Menjalani Hidup

Bacaan 2 Korintus 5:1-10
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Panggilan kepada Yeremia

1 Saya berkata seperti itu karena kita tahu bahwa tubuh duniawi kita seperti tenda yang dipakai untuk sementara saja, lalu binasa. Tetapi ketika hal itu terjadi, Allah sudah menyediakan tubuh surgawi bagi kita— yaitu tubuh seperti rumah yang tidak dibangun oleh manusia dan yang tetap ada sampai selama-lamanya.
Karena dalam tenda kita yang kita diami sekarang ini, kita sering mengeluh. Karena itulah kita sangat merindukan tubuh surgawi— yang akan kita pakai seperti memakai pakaian baru.
3-4 Jadi selama kita masih tinggal di dalam tubuh duniawi ini, kita mengeluh karena kita merasakan tubuh ini seperti beban yang berat. Tetapi bukan kemauan kita untuk melepaskan tubuh duniawi ini dan hidup seperti roh tanpa badan. Kita ingin segera memakai tubuh surgawi. Kalau hal itu terjadi, tepatlah Firman Allah yang berkata, “Kuasa kematian sudah dikalahkan”* oleh kuasa kehidupan. 5 Hal itu sudah Allah sediakan bagi kita! Dan Dia memberikan Roh-Nya kepada kita untuk menjamin semuanya bagi kita.
6 Karena itulah kita selalu tabah dengan penuh keyakinan. Karena kita tahu bahwa selama kita masih mendiami tubuh duniawi ini, kita masih belum bisa tinggal bersama Tuhan Yesus.
7 Karena hidup ini kita jalani hanya oleh karena percaya penuh kepada semua janji Allah— bukan hanya kepada hal-hal yang kelihatan!
8 Karena itulah seharusnya kita selalu tabah dengan penuh keyakinan bahwa saat kita tidak lagi memakai tubuh duniawi ini, kita sudah tinggal bersama Tuhan.
9 Karena itu jugalah kita harus selalu berusaha supaya tujuan hidup kita yang utama adalah untuk menyenangkan hati Allah— baik ketika kita masih di dalam tubuh duniawi maupun ketika kita sudah di dalam tubuh surgawi.
10 Karena kita semua pasti akan berdiri di hadapan takhta pengadilan Kristus— di mana kita akan menerima balasan setimpal dengan apa yang kita perbuat selama kita ada di dalam tubuh duniawi, dan memberikan pertanggung-jawaban atas perbuatan kita yang baik maupun yang jahat.

Tak ada peringatan dini dalam peristiwa banjir di Garut beberapa waktu lalu. Banjir ini menelan korban jiwa yang tidak sedikit, yakni 33 orang, sementara 20 orang lainnya dinyatakan hilang. Banjir yang disertai tanah longsor itu juga melumpukan rumah sakit umum daerah, sekolah, dan menghancurkan hampir 200 rumah. Lokasi penampungan sementara pun menjadi solusi bagi para warga untuk mengungsi hingga banjir surut. Banjir Garut hanyalah salah satu contoh dari bencana alam yang kerap kali melanda negeri kita dan tak jarang menelan korban dalam jumlah yang tak sedikit.

Bukan hanya banjir atau longsor, ada banyak peristiwa dan hal yang bisa merenggut nyawa manusia. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam keseharian kita terkadang dipakai Allah sebagai peringatan bagi manusia agar lebih memperhatikan cara hidupnya. Allah tidak terlalu menilai bagaimana cara kita meninggal, tetapi bagaimana cara kita hidup, sehingga semua yang kita perbuat selama hidup harus dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta. Cara hidup inilah yang Tuhan kehendaki bagi setiap umat-Nya, yaitu berpusat pada kekekalan (surga). Adapun cara hidup yang dimaksud adalah mengandalkan kekuatan rohani, bukan jasmani, dan konsistensi untuk terus memusatkan perhatian pada perkara-perkara surgawi, bukan pada gemerlap perkara duniawi.

Kehendak Tuhan bagi kita adalah agar kita memiliki cara hidup yang menyenangkan hati-Nya, bukan menyenangkan diri kita. Hidup kita ibarat orang yang sedang berkemah, yang suatu saat kemah itu akan dibongkar (2 Kor. 5:1). Jadi, dalam kurun waktu yang sangat singkat ini, mari kita jalani hidup kita sebaik mungkin, sehingga kelak kita siap menghadap takhta pengadilan-Nya.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset November 2017

Catatan Kaki:
* 5:4 Paulus menggunakan kata-kata dalam Yesaya 25:8. Dia juga mengutip ayat itu dalam 1 Kor. 15:54.

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu