Merasa Tak Layak

Bacaan Roma 5:6-11
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Berdamai dan bersukacita di hadapan Allah

6 Sebelumnya manusia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa untuk menjadi benar di hadapan Allah. Tetapi justru ketika kita dalam keadaan seperti itu, Kristus mati bagi kita— yaitu kita yang selalu memusuhi Allah.
7 Sangat sulit bagi seseorang mengurbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkan orang lain— sekalipun dia mengenal orang itu sebagai orang jujur. Tetapi bisa saja seseorang mengurbankan dirinya dan mati demi menyelamatkan sahabatnya.
8 Tetapi Kristus mati bagi kita ketika kita masih hidup sebagai orang berdosa yang memusuhi Allah. Dengan begitu, Allah sudah menunjukkan bahwa Dia sangat mengasihi kita.
9 Oleh karena itu, sudah menjadi sangat jelas: Karena kita sudah dijadikan benar di hadapan Allah melalui darah Kristus, Allah pasti tidak marah lagi kepada kita, dan akan menyelamatkan kita dari hukuman yang akan Dia jatuhkan kepada semua orang yang berdosa.
10 Dan kita bisa yakin akan hal itu! Karena kalau Anak Allah mati untuk kita waktu kita masih memusuhi Allah, sudah lebih pasti lagi Yesus akan menyelamatkan kita yang sekarang berdamai dengan Allah dari hukuman terakhir— yaitu waktu Allah membinasakan semua orang jahat. Dan keselamatan kita itu lebih pasti lagi karena Yesus— yang dulu mati untuk kita, sudah hidup kembali dan terus menjaga kita!
11 Bukan hanya keselamatan yang membuat kita sangat bersukacita sekarang. Tetapi kita juga bersukacita dan bangga atas apa yang sudah dilakukan oleh Tuhan kita— Kristus Yesus, sehingga hubungan kita dengan Allah menjadi baik kembali.

Seingat saya, sejak ikut sekolah minggu (SM), saya tidak pernah mendengar guru SM bercerita bahwa kita tidak layak datang kepada Tuhan.
Cerita tentang Tuhan yang Maha pengasih dan Maha penyayang lebih sering disampaikan daripada cerita tentang amarah-Nya. Sebagai anak-anak, kita pun percaya bahwa Tuhan tidak pernah marah! Barulah setelah dewasa, kita mulai tahu bahkan bergumul dengan perasaan tidak layak, terlebih setelah kita berbuat dosa.

Ada banyak fakta kasih Tuhan yang terkadang diabai­ kan atau ditinggalkan ketika seseorang bertumbuh dewasa dalam kekristenan. Fakta seperti rasa tidak layak berdoa, tidak layak ke gereja, tidak layak meminta pengampunan, tidak layak mendapat kebaikan, dan seterusnya. Tuntutan hidup yang semakin kompleks dan pengaruh lingkungan mungkin menjadi faktor pemicunya. Kondisi yang terkadang membuat kita lupa bahwa bahwa kasih Tuhan kepada kita tetap sama seperti ketika kita masih anak-anak. Tentu saja tuntutan Allah pada orang dewasa akan lebih besar, tetapi kasih-Nya tidak berkurang sedikit pun karena tuntutan itu. Kalau maut saja tidak bisa memisahkan kita dengan kasih-Nya, lalu apakah yang kita cemaskan?

Jika dalam kondisi “masih berdosa” saja, Kristus telah mati bagi kita, apalagi sekarang ketika kita telah menjadi anak-anak Allah? Mari renungkan betapa Allah sangat mengasihi kita! Darah-Nya telah dicurahkan sehingga kita dilayakkan datang ke hadirat-Nya, untuk menerima pengampunan dan kasih karunia dari-Nya (Ibr. 4:16). Tepislah tuduhan Iblis dalam hati dan pikiran yang membuat kita merasa tidak layak. Percayalah, tangan-Nya senantiasa terbuka bagi orang-orang yang datang kepada-Nya dengan kesungguhan hati.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset November 2017

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu