Murid yang Materialis

 

Bacaan  Matius 26:14-16
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Yudas mengkhianati Yesus*

14 Lalu Yudas dari desa Kariot, salah satu dari kami kedua belas murid-Nya, pergi menemui imam-imam kepala 
15 dan bertanya, “Apa yang akan kalian berikan kepada saya kalau saya menyerahkan Yesus kepada kalian?” Lalu mereka memberikan tiga puluh keping uang perak kepadanya. 
16 Dan mulai saat itu, Yudas mencari kesempatan untuk menyerahkan Yesus kepada mereka.

Materialisme adalah pandangan hidup yang semata mata hanya mencari kesenangan dan kekayaan/kebendaan merupakan satu-satunya tujuan atau nilai tertinggi. Materialisme juga mengesampingkan nilai-nilai rohani, bahkan materialisme tidak mengakui adanya budaya immaterial atau campur tangan Tuhan. Misalnya, seseorang dengan pekerjaan atau jabatan yang bagus, lalu ia percaya hanya dengan itulah yang bisa menghidupinya. Dalam contoh ini orang tersebut hanya semata mata mencari dan mementingkan materi tanpa mengingat Tuhan, ia lupa bahwa pekerjaan, jabatan, rezeki Tuhanlah yang memberi. Orang-orang yang menganut paham ini (materialistis) hidupnya berorientasi kepada materi.

Paham ini bisa dianut oleh siapa saja termasuk orang yang nampaknya dekat dengan Tuhan. Contoh saja Yudas Iskariot. Kebersamaannya dengan Yesus setiap hari selama kurang lebih tiga tahun, nyatanya tidak menjamin bahwa hati Yudas benar-benar terpaut pada Sang Guru. Ajaran yang didengarnya dari Yesus, Sang Guru, tiap-tiap hari pun nampaknya tidak merasuk ke dalam batinnya sehingga setiap kali ada kesempatan untuk memperoleh keuntungan materi bagi dirinya sendiri, Yudas pasti tidak menyia-nyiakannya, sekalipun harus “menjual” Gurunya sendiri kepada imam-imam kepala. Dari kehidupan Yudas, kita belajar bahwa hati yang melekat pada mamon dapat menjauhkan kita dari Tuhan, dan sebaliknya, semakin mendekatkan kita pada dosa.

Itu sebabnya, mari koreksi hati kita kembali! Apakah hati ini sudah melekat kepada Tuhan Yesus atau masih melekat pada hal-hal yang fana seperti materi? Pandanglah Yesus dalam hidup ini sebagai Sumber segalanya, supaya jangan kita jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan dan dosa karena mamon.

*Dikutip dari renungan Andi Offset Juli 2017

Catatan Kaki:
*Perikop: Mrk. 14:10-11; Luk. 22:3-6

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu