Menjadi Bijaksana

 

Bacaan  Mazmur 90:1-12
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Allah, tempat perlindungan manusia

1 Doa Musa, hamba Allah. Ya TUHAN, Engkaulah tempat kami berlindung turun-temurun.
2 Sebelum gunung-gunung diciptakan, sebelum bumi dan dunia Kaubentuk, Engkaulah Allah yang kekal, tanpa awal tanpa akhir.
3 Engkau menyuruh manusia kembali ke asalnya, menjadi debu seperti semula.
4 Bagi-Mu seribu tahun seperti satu hari, hari kemarin yang sudah lewat; seperti satu giliran jaga di waktu malam.
5 Engkau menghanyutkan kami; kami seperti mimpi, seperti rumput yang bertunas;
6 di waktu pagi ia tumbuh dan berkembang, tetapi menjadi layu di waktu petang.
7 Kami terkejut oleh kemarahan-Mu, dan habis binasa oleh murka-Mu.
8 Engkau menaruh kesalahan kami di hadapan-Mu, dosa kami yang tersembunyi terlihat oleh-Mu.
9 Hidup kami pendek karena kemarahan-Mu, tahun-tahun kami berakhir seperti hembusan napas.
10 Masa hidup kami hanya tujuh puluh tahun, kalau kami kuat, delapan puluh tahun. Tetapi hanya kesukaran dan penderitaan yang kami dapat; sesudah hidup yang singkat, kami pun lenyap.
11 Siapakah yang mengenal kedahsyatan murka-Mu, atau cukup sadar akan akibat kemarahan-Mu?
12 Sadarkanlah kami akan singkatnya hidup ini supaya kami menjadi orang yang berbudi.

Seseorang berkata kepada anak perempuan Dr. Emmons bahwa bulan terbuat dari keju hijau. Anak itu lalu pergi kepada ayahnya dan menceritakannya. Namun orangtua yang bijaksana itu berkata, “Pergi, baca Alkitab dan temukan jawabannya.” Anak tersebut kemudian membuka Alkitabnya dan segera kembali kepada ayahnya dengan jawabannya. Ia berkata bahwa bulan dibuat pada hari keempat dan sapi diciptakan pada hari keenam. Oleh karena itu, bulan tidak bisa dibuat dari kue hijau.

Mazmur malam ini merupakan doa Musa ketika memimpin bangsa Israel melewati padang gurun untuk memasuki Tanah Kanaan. Walaupun setiap hari mereka merasakan penyertaan, perlindungan, dan kecukupan dari Tuhan, tetap saja bangsa ini tegar tengkuk, bahkan membuat Tuhan. Bagian ini merupakan pengakuan Musa bahwa mereka telah berdosa kepada Tuhan, dan masalahyang mereka alami karena keberdosaan mereka kepada- Nya. Pemazmur menyadari bahwa Allah telah memberikan anugerah kepada mereka dan waktu hidup mereka hanya singkat di bumi ini. Oleh karena itu, sangat perlu untuk menjadi bijaksana dalam menjalani hidup. Untuk menjadi saleh, kita harus bijaksana. Dari mana sumbernya? Kesalehan dan kebijaksanaan berasal dari hikmat Tuhan dan hikmat Tuhan berasal dari firman Tuhan.

Kebenaran ini penting bagi kita. Cobalah renungkan sejenak dan pikirkan, betapa baiknya Tuhan sehingga sampai penghujung malam ini kita masih dipelihara dan semua keperluan kita terpenuhi. Oleh karena itu, sungguh kurang bijaksana apabila kita sedang ada masalah, lalu kita langsung berkata bahwa Tuhan tidak peduli dengan kita. Boleh jadi kalau ada masalah, ada hal yang harus kita perbaiki dalam hidup ini. Mari berpikir bijaksana!

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juni 2017

 

 

 

 

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu