Meninggalkan Cara Hidup Yang Lama

Bacaan Yohanes 4:9-29
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Yesus bercakap-cakap dengan perempuan Samaria

9 Lalu perempuan itu berkata kepada-Nya, “Saya heran! Bagaimana mungkin Bapak— seorang Yahudi, minta air minum kepada saya— seorang Samaria!” Dia berkata begitu karena orang Yahudi menganggap orang Samaria najis.*
10 Lalu Yesus menjawab, “Ibu tidak tahu hadiah apa yang Allah mau berikan kepadamu dan tidak mengenal Aku yang minta air darimu. Kalau Ibu sudah mengenal Aku, pastilah Ibu akan lebih dulu minta air hidup dari Aku. Dan Aku siap memberikannya kepadamu.”
11 Lalu perempuan itu berkata, “Bapak tidak punya timba, dan juga sumur ini sangat dalam. Bagaimana mungkin Bapak bisa memberikan air hidup itu kepada saya?
12 Yakub, nenek moyang kita yang memberikan sumur ini kepada kami. Dulu dia dan anak-anaknya dan juga semua ternaknya minum dari air sumur ini. Pasti Bapak tidak merasa diri lebih besar dari dia— bukan?!”
13 Lalu Yesus menjawab, “Setiap orang yang minum air dari sumur ini akan haus lagi. 14 Tetapi siapa saja yang minum air yang akan Ku-berikan tidak akan haus lagi untuk selama-lamanya. Karena air itu akan menjadi seperti mata air di dalam dirinya, yang akan terus mengalir dan memberinya hidup yang selama-lamanya.”
15 Kata perempuan itu, “Bapak, berikanlah air itu kepada saya, supaya saya tidak haus lagi dan tidak usah kembali menimba air ke sini.”
16 Lalu Yesus berkata kepadanya, “Pergilah, panggillah suamimu dan kembalilah dengan dia ke sini.”
17 Dan perempuan itu menjawab lagi, “Tetapi saya tidak punya suami.”
Lalu Yesus berkata kepadanya, “Apa yang Ibu katakan tepat sekali. Kamu tidak mempunyai suami,
18 karena kamu sudah lima kali kawin cerai dengan laki-laki yang berbeda. Dan laki-laki yang hidup bersamamu sekarang bukanlah suamimu. Ya, perkataanmu itu memang benar.”
19 Dan dia berkata, “Bapak, sekarang saya sadar bahwa Bapak seorang nabi.
20 Nenek moyang kami selalu menyembah Allah di atas gunung itu, tetapi kalian orang Yahudi berkata setiap orang harus menyembah Allah di Yerusalem.”
21 Lalu Yesus menjawab, “Ibu, percayalah kepada perkataan-Ku ini: Di kemudian hari kalian boleh menyembah Allah Bapa di mana saja, dan tidak usah naik lagi ke gunung itu atau pergi ke Yerusalem.
22 Kalian orang Samaria memang menyembah Allah, tetapi tidak mengenal Dia. Sedangkan kami orang Yahudi menyembah Allah yang sudah kami kenal. Karena Allah sudah berjanji bahwa keselamatan akan diberikan kepada manusia melalui orang Yahudi.
23 Tetapi waktunya akan datang dan sebenarnya sudah tiba sekarang— di mana setiap orang yang benar-benar mau menyembah Dia akan menyembah-Nya melalui persatuan dengan Roh Kudus** dan sesuai dengan ajaran benar yang dari Allah. Karena Allah menginginkan orang-orang yang seperti itu untuk menyembah-Nya.
24 Karena Allah bukan daging, tetapi Roh. Oleh karena itu, setiap orang yang mau menyembah Dia hendaklah menyembah-Nya melalui persatuan dengan Roh Kudus dan sesuai dengan ajaran benar yang dari Allah.”
25 Lalu perempuan itu berkata kepada-Nya, “Saya tahu bahwa Mesias akan datang nanti. Waktu Dia datang, Dia akan memberitahukan semua kehendak Allah kepada kami.” (‘Mesias’ dalam bahasa Ibrani artinya ‘Kristus’.***)
26 Dan Yesus berkata kepadanya, “Aku— yang sedang berbicara denganmu, adalah Mesias.”
27 Pada saat itu, kami murid-murid-Nya sudah kembali dan sampai di sumur itu. Kami heran ketika melihat Yesus sedang berbicara dengan seorang perempuan. Tetapi tidak ada dari kami yang berani bertanya kepada perempuan itu, “Ibu cari apa?” Dan tidak ada yang bertanya kepada Yesus, “Kenapa Bapa bicara dengan dia?”
28 Lalu perempuan itu meninggalkan tempat airnya di situ, dan kembali ke kampung dan berkata kepada orang-orang yang ada di sana,
29“Mari lihat! Di sana ada seseorang yang sudah memberitahukan saya tentang semua yang pernah saya lakukan! Apakah mungkin dia itu Kristus?!”

Setelah hadir dua anak yang masih kecil, rumah kami dipenuhi banyak mainan, terutama milik Noah, anak sulung kami. Saya pun memilahnya menjadi tiga kategori: mainan yang masih utuh dan berfungsi (langka); mainan yang sudah hancur atau tak berfungsi lagi (banyak sekali); dan mainan yang tak terlihat lagi atau yang hilang  (lumayan banyak). Terkadang, Noah meminta saya untuk mencarikan mainannya yang hilang atau tak terlihat lagi. Ia sering meninggalkannya di tempat yang tak terduga. Sementara mencari mainan itu, sebagai orangtua saya juga menasihati Noah agar menjaga mainannya dengan baik.

Dalam hidup ini, meninggalkan sesuatu tak selalu berkonotasi buruk. Contohnya, kisah wanita Samaria yang datang ke sumur untuk menimba air. Setelah bertemu dengan Yesus di dekat sumur, wanita itu mengalami perubahan yang signifikan. Ia pun segera meninggalkan tempayannya, lalu bergegas pulang ke lingkungannya dan memberi tahu orang-orang tentang tindakan yang Yesus lakukan kepadanya. Kebutuhan jasmani wanita ini akan air—untuk keperluan sehari-hari—seolah-olah padam saat dihadapkan dengan perjumpaan indah bersama Kristus lalu menceritakan pada banyak orang tentang perjumpaan yang menakjubkan itu.

Kehidupan baru yang kita alami sejak mengenal Kristus berarti adanya kesediaan untuk meninggalkan cara-cara hidup kita yang lama, khususnya terhadap hal-hal yang tak memberi kepuasan yang kekal. Dalam kehidupan baru ini, terdapat banyak hal yang dulu kita idamkan atau sangat penting, kini menjadi tak begitu penting karena timbul kepuasan yang jauh lebih besar dalam panggilan hidup bersama Kristus. Jadi, mari tunjukkan kasih kita kepada Kristus dengan hidup seturut kehendak-Nya.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Oktober 2017

Catatan Kaki:
4:9 menganggap orang Samaria najisContohnya, pada waktu itu para pemimpin agama Yahudi melarang orang Yahudi memakai barang-barang yang sudah dipakai oleh orang Samaria. Jadi menurut peraturan itu, Yesus juga tidak boleh minum dengan memakai peralatan minum yang sudah dipakai oleh perempuan itu. Pada zaman Yesus, orang Yahudi tidak boleh bergaul dengan orang-orang Samaria karena penduduk Samaria bukan orang Yahudi asli, tetapi keturunan perkawinan campur antara orang Yahudi dengan suku-suku lain. Dalam Hukum Taurat, Allah melarang orang Yahudi kawin campur dengan suku-suku lain. Tetapi suku-suku itu berpindah ke daerah Palestina pada waktu kebanyakan orang Yahudi sudah dibawa ke negeri Babel. Orang-orang Yahudi juga tidak senang kepada penduduk Samaria karena agama mereka bukan agama Yahudi murni. Mereka mencampur agama mereka dengan adat-istiadat suku-suku lain yang masuk ke daerah itu pada waktu pembuangan bangsa Yahudi ke Babel.
** 4:23-24 melalui persatuan dengan Roh KudusSecara harfiah Yohanes menulis “roh.” Pada waktu Yohanes menulis Injil ini, bahasa Yunani belum memakai perbedaan antara huruf besar dan kecil. Semua huruf berbentuk seperti huruf besar zaman sekarang. Jadi bahasa Yunani tidak menunjukkan kalau maksud Yesus adalah Roh Kudus atau roh manusia. Sekitar lima puluh persen penafsir mengatakan bahwa maksud Yesus di ayat ini adalah “setiap orang … melalui rohnya masing-masing.” Tim penerjemah memilih tafsiran bahwa maksud Yesus adalah tentang Roh Allah karena perkataan-Nya, “waktunya akan datang dan sebenarnya sudah tiba”— yang kami anggap menunjukkan suatu perubahan zaman, yaitu pemberian Roh Allah kepada umat Allah. Tafsiran itu juga lebih mungkin karena Yesus menunjukkan sebabnya manusia perlu bantuan Roh Allah dalam ayat 24a.
*** 4:25 KristusLihat catatan di Yoh. 1:17.

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu