita tidak akan gampang lemah dan putus asa. 
4 Karena memang, dalam perjuangan kita melawan dosa, kita belum sampai terbunuh.
5 Janganlah kita melupakan nasihat yang diberikan TUHAN— di mana setiap kita Dia sebut “anak-Ku.” Kata-Nya,“Anak-Ku, janganlah pandang enteng didikan-Ku. Dan janganlah putus asa ketika Aku menegurmu.
6 Karena Aku memberikan didikan kepada setiap anak yang Ku-kasihi, dan Aku mencambuki setiap orang yang Ku-terima sebagai anak.”*
7 Jadi, waktu kita menderita karena cambukan dari Bapa surgawi kita, kita harus ingat bahwa Allah sedang memperlakukan kita sebagai anak-Nya. Karena, kalau bapak memberikan didikan kepada anaknya sendiri, itu bukan hal yang aneh! 
Kalau kamu tidak pernah dikoreksi oleh TUHAN, berarti kamu bukan anak-Nya yang sah. Karena TUHAN mengoreksi semua anak-Nya. 
9 Memang, bapak kita yang ada di dunia ini pernah mengoreksi kita. Sesudah itu, kita menghormati mereka. Jadi terlebih lagi marilah kita tunduk kepada Allah sebagai Bapa rohani kita, karena kalau kita bertahan dalam ujian, kita akan masuk ke dalam hidup yang selama-lamanya. 
10 Dan bapak-bapak kita yang di dunia ini mengoreksi kita masing-masing hanya untuk sementara saja— sesuai dengan apa yang mereka anggap baik. Tetapi waktu Bapa surgawi mengoreksi kita selalu tepat dan berguna, supaya kita disucikan sebagaimana Dia suci. 
11 Memang, setiap kali kita dikoreksi, pengalaman itu tidak membuat kita senang, tetapi membuat kita sedih. Tetapi sesudah kita dididik oleh pengalaman itu, hasilnya adalah kita hidup lebih benar dan merasa tenang di mata Allah.
12 Jadi, oleh karena kita dipanggil untuk berlari dalam pertandingan ini, kuatkanlah tangan kita yang lemah, dan jangan biarkan lutut kita gemetar. 
13 Dan biarlah kaki kita tetap berlari lurus ke depan. Jangan belok ke kiri atau ke kanan. Dengan demikian, kalau orang yang lemah atau pincang mengikuti teladan kita, kaki mereka tidak terkilir karena tersandung, tetapi semakin disembuhkan dan dikuatkan.

Janganlah menolak kebaikan hati Allah

14 Berusahalah hidup damai dengan semua orang! Berusahalah juga untuk hidup kudus! Karena siapa yang tidak berusaha untuk hidup kudus tidak akan melihat TUHAN. 
15 Berjaga-jagalah supaya jangan seorang pun di antara kalian yang berhenti berpegang kepada kebaikan hati Allah. Karena kalau ada orang yang seperti itu, dia akan menjadi seperti tanaman beracun yang bisa meracuni orang-orang di antara kita, sehingga orang-orang tertular dengan kenajisannya. 
16 Dan kalian juga harus berjaga-jaga supaya tidak ada di antara kalian yang hidupnya cabul dan tidak menghormati Allah seperti yang dilakukan Esau. Sebenarnya sebagai anak pertama, dialah yang berhak mewarisi semua harta benda bapaknya ketika bapaknya meninggal. Tetapi dia menjual semua hartanya itu hanya untuk satu piring makanan saja. 
17 Ingatlah yang terjadi kemudian: Ketika dia berubah pikiran dan mau menerima berkat dari bapaknya sebagai anak pertama, tetapi bapaknya menolak untuk memberikan berkat itu kepadanya. Walaupun dia menangis, dia tidak bisa mengubah apa yang sudah dilakukannya.

Sebagai ibu, saya mengakui bahwa saya kurang tegas terhadap anak-anak saya. Saya mengasihi mereka tetapi terkadang didikan saya kurang disiplin. Saya terkadang tidak sejalan dengan kesepakatan aturan yang dibuat bersama suami. Saya lembek, sehingga akibatnya anak-anak manja dan tidak mengindahkan didikan saya. Memang mengasihi itu tidak serta merta mendidik dengan keras atau sebaliknya sangat lembek. Semua yang terlalu akan tidak baik dan justru menjadi racun.

Mungkin kita tidak akan menjadi orangtua yang terlalu keras atau terlalu lembek kalau kita memahami kasih. Kasih itu lemah lembut, tetapi juga tegas, bukan keras. Kasih itu lemah lembut tetapi kasih juga tidak kompromi. Inilah kasih yang ditunjukkan Tuhan kepada umat-Nya. Terhadap umat yang hidup taat dalam tuntunan dan kebenaran-Nya, Dia akan menunjukkan kelemahlembutan-Nya. Namun terhadap umat yang ngeyel, tidak mau tunduk di bawah otoritas-Nya, atau hidup semaunya sendiri dengan tinggal di dalam dosa maka tak segan Dia akan menghajarnya. Hajaran-Nya tentu bukan untuk membinasakan, melainkan supaya umat-Nya mau kembali kepada-Nya, yang dapat membawa dampak positif bagi kehidupan mereka.

Melalui orang percaya di Ibrani tersebut, kiranya kita menjadi semakin mengerti bahwa di dalam kasih juga ada ketegasan dan tidak kompromi, agar kita sebagai orangtua tidak terjebak dalam kasih yang keliru. Kasih yang tidak disertai ketegasan, konsistensi, dan disiplin ibarat racun, yang perlahan tapi pasti dapat “membunuh” anak-anak kita. Sebaliknya teguran, larangan, hajaran orangtua yang diberikan tepat pada waktunya akan membekali dan membentuk mental anak-anak. Memang tidak enak, tetapi buahnya manis. Mana yang kita pilih?

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juli 2017

Catatan Kaki
*12:6 
Ams. 3:11-12

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu