Modal Iman

 

Bacaan  Habakuk 3:16-18
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Doa Habakuk

16 Mendengar itu, hatiku gentar dan bibirku bergetar. Aku menjadi lemah tanpa kekuatan, kakiku tersandung, di mana pun aku berjalan. Aku akan menunggu dengan tenang hukuman Allah atas para penyerang.
17 Meskipun pohon ara tak ada buahnya dan pohon anggur tak ada anggurnya, biarpun panen zaitun menemui kegagalan dan hasil gandum di ladang mengecewakan, walaupun domba-domba mati semua dan kandang ternak tiada isinya,
18 aku akan gembira selalu, sebab Engkau TUHAN Allah penyelamatku.

Jika kita cermati, fenomena berita yang kini tersaji di surat kabar, televisi, media sosial, maupun media online tampaknya semakin mengerikan. Ada orang yang tega membunuh keluarganya karena stres, masalah ekonomi semakin sulit, fitnah terjadi di mana-mana, bahkan tak sedikit orang seperti menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya. Sepertinya semakin lama situasi kehidupan ini tidak semakin mudah, tetapi semakin sulit.

Situasi yang sulit, bahkan buruk, juga terjadi pada masa nabi Habakuk hidup, dimana ketika itu bangsa Israel mengalami penindasan. Dalam situasi seperti itu, tak ada lagi yang dapat dilakukan selain berdoa dan beriman kepada Allah. Dalam tiga ayat yang terdapat pada nats malam ini, Habakuk dengan kata lain sedang berkata, “Sekalipun tidak ada makanan, sekalipun pertanian hasilnya tidak bisa diharapkan lagi, kebun-kebun tidak menghasilkan bahan makanan, peternakan tidak menghasilkan, harga barang tidak terjangkau, pekerjaan hilang, biaya pendidikan semakin mahal, hidup semakin susah, tetapi kita bersyukur karena kita memilik Allah sebagai Juruselamat.” Habakuk ingin mengajar kita bahwa situasi hanya bisa dihadapi ketika kita fokus kepada Tuhan, bukan pada masalah, dan ketika kita mengandalkan Dia.

Oleh karena itu itu, jika malam ini kita sedang mengalami keadan yang buruk atau mengecewakan, jangan sampai kita menjadi putus asa. Masih ada Tuhan yang dapat menolong kita. Memang tidak mudah bertindak seperti Habakuk, tetapi kalau kita tidak bertekad dan beriman kepada Tuhan, kita takkan mampu menghadapi masa-masa yang sulit. Bersyukurlah kepada Tuhan, berharaplah, nantikanlah pertolongan-Nya, dan tetaplah beriman kepada-Nya karena Dia pasti buka jalan.

*Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Agustus 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu