Pasrah atau Berserah

Bacaan Mazmur 22:1-9
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Doa di waktu kesusahan dan nyanyian Pujian

1 Untuk pemimpin kor. Menurut lagu: Rusa di kala fajar. Mazmur Daud. ( 22 - 2 ) Allahku, ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.
2 ( 22 - 3 ) Ya Allahku, aku berseru di waktu siang, tetapi Engkau tetap diam. Aku berdoa di waktu malam, hatiku tidak juga tenang.
3 ( 22 - 4 ) Namun Engkau Raja Yang Mahasuci, yang dipuji-puji oleh Israel.
4 ( 22 - 5 ) Nenek moyang kami berharap kepada-Mu, mereka berharap, dan Engkau menyelamatkan mereka.
5 ( 22 - 6 ) Mereka berseru kepada-Mu dan diluputkan; mereka berharap dan tidak dikecewakan.
6 ( 22 - 7 ) Tetapi aku ini cacing, bukan manusia, dicemoohkan dan dihina orang banyak.
7 ( 22 - 8 ) Semua yang melihat aku, mengejek aku, mencibirkan bibir dan menggelengkan kepala.
8 ( 22 - 9 ) Kata mereka, "Biarlah ia mengandalkan TUHAN, supaya TUHAN menyelamatkan dia, kalau TUHAN senang kepadanya ! "
9 ( 22 - 10 ) Engkaulah yang mengeluarkan aku dari kandungan, dan membuat aku aman di pangkuan ibuku.

Beratnya pergumulan hidup yang kadang membenturkan kita pada ketiadaan jawaban yang melegakan hati membuat banyak orang memilih untuk berpasrah diri pada keadaan dan situasi hidup yang mereka alami. Sakit kronis yang tak kunjung sembuh, ekonomi hidup yang berat, persoalan keluarga yang rumit dan banyak hal lain membuat banyak orang merasa pasrah dan menyerah karena sudah merasa tak bisa berbuat apa-apa.

Ada perbedaan mencolok antara berpasrah dan berserah. Orang berpasrah itu berfokus pada kekuatan dirinya sementara orang berserah berfokus pada kekuatan yang lebih dari dirinya, yakni kekuatan Tuhan. Ini membuat orang yang berserah tidak takut memasrahkan diri pada Tuhan karena merasa dijamin oleh kekuatan Tuhan. Orang yang berpasrah artinya sudah kehilangan semangat hidup karena merasa sudah buntu dan tak lagi bisa berbuat apa-apa. Sementara orang berserah justru memiliki semangat hidup yang terus diperbarui, karena fokus hidupnya bukan lagi diri sendiri melainkan Tuhan dan kehendak-Nya.

Ketika diperhadapkan pada masalah, respons hati yang berpasrah dan berserah jelas berbeda. Orang yang berpasrah biasanya enggan berusaha lebih, inginnya menyerah dan berputus asa dan selalu merasa tak ada yang bisa menolong mereka. Sementara orang yang ber­serah justru tegar, legowo (berbesar hati) dan terus mengharapkan Tuhan untuk menolong mereka.

Jadi, kunci menang atas pergumulan dan masalah hidup kita sangatlah sederhana. (1) Pilihlah untuk berserah, bukan berpasrah. (2) Menyerahlah pada kehendak Tuhan, bukan kehendak diri sendiri. (3) Andal­kanlah kekuatan Tuhan, bukan kekuatan diri sendiri. (4) Fokuslah pada firman-Nya, bukan pada perasaan kita. 

*Dikutip dari renungan Andi Offset Mei 2017

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu